Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Gadis Penguntit


__ADS_3

“Saat perang di pintu utara, aku tidak merasakan perasaan ini padahal saat itu tanganku membunuh lebih banyak daripada saat ini.” Kala menghela napas panjang sebelum merebahkan dirinya pada kain yang baru saja ia gelar. “Ubah jalan pikiranmu, Kala. Kau hanya boleh membunuh jika untuk kebaikan.”


Kala memejamkan mata, tidak peduli dengan bau daging yang melezatkan di hidung. Pikirannya menjadi lebih tenang saat jangkrik menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya. Alang memilih untuk hinggap di dahan pohon.


***


Kala terbangun saat hari masih gelap, ia mendapati empat kepala desa tidur di alas daun pisang sedangkan satu lainnya sedang berjaga-jaga di hadapan api unggun. Kala tidak melihat semburat matahari, itu artinya saat ini masih tengah malam atau menuju pagi buta.


Satu kepala desa itu menyapa Kala dengan hangat. “Tuan Pendekar, Anda bangun di tengah malam, apa ada mimpi buruk?”


Kala menggeleng pelan sebelum duduk di dekatnya, ia menatap api unggun lekat-lekat seolah jiwanya ada di api itu.


“Apa kau sudah lama berjaga di sini?” tanya Kala tapi pandangannya masih ke api unggun.


“Ah, tidak ... aku baru saja mendapat giliran jaga.” Kepala desa itu menjawab sambil menggaruk kepalanya, tawa kecil juga menyertainya.


“Apa kau tidak keberatan jika aku di sini?” tanya Kala yang kini matanya mulai beralih pada lawan bicara.


“Tentu tidak keberatan, Tuan Pendekar. Aku tidak akan merasa kesepian.”


“Tentang kesepian, ya?” Kala tersenyum pahit. “Aku lebih menyukai suasana sepi. Aku tidak terlalu suka dengan pembunuhan seperti tadi itu, jangan berpikir kalau aku adalah manusia yang haus darah.”


“Tentu aku tidak berpikiran seperti itu, Tuan Pendekar. Aku bisa melihat mata Anda saat membunuh, Anda tidak memiliki tatapan seperti orang-orang yang haus darah.” Kepala desa itu tersenyum ramah pada Kala.


Kala jelas menghargai pendapat orang ini, ia jauh lebih tua dari dirinya dan lebih banyak makan garam, Kala seakan menanti nasihat-nasihat lain darinya. “Terima kasih sudah mengerti ....”


Kepala desa itu menghela napas sebelum menatap bintang-bintang di langit. “Dunia terlalu kejam untuk kita, Nak. Kehidupan seakan tidak dihargai, sedangkan kematian sepertinya lebih dihargai. Dalam setiap diri manusia memiliki sebuah impian besar, membunuhnya sama saja membunuh impian besar itu.”


Kala mulai terbayang akan sepuluh anggota Caping Bulan Hitam yang tadi dibunuhnya. Ia punya sebuah impian, tentu saja orang-orang tadi juga mempunyai impian yang besar pula. Kala baru saja menghancurkan sepuluh impian, ini membuatnya semakin merasa bersalah.

__ADS_1


“Tapi, seperti inilah kehidupan. Kau harus mempertahankan mimpimu dengan cara menghancurkan mimpi orang lain. Ini seperti pepatah yang mengatakan ‘membunuh atau dibunuh’. Dunia adalah zona perang, Pendekar Muda, apa pun yang kau lihat adalah darah.”


“Tapi, aku tidak akan suka banyak darah, aku bisa menghindari pertumpahan darah.” Mata Kala berbinar, tapi sesaat kemudian ia menghela napas karena mengetahui bahwa itu sangat mustahil dilakukan.


Kepala desa itu tertawa pelan dan menepuk pundak Kala. “Jalan yang kau pilih adalah jalan yang dicat dengan merah darah. Jalan yang memakai tulang belulang sebagai batu bata. Jalan diterangi oleh api yang membakar mayat. Tapi aku yakin kau bisa mengubah jalan ini menjadi jalan yang indah, aku bisa melihat itu dalam dirimu.”


Kala mengangguk pelan sebelum tersenyum hangat. Hatinya terasa enteng sebab kepala desa ini berguna juga dalam memberinya nasihat.


“Pendekar Muda, kau belum makan semalam. Bagaimana jika kau makan sekarang? Aku khawatir akan kesehatanmu.” Kepala desa itu menepuk pundak Kala.


Kala mengangguk pelan. “Itu ide bagus, Kepala Desa. Aku ingin mengisi perutku. Apa Kepala Desa juga lapar?”


“Aku tidak terlalu lapar. Namun, sepotong daging kecil bukan masalah.” Kepala desa itu tertawa pelan.


Kala beranjak dari duduknya ke arah tubuh ayam yang masih tergeletak tak jauh dari api unggun. Kala mengibaskan tangannya, mencoba untuk menarik tubuh ayam ke cincin tetapi hasilnya nihil. Ia menggelengkan kepala pelan sebelum mengeluarkan goloknya dan memotong beberapa petak daging.


Kesatria Garuda itu akhirnya menyadari kebodohannya dan menggaruk kepala. “Aku akan pergi sebentar ke hutan untuk mencari madu atau rempah-rempah. Jika ada masalah, tinggal teriak sekeras yang kau bisa.”


Kepala desa membiarkan Kala masuk ke dalam hutan di tengah malam buta ini, ia sangat yakin Kala bisa melindungi dirinya sendiri. Kepala desa itu menghela napas panjang setelah memastikan Kala pergi cukup jauh.


“Andai saja dia adalah Kesatria Garuda, maka ia adalah orang yang sangat pantas disebut demikian melihat kekuatan dan karakternya. Namun, sayang sekali ia tidak memiliki tanda-tanda Kesatria Garuda.” Si ketua desa menghela napas sebelum menatap api lekat-lekat.


***


Kala terus menyelinap di antara pepohonan. Ia tidak berniat mencari madu atau rempah-rempah. Dirinya cukup bodoh jika mencari madu malam-malam hanya untuk makan ayam enak.


Kala merasa ada kehadiran seseorang yang berada di Alam Formasi Spirit memantau mereka dari jauh. Kala bisa merasa kalau niat orang ini tidak baik.


“Apa maumu? Keluarlah dan katakan keinginanmu!” seru Kala keras-keras.

__ADS_1


“Aku tidak menduga kau bisa merasakan keberadaanku.” Suara itu adalah suara perempuan muda, nada bicaranya lembut tapi terdengar keras.


“Tidak perlu berbasa-basi, keluar sekarang atau ....” Kala mengeluarkan pedang spirit miliknya. “Atau aku tidak akan segan lagi.”


“Harap tenang, pria tampan.” Suara wanita itu terkekeh pelan, tapi Kala tidak mengetahui wujudnya. “Aku hanya ingin kelompok perampok itu.”


“Kelompok perampok apa?”


“Lima orang yang bersamamu tadi. Jangan pura-pura tidak tahu.” Nada suara itu menjadi dingin.


“Mereka bukan perampok. Dan jika mereka benar-benar perampok, apa urusanmu?” Kala memancarkan aura membunuh.


“Aku adalah penegak kebenaran, tugasku adalah membasmi kejahatan.”


“Sekali lagi aku ingatkan, mereka bukan penjahat.”


“Aku melihat mereka hampir merampokmu tadi. Namun, entah apa yang membuatmu malah bergabung dengan mereka.”


“Mereka adalah kepala desa yang desanya dirampok. Mereka terpaksa merampok, dan mereka masih belum mendapatkan barang jarahan.”


“Tetap saja mereka perampok.” Wanita itu tertawa lantang. “Mohon untuk tidak ikut campur atau kau akan mati bersama mereka.”


“Maaf, mereka tidak berhak mati.” Kala merasa sudah menemukan lokasi wanita itu dan mulai bersiap menyerang. “Langkahi dulu mayatku.”


“Sebenarnya, kau terlalu tampan untuk dibunuh,” ujar wanita itu dingin, “tapi aku tidak akan segan membunuh penjahat!”


Kala melihat sesuatu berkelebat dari tempat di mana ia memperkirakan lokasi wanita itu. Kala mengaktifkan Mata Garuda, seketika itu juga gerakan si wanita seakan menjadi lambat di matanya.


Gadis bergaun hitam dengan topeng. Dua pedang di tangannya, ini ilmu Pedang Angin Menyayat Sukma, gumamnya dalam benak.

__ADS_1


__ADS_2