Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Tenda Medis


__ADS_3

Yudistira menghampiri Kala dengan wajah yang sangat senang, namun ia tidak bisa berkata apa pun karena Kala masih berada dalam pelukan erat Maheswari. Patriark itu hanya bisa tersenyum canggung.


Kala berusaha menggerakkan bibirnya untuk berbicara. "Kak Mahes, tolong lepaskan. Ini membuat lukaku terasa semakin sakit."


Maheswari bergegas melepaskan pelukannya dan membiarkan Kala merebah dengan tenang. Tidak ada sama sekali senyum canggung di bibir Maheswari, wanita itu justru menampakkan senyum gembira.


"Kala, syukurlah kau sudah sadar. Kau sangat membuat kakek tua ini khawatir," ujar Yudistira.


Kala menjawab dengan perlahan, "Semua berkat Kak Mahes, Patriark."


"Aku tahu kalau pikiranmu dipenuhi berbagai pertanyaan, namun untuk saat ini keselamatanmu adalah yang nomor satu." Yudistira menunjuk beberapa muridnya. "Kalian, bawakan tandu darurat dan bawa pemuda ini ke tenda medis. Secepatnya!"


"Siap, Patriark!"


Kala mengangkat sedikit kepalanya, namun tubuhnya benar-benar lemah. Jadilah ia hanya berbaring dengan kepala bersandar pada gulungan kain. abenar-benar tidak berdaya!


"Kala! Jangan banyak bergerak, kamu sudah kehilangan banyak darah!" Maheswari menegurnya dengan keras.


"Kak Mahes, aku sedikit merasa haus." Kala berkata serak sambil tersenyum canggung.


Maheswari segera mengambil botol labu yang berisi air. Sangat tidak memungkinkan jika Kala minum dengan tangannya sendiri, harus ada seseorang yang membantunya.


Maheswari mengangkat sedikit tubuh Kala kemudian menempelkan mulut botol pada bibir pemuda itu. Menuangkan sedikit demi sedikit air ke dalam mulutnya. Adegan seperti ini adalah hal wajar bagi dunia medis, namun pemandangan ini dianggap sebagai pemandangan romantis bagi murid-murid Perguruan Angin Utara termasuk Yudistira.


Kala membeliakkan mata. Ia tidak menduga jika akan seperti ini jadinya!


Namun, adegan itu harus terpotong sebab murid-murid suruhan Yudistira telah kembali. "Patriark! Kami sudah bawakan tandu!"


***


Kala kini terbaring lemah di dalam tenda medis. Kasur Kala disekat dari kasur-kasur pengobatan lainnya. Yudistira dan Maheswari duduk di samping Kala.

__ADS_1


"Burungmu menyerang putra dari patriark itu. Dia benar-benar menyelamatkanmu." Yudistira menghela napas. "Namun, burung elang itu terluka cukup parah di sayap kanan."


"Di mana dia sekarang, Patriark?" tanya Kala yang langsung menjadi risau.


"Dia aman di dalam tenda medis yang lain."


"Baiklah, aku akan mengunjunginya nanti," gumam Kala.


"Burungmu memang menyelamatkan nyawamu, namun Tabib Maheswari tidak luput menyelamatkanmu dari serangan mematikan." Patriark tersenyum ke arah Maheswari.


"Terima kasih, Kak Mahes." Kala mengangguk kecil dan berterimakasih penuh arti.


"Itu bukan masalah, Kala." Maheswari masih terus menumbuk tanaman herbal. "Patriark Yudistira datang saat aku terdesak hebat, dialah yang sebenarnya menyelamatkanmu."


"Tabib Maheswari yang menyelamatkanmu," sanggah Yudistira.


"Tentu tidak. Patriark memberikannya serangan yang membuatnya langsung pingsan."


Patriark tersenyum lembut, tidak berniat menyanggah lebih jauh lagi. Tidak akan ada habisnya. Kala merasa ada kehangatan di dadanya, ia tidak sendirian.


"Tentu, Patriark." Maheswari menundukkan kepala saat Yudistira keluar ruangan.


Maheswari terus menumbuk tanaman herbal di cobek khusus. Kala tidak berniat mengganggu Maheswari, ia diam saja. Kala bertekad mulai sekarang, dirinya harus memangkas habis sikap arogan dan banyak berlatih agar kuat, Kala adalah harapan Nusantara.


"Kala, ini sudah jadi." Maheswari memegang sendok berisi penuh bubuk hijau. "Ini bisa menambah darah dan juga stamina, aku tidak sempat merubah bubuk ini menjadi pil, kamu harus memakan habis semua bubuk ini."


Kala meringis. "Apa rasanya pahit?"


Maheswari tersenyum nakal. "Oh, tidak. Ini sangat manis sepertimu."


Kala tersenyum canggung lalu berusaha menggerakkan tangannya untuk mengambil sendok kayu tersebut. Sekuat apa pun Kala, ia benar-benar tidak bisa menggerakkan tangannya secara maksimal.

__ADS_1


"Buka mulutmu." Maheswari menyodorkan sendoknya ke arah mulut Kala, namun Kala menghentikannya.


"Tidak-tidak ... tidak untuk kali ini. Aku bisa sendiri." Kala masih terus berusaha menggapai sendoknya.


"Kala, buka mulutmu."


"Tidak, Kak ... aku bisa sendiri."


"Buka mulutmu!"


Maheswari melotot ke arah Kala. Kala bergidik ngeri sebelum terpaksa membuka mulutnya. Tangan indah Maheswari menuntun sendoknya sampai pada mulut Kala. Saat sendok dan bubuknya masuk ke mulut, Kala menutup bibirnya, matanya terbuka lebar.


Apa ini?!


Rasanya pahit!


Kala ingin berujar namun mulutnya penuh dengan bubuk pahit, berbicara akan semakin memperburuk rasanya. Maheswari menarik pelan sendok itu dengan jemarinya, ia tersenyum menahan tawa.


"Kunyah Kala, jangan biarkan bubuk itu berada terlalu lama di mulutmu."


Kala mengunyah dan dengan cepat menelannya. "Air ... air ... air."


"Tidak Kala, tidak boleh minum atau bubuk itu akan netral bersama air." Maheswari menyangga dagunya dengan tangannya.


Bibir Kala meringsut. Ini obat pahit, dan Kala harus memakannya sesendok penuh. Apa tidak tambah menyiksa jika tak boleh minum?


"Aku butuh pemanis ... obat ini pahitnya bukan main." Ucapan Kala sedikit aneh, bibirnya kelu.


"Pemanis, ya ...."


Maheswari berpikir sebentar. Sebuah ide memang terlintas di benaknya, namun ia berpikir keras untuk melakukannya atau tidak. Apa yang sedang dipikirkan Maheswari? Hanya Tuhan dan dirinya yang mengetahuinya.

__ADS_1


"Tidak ada," ujar Maheswari setelah beberapa pertimbangan untuk tidak memakai ide tersebut. "Nikmati penderitaanmu, Kala. Aku akan mengobati pranor yang lain, sampai nanti!"


Maheswari beranjak pergi dari tempat duduknya, Kala terus mengumpat saat Maheswari sudah tidak ada.


__ADS_2