Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Iblis yang Cantik


__ADS_3

Mengabaikan protes Kala, Kaia pergi ke arah pepohonan yang lebat. Berkali-kali Kala menepuk dahinya sambil bergumam soal kelakuan Kaia.


Beberapa saat kemudian, Alang muncul dengan jubah hitam menggantikan bajunya. Terlihat menyeramkan!


“Wah, Kaia. Kau terlihat bagai iblis yang cantik.”


“Pujian sampah!” Kaia menyumpah lalu bergerak menuju air terjun.


Kala menggelengkan kepalanya lalu melihat Kaia yang tengah menuju terkaman liar air. Saat air dingin mengguyur Kaia, gadis itu terlihat sangat terkejut oleh tekanan air dan langsung terjatuh ke bawah terbawa arus.


Dengan tergapai-gapai, Kaia berenang menuju pinggiran. Setelah berhasil naik ke pinggir sungai, Kaia memuntahkan sejumlah air. Ini di luar bayangannya, jauh lebih sulit dari pada yang dipikirkan.


Kala yang masih berada di tempat memanggil Kaia untuk kembali. Gadis itu memilih mengabaikan Kala sambil merebah di batuan-batuan kecil.


“Jika kau tidak mau meneruskan latihan, maka aku akan meninggalkanmu sendiri di sini. Biar kau mencariku di belantara hutan yang penuh hantu ini!” Kala memberi ancaman, nadanya sangat tegas sehingga berhasil memaksa Kaia untuk bangkit.


“Aku sudah tidak sanggup lagi!” Kaia berteriak, berusaha mengalahkan deburan air.


“Itu kalimat umum yang berlebihan. Kau melakukan hal tadi tanpa teknik sama sekali.” Kala kembali menunjuk tempat semula. “Berjalanlah dengan tenang, arahkan Prana pada pundak dan betismu. Lakukan dengan benar jika kau mau mempelajari ilmu meringankan tubuh.”


Kaia mengambil napas dalam-dalam lalu maju sesuai arahan Kala padanya. Ototnya mengejang seakan tubuhnya berkali-kali lebih berat dari biasanya.


“Sekarang bersila di bawah air terjun selama mungkin.” Kala seakan berbisik di sebelah Kaia, padahal deburan air yang sangat keras sangat tidak memungkinkan!


Dengan yakin dan pasti bisa, Kaia mulai mengambil ancang-ancang duduk. Namun, saat lututnya ditekuk setengah, pada saat itu juga dirinya kembali jatuh ke air. Kala menggelengkan kepala sambil berdecak beberapa kali.


Kaia kembali ke hadapan Kala seperti tadi, tapi kali ini sepertinya ia sudah merasakan manfaat dari latihan. Kala tersenyum lebar sambil menunjuk lagi bawah air terjun.


***

__ADS_1


Kaia selesai latihan tak berselang lama setelah tubuhnya benar-benar babak belur. Tangan dan wajahnya lecet-lecet setelah tergores oleh batuan dasar sungai. Kala masih belum memikirkan latihan yang tepat untuk Alang, ledakan akan membutuhkan lahan yang luas dan aman.


Mengetahui sepertinya Kala tidak ingin melatihnya hari ini, Alang bernapas lega.


Kala menggeleng kepala pelan lalu menyiapkan bakaran. Mengeluarkan daging tikus dari cincin interspatial, membersihkannya, lalu dibakar.


Aroma daging panggang yang renyah mampu membuat Kaia sedikit bergerak dari posisi rebahannya, setelah melihat bahwa aroma itu berasal dari daging tikus tadi, ia kembali merebah bahkan menutup hidungnya.


“Waktunya makan siang.” Kala membagi dagingnya menjadi dua tusuk bagian. Satu tusuk Kala telah gigit sedikit, sedangkan tusuk yang terakhir diberikan pada Kaia.


“Aku tidak lapar.” Namun, sesaat setelah Kaia mengatakan itu, perutnya berbunyi. Kala tetap menyodorkan daging itu pada Kaia.


“Tentu kau akan menghargai masakanku, bukan? Aku sudah berjanji bahwa akan memberimu makanan enak.” Raut muka Kala terlihat sedikit kecewa walau ia sudah menutup-nutupinya.


Kaia menutupi raut jijiknya, tidak ada niat di hati akan menyinggung Kala. Sehingga dengan sedikit terpaksa, Kaia menerima tusuk kayu yang menusuk setengah badan tikus panggang itu.


Namun, niatnya yang ingin menelan daging itu tanpa banyak mengunyah sekarang disesalinya. Melupakan bahwa ini adalah daging tikus, Kaia baru merasakan daging dengan rasa luar biasa seperti ini.


Bahkan daging sapi akan sangat kalah dengan rasa daging tikus ini. Entah karena Kala yang memasaknya atau karena karena daging ini sudah enak sebelum dimasak. Melihat cara makan Kala yang biasa saja, itu mengartikan bahwa ia sudah sering makan makanan seperti ini.


Sekarang dengan mulut ternganga, Kaia memandangi dagingnya. Sekarang ia merasa bahwa bagian Kala terlalu banyak sedangkan bagiannya terlalu dikit. Dan dengan perlahan, Kaia memakan daging itu, ia berpikir bahwa tikus seperti itu akan sangat sulit ditemukan lagi sehingga makanan ini akan sengat langka.


“Jangan makan perlahan seperti itu, makan saja seperti biasanya. Akan ada banyak makanan-makanan enak esok hari, tenang saja,’ kata Kala santai.


“Daging seperti ini akan sangat jarang ditemui, bukan?” Kaia bertanya penuh selidik.


“Daging tikus? Ini Tikus Spirit biasa, ayam akan lebih nikmat dengan resepku.”


“Jadi ini bukan karena daging tikus yang memang enak?” tanya Kaia; Kala menggeleng. “Apa kau serius?”

__ADS_1


“Jangan meributkan hal yang tidak penting mulai sekarang.” Kala menyelesaikan suapan terakhirnya. “Cepat ganti pakaianmu, kembalikan jubahku.”


“Malam sepertinya akan dingin, boleh aku meminjam jubahmu untuk sementara waktu?” Mata Kaia menatap Kala dengan penuh harap.


“Kalau itu maumu, pakai saja, tapi kau harus tetap memakai baju di dalamnya.” Kala menatap tajam pada Kaia. “Aku tentu tidak mau jubahku bersentuhan langsung dengan kulitmu dalam waktu lama.”


Kaia mendengkus kesal lalu berlalu dengan cepat. “Dasar mesum.”


Kala hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu menawarkan Alang beberapa batu yang bagus. Sebenarnya perbuatan Kala termasuk ilegal, ia sama saja menghilangkan mata uang kerajaan dengan memberi makan pada Alang. Dan jika orang lain tahu bahwa Kala menghamburkan uang hanya untuk hewan peliharaannya, mereka akan mengoyak Kala.


Namun, prinsip Kala berkata lain. Selama itu untuk yang tersayang, ia tidak peduli dengan uangnya yang habis. Dan jika orang lain tahu prinsip Kala, maka mereka akan mendekat padanya sebagai pacar sementara atau teman sementara.


Lagi-lagi Kala berpikir bahwa pemikiran orang-orang saat ini sudah rusak. Semakin ia bertekad untuk mengubah Nusantara.


Kaia kembali dengan menenteng jubah Kala yang masih basah kuyup. Ia sudah berpakaian rapi, tapi tidak mungkin jika harus memakai jubah basah itu.


“Kau pasti punya ilmu untuk membuat baju menjadi bersih dan kering seketika, maka keringkan jubah ini.” Secara tidak langsung, Kaia menyinggung janji Kala dulu bahwa akan mengajarinya ilmu membersihkan pakaian sekejap.


“Aku tahu maksudmu.” Kala tersenyum tipis. “Kemari, biar aku ajarkan.”


Dengan wajah yang sedikit gembira, Kaia duduk di samping Kala. Teknik dasar Kala ajarkan, mulai dari cara mengalirkan Prana bertekanan kecil ke kain hingga cara melempar kotoran.


Awal-awal Kaia memang sedikit gagal mengalirkan Prana, tapi ia belajar dengan cepat, berhasil hanya dalam tiga percobaan. Air di jubah Kala menjadi uap dan pakaian itu cukup kering dan hangat untuk dipakai.


Kala juga mengajarkan Kaia cara membuat obor seadanya dengan menggunakan kapas, kayu, minyak.


Setelah selesai membereskan semuanya, Kala, Kaia, Alang melanjutkan perjalanan. Tentu saat itu hari sudah gelap berikut dengan awan hitam yang menutupi jagat langit.


Tak lama berselang setelah meninggalkan sungai, guntur mulai menyinari langit dan gemuruhnya membangunkan yang tertidur.

__ADS_1


__ADS_2