
"Mohon dimengerti, Patriark. Aku tidak berkencan tadi malam."
Kala menghela napas sebelum menceritakan semuanya.
Setelah mendengar cerita Kala, jelas saja patriark menjadi terkejut. Katanya, "Tabib Maheswari diculik? Dan kau menghancurkan komplotan perampok besar itu?!"
Kala mengangguk mengiyakan. Sedangkan Yudistira menggelengkan kepala sambil berdecak kagum. Menurut Kala, itu adalah kejadian biasa yang sering diceritakan oleh gurunya, namun bagi Yudistira itu bukanlah kejadian yang biasa-biasa saja.
"Tabib Maheswari diculik? Siapa yang punya nyali sebesar itu? Banyak sekali perguruan di belakangnya yang siap menghancurkan siapa pun yang berniat buruk terhadap tabib itu," seru Yudistira, "dan kau, berhasil meratakan Perguruan Harimau Besi hanya dalam satu malam? Hebat ... sungguh hebat. Mereka adalah kelompok penjahat terkuat dan terbesar di wilayah ini!"
"Patriark, ada rahasia yang membuat aku bisa meratakan Perguruan Harimau Besi hanya dalam waktu singkat. Namun, harap jangan Patriark sebarkan dan jangan menghalangi aku berbuat apa pun."
Patriark memandang Kala curiga. "Tergantung rahasia dirimu, jika rahasia itu mengancam kedamaian maka aku akan membunuhmu di tempat."
"Patriark, sebenarnya ada yang membantuku mengalahkan Perguruan Harimau Besi. Yaitu adalah Alang, peliharaan baruku yang merupakan elang api spesial." Kala tersenyum lebar, hatinya sudah yakin. "Alang memberikan serangan dari udara dengan bola api. Kekuatannya sungguh spesial dan berbeda dengan hewan spirit maupun hewan perusak dengan tingkat praktik yang sama dengan manusia."
"Elang seperti itu aku belum pernah lihat sebelumnya, dari mana kau bisa mendapatkan itu?" tanya Yudistira.
Kala tidak langsung menjawab karena kondisi Yudistira belum tenang, bisa-bisa ia berteriak kaget saat mengetahui faktanya nanti. Kala terlebih dahulu mengeluarkan Tuak Kunyuk Gunung untuk membuat Yudistira lebih tenang. Kala menuangkan Yudistira segelas tuak yang berbau harum itu.
"Patriark. Mohon diminum terlebih dahulu agar Patriark bisa menerima fakta dengan tenang." Kala minum setegak. "Ini adalah Tuak Kunyuk Gunung, dibuat oleh guruku dan bisa menambah prana."
Yudistira memandang Kala aneh namun ikut meminum tuak untuk menghormati pemberiannya. Matanya seketika terbuka, ia mengatakan bahwa ini adalah tuak yang sangat enak.
"Nah, Patriark sekarang lebih tenang." Kala meletakkan gelasnya dan membalas pertanyaan patriark. "Aku mendapatkan burung itu dari Garuda."
__ADS_1
Patriark menyemburkan tuaknya. Setidaknya tuak ini bisa menyumpal mulutnya agar tidak berteriak. Selanjutnya, Yudistira tertawa keras.
"Apa kau bilang? Garuda?! HAHAHA!!!" Yudistira tertawa keras. "Aduh, kau membuat kakek tua ini tertawa begitu keras. Garuda sudah mati, Nak. Jika ingin bercanda lihatlah kondisinya terlebih dahulu!"
"Tapi ...."
"Tidak usah dijelaskan! Aku sedang tidak ingin berdebat apalagi dengan orang bodoh. Berdebat dengan orang bodoh akan membuatku ikut tertular kebodohannya!"
Kala tersenyum tipis sebelum merubah matanya menjadi mata Garuda. "Aku adalah Putra Garuda, Kesatria Garuda."
Yudistira mundur beberapa langkah setelah mendengar sekaligus melihat mata Kala. Dka melihat dengan sungguh-sungguh bahwa itu adalah mata elang! Mata yang hanya didapat jika orang itu ditakdirkan menjadi Kesatria Garuda. Sebelumnya Yudistira tidak percaya dengan legenda ini, namun setelah melihatnya langsung ....
"Tidak mungkin! Tidak mungkin!"
Sang patriark memahami bahwa ia harus bersikap tenang atau Kala akan terkena masalah, ia menenangkan diri sambil berusaha menerima kenyataan.
"Aku tidak percaya ini, namun jika itu benar maka kau adalah sosok yang harus aku lindungi. Astaga, ini seperti mimpi saja." Yudistira menghela napas. "Tugasmu sangat berat, Nak. Jika terjadi sesuatu, tenang saja, Perguruan Teratai Putih selalu ada di belakangmu."
Kala tersenyum, ini sesuai dugaannya. "Terima kasih, Patriark. Mohon Patriark merahasiakan ini sampai aku mempunyai cukup kekuatan untuk melindungi diri sendiri."
"Itu pasti. Aku akan merahasiakan ini." Patriark ikut tersenyum. "Dan sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu tadi malam, mungkin ini adalah saatnya aku mengungkapkannya padamu."
Kala tersenyum canggung mengingat kesalahannya. "Apa itu, Patriark?"
"Aku dengar kau telah membunuh hewan spirit berupa kera. Kau tahu berapa batu energi yang kau dapatkan jika menjual itu?"
__ADS_1
Kala berpikir sejenak sebelum mengangkat bahu tanda tidak tahu. Tidak punya banyak batu energi membuat Kala tidak mengetahui nilai jual batu energi.
Patriark itu menggeleng. "Daging kera itu sangat mahal, satu kilo bisa mencapai harga seratus batu spirit."
Senyum Kala hilang, mulutnya terbuka lebar. Seratus batu energi bisa membeli satu porsi makanan mewah di restoran, kera itu sangat besar dan berat! Akan banyak uang yang Kala hasilkan dengan hanya menjual daging energi!
"Kemarin aku menjualnya, tetapi telah aku sumbangkan sebagian besarnya untuk pemulihan kota ini." Giliran Yudistira yang memsang senyum canggung.
Kala sedikit mengumpat di dalam hati, tetapi kemudian ia teringat nasihat gurunya bahwa segala kepentingan pribadi seorang Kesatria Garuda haruslah ditanggalkan serta harus lebih mengutamakan kepentingan serta keselamatan bersama. Maka dirinya kemudian berkata, "Tidak apa, Patriark. Jika Patriark ada di belakang dan mendukungku, maka tidak akan sulit bagiku untuk mendapatkan uang, bukan?"
"Ya, itu benar." Yudistira mengangguk sambil tersenyum pahit.
"Tapi tenang saja, Patriark! Aku tidak terlalu membutuhkan uang." Kala mengingat bahwa dengan kemampuannya, maka ia tidak akan kelaparan.
"Kau mau pakai apa pun juga tidak apa, aku punya banyak uang!"
"Tidak, Patriark." Kala tertawa kecil. "Jika kau memberiku banyak uang, maka aku tidak akan bisa menyelamatkan Nusantara."
"Kau benar, kau benar." Patriark tersenyum manis. "Kalau kau butuh uang untuk kepentingan Nusantara, maka jangan segan-segan untuk meminta kepada Perguruan Angin Utara."
Kala mengangguk puas. Ia menegak tuak sekali lagi sebelum menyimpannya atau ia akan mabuk, akan memalukan jika mabuk di depan orang asing yang tahu bahwa ia adalah penyelamat Nusantara. Penyelamat apa yang mabuk-mabukan?
"Ah, iya! Satu lagi, Kala." Patriark berkata, "Tadinya aku ingin menawarimu untuk bergabung ke Perguruan Angin Utara. Tapi, setelah aku tahu kau adalah Kesatria Garuda, lebih baik jangan bergabung atau itu akan menghambatmu. Aku pernah membaca kitab yang menyebutkan bahwa Kesatria Garuda mendapat kekuatan istimewa yang membuat tingkat praktiknya berkembang pesat tanpa perlu sumber daya banyak dari perguruan."
Kala mengangguk. "Itu benar, Patriark. Tingkat praktikku berkembang pesat dibanding dengan pranor lain. Dan mohon maaf, aku memang tidak bisa bergabung dengan perguruanmu. Terima kasih atas niat baik Patriark."
__ADS_1