
"Ada apa, Kak Mahes?"
"Kamu ingin ikut bertempur? Apa kamu sudah gila?!" bentak Maheswari, matanya seperti akan keluar dari tempatnya.
Kala bergidik ngeri menghadapi bentakan Maheswari. "Betul, Kak Mahes, aku merasa diriku di sana akan lebih berguna ketimbang di sini."
"KAU TIDAK BOLEH KE SANA!"
Maheswari tanpa sadar mengeluarkan nafsu pembunuh. Kala mundur beberapa langkah sebab takut! Saat menghadapi Kera Spirit tempo lalu, dirinya tidak merasakan takut seperti yang ia rasakan saat menghadapi Maheswari!
"A-aku ... aku ...." Kala menelan ludahnya di bawah tatapan tajam Maheswari.
"Jangan pernah pergi ke pintu utara kota! Ikut denganku ke tempat lain!"
Gertakan itu sungguh dahsyat sebab telah disertai tenaga dalam, tetapi Kala menegarkan jiwanya. "Tidak, Kak Mahes. Aku harus ke sana, ini tugasku!"
"Aku tidak mau tahu!"
Maheswari menarik tangan Kala namun Kala seperti paku, tidak bisa ditarik dengan mudah.
Kini Kala yang membentak, "Aku harus ke sana! Kak Mahes, engkau mungkin sangat peduli kepadaku, tetapi tugasku bukanlah untuk bermanja-manjaan saja! Aku harus bertempur, sekalipun itu mengempaskan nyawaku!"
Maheswari tercekat. Ia melihat Kala yang memang tekadnya bukan main. Tidak mudah untuk menahannya, lagi juga ini memang merupakan tugas dari Kesatria Garuda. Seluruh semesta telah memilihnya, dia absolut, dan mengapa Maheswari berani menahannya?
"Kala ... aku hanya takut kehilanganmu."
Kala memutar otaknya sebelum menghadirkan senyum lembut. "Kak Mahes, ada Elang Api yang sedia mendukungku dari atas sana. Juga aku akan dilindungi Patriark, kemungkinan aku mati akan sangat sedikit. Aku juga khawatir kehilanganmu, Kak Mahes, maka aku akan melindungimu di garis depan sana. Lepaskanlah diriku."
Mata Maheswari basah, ia hampir menangis!
__ADS_1
"Aku akan ikut denganmu!" kata gadis itu kemudian.
"Tidak bisa, Kak. Bukan sembarang orang yang diizinkan bertarung di sana, terutama tabib seperti dirimu yang dibutuhkan orang banyak setelah pertempuran selesai," kata Kala mengungkap kenyataannya.
Airmata Maheswari akhirnya lepas dari kelopak mata, dua sungai kecil tercipta di pipinya yang indah. Kala merasa bersalah namun menganggap bahwa hal itu adalah wajar bagi seorang wanita.
"Tidak perlu bersedih, Kak Mahes. Aku akan kembali secepatnya dalam keadaan utuh, aku berjanji!"
Maheswari mengangguk pelan sebelum mengeluarkan beberapa pil dari dalam cincin interspatial-nya. Dia mengatakan bahwa pil-pil itu bisa menyembuhkan luka yang cukup berat dalam sekejap mata.
Kala menerimanya sambil tersenyum hangat. "Terima kasih, Kak. Sekarang aku harus segera pergi, sampai jumpa!"
Saat Kala beranjak pergi, langkahnya tertahan sebab Maheswari tiba-tiba menahan lengannya. Kala berbalik, dilihatnya Maheswari membuka ikatan sabuk di pinggangnya. Pemuda itu membeliakkan mata dan segera mundur ke belakang!
"Aku ingin menunjukkan sesuatu yang mungkin bisa menyemangatimu saat bertempur nanti," kata Maheswari kemudian.
"Kak Mahes! Apa yang kau lakukan? Aku tidak perlu seperti ini!"
"Ini adalah ranting yang pernah kamu berikan kepadaku, aku masih dan akan selalu menyimpannya. Mungkin dengan melihat ini, kau lebih bisa bersemangat!" Maheswari tersenyum lebar. Astaga, tampak seperti senyum seorang bidadari surga!
"Kak Mahes ...." Kala juga menunjukkan cincin pemberian Maheswari dulu.
Mereka sama-sama tersenyum sebelum Kala berbalik dan kembali ke tenda Yudistira. Patriark Perguruan Angin Utara itu sudah siap dengan seluruh pakaian tempur melekat di badannya. Setelah bertemu Kala, Yudistira mengajaknya ke pintu utara menggunakan kuda.
Sebenarnya, dengan kekuatan Kala akan lebih cepat sampai ke pintu utara bila berlari menggunakan prana. Namun, mereka harus menghemat prana sebisa mungkin untuk pertempuran nanti.
Butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke pintu utara. Di sana sudah banyak murid-murid dari Perguruan Angin Utara, mereka berbaris rapi di luar gerbang. Masing-masing murid memegang pedang khas Perguruan Angin Utara. Wajah mereka tidak menunjukkan rasa takut sama sekali, mereka malah menunjukkan wajah garang.
Beberapa murid bergeser untuk memberi jalan Yudistira dan Kala. Yudistira dan Kala terus memacu kudanya sampai ke barisan terdepan. Di barisan terdepan, sudah ada beberapa tetua yang memiliki tingkat prana Alam Kristal Spirit, mereka semua memberi hormat pada Yudistira.
__ADS_1
Kala memandang ke depan. Yang terlihat adalah hamparan padang rumput yang luas, tidak ada tanda-tanda musuh di sana. Kala menduga bahwa memang musuh belum muncul atau pasukan telik sandi yang melakukan kesalahan.
"Patriark, tidak ada musuh sejauh mata memandang. Apa benar terjadi penumpukan musuh di pintu utara?" tanya Kala pada Yudistira di sampingnya.
"Pasukan telik sandi mengatakan bahwa musuh bersembunyi di balik hutan. Mereka semua bersenjata lengkap. Kita harus waspada di arah mana saja." Yudistira menjawab dengan tenang.
Kala mengangguk paham. Ini adalah perang terbesar pertamanya seumur hidup, yang harus dilakukannya hanyalah paham terhadap semua instruksi dari orang yang lebih berpengalaman. Kala memandang ke belakang, ia menyisir sepanjang barisan pasukan di belakangnya, mata Kala terhenti di barisan tempat para murid perempuan.
"Mengapa mereka semua menatapku seperti itu, Patriark?"
Kala menunjuk tempat para murid perempuan Perguruan Angin Utara, mereka semua menatap Kala seakan-akan Kala adalah senja yang indah. Patriark yang melihat itu hanya terkekeh pelan tanpa menjawab pertanyaan Kala.
"Apa mereka punya masalah denganku, Patriark?" tanya Kala sekali lagi, ia takut jika dirinya punya masalah dengan murid-murid perempuan dari Perguruan Angin Utara.
"Kala, mereka tertarik padamu. Lihatlah tatapan mereka padamu. Jarang ada orang yang sepertimu di Nusantara." Patriark tertawa pelan.
Jika orang lain dipandang seperti ini oleh puluhan wanita cantik, pasti ia akan sombong dan senang sekali. Berbeda dengan Kala, ia justru merasa tidak tenang dan risih dengan tatapan itu. Memang, jarang ada manusia yang rupanya seiras dengan rupa karakternya.
Terdengar suara genderang bedebam. Nada genderang yang seperti ini merupakan tanda bahwa ada serangan pembuka dari musuh. Kala tidak melihat di seantero ladang rumput ada pihak musuh, lantas ia melihat ke atas di mana sinar matahari terhalangi oleh sesuatu yang jumlahnya banyak.
"Serangan panah! Siapkan perisai tembak jaring!" teriak Yudistira dengan lantang.
Semua murid segera melakukan apa yang Yudistira perintahkan meskipun panah tidak bisa membunuh pranor dengan satu tembakan saja namun cukup untuk melukai mereka cukup parah. Kala segera mencari perisai di cincin interspatial, setelah beberapa detik wajah Kala memburuk.
"Patriark! Aku tidak punya perisai!"
"Gila!" umpat Yudistira sebelum memejamkan mata untuk mencari perisai di cincin interspatial.
Kala gelisah, ribuan panah sudah berada di jarak yang mengkhawatirkan. Jika ia tidak segera mendapatkan perisai, mustahil jika Kala tidak terluka berat. Patriark membuka matanya namun tidak mengeluarkan perisai atau apapun.
__ADS_1
Patriark melemparkan Kala perisai yang semulanya ada di lengannya. "Pakai saja punyaku!"