Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Pertempuran di Hutan Telu


__ADS_3

Walau itu tidak membunuhnya, tapi Kala yakin ada sejumlah keretakan tulang. Telinganya berdengung keras dan visi patah-patah. Ditariknya keris ke belakang, tapi itu hanya menebas angin kosong.


Keris ini hanya memperberat saja!


Dilepasnya keris ke tanah dan melawan dengan tangan kosong. Tangannya dilapisi Prana lalu berbuah menjadi sekeras besi, Ilmu Tangan Besi sekarang dikombinasi dengan pencak silat.


Sejurus dari arah kanan, kilatan menyertai. Kala menarik kaki kanannya ke belakang dan membentuk kuda-kuda yang mengarah langsung ke lawan. Tangannya terbentuk seperti orang yang sedang menari.


Tangan Kala menangkis angin di pinggiran pedang yang menusuk. Walau hanya angin dari pedang itu, tapi tangkisan Kala sangat cepat dan tepat, tusukan lawan berbelok arah ke kiri sedangkan tangan Kala yang lain meninju tepat di muka lawan.


Si sosok berbaju hitam tidak jelas jatuh ke depan atau belakang. Tubuhnya berputar di tempat lalu jatuh sambil memegangi hidungnya yang berdarah.


Tidak menunggu lama, Kala mengunci gerakan lawan dengan menggelutinya. Tangan kanan yang memegangi kepala ditarik ke belakang, selanjutnya suara patahan terdengar dan lawan tidak bergerak.


Baru Kala berlari ke arah Aditya, terdengar suara semak tersibak di belakang disusul oleh derap langkah kaki. Kala lekas berbalik lalu mengambil Keris Garuda Puspa di tanah.


Kala juga melirik lima orang lainnya dengan pakaian sama berdiri dengan pedang berlumuran darah, tingkat Prana tidak ditebak, lawan berada di tingkat lebih tinggi dari Kala!


Dengan tergesa-gesa dan setengah menunduk dalam berlari, Kala menghampiri Aditya. Lima lawan seakan tidak ada di belakangnya. Ia memasukkan beberapa pil ke mulut Aditya untuk menahan nyawanya tetap di raga, kemudian Kala berbalik meladeni pedang yang menuju arahnya.


Lima lawan sekaligus bukan masalah bagi Kala. Pedang lawan selalu mendarat ke bagian yang tertutup baju. Kala mengalahkan mereka dengan mudah lalu menelan beberapa esensi Prana juga menyerap Prana dari batu energi.

__ADS_1


Namun, musuh seakan tidak ada habisnya. Sekarang ada tiga orang yang muncul dari semak-semak. Belum lagi Kala mendengar desing pedang dari penjuru arah. Kala menutup mata saat mengkhawatirkan Kaia, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa Alang adalah burung hebat yang bisa melindungi Kaia. Kini ketiga lawan di tatap.


Tidak perlu berbasa-basi yang menghabiskan tenaga. Kala mempersempit jarak. Pencak silat, Teknik Kapas, dan ilmu pedang dijadikan satu.


Serangan lawan sangat brutal. Tidak peduli jika cara bertarung seperti itu akan mencoreng nama mereka, namun tetap saja Kala mengalahkan mereka semua dalam beberapa pertukaran jurus.


Kini Kala kembali menghampiri Aditya yang napasnya terputus-putus. Pemuda itu mengeluarkan sejumlah batu energi agar Prana yang dikandungnya dapat terhisap Aditya.


“Kesatria Garuda. Perang sudah meletus. Geowedari-Pandataran. Ambil ini dan serahkan pada tumenggung di kota Banyu Bening. Secepatnya, tangan ribuan warga sipil di tanganmu.” Tubuh Aditya tiba-tiba mengejang sekali lalu mendekatkan mulut ke telinga Kala. “Kedamaian di Nusantara.”


Tubuh Aditya jatuh seutuhnya ke tanah dengan mata terbuka. Tidak ada lagi suara napas di hidung dan mulutnya. Kala merapatkan otot muka agar tidak menangis, tapi tetap saja menangis.


Dengan perlahan ia menutup mata Aditya lalu membenarkan posisinya. Kala mengelap air mata dengan punggung tangannya.


Tapi, ini pertama kalinya ia kehilangan orang berharga di medan perang. Akhza juga menambahkan saat masa pelatihan Kala, jangan pernah larut dalam duka terlalu dalam atau bahkan jangan ada duka jika masih di tengah medan tempur.


Kala bangkit lalu melirik sekali ke gulungan kertas emas yang Aditya wasiatkan. Kala menyimpannya di gelang interspatial lalu melihat kondisi hutan dengan matanya.


Pertarungan sudah tercipta di mana-mana. Saling adu pedang, panah melintas tak bertuan, dorong mendorong menembus barikade, pekik setinggi langit Kala pedang menembus daging. Ikut campur dengan pertempuran juga tidak ada gunanya, Kala harus mengantar gulungan ini ke kota itu secepatnya.


Dengan berlari secepat angin; sesunyi ular, Kala menembus pertempuran. Satu tebasan pedang menghadangnya, namun si empu pedang keburu mati saat keris Kala menebas.

__ADS_1


Di pertempuran kali ini, tidak hanya Kastel Kristal Es dan Laskar Progo saja yang berperang. Kala mengenali mereka semua dari seragam yang digunakan, jelas ini merupakan satuan perguruan dari seluruh pihak kerajaan dan juga prajurit langsung dari kerajaan.


***


Dua ribu pasukan bersama Maheswari bergerak ke Hutan Telu yang berbatasan langsung dengan Pandataran. Dua ribu pasukan ini merupakan gabungan dari seluruh perguruan di Geowedari serta dari pihak kerajaan sendiri.


Saat di pertengahan jalan rombongan dari Kastel Kristal Es berjumlah 200 orang tetiba ingin bergabung perang. Panglima menerima mereka dengan tangan terbuka walau tahu bahwa mereka sering buat ulah, keberadaan 200 orang bukanlah manusia biasa, mereka semua pranor dengan tingkat tinggi, tentu saja tidak dapat ditolak manusia pengecut seperti panglima itu.


Maheswari bahkan meludah ke tanah saat pasukan Kastel Kristal Es bergabung. Maheswari ingin mencabik mereka menjadi seribu bagian, tapi tentu ia tidak akan bodoh menyerang mereka yang begitu banyak itu.


Mereka sampai di Hutan Telu saat matahari telah tenggelam. Beristirahat sebentar tetapi laporan menyebut bahwa telah terjadi pembunuhan oleh pihak Pandataran.


Dua ribu pasukan itu segera bergerak menembus hutan yang konon dihuni hewan spirit buas.


Perang dengan cepat meletus. Maheswari berusaha menghindari pembunuhan dan hanya mengobati pihak kawan selain Kastel Kristal Es.


Salah satu prajurit berteriak bahwa Pandataran mulai mundur sedikit. Pada saat itu juga ia beberapa orang berteriak tinggi lalu ambruk ke tanah.


Sekelebat bayangan hitam lewat dan beberapa orang yang berusaha menghalanginya langsung terbunuh. Maheswari mengambil pedangnya saat bayangan hitam melintas di dekatnya dengan kecepatan tinggi.


Si bayangan hitam tetiba berhenti di depan Maheswari dan hanya menangkis serangannya, tidak membalas serangan berbeda dengan korban lainnya yang langsung dibunuh. Maheswari memandangi orang itu.

__ADS_1


Memakai set pakaian hitam, kain batik di pinggang, memakai topeng tersenyum berwarna putih. Dari postur tubuhnya, Maheswari seperti mengenalnya. Namun, orang itu tidak memberinya kesempatan untuk menerka dan langsung berkelebat lagi.


__ADS_2