
Tombak itu terpental dan berputar-putar di atas. Tangan Kala mengeluarkan asap tanda terjadi bentrokan prana. Tombak itu juga berasap-asap.
Kala tidak mengetahui ke mana tombak itu jatuh, ia tidak melihatnya. Pula beberapa murid dari Perguruan Danau Hitam menyerbu dirinya sekaligus. Kala melawan mereka dengan mudah sampai mereka semua tumbang ke tanah, kini para murid dari Perguruan Danau Hitam tidak berani lagi mendekati Kala dan memilih mencari lawan lain.
Kala menatap pedangnya yang berlumuran darah. Wajahnya pucat seketika. Hari ini merupakan hari di mana ia membunuh begitu banyak manusia untuk pertama kalinya, tentu ini akan menjadi tekanan besar bagi seniman seperti Kala.
Saat Kala masih terhanyut dalam pikirannya, seseorang berujar padanya. "Jadi inilah rupa orang yang bisa membuat tombakku terpental begitu jauh! Bagus-bagus, aku ingin melihat kau melakukannya sekali lagi."
Kala memandang orang itu dengan kosong. Orang itu adalah seorang gadis muda yang dapat dikatakan sangat menawan. Tombak yang tadinya dipentalkan oleh Kala, kini berada di tangannya. Kala tidak berkata apa-apa sebelum memperhatikan lagi pedangnya. Pikirannya masih sangat kacau!
"Sialan kau! Berani sekali mengacuhkanku!" hardik wanita itu, namun Kala masih tidak mengacuhkannya membuat wanita itu naik pitam. "Rasakan tombakku!"
Wanita itu terbang dengan tombak di tangannya, wanita itu mengarahkan tombaknya ke arah Kala. Kala masih terdiam di tempatnya, jiwanya seperti sudah meninggalkan tubuhnya yang kaku itu. Tombak terus mendekat namun sesuatu tiba-tiba mencegat lajunya.
Trang!
Tombak itu tertahan oleh sebilah pedang biru transparan. Jarak antara tombak itu dengan Kala hanya beberapa jengkal saja namun untungnya ada yang menahan tombak itu! Kala seperti sadar dari lamunannya, tubuhnya bergetar hebat sebelum jatuh ke tanah. Ia mengesot ke belakang, pedangnya sudah lepas dari genggaman.
Sesosok gadis berpakaian serba putih dengan wajah yang teramat sangat cantik adalah orang yang menahan tombak itu. "Apakah melawan yang lebih lemah adalah tradisi Perguruan Danau Hitam?"
"Kak ... Maheswari ...." Kala berujar dengan terbata-bata setelah mengenali wanita penyelamatnya.
"Kala, mundur." Maheswari berkata dengan raut wajah serius.
__ADS_1
Gadis yang memegang tombak itu segera menarik senjatanya dan kembali menginjakkan kakinya ke atas tanah. Dia tersenyum sinis sambil memandangi Maheswari.
"Kau mau jadi pahlawan, ya? Apa kau tidak sadar bahwa kau hanya akan mati bersama orang yang kau tolong itu?"
"Ini keputusanku untuk membunuhmu, bukan sebaliknya." Maheswari juga tersenyum sinis.
"Mari kita lihat siapa yang akan mati lebih dulu!"
Wanita dengan tombak terhunus meluncur ke arah Maheswari. Maheswari berputar naik ke atas, rambutnya yang panjang ikut berkibar sama seperti gaunnya. Jari-jemari Maheswari melepas pedangnya, pedang biru itu terbang ke arah sang wanita tombak.
Tombak dan pedang beradu. Pedang Maheswari terpental karena tombak itu jauh lebih kuat daya hantamnya jika dipegang oleh pemiliknya. Maheswari mengarahkan pedangnya kembali ke tangannya dan maju menyerang.
Wanita dengan tombak dan Maheswari bertarung sengit dengan senjata masing-masing yang merupakan senjata spirit. Maheswari sangat indah dan ringan saat bertarung, ia seperti kehilangan bobot tubuhnya dan dengan enteng meloncat ke segala arah bagai kapas.
"Sialan kau! Ilmu apa yang kau gunakan?!" teriak wanita itu frustrasi.
Maheswari tersenyum tipis. "Ilmu meringankan diri, masa kau tidak tahu?"
Wanita itu mundur beberapa langkah. Ilmu meringankan diri merupakan ilmu yang jarang orang dapatkan di tingkat prana Alam Kristal Spirit. Bagaimana Maheswari dengan mudah menguasai ilmu itu di tingkat prana Alam Kristal Spirit?!
"Jangan gunakan ilmu tinggi untuk melawan orang yang lebih lemah!"
Maheswari memiringkan kepalanya sambil menunjuk Kala. "Bukankah jika aku kalah maka kau akan membunuh dia yang juga lebih lemah darimu?"
__ADS_1
Wanita itu menggertak giginya. Dengan perkataan Maheswari yang demikian, itu sama saja menghina harga dirinya. Kemarahan dan rasa malu membuat wanita dengan tombak ini kalap, ia maju menyerang Maheswari dengan membabi buta.
Maheswari menghela napas. Serangan babi buta ini menghasilkan banyak celah dan Maheswari dengan mudah bisa menghabisinya. Maheswari menusuk tepat di jantung wanita tombak itu. Wanita tersebut membeliakkan mata sebelum jatuh muntah darah lalu mati.
Maheswari membersihkan pedangnya dengan prana, begitulah cara ia membakar darah yang membasahi bilah pedangnya. Setelah itu Maheswari menghampiri Kala dengan iba.
Kala kembali mengesot mundur, takut dengan Maheswari. Maheswari dengan cepat memegang bahu Kala agar dia tenang. Tatapannya tidak lepas dari mata pemuda malang itu.
"Kala, ini bukan kali pertamanya kau membunuh manusia bukan? Dini hari tadi kau membunuh banyak manusia, namun sekarang kamu ketakutan padahal hanya membunuh beberapa saja."
"Kak Mahes ...." Kala akhirnya membuka mulut setelah beberapa saat. "Aku tidak tahu apakah Perguruan Danau Hitam benar-benar jahat atau tidak. Saat aku membunuh banyak kelompok Harimau Besi, aku tidak merasa bersalah karena mereka memang buruk perilakunya."
Maheswari menghela napas, hampir tidak ada orang yang seperti Kala yang membunuh dengan enteng saat merasa bahwa itu memang pantas dibunuh. Maheswari sungguh menyetujui bahwa memang Kala yang pantas menjadi Kesatria Garuda.
"Kala, dalam perang tidak ada yang benar dan yang salah. Ini semua hanya tentang perbedaan. Perguruan Danau Hitam menganggap bahwa mereka yang benar, sedangkan Perguruan Angin Utara malah sebaliknya. Ini adalah perang, Kala, kamu harus tahu ini."
Kala menatap ke Maheswari, bebannya sedikit berkurang dengan perkataan itu. Ini adalah perang, apa pun yang terjadi adalah risiko. Ini adalah hidup, kekejaman adalah sahabat.
Maheswari tiba-tiba memeluk Kala, mungkin untuk memberi semangat untuk Kala. "Kala, dunia ini memang kejam. Cepat atau lambat kamu akan mengetahui ini."
Kala tidak membalas pelukan Maheswari melainkan hanya mengangguk. Para murid dari Perguruan Danau Hitam melihat adegan ini, mereka membuka mulutnya lebar-lebar namun tidak berani menyerang Kala dan Maheswari. Mereka baru berani menyerang saat muncul dua jagoan Alam Kristal Spirit.
"Mereka kira kita ini patung atau apa?!" ujar salah satu seniman itu. "Serang mereka!"
__ADS_1