
Kala gelisah, ribuan panah sudah berada di jarak yang mengkhawatirkan. Jika ia tidak segera mendapatkan perisai, mustahil jika dirinya tidak terluka berat atau bahkan dapat saja tewas terajam.
Pada saat itu, Yudistira melemparkan Kala perisai yang semulanya ada di lengannya. "Pakai saja punyaku!"
Kala menangkap perisai besi itu. "Bagaimana dengan Patriark?"
"Angkat perisaimu! Aku tidak butuh perisai itu!"
Kala mengangkat perisainya sebelum terlambat. Dalam dua detik setelah Kala mengangkat perisainya, ribuan panah turun seperti hujan deras.
Kala memejamkan mata sambil terus berdoa. Perisainya serasa ingin meledak akibat terkena tusukan-tusukan panah. Debu-debu terbang seiring panah-panah itu menghujam tanah.
Ketika hujan panah berhenti, Yudistira memerintahkan mereka untuk menurunkan perisai dan membalas serangan. Seluruh murid dari Perguruan Angin Utara menyiapkan panah dan menunggu perintah dari Patriark.
Patriark berseru, "Tembak!"
Ratusan panah naik ke atas dengan cepat. Sinar matahari kembali terhalangi oleh ratusan panah itu. Kala memandang semua ini dengan takjub, tak disangka kalau medan pertempuran adalah sesuatu yang menegangkan, seru, namun berbahaya.
Yudistira berseru lagi, "Tembak!"
Wush! Wush! Wush!
Semua panah itu menusuk-nusuk hutan. Kala dapat mendengar secara samar suara-suara teriakan dari dalam hutan yang Kala duga adalah suara dari orang yang terkena panah.
Dari dalam hutan muncul lagi panah-panah yang bukan main banyaknya, semua panah itu menuju pasukan Perguruan Angin Utara. Patriark memerintahkan untuk mengangkat perisai kembali. Kala tidak langsung mengangkat perisai karena menurutnya ini masih merupakan jarak aman, lagi pula Patriark tidak melarangnya.
__ADS_1
"Tembakkan jaring!" seru Patriark.
Kala bertanya-tanya apa yang dimaksud oleh Patriark, namun setelahnya ia paham. Beberapa murid-murid menembakkan puluhan jaring ke angkasa dan membuat panah-panah itu menabrak jaring, jaring ini ditembakkan dari sebuah alat seperti meriam. Panah tersangkut di jaring-jaring sebelum mencapai para murid.
Ada beberapa panah yang berhasil melewati jaring tersebut, namun jumlahnya tidak banyak. Kala bahkan tidak perlu mengangkat perisainya.
"Serang hutan!"
Setelah mendapat perintah dari Patriark, para murid Perguruan Angin Utara berlari kencang menuju hutan. Pedang mereka terhunus menyertai padang rumput yang kini dipenuhi oleh gelora semangat tempur. Kala, Patriark, serta beberapa Tetua lainnya maju paling depan menyeruak udara.
Kala secara sembunyi-sembunyi menggunakan Mata Garuda. Ia dapat melihat bahwa ratusan pranor di dalam hutan juga bergerak maju, ia mengabari ini ke Patriark agar melakukan persiapan lebih dini.
"Tidak ada persiapan dini lagi." Patriark menatap Kala dengan sungguh-sungguh. "Ini adalah perang, apapun yang terjadi adalah risiko."
Kala mengangguk sebelum mengeluarkan pedangnya dari sarung. Agak susah mengeluarkan pedang sambil berlari kencang, ditambah pasukan musuh mulai terlihat dan menambah tekanan untuk Kala.
Kehadiran Alang pasti akan sangat membantu. Serangan Alang akan menjadi serangan kejutan karena pihak musuh tidak mengetahui kekuatan dari Alang, mereka hanya menganggap bahwa Alang adalah elang biasa yang kebetulan terbang di atas mereka.
Suara teriak semangat tempur dari pihak musuh mulai terdengar. Disambung dengan derap langkah kuda dari pihak musuh yang saling beradu. Kala baru menyadari pihak musuh lebih banyak jumlahnya, namun belum tentu keahlian bertarung mereka lebih tinggi.
Kedua kubu akhirnya bertemu. Bentrokan terjadi. Suara pekik kuda beserta penunggangnya mengganti kencangnya suara deburan angin. Kala terus menyeruak masuk sambil terus menebaskan pedangnya. Kuda yang ditunggangi Kala menghantam banyak pasukan dari Perguruan Danau Hitam.
Tidak ada yang bisa melukai Kala sedikitpun. Selain Patriark yang berada di samping Kala, Kala juga lihai dalam ilmu silat, itu membuat Kala benar-benar tidak tersentuh.
Alang menghantamkan tubuhnya ke arah para murid Perguruan Danau Hitam, ledakan besar terjadi namun tidak sampai membunuh pihak musuh. Alang lalu kembali terbang dan memilih menghabisi musuh secara satu per satu.
__ADS_1
Saat Kala dan kudanya masih saja terus melaju, sebatang tombak meluncur dengan kecepatan tinggi. Tombak itu mengarah langsung ke Kala. Kala merasa sesuatu mendesing di samping kanannya, Kala menengok ke kanan dan menjumpai tombak itu.
Kala terlambat menyadari kehadiran tombak itu, yang membuat Kala tidak bisa mengubah arah laju kudanya untuk mengelak. Walau begitu, Kala masih bisa menggerakkan tubuhnya sendiri agar tidak terkena tombak runcing itu, kemungkinan risiko yang harus ditanggung adalah kematian kuda tunggangannya. Kala terpaksa mengelak agar tidak mati, Kala merasa bersalah karena tombak itu akan menembus tubuh sang kuda yang malang.
Srat!
Tombak itu menembus kuda. Kuda Kala memekik sebelum terjatuh bersama Kala. Kala tertindih kudanya sendiri namun ia bisa dengan cepat bangkit. Tombak itu bergerak dan mencabut dirinya dari badan kuda, ini mengartikan bahwa tombak tersebut bukanlah senjata biasa.
"Ini Tombak Spirit!" seru Kala.
Tombak Spirit merupakan salah satu dari ribuan jenis senjata spirit. Senjata Spirit adalah senjata yang bisa dialiri prana, beberapa senjata spirit tingkat tinggi bahkan bisa dikendalikan dari jarak jauh.
Kala sadar bahwa senjata spirit seperti ini bukanlah tandingannya. Ia mundur beberapa langkah dan mencari Patriark Yudistira, Kala menjadi panik setelah tidak menemukan si Patriark.
Tombak itu terbang ke arah Kala. Kala menangkisnya dengan pedang lalu salto ke belakang. Tombak itu kembali berduel dengan Kala. Kala hanya terus menangkis karena tidak tahu apa yang harus ia serang, tidak ada empu dari tombak ini di sini.
Srring ....
Kala mundur beberapa langkah. Lengannya sedikit teriris oleh mata tombak, ini adalah luka pertamanya. Walau tidak begitu parah, Kala menelan pil dari Maheswari dan luka itu secara ajaib menghilang hanya meninggalkan noda darah.
Tombak itu seakan tidak mau memberi jeda untuk Kala. Kala membuang pedangnya. Pedang Kala bukanlah senjata spirit, pedang Kala hanya biasa yang tidak bisa dialiri prana dengan tingkat praktik Kala, lebih baik Kala menggunakan tangan kosong yang dengan begitu Kala bisa menggunakan prana.
Tombak itu mengarah ke kepala Kala. Kala maju ke depan namun dengan menunduk. Kala maju tepat sampai tepat berada di bawah tombak sebelum dirinya melayangkan serangan tapak ke badan tombak.
___
__ADS_1
catatan:
Tolong bantu saya untuk membuat angka favoritnya menjadi 100 dengan cara share ke teman-teman yang sekiranya menyukai karya bergenre ini. SENI BELA DIRI SEJATI tidak akan jadi apa-apa tanpa dukungan kalian.