Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Bertarung dengan Ayam


__ADS_3

Para kepala desa akhirnya mengangguk dan mulai menyuap makanan ke mulut mereka. Kala mengetahui bahwa mereka sangat kelaparan, tapi mereka makan dengan tenang seolah perut mereka tidak dalam kondisi lapar. Kala bersyukur telah memilih untuk membantu mereka, ternyata sikap mereka sesuai dengan apa yang diharapkan.


Kala makan dengan sedikit dan menghabiskan lebih banyak tuak. Bagi Kala, tuak seperti ini tidak enak jika dibandingkan dengan Tuak Kunyuk Gunung, tapi Kala tidak bisa meminum Tuak Kunyuk Gunung yang hanya tersisa satu kendi.


Para kepala desa tidak meminum tuak sedikit pun, situasi desa mereka tidak mengizinkan minum tuak untuk sekarang ini. Kala bisa maklum dan tidak memaksa mereka minum bersama.


Saat hidangan sudah habis dan para kepala desa juga sudah menyelesaikan makanannya, Kala mengajak mereka untuk meninggalkan restoran. Kala membayar semua hidangan yang baru saja disantap ramai-ramai, harga yang harus ia bayar cukup menguras keuangannya.


“Pendekar, aku ingin meminta kepadamu agar para warga kami juga bisa kenyang nantinya.” Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk meminta pada Kala.


Kala mengangguk pelan. “Itu pasti.”


Mereka melanjutkan perjalanan, kali ini kecepatan jalan mereka meningkat karena tubuh sudah lebih bertenaga.


***


Pada saat malam hari tiba, Kala memutuskan untuk istirahat di pinggiran hutan. Tidak ada penginapan sama sekali sedari tadi Kala berjalan. Lagu pula, jika ada penginapan sekali pun Kala tidak akan menginap sebab kondisi finansial.


“Bantu aku membabat semak-semak, jangan tebang pohon jika tidak sangat diperlukan.” Kala mengeluarkan alat-alat tani yang tadi ia simpan.


Para kepala desa mengangguk. Biarpun mereka adalah seorang kepala desa, tapi keahlian bertaninya bukan main. Kala juga tidak tinggal diam, ia pergi mencari kayu kering dan memburu hewan untuk makan malam.


Kala pergi lebih dalam ke hutan. Ia mengambil ranting-ranting besar yang kering, menaruhnya di cincin interspatial. Kala mengumpulkan ranting-ranting sampai ia rasa sudah cukup lalu mulai mencari hewan.


Kala lebih sering menjumpai burung dan tupai daripada kelinci atau ayam hutan. Kala menggaruk kepalanya, ia tidak menyangka jika berburu ternyata sesulit ini.


Langkah Kala terhenti saat ia mendengar sesuatu di balik semak-semak. Kala mengeluarkan kerambitnya dan mengendap-endap ke arah semak-semak.


“Petok?”


Kala lompat saking kagetnya. Dadanya naik turun tapi tangannya masih memegang kerambit dengan kuat. Makhluk itu keluar dari semak-semak lalu merubuhkan semak-semak hanya dengan sekali injak.


“Makhluk apa ini?!”

__ADS_1


“Petok!”


Kala masih terus menatap ayam raksasa di depannya. Tingginya hampir sama seperti tinggi pohon. Warna bulunya adalah putih bersih. Badannya gemuk dan sepertinya dia adalah seekor ayam betina!


Ayam itu tidak bersembunyi di balik semak-semak, ia bersembunyi di lubang besar yang berada pada belakang semak belukar. Dari kelihatannya, ayam itu sedang mengerami telur di lubang itu.


Kala yakin, ini adalah Hewan Perusak!


“Tangkapan besar!”


Kala memilih mengeluarkan pedangnya, kerambit tidak bisa membuat kerusakan besar pada tubuh ayam itu meskipun bisa dialiri prana.


Ayam itu merasa terancam saat Kala mengeluarkan pedang. Ia mengambil inisiatif menyerang pemuda itu terlebih dahulu dengan patuk mautnya. Kala melompat ke belakang, lompatan yang cukup jauh karena memakai prana.


“Tidak semudah itu, Ayam Gemuk!”


Kala meloncat ke depan sambil mengayunkan pedangnya. Ayam itu berusaha mengelak, tapi kepalanya tetap terluka parah terkena sabetan pedang Kala.


“Petok!”


“Ettt ... ettt, tak kena!”


“PETOOK!”


Wush!


Ayam itu secara tak terduga memuntahkan bola api pada Kala. Kala melompat tinggi. Namun, Kala tetap terkena gelombang kejut yang membuatnya terlempar cukup jauh.


“Alang bantu aku! Bagaimana kau bisa tidur di saat genting seperti ini?!”


Alang yang berada di bahu Kala hanya membuka sebelah matanya sesaat sebelum menutupnya lagi. Kala mengumpat dalam hati. Namun, jika Kala terus menggunakan kemampuan Alang, ia tidak akan berkembang.


Kala tidak sempat bernapas dengan nikmat, ayam itu berlari ke arah Kala. Kala menatap Alang sekali lagi sebelum maju menyerang.

__ADS_1


“Kau akan mati di tanganku!”


Kala melempar pedangnya ke arah si ayam dan itu tentu saja dapat dihindari dengan mudah oleh Hewan Perusak seperti dirinya. Si ayam menganggap Kala sudah putus asa sehingga sampai-sampai bertindak bodoh, tetapi kejadian berikutnya akan membuatnya panik bukan kepalang.


Kala memang melempar pedang itu. Namun, dengan ini Kala bisa menggunakan prana untuk menyerang dengan tangan kosong.


Kala melayangkan serangan tapak. Angin menggebu-gebu menuju tubuh si ayam raksasa. Debu-debu ikut tersibak merasakan dahsyatnya kekuatan Kala.


Tubuh ayam itu seakan menabrak sesuatu dengan keras. Suara patahan tulang terdengar bersamaan dengan tubuh ayam yang terpental mundur. Kala tak berhenti sampai di situ walau ia sangat kelelahan, ia terus berlari berusaha menggapai pedangnya sebelum si ayam bangkit.


Kala meraih pedangnya yang tertancap di tanah, si ayam masih kesulitan untuk bangkit dan inilah saat yang tepat untuk membunuhnya. Dengan lompatan yang tinggi, Kala menghunjam dada si ayam lalu mengiris lehernya.


Ayam betina raksasa itu kelojotan saat lehernya teriris. Saluran tenggorokan dan kerongkongan ayam itu putus dan terus mengeluarkan darah. Urat-urat ayam itu juga terus mengeluarkan darah segar. Mata si ayam terbuka tapi pupil hitamnya menghadap ke atas.


Dada ayam itu berhenti naik turun setelah beberapa saat. Kala menghela napas saat merasakan hawa membunuhnya sedikit naik, hawa membunuh ini bisa menjadi masalah ke depannya.


Kepala ayam itu dipotong, Kala tidak berniat membawanya. Saat Kala ingin memasukkan tubuh ayam itu ke dalam cincin interspatial, sesuatu mengejutkannya.


“Eh? Kenapa tidak bisa masuk?” Kala mengibaskan tangannya berkali-kali lagi, tapi hasilnya tetap sama.


Kala mengecek cincin interspatial miliknya, takut akan ada kesalahan. “Tidak ada yang rusak. Tapi mengapa bisa seperti ini?”


Kala mencoba memasukkan batu kecil dan hasilnya batu itu hilang masuk ke dalam cincin interspatial. “Kapasitas cincin ini juga masih banyak, mengapa ayam ini tidak bisa masuk?”


Kala mulai menebak-nebak. Bisa saja ayam ini masih hidup, tapi Kala jadi ragu setelah melihat kepala si ayam terpisah dari lehernya.


“Bisa saja ada kehidupan lainnya. Kak Mahes pernah bilang ada cacing di perutku.” Kala tertawa ambyar.


“Aku bisa tanyakan ini pada Kak Ma ....” Ucapan Kala terhenti saat ia sadar akan tujuannya.


“Ah, sudahlah. Mari kita gotong saja ayam ini.”


Kala tidak lupa untuk mengambil telur-telur ayam itu, jumlahnya ada lima telur raksasa. Kala yakin, jika Maheswari memasak telur ini beserta ayamnya, maka akan nikmat sekali.

__ADS_1


“Aku masih ingin melihat kalkun.” Kala menggerutu mengingat janji Maheswari.


__ADS_2