Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Pencak Silat - Arc 1 Selesai


__ADS_3

Bam!


Cassandra terdorong jauh saat menerima pukulan dari Kala. Kala tidak berhenti di situ, ia melompat ke atas dan menjatuhkan Cassandra dengan keras. Tanah tempat Cassandra dibanting retak dan berlubang, tapi Cassandra masih bisa bangkit untuk memberikan perlawanan.


Kala menepis setiap serangan Cassandra lalu menendang kaki si gadis. Ia kembali jatuh dengan keras, jelas sudah tidak bisa bangkit lagi. Meski rambut Cassandra acak-acakan akibat pertarungan, itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya bahkan menambahnya.


“Kau belajar dengan cepat.” Cassandra berusaha tersenyum di tengah napasnya yang naik turun.


“Aku belajar dari ahlinya.” Kala membantu Cassandra untuk berdiri.


“Nah, Kala. Sepertinya kau sudah cukup waktu di sini. Sudah waktunya kau kembali. Tapi sebelum kau kembali, aku akan memberikanmu sedikit hadiah.”


Cassandra mengibaskan tangannya beberapa kali sebelum sebuah gelang dari kayu muncul di tangannya. Gelang itu berupa tali yang dimasukkan ke beberapa kayu yang diukir.


“Gelang ini sama fungsinya seperti cincin interspatial, bedanya terletak di daya penyimpanan yang fantastis. Di dalamnya ada satu set baju untukmu serta kitab-kitab untuk membantumu berlatih.”


Kala merasa enggan. Ia sudah berlatih selama satu bulan di sini, bukan hanya dilatih gerakan pencak silat tapi juga mengenai etika perilakunya. Sifat Kala berubah menjadi lebih tenang di bawah bimbingan Cassandra, gadis itu menekankan bahwa pencak silat adalah suatu teknik yang hanya bisa dimainkan saat kau tenang. Dengan kata lain, Kala tidak mudah emosi.


“Aku ... sepertinya tidak bisa menerima ini, kau sudah memberiku begitu banyak.”


“Bukan aku yang memberi banyak kepadamu. Tapi kau yang memberiku banyak hal. Kau tahu? Sejak kedatangan Garuda tiga ribu tahun yang lalu, tidak ada lagi yang datang ke sini. Ditambah sikap Garuda tidak terlalu asyik, tidak sepertimu.” Cassandra tersenyum lebar. “Terima kasih sudah mau menemaniku.”


Kala menjadi luluh atau bisa dibilang sedikit sedih. Ia agak enggan berpisah dengan Cassandra. Bukan karena Cassandra cantik, tapi karena pengajarannya yang luar biasa.


Kala menerima gelang itu dan langsung memakainya di lengan, tapi ia merasa tidak pantas jika langsung memeriksa isinya.


“Apa ada kata-kata perpisahan darimu?” goda Cassandra.


“Terima kasih atas segalanya. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa memberimu kenangan, tapi aku harap ini bisa membantu.”


Kala mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sambil mengedarkan Prana. Beberapa detik kemudian, ia menghunjam ke tanah, membuat sebuah lubang besar yang bulat sempurna.


“Dalam beberapa minggu, lubang ini akan menjadi danau yang cantik untukmu yang cantik.”


Cassandra yang di samping Kala tersenyum. “Ini sungguh hebat. Aku akan mengingatmu selalu melalui danau ini.”


Kala menyunggingkan senyum ke arah Cassandra. “Aku juga akan mengingatmu.”


“Damaikan jiwamu yang tenang, hiduplah dalam keseimbangan.” Mereka bergumam bersama sebelum Kala berubah menjadi butir-butir cahaya lalu menghilang.


“Aku akan merindukanmu.” Cassandra mengelap air matanya.


***


Kala mendapati tubuhnya tidur di kasur yang empuk. Kepalanya sudah tidak pening, ia merasa lebih sehat dari sebelumnya. Tubuh Kala awalnya dipenuhi luka-luka sehabis pertarungan, tapi luka-luka itu lenyap tak bersisa saat Kala berhasil mendapatkan Kristal Angkasa.


Ada Kaia di pinggir kasur, ia tertidur dengan kepala di atas kasur dan tubuhnya duduk di bawah. Sepertinya ia sudah menunggu Kala pulih cukup lama sampai tertidur. Kala tersenyum senang setelah mengetahui kondisi Kaia sudah pulih.

__ADS_1


Di meja makan terdapat mangkuk yang mungkin berisi makanan dan segelas teh. Kala sangat lapar, ia seperti bisa menelan seekor sapi untuknya sendiri. Kala menggerakkan tubuhnya untuk menggapai makanan di meja, tapi kegiatan ini juga berhasil membangunkan Kaia.


“Ah! Kau sudah bangun!” Kaia berteriak setengah sadar.


“Tidak ... aku ingin tidur lagi.” Kala berpura-pura memejamkan mata.


“Bangun atau aku patahkan lehermu.” Terdengar suara dingin Kaia saat Kala memejamkan mata.


“Ah, inilah Kaia yang aku kenal, selalu dingin bagai embun dini hari.” Kala terkekeh pelan sebelum bersila di atas kasur. “Kau menjagaku sampai tertidur seperti ini?”


Kaia mendengkus kesal lalu bangkit menuju pintu luar kamar.


“Mau ke mana?” Kala menghentikan Kaia.


“Aku akan membuatkanmu makanan. Kau tunggu di sini.”


“Bukannya sudah ada?” Kala menunjuk mangkuk kayu yang ternyata berisi bubur.


“Yang itu sudah dingin,” ujar Kaia lalu ia beranjak pergi.


“Ya, dingin sepertimu ....” Kala terkekeh pelan.


Saat Kaia membuka pintu kamar, sesosok bayangan kecil dengan cepat masuk dan menubruk Kala.


“Aih, Alang. Kau rindu padaku?”


“Eak, eak!”


“Eak?”


Mata Kala membeliak. “Seminggu?!”


***


Kaia datang membawa nampan kayu yang di atasnya ada semangkuk bubur dan segelas teh hangat. Kaia terlihat geram saat melihat Kala merokok.


“Kau baru sembuh dan langsung merokok?!”


“Ini rokok buatanku, sehat dan bisa digunakan untuk latihan.” Kala menepis kemarahan Kaia. “Kemarikan saja makanannya, aku sudah lapar dan tidak sabar mencicipi masakanmu.”


Kala menggosokkan kedua telapak tangan. Kaia dengan malas mengangkat mangkuk dari nampan ke tangan Kala. Semangkuk bubur dengan sendok yang melezatkan, Kala langsung menyuapnya cepat-cepat seakan bubur itu dingin, padahal bubur itu baru diangkat dari tungku.


“Ini sangat lezat! Kau belajar dariku dengan baik.” Kala terkekeh pelan melihat buburnya lenyap tak bersisa.


“Aku belajar dari nenekku, bukan darimu.”


“Kau memang tidak bisa diajak bercanda.” Kala menggaruk pipinya. “Di mana Aditya? Mengapa dia tidak menemuiku?”

__ADS_1


“Ia menunggu di luar. Aku tidak izinkan ia masuk,” kata Kaia ringan.


“Apa yang kau lakukan? Persilakan dia masuk, dia adalah pemilik penginapan.”


Kaia tidak merasa bersalah sama sekali, ia melangkahkan kaki dan membuka pintu. Aditya masuk setelah diberi izin, wajahnya terlihat cemas dari pada bahagia.


“Pendekar! Anda telah pulih, aku sangat senang! Namun, aku harus menyampaikan suatu hal.” Aditya terlihat begitu cemas sampai ia tidak memperhatikan aura Alam Kristal Spirit dari tubuh Kala.


“Kau tidak membutuhkan izinku jika ingin menyampaikan sesuatu. Silakan sampaikan.”


Kaki Aditya bergetar gelisah. “Kastel Kristal Es mengepung kota.”


Kala sama sekali tidak terlihat terkejut, mungkin Kristal Angkasa sudah mengubahnya menjadi lebih bijak dan tenang. Kala juga sudah memperkirakan kedatangan Kastel Kristal Es.


“Memang sudah waktunya.” Kala menghela napas.


Aditya menambahkan bahwa sebelum Kastel Kristal Es sampai, markas pusat mengirim dua ribu pasukan untuk menjaga Kala. Markas pusat mengerahkan pasukan untuk menjaga Kala! Bukan menjaga penginapan!


Sepertinya status sebagai Kesatria Garuda sangat penting bagi Walageni, pimpinan Laskar Progo.


“Aditya, bisa kau tinggalkan aku sebentar? Dan suruh Kaia, temanku itu untuk masuk.”


Aditya mengangguk lalu keluar dari kamar. Kaia masuk dengan wajah datar, sama sekali tidak memahami bahaya yang mengintai kota.


“Ada apa memanggilku?”


“Sudah waktunya kau menjadi pranor.” Kala tersenyum hangat.


Kaia terdiam sejenak lalu terlihat kegirangan. Sebelumnya ia mengira bahwa Kala tidak akan membantunya balas dendam termasuk membuat dirinya menjadi pranor, tapi ternyata ia salah sangka. Ini sangat menyenangkan baginya! Tangannya seakan tidak sabar untuk membunuh Kastel Kristal Es.


“Terkadang kau memang menyenangkan!” ucap Kaia kegirangan.


“Aku tidak sedang bercanda, Kaia.” Kala berkata dengan tenang. “Kastel Kristal Es sudah mengepung kota, cepat atau lambat kau akan menghadapi pertempuran. Setelah kau menjadi pranor, kau harus banyak membantu di pertempuran nanti.”


Alis kanan Kaia berkedut. “Apa harus aku ikut pertempuran begitu cepat? Mengapa tidak kau saja? Bukankah kau adalah Kesatria Garuda yang sakti?”


Kala menggelengkan kepalanya pelan. “Aku ingin memberikanmu sedikit ajaran.”


“Kau bukan guruku.” Kaia ketus.


“Kalau begitu, aku tidak mau membuatmu menjadi pranor.”


Kaia mengentak kakinya kesal. “Bukankah medan pertempuran itu sangat berbahaya?!”


“Kau akan lihat nanti.” Kala tertawa renyah. “Jadi kau setuju atau tidak?”


Kaia mendengkus kesal sambil memalingkan wajahnya ke kanan. “Baiklah.”

__ADS_1


Kala tersenyum lembut lalu menyuruh Kaia bersila di atas kasur begitu juga dengan Kala. Kaia kebingungan, tapi ia menuruti apa yang diperintahkan Kala, toh ini demi kebaikannya.


Arc 1 selesai.


__ADS_2