
Tampang cincin ini sama saja dengan cincin lain, Kala mengalirkan Prana sedikit dan ia kembali terperangah. Cincin ini penuh dengan batu energi! Dan luas cincin ini sama saja dengan satu ruangan besar.
Kala menggapai cincin lainnya, dan isinya sama saja. Ia menggapai lima cincin bersamaan, semuanya sama isi!
Kala sangat gembira! Dengan ini ia bisa membantu kemiskinan yang masih merajalela di Jawa. Ia menyimpan cincin interspatial gurunya di gelang interspatial.
Kala hanya meninggalkan satu gulungan untuk ia pelajari sore ini. Teknik Kapas - Macan Menuruni Gunung yang ia tatap lagi sekarang. Bermenit-menit menatapnya tanpa menemukan jawaban bukan jadi membuat Kala gusar, ia malah berhasil memperoleh ketenangan darinya.
Prana diedarkan ke seluruh tubuh, pusatkan kesadaran pada kaki dan biarkan itu mengalir.
Kala mulai mendapat sebuah ilmu baru saat menatap aksara itu lekat-lekat. Baru sampai malam larut, hampir setengah dari teknik itu telah dia pahami. Kala membuka matanya yang memerah, kini ia hampir memahami teknik ini.
Teknik Kapas adalah sebuah teknik meringankan diri untuk menghindari serangan dan juga berlari cepat. Teknik ini sama seperti Teknik Kehalusan Napas yang dikuasai Maheswari, tapi ini lebih berkualitas dan mendetil. Yang pasti ini merupakan ilmu ini tidak tersebar di antara pranor-pranor.
Kala melihat bulan yang memantul di air danau. Suara jangkrik dan burung hantu menjadikan malam ini begitu tenang. Namun tidak ada yang abadi, ketenangan malam yang Kala dengar kini berganti dengan suara-suara dari hutan di sebelah kanannya.
Kala memejamkan matanya untuk mendengar lebih baik. Suara ini seperti suara semak-semak yang diinjak oleh segerombolan orang. Tapi, siapa yang cukup gila selain dirinya berada di hutan yang dipenuhi oleh binatang spirit ini?
Agar dirinya dapat memastikan keamanan di atas keganjilan, Kala menyelinap ke dalam hutan. Kala juga menerapkan Macan Menuruni Gunung, ia dapat bergerak dengan cepat bahkan tanpa menimbulkan gesekan angin berlebih.
Kalau mulai melihat beberapa sinar obor, saat itu juga ia mengaktifkan Mata Garuda.
Lima orang berpakaian Kastel Kristal Es. Empat orang berada di Alam Kristal Spirit sedangkan satu lainnya adalah pranor Alam Formasi Spirit. Apa pun dari Kastel Kristal Es, itu bukan hal yang baik.
Kala memakai topengnya lalu melompat tepat di depan mereka. Tentu saja kemunculan Kala sangat mengejutkan, mereka bahkan tidak mendengar desiran angin sekali pun.
“Kastel Kristal Es, ada buat apa kalian ke mari?” Kala berkata dengan dingin.
“Apa pun itu, bukan urusanmu.” Salah satu dari mereka berkata. “Kami sedang berbaik hati, berikan semua persenjataanmu dan tinggalkan satu lenganmu. Maka mungkin saja kami akan membebaskanmu.”
“Kalian terlalu percaya diri.” Kala tertawa pelan. “Kalian tidak akan meninggalkan saksi apa pun itu. Tentu saja kekuatanku tidak bisa terukur oleh kalian, sehingga kalian tidak mau mengambil risiko dan menyuruhku menyerahkan semua persenjataan dan satu lengan. Setelah itu kalian akan membunuhku, bukan begitu?”
Lagi-lagi mereka terkejut karena Kala dapat menebak semua siasat mereka. Kini mereka saling tatap sebentar lalu mengeluarkan pedang dari cincin, kecuali satu orang yang berada di Alam Formasi Spirit, ia sama sekali enggan bertarung bahkan berbicara.
“Kau memang pintar, tapi tidak boleh hidup lebih lama lagi.” Mereka memancarkan aura pembunuh.
__ADS_1
“Taktik yang licik.” Kala masih bersikap tenang bahkan saat mereka mulai menebas pedang.
“Ilmu Tangan Besi!” Kala menangkis semua serangan dengan tangan kosong.
Bukan saja menangkis, bahkan tangkisan Kala berhasil mematahkan pedang mereka. Tanpa basa-basi, Kala membanting mereka semua dengan ilmu pencak silat. Satu bantingan, maka satu kematian.
Pranor di tingkat tertinggi itu masih diam tanpa ekspresi bahkan saat Kala menumpas yang terakhir.
“Kurasa anggota Kastel Kristal Es bukanlah orang yang setia kawan.” Kala tertawa sambil menghadap orang itu.
“Mereka hanya beban. Dan kau tidak perlu banyak bacot.” Pria itu mengeluarkan pedang khas Kastel Kristal Es.
“Mari kita tuntaskan ini dengan cepat.” Kala mengeluarkan Keris Garuda Puspa.
“Keris itu, bagaimana kau bisa mendapatkannya?”
“Bukan urusanmu.”
Pria itu menyunggingkan senyum licik lalu menyerang ke pinggang Kala.
Keris Kala sudah terisi empat kendi, Kala menekannya sampai lima kendi.
Desingan pedang terdengar disertai bunga api. Tak terasa sudah 20 pertukaran jurus dan kondisi masih berimbang.
“Kau lawan yang cukup tangguh.” Pranor dari Kastel Kristal Es itu berkata.
Kala tidak menghiraukannya walau ia juga mengakui bahwa ini adalah lawan hidup-mati terkuat yang pernah ia lawan sendiri. Kala kembali mengayunkan kerisnya tapi itu dengan mudah ditangkis.
Menyadari teknik pedang saja tidak cukup, mereka berdua mulai menggunakan jurus variasi. Kala menggunakan jurus Suara Hening yang merupakan pekik Garuda, tapi itu percuma karena lawannya cukup kuat dan ilmu Suara Hening tidak ia tingkatkan.
Pria dari Kastel Kristal Es membaca sebuah mantera lalu tiba-tiba petir menyambar tepat di tempat Kala.
Byarr!
Kuping Kala berdengung dan pandangannya putih sepenuhnya, ia juga merasa seluruh tubuhnya mengejang. Belum selesai rasa sakit akibat petir, Kala sudah merasakan rasa sakit di perutnya.
__ADS_1
Kala segera lompat mundur tanpa menghiraukan apa yang ada di belakangnya. Pandangan Kala mulai ke semula begitu juga pendengarannya. Ia dapat melihat darah mengucur dari perutnya dan juga pedang dari pria itu yang berlumuran darah.
Ia mengumpat dalam hati lalu mengalirkan Prana kepada luka tusuknya. Kala juga menelan pil-pil dari Maheswari.
“Kau menyerang dari belakang, cara pengecut khas kastel hitam-mu!” Kala mengangkat kerisnya walau tangannya bergetar.
“Aku tidak peduli.” Pria itu melihat bahwa kondisi Kala segera membaik, ia tidak mau terlambat membunuhnya.
Kala meludah ke tanah lalu memutar tubuhnya. Seluruh dunia seakan melambat bagi Kala. Ia dapat melihat bahwa pria itu mengincar lehernya langsung.
Dengan tubuh Kala yang memutar, Kala dapat memanfaatkan serangan yang lebih keras. Pandangan kembali seperti semula, Kala berhasil menangkis serangan krusial itu lalu menyerangnya kembali menyerangnya bertubi-tubi.
Dengan serangan yang seperti itu, Kala berhasil melukai betis dan leher pria itu. Sebelum ia menyerang lebih lanjut, Kala menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
“Apa hanya segitu?” Pria itu berkata dengan terputus-putus.
“Tidak perlu banyak bicara.”
Kala menggabungkan pencak silat, Macan Menuruni Gunung, dan teknik pedang dalam satu serangan. Kala melompat ke atas udara dengan tubuh melengkung. Gerakannya sangat cepat dan mematikan, pria malang itu bahkan belum sempat mengangkat pedangnya saat melihat keris Kala berada di atas kepalanya.
Slash!
Mulai dari kepala sampai bokong, tubuh si pria terbelah menjadi dua. Matanya masih terbuka. Otaknya keluar dan bercampur dengan darah. Ususnya terbuai dengan isi makanannya yang juga keluar. Jantung pria itu masih berdetak beberapa kali sebelum mati seutuhnya.
Darah membasahi pepohonan dan juga tanah. Jubah Kala juga tak usut terkena percikan darah.
Kala memang tidak mau mengorek informasi dari orang Kastel Kristal Es, apa lagi untuk orang yang tidak peduli seperti lawannya tadi. Tidak ada gunanya, sehingga lebih baik langsung ditumpas.
Kala kembali memasukkan kerisnya ke dalam sarung dan cincin interspatial. Lukanya kembali bereaksi, dan sesaat itu juga Kala tertawa keras.
“Mengapa aku tidak mengenakan baju pelindung dari Cassandra? Mengapa?!” Kala berteriak keras.
Tapi, tidak ada waktu untuk menyesal. Kala harus segera kembali ke kota untuk mendapatkan bantuan medis. Lima jasad yang tewas mengenaskan itu Kala tinggalkan begitu saja, setidaknya mereka masih berguna sebagai makanan hewan dan penyubur tanah.
Kala berlari tidak secepat tadi, itu dikarenakan stamina dan darahnya sudah berkurang banyak. Saat Kala membelah hutan, pandangannya mulai berkunang-kunang dan rasa kantuk merambat.
__ADS_1
“Harus tetap sadar!” Kala berteriak kencang.