
"Sedikit hiburan cukup bagus, bukan?" jawab Kala yang terdengar sangat polos. Pemuda itu masih belum mengerti apa yang membuat Maheswari dapat marah seperti itu.
Bahu Maheswari yang semulanya terangkat karena amarah dan kekecewaan, kini mulai mengendur. Perempuan itu kembali ke bangkunya dan menatap Kala dengan tatapan penuh kekecewaan yang sulit diartikan.
"Mungkin aku sudah salah menilaimu selama ini, Kala ...," kata Maheswari sambil tersenyum kecil penuh kepedihan.
"Ada apakah, Kak Mahes?" Kala balik bertanya, Maheswari malah memalingkan wajah darinya tanpa menjawab apa pun.
Maheswari menatap kosong dinding ruangan itu, dia tengah dilanda pertentangan batin. Mungkin Kala ingin menasihati wanita-wanita penghibur yang dipesannya barusan, tapi mereka sudah begitu kebal dan tak dapat menerima nasihat apa pun, dan Kala pasti akan terpaku dengan kemolekan wanita-wanita itu.
Maheswari masih tidak dapat mengerti, mengapa pemuda yang terlihat sangat polos tetapi bermatabat itu nyata-nyatanya memiliki pikiran m3sum!
Perang batin Maheswari buyar saat beberapa wanita muda yang cantik jelita muncul dari tangga. Ada lima wanita, mereka semua menatap Kala, menggoda. Tersenyum genit. Pinggul gemulai digerakkan ke kiri dan kanan mengikuti langkah kaki. Pakaian mereka sangat minim, dengan bagian dada terbuka dan menampilkan apa yang sebenarnya tak perlu dilihat. Paha mereka dibiarkan terbuka begitu saja, berkilauan dipantulkan obor.
Kelimanya berdiri di belakang Kala dengan tangan langsung memainkan rambut panjangnya.
Kala yang sedang melamun saat itu langsung tersedak ludahnya sendiri saat mendapat perlakuan tersebut. Lekas ia menepis semua tangan yang memainkan rambutnya, pula segera mendorong kursi ke belakang, tak peduli apakah itu akan menyakiti mereka atau tidak. Cepat-cepat dirinya berlari menuju Maheswari, bersembunyi di belakang punggung bidadari itu!
"Kak Mahes, kenapa mereka datang kepadaku?" Kala ketakutan bukan main, seluruh tubuhnya bergetar karena tiba-tiba saja teringat nasihat serta larangan keras dari gurunya.
"Tadi kau yang memesannya, apa mereka kurang molek sampai kau tak mau, hm?" Maheswari membalas dingin. "Ternyata benar, aku salah betul menilaimu!"
Para wanita molek itu terlihat kebingungan, tetapi tetap tersenyum menggoda pada Kal, tetapi justru membuat dirinya semakin takut.
"Aku memesan apa?" Kala kembali bertanya.
"'Sedikit hiburan' katamu tadi, bukannya begitu?"
Kala mengumpat dalam hati, ia tidak mengira bukannya hiburan yang akan datang, melainkan pintu menuju neraka! Ini sama sekali jauh dari kata menghibur! Kala mulai menyesal. Pengalamannya di atas gunung tidak memungkinkan dirinya untuk mengerti apa arti dari "hiburan" di perkotaan.
"Kalian ... kalian bisa pergi," kata Kala setengah terbata-bata.
__ADS_1
"Mengapa? Apakah pakaian kami terlalu banyak dan lebar? Aku rasa kami sudah cukup terbuka pada Tuan, kami bisa barganti pakaian dan kembali ke sini jika tuan mau."
Kala kembali mengumpat dalam benak. "Sudah, aku tidak mau kalian di sini. Pergi!"
Dahi para gadis itu berkerut. Mereka berpikir bahwa penampilannya memang kurang menggoda. Dalam satu anggukan penuh arti, mereka telah bersepakat. Maheswari segera mengerti apa arti anggukan itu.
"Kala, tutup matamu!"
Buru-buru Kala berbalik, menutup matanya rapat-rapat. Dalam mata yang terpejam, ia mengulang nasihat-nasihat gurunya tentang wanita!
"Apa yang kalian lakukan?! Cepat pergi!" seru Maheswari. "Bukankah kalian sudah diperintahkan pergi oleh orang yang memesan kalian? Mengapa semakin melunjak? Cepat pakai baju kalian kembali, lalu segeralah pergi dari sini."
"Maaf, tapi kami tidak bisa menurutimu." Salah satu dari mereka berkata.
"Mengapa?"
"Tidak ada yang bisa menghentikan kami kecuali majikan kami sendiri."
"Maafkan, tetapi kami pikir Sang Hyang tidak akan melakukan itu. Dia juga tertarik dengan kami—"
"Keterlaluan!" Maheswari berteriak marah ketika Yang Maha Tunggal dilecehkan sedemikian rupa, segera menarik pedang dari sangkarnya.
Namun sebelum darah tumpah, Kala mendengar suara langkah kaki buru-buru menaiki tangga. Disusul dengan suara asing, "Ada apa ini?!"
"Kau pemilik kedai ini?" Terdengar suara Maheswari selepasnya.
"Benar, dan kau membuat keributan di sini!"
"Kedai yang busuk!" umpat Maheswari. "Suruh mereka pergi atau aku akan meratakan restoran ini dengan tanah!"
Kala merasa ada nafsu pembunuh tipis yang keluar dari Maheswari, maka ia lekas berdiri sebelum keributan terjadi lebih parah. Gurunya selalu berkata bahwa keributan tak perlu sebisa mungkin harus dihindari.
__ADS_1
"Kak Mahes, mari kita pergi," kata Kala, "aku sudah tidak bernafsu untuk memakan apa pun."
Maheswari menghembuskan napas setelah beberapa saat. Dia segera berdiri dari kursinya lalu menuntun Kala keluar dari kedai iku. Tak ada yang menahan mereka.
Setelah berada di luar kedai, angin sejuk segera menyambut mereka tetapi suasana hati Kala sama sekali tidak sejuk. Maheswari sudah hilang amarahnya, tetapi Kala tidak. Ia terus menganggap dirinya telah berdosa besar dengan memanggil para wanita penghibur itu.
Maheswari melihat rasa bersalah Kala kemudian menyentuh pundaknya. "Sudahlah, ini bukan kesalahanmu sama sekali. Aku yakin kamu tidak tahu apa yang dimaksud dengan sedikit hiburan itu."
Kala mengangguk pelan, pandangannya masih kosong.
"Kala!"
Maheswari menghentikan jalannya, Kala ikut berhenti jalan. Kala memandangi Maheswari, tapi tatapan kosong, sekilas terlihat mendongak saja.
"Pahamilah, ini bukan salahmu. Dirimu belum mengerti banyak hal di luar Gunung Loro Kembar. Kamu sudah terbiasa hidup di hutan yang damai dan tenang. Pahamilah, dunia persilatan bukanlau dunia damai dan kau harus membiasakan diri. Kamu paham itu, Kala?"
Kala menganggukkan kepalanya, dan sedikit tersenyum.
"Bagus kalau begitu," kata Maheswari, juga tersenyum. "Mari kita cari kedai makan lainnya."
Kala mengangguk setuju. Kembali melangkah. Jalanan sepi, hari mendekati tengah malam. Toko-toko juga sudah tutup semua. Udara dingin menikam sampai tulang-belulang.
Saat mereka menemukan seorang pria yang sedang menutup tokonya, Maheswari berinisiatif menghampirinya.
"Permisi, Kisanak. Apakah kiranya Kisanak tahu di mana kedai makan yang masih buka di sini?" tanya Maheswari.
"Tengah malam seperti ini sudah sangat jarang ada yang buka," kata pria itu sambil mengelus dagu. "Tapi di tepi hutan sana, ada kedai makan kecil reyot yang biasanya buka sepanjang hari. Entahlah masih ada atau tidak saat ini."
Pria itu kemudian menjelaskan rinciannya, Maheswari mendengarkan dengan teliti, khawatir ada yang terlewat.
__ADS_1