Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Latih Tanding


__ADS_3

Keempatnya tertawa lepas lalu mengajak Kala beristirahat di gubuk ke-lima, di mana gubuk itu sengaja dibuat untuk dirinya atau tempat barang-barang.


Di dalam gubuknya, Kala menghabiskan waktu untuk mencukur kumis dan janggut dengan belati kecil. Namun, tidak semua Kala pangkas. Setelah melihat dirinya di cermin saat bercukur, sedikit kumis juga tampak gagah.


***


Di sore hari, Kala mengumpulkan empat pranor lalu menatap mereka tajam-tajam.


“Kalian sepertinya terlalu lama tidur dan bermalas-malasan, kalian harus menggerakkan otot.”


Sebenarnya Kala tiada ubah dengan mereka. Ia sudah terlalu lama duduk sampai bokongnya sendiri lecet, otot-ototnya sudah tertidur dan perlu disiram air panas untuk kembali bangun.


“Kita berburu herbal berbahaya di dalam hutan. Lupakan gubuk ini. Kemaslah semua barang yang perlu.” Mendengar itu, mereka menganggukkan kepala sebelum bubar.


Saat malam menjemput, mereka kembali berkumpul menghadap Kala. Sinar rembulan sedikit menerangi langit, tapi kabut sebentar lagi akan datang. Dengan arahan Kala, mereka menyalakan obor api putih yang terang, mereka juga membuat terompet dari pahatan kayu yang akan ditiup jika terpisah.


“Ingat, kita berada di hutan yang berbahaya. Aku tidak tahu apa yang membuat kita bisa aman di sini, tapi tetaplah berhati-hati.” Kala masih dalam keadaan risau walau berkata seperti itu, ia tidak menerima laporan serangan apa pun saat ia berada di dalam gua. “Jangan mengobrol hal tidak penting nantinya. Sekali kau lengah, nyawa menjadi taruhan.” Kala berpesan sebelum meninggalkan tempat ini.


Kabut mulai turun dengan angin lambat yang membawa bisikan dingin. Jarak pandang yang tidak memandai membuat mereka berjalan lebih lambat, kecuali Kala yang terus di depan.


Belum ada aura jelas dari herbal sampai saat ini, atau pergerakan dari hewan buas malam. Sepertinya mereka sengaja menghindar jauh dari rombongan Kala, atau memang kondisi sebelumnya begitu.


Kala juga menemukan kejanggalan lain di sini: tidak ada tulang belulang apa pun. Bahkan saat di tepi sungai tiga bulan lalu, ia tidak juga menemukan tulang belulang. Kali ini Kala menyalahkan dirinya sendiri yang mungkin kurang jeli, mana mungkin tidak ada hewan mati di sini dan bahkan banyak manusia mati di sini, sehingga Kala memfokuskan mata ke tanah-tanah sekitar dan sela-sela akar pohon.


Sampai ia menemukan secara tidak sengaja, tanah bergoyang pelan kemudian berhenti secara spontan. Kala menghentikan langkahnya lalu mengeluarkan Keris Garuda Puspa dari sarungnya. Sekilas bayangan kabur melesat ke arah sana, bertepatan dengan tubuh Kala yang menghilang juga.


Semuanya terjadi dengan sangat cepat sampai terdengar suara jeritan yang sangat menyedihkan. Empat pranor dari Golok Emas mengeluarkan goloknya dari sarung, pandangan mereka tertuju pada Kala yang hampir menghunjam tanah di bawahnya menggunakan Keris Garuda Puspa.

__ADS_1


Napas Kala naik turun, ia menghentikan serangannya setelah mendengar jeritan yang begitu pilu. Rasanya jeritan itu berada di arah yang jauh, tapi terdengar juga di sebelah telinganya.


“Jangan bunuh anakku, Kesatria Garuda Agung! Bunuh saja aku! Aku cukup kuat untuk membantumu latihan, aku bersedia mati, tapi jangan anakku!” Pohon di sebelah Kala bergoyang merubuhkan dedaunan yang setengah kering, mengeluarkan pekik lelaki tua yang pilu dan menggema.


Kala memandang pohon tersebut, sebelum melirik tanah di bawahnya. “Tampilkan wujudmu sebelum aku menghunjam kerisku.”


Tanah kembali bergejolak di daerah kecil sebelum menampilkan benih hijau seukuran telapak tanah. Benih itu diselimuti kelopak-kelopak hijau muda, dengan akar-akar serabut kecil yang bergetar ketakutan. Kala tidak kuasa memegang Keris Garuda Puspa, menjatuhkannya pelan tanpa sengaja.


Kini ia sudah tahu jelas mengapa rombongannya aman-aman saja selama tiga bulan terakhir. Mengapa tidak ada serangan atau kejadian-kejadian menyeramkan seperti apa yang dirumorkan.


“Kesatria Garuda Agung, jangan bunuh anakku, aku mohon.” Pohon besar yang di sampingnya mengira bahwa Kala tergiur dengan benih kecilnya. “Aku cukup kuat untuk latihanmu, dan bagian-bagian tubuhku sangat berharga.”


Kala tidak bisa menjawab, perasaannya berkecamuk. Pohon itu malah semakin khawatir dan menjatuhkan sebuah kristal seukuran kelingking berwarna putih cerah.


“Kesatria Garuda, itu adalah kristal yang aku kumpulkan dari tanah. Mohon pertimbangkan lagi, Kesatria Garuda, aku sangat menyayangi anakku.”


“Hentikan ini!” Kala berseru. “Aku sangat malu dengan diriku sendiri. Seharusnya aku menyadari sejak lama bahwa kalian melindungiku, karena aku Kesatria Garuda. Tapi betapa kejinya aku yang ingin membunuh hanya untuk kepuasan, hanya untuk latihan. Aku akan pergi, jaga anakmu baik-baik.” Kala menyarungkan Keris Garuda Puspa sebelum berlalu meninggalkan si pohon yang berterimakasih sambil terus menangis.


Djimas, Saka, Sakti, Dharma sama-sama heran dan kagum dengan Kala. Mereka juga merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia: dilindungi oleh hutan mengerikan yang terkenal.


“Baiklah, Kawan-kawan. Kita tidak akan menebang atau merusak hutan ini lagi. Kita akan latihan dengan cara berbeda.” Kala tersenyum lebar. “Kalian akan tanding denganku.”


Lutut keempatnya segera melemas, bahkan Djimas yang biasanya gagah berani kini melemas. Ia sudah melihat gerakan secepat kilat Kala tadi, mereka masih mau hidup!


“Sekarang, cari lapangan luas.”


***

__ADS_1


Keempat pranor itu tertidur tak berdaya di tengah lapang rumput hitam yang kering. Sehabis adu tanding dengan Kala, atau lebih tepatnya sebagai alat latihan Kala, mereka kehabisan tenaga dan tubuh mereka penuh dengan luka lebam.


Keris Garuda Puspa tidak ditarik keluar selama Kala beradu dengan mereka, ia hanya memakainya dengan sarung keris yang masih melekat, itu cukup untuk membuat tubuh mereka lebam-lebam.


“Aku tidak bisa membayangkan ... jika Kesatria Garuda mencabut kerisnya ... yang panjang itu.” Saka terengah-engah dalam memberikan pendapat, matanya memandang langit yang mulai terang.


Sedangkan Kala, tidak ada luka sedikit pun di tubuhnya walau ada beberapa serangan yang mengenai tubuhnya. Tapi itu bukan serangan fatal. Kini ia berada di tepi lapangan sambil mengasah Keris Garuda Puspa.


Dahinya mengernyit, ia mendapati sebuah kesalahan dalam keris kesayangannya itu. Sesuatu yang tidak beres, kendi yang ada di dalam keris tersebut mengalami sejumlah keretakan. Warna mereka juga mulai pudar dan menghitam, pikiran Kala terganggu dengan ini. Dengan kata lain, ia khawatir bahwa keris ini sudah terlalu sering dipakai.


Gurunya pernah berpesan padanya, keris tersebut adalah pusaka. Belum lagi gurunya menambahkan bahwa Keris Garuda Puspa adalah pusaka terkuat di pulau Jawa. Tidak boleh sembarangan dipakai, harus ada senjata lain untuk menghadapi perang kecil dan hanya boleh dipakai pada perang besar atau situasi yang cukup mendesak, begitu pesan gurunya.


Kala tidak melaksanakan itu semua. Bahkan ia baru ingat bahwa ini adalah pusaka terkuat di pulau Jawa. Kala sudah sangat nyaman dengan keris ini, dan menganggapnya sebagai teman di segala pertempuran baik kecil maupun besar.


Pada akhirnya, Kala memanggil Djimas. Golok Emas adalah perguruan yang pandai membuat pusaka dan golok berkualitas tinggi, bisa jadi ia bisa mengetahui masalah pasti Keris Garuda Puspa atau bahkan memperbaikinya di sana.


“Jika pusakamu ada masalah, kau bisa memperbaikinya di perguruan kami.” Djimas menjawab setelah Kala jelaskan masalahnya, walau penjelasan itu tidak terperinci. “Kami punya penempaan terbaik di seluruh Pandataran, pandai besi di sana juga memiliki ilmu tinggi.”


Kala mengangguk puas sebelum menyarungkan kerisnya lagi.


“Maaf, Kala, tapi dari mana kaudapat asahan itu?” Djimas menunjuk asahan yang Kala pegang, ia merasa aneh sebab Kala tidak membawa tas sama sekali.


Kala menggaruk kepala belakangnya. “Kerisku sudah bagai kawan sehidup-semati bagiku. Jadi aku selalu menyelipkan satu asahan bagus di dalam kantung baju. Apa ada masalah, Djimas?”


Djimas menggeleng cepat. “Tidak, tentu tidak. Aku mohon diri dari sini, Kala.” Kemudian ia mundur dan kembali ke tempat teman-temannya merebah.


Kala menyimpan kembali asahan itu di cincin interspatial yang ada di saku, lalu bernapas lega.

__ADS_1


__ADS_2