
“Alang, berikan ia serangan pembuka. Setelah itu aku akan menghabisinya.” Kala berbisik pelan, ia tidak berniat meladeni pria ini terlalu lama.
Alang terbang dari pundak Kala, kecepatan terbangnya sangat luar biasa, hampir tidak dapat ditangkap oleh mata. Dalam satu detik, burung itu berhasil mengirimkan rentetan bola api, membuat pria tersebut terlempar jauh dengan tubuh berapi-api.
Kala mengalirkan prana pada pedangnya sebelum lari ke depan, kecepatan larinya juga tidak kalah dengan Alang. Tubuhnya seperti kapas yang tertiup badai, kaki hanya menyentuh tanah sebanyak tiga kali dan ia sudah berada di hadapan sang pria bertopeng.
Kala mengayunkan pedangnya, berniat menebas bahu kanan si pria, tapi serangan itu bisa ditangkis oleh pedang lawan yang muncul tiba-tiba. Kala dan pria bertopeng mundur lima langkah sebelum kembali menyerang.
Kala memberikan tusukan lurus sedangkan pria itu memberikan tebasan, Kala benar-benar salah langkah dan dengan terpaksa ia menarik pedangnya untuk menangkis.
Klang!
Walau sudah menangkis tepat waktu, Kala tetap terdorong ke samping dengan tubuh yang berputar-putar. Kala mengumpat dalam hati.
Sialan, mengapa aku bisa berputar-putar?
Pria bertopeng tertawa lantang. “Apa otakmu sudah pusing menerima jurusku, hah?”
“Tidak cukup pusing untuk menghabisimu.”
Blarr!
Belum sempat pria itu tertawa lantang, Alang sudah memberinya serangan lagi. Kala bangkit saat melihat celah, langkah agak terhuyung tapi ia tetap menyerang.
“Setan alas! Kalian bermain curang!” Pria itu mengumpat sambil terus menangkis serangan Kala yang bertubi-tubi.
Dengan serangan yang intens dan tepat, Kala berhasil memberi tusukan pada perut pria bertopeng walau tidak terlalu dalam. Pria bertopeng terlihat kesakitan dan cukup emosi, belum lagi ia melihat Alang terbang menujunya. Ia benar-benar frustrasi.
“Aku akan membunuh kalian!”
Pedangnya bergetar hebat sebelum berubah warna menjadi hitam pekat yang diselimuti aura hitam. Matanya juga berubah menjadi hitam sepenuhnya. Aura pembunuh miliknya juga bertambah ke taraf mengerikan. Ia mulai menyerang Kala dengan brutal.
Kala menangkis semua serangan yang datang sambil melangkah mundur. Tatapannya tetap tenang dan tidak terlihat ketakutan. Gurunya pernah berkata, orang yang kalut dan dalam emosi hanya bisa dihindari atau dilawan dengan ketenangan. Jadi, Kala hanya mengikuti alur dan menunggu celah untuk menyerang.
Trang!
Pedang Kala baru saja mendapat pukulan yang berarti, ujung pedang itu sampai patah. Tangan Kala terasa ngilu setelah menghadapi hantaman itu, ia loncat ke belakang memberi giliran pada Alang.
Blarr!
__ADS_1
Lagi-lagi, serangan Alang tak dapat dihindari sepenuhnya walau Alang hampir saja mati terkena tebasan. Pria bertopeng yang kalut itu mundur beberapa langkah sedangkan Kala maju menyerang.
Kuncinya adalah ketenangan ....
Trang!
Trang!
Kala menghembuskan napas dingin saat pedangnya berhasil memotong lengan kanan di pria bertopeng. Kini pedang Kala menghunus ke arah lehernya.
“Tanganku! Tanganku!” Pria itu menjerit histeris sambil memeluk lengannya yang buntung, ia bahkan mencoba memasang kembali bagian yang terpotong ke tempat semula.
“Cepat katakan siapa yang membayar untuk kepalaku?”
Pria itu menatap Kala dengan amarah besar sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.
“Bagaimana jika aku tidak ingin mengatakannya?”
Kala menendang perut pria bertopeng. “Katakan atau aku akan mengirim arwahmu ke neraka.”
“Aku tak takut mati, kau telah mengambil lenganku. Ya. Lenganku ... lenganku!” Pria bertopeng kembali tertawa kencang.
“Oh, ya?” Kala menancapkan pedangnya ke tanah berlutut di samping pria itu.
Mata kanannya kini sudah raib, tersisa lubang yang terus mengeluarkan darah. Pria bertopeng semakin menjerit, bahkan darahnya dari mata kanan masuk ke mulutnya, ditelan darahnya sendiri.
“Mungkin selanjutnya kau akan kehilangan lengan kiri lalu mata kirimu, kemudian kaki kanan dan kaki kirimu, baru nyawamu.”
“Aku tak takut mati!”
Bak!
“Cepat katakan atau nyawamu hilang.”
Pria bertopeng itu terbatuk-batuk setelah Kala menendang keras perutnya. Kala yang gemas dengan paksa membuka topengnya, terpampang lah wajah ketakutan dengan darah yang mengalir dari mulut.
“Aku ... tidak akan pernah ....”
Kala tersenyum lebar menanggapi jawaban pria itu, ia kemudian berjalan pelan mengitari tubuh si pria yang tersungkur. “Bagaimana jika kita bermain-main dulu?”
__ADS_1
Kala mengangkat kaki kanannya ke atas tepat di atas jari-jari si pria, ia kemudian mengentak dengan keras.
Krak!
Dengan terkekeh pelan, Kala menggelengkan kepala. Sedangkan si pria yang malang itu meraung-raung kesakitan, Alang menggelengkan kepala dari atas pohon melihat tingkah laku si pria dan Kala.
Jari telunjuknya baru saja Kala injak, tulangnya hancur berkeping-keping dan pembuluh darahnya pecah. Belum sempat ia menyelesaikan raungan, Kala sudah menginjak jari tengahnya.
“Apa kau berubah pikiran?” Kala tersenyum lebar.
“Baiklah! Baiklah!” Si pria berkata dengan ketakutan, “aku adalah Topeng Harimau, pendekar di kota ini. Aku menemukan poster buronan hampir di seluruh kota, dan wajah yang dilukiskan di sana adalah wajahmu. Kepalamu dibayar mahal, aku ke sini untuk menjemput kepalamu.”
Kala memejamkan mata sejenak, akhirnya ia memiliki musuh yang tak dikenal. “Siapa yang memasang poster itu?”
“Di sana terdapat tanda langsung dari tumenggung. Katanya, kau telah melukai anak tumenggung.”
“Berengsek!” umpat Kala, anak tumenggung itu yang salah dan mengapa ia yang mau dibunuh?
“Aku sudah memberi tahu semua yang aku tahu, sekarang biarkan aku pergi.” Pria itu merangkak menjauhi Kala, tapi pedang rusak Kala sudah menembus dadanya.
“Memangnya aku pernah mengatakan bahwa akan membebaskanmu setelah itu?” Kala menarik pedangnya.
Pria malang itu langsung ambruk dan memuntahkan darah dari mulutnya, dadanya juga terus mencucurkan darah segar.
“Kau ....” Setelah itu napasnya berhenti, juga dengan pendarahannya.
Kala menghela napas panjang, benar-benar tidak menyangka bahwa jiwanya begitu kejam seperti ini. Sekarang tampangnya tidak ada ubahnya dengan maniak pembunuh dengan baju darah.
“Aku harus cepat, Kaia pasti dalam bahaya. Alang, ayo!” Kala bersuit pada Alang sebelum meninggalkan lokasi sepi itu.
***
Kala hampir sampai di toko baju. Matanya sedikit terganggu dengan poster-poster dirinya yang ditempel hampir di seluruh kota. Orang lain juga melihatnya dengan nafsu atau ketakutan, Kala merasa ada beberapa orang yang mengejarnya secara sembunyi-sembunyi.
Dengan ilmu meringankan tubuh, Kala sampai di wilayah toko itu dengan cepat. Situasinya buruk, banyak orang yang berkerumun di toko baju sambil membawa senjata. Beberapa berteriak-teriak dengan semangat.
“Bunuh dia! Bunuh dia!”
“Pancung! Pancung!”
__ADS_1
Hampir tidak ada yang menyadari keberadaan Kala di situ, sampai pada akhirnya ia menembus kerumunan. Kala menembus kerumunan, berusaha mencapai toko baju dengan cepat, ia mengeluarkan pedang rusaknya untuk menakuti warga.
Warga yang awalnya berteriak-teriak kini menatap Kala. Mereka tetap memberinya jalan, ada rasa ingin melawan Kala tapi rasa takut menghalangi mereka. Belum lagi Kala mengeluarkan aura membunuh yang pekat, membuat orang di sekitarnya lemas lutut.