
"Apa pun itu!" balasnya dengan takut.
Jawaban orang ini mirip dengan penunggang kuda yang Kala temui di kedai. Entah ini sikap pengecut atau dia tidak benar-benar jahat. Tapi, untuk saat ini Kala tidak peduli dengan sikap seniman ini, ia harus segera menemukan keberadaan Maheswari. Secepatnya.
"Di mana kalian menawan orang-orang yang kalian culik?"
"Ada di bawah tanah. Tuan bisa masuk ke ruang bawah tanah di bangunan sebelah pojok kanan benteng, di sana ada pintu masuk satu-satunya untuk masuk ke dalam ruang bawah tanah. Mohon ampuni selembar nyawaku, Tuan!"
Kala mengangguk dan menatap orang itu. "Jika sampai kau menipuku, aku pastikan bahwa aku akan berubah pikiran."
Kala tidak berbasa-basi lagi, ia segera bergerak menuju bangunan yang dimaksudkan seniman tadi. Kala masuk bangunan itu dengan terburu-buru dan tidak waspada, ia begitu percaya dengan perkataan seniman tersebut.
Ruangan ini gelap, namun bagi Kala ruangan ini cukup terang jika dilihat Mata Garuda-nya. Ia dapat melihat bahwa ruangan ini hanya sebuah ruang tanpa sekat dan tidak ada perabotan di dalamnya. Hanya ada ukiran-ukiran aneh di permukaan lantai dan dinding.
Setelah Kala mencermati lebih lanjut ukiran-ukiran itu, ia menyadari sesuatu. "Celaka aku, ini segel sihir."
Suara keras terdengar dari belakang, berasal dari pintu yang tertutup secara tiba-tiba dan keras. Kala mengeluarkan pedangnya, situasi ini jauh lebih buruk daripada apa yang dialaminya tadi. Kala merasa Prana miliknya seperti tertutup salurannya. Tidak bisa ia gunakan.
__ADS_1
Segel sihir ini memang tidak awam dalam dunia persenian bela diri. Hanya beberapa orang saja yang menguasainya. Biasa segel sihir berupa ukiran-ukiran rumit yang dialiri Prana.
Tentu situasi ini sangat berbahaya bagi Kala, jika hanya mengandalkan kekuatan luarnya saja tidak akan cukup jika ia dikeroyok ramai-ramai. Siapa saja yang memasuki wilayah segel ini, maka ia tidak bisa menggunakan prana bahkan pembuat segel ini sekali pun.
Kala memang akan menghadapi musuh yang sama-sama tidak menggunakan prana sama sepertinya, namun apalah daya jika yang maju adalah pranor tingkat tinggi yang tak terpengaruh kekuatan segel.
"Hatimu sungguh naif, anak ingusan." Terdengar suara perempuan bergema seantero ruangan, Kala memasang tajam-tajam pendengaran takut jika ada serangan mendadak.
"Tunjukkan dirimum." Kala berujar tenang. "Seniman tidak menyerang dari belakang."
Wanita itu bertubuh langsing, bisa dikatakan cantik sebenarnya. Namun sayang, Kala menganggapnya bahwa orang ini adalah orang yang pantas dibunuh. Dari aura yang terpancar dari tubuhnya, Kala dapat melihat bahwa wanita ini memiliki kekuatan setara dengan seniman Pondasi Prana walau terkena daya segel sekalipun. Ini cukup membuktikan bahwa tingkat sejati prana wanita ini jauh lebih tinggi.
Jika saja Kala masih bisa menggunakan prana, akan mudah melawannya dengan kondisi wanita ini yang seperti saat ini. Walau dengan kekuatan luar yang lumayan, Kala tidak mampu melawan wanita seniman ini.
"Biar aku tebak, kau adalah ketua dari kelompok ini?" Memperkirakan kekuatan yang luar biasa wanita itu, Kala bisa menebak orang itu adalah ketua perkelompokan Harimau Besi.
"Dugaanmu tepat sasaran, Anak Muda, akulah pemimpin Harimau Besi." Wanita itu tersenyum sinis, ia kemudian sadar bahwa Kala bisa melihatnya dalam gelap.
__ADS_1
"Aku tidak punya masalah dengan kalian, namun kalian menculik temanku. Apa itu adil jika aku harus repot-repot turun tangan ke sini?"
Kala tersenyum dingin, ucapannya juga dingin. Secara tidak sadar, nafsu membunuh Kala keluar dengan sendirinya.
"Aku hanya ingin temanku dibebaskan bersama nenek tua yang kalian tangkap, setelah itu aku tidak akan lagi berurusan dengan kalian." Kala menatap wanita itu tajam, suaranya pelan dan tenang.
Wanita itu tampak berpikir sejenak sebelum mengatakan, "Aku memberi muka kepadamu. Aku akan membebaskan wanita yang menjadi temanmu setelah kau menyerahkan semua senjatamu."
Kala tersenyum tipis. "Kau ingin melakukan apa dengan senjataku?"
Dengan santai seniman itu menjawab, "Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak akan menyerang saat temanmu sudah aku berikan, dan mungkin aku akan menjual senjata-senjata itu."
"Tidak perlu berbohong. Saat semua senjata ini sudah berada di genggaman tanganmu, maka aku tidak punya alat untuk menyerang atau bertahan." Kala melebarkan senyumnya. "Dengan begitu, kau akan bisa membunuhku dengan mudah."
Wanita itu terperanjat. Sebisa mungkin ia bersikap santai tadi, dan sebisa mungkin pula ia menutupi kebohongan dan senyum liciknya. Sebagai penjahat, tentu ia memiliki kemampuan menutupi kebohongan, tetapi hebatnya Kala menyadarinya dengan cepat dan tepat.
"Anak pintar. Anak menarik. Tapi tak lebih dari bocah ingusan yang beruntung. Naif." Wanita itu tertawa terbahak-bahak. "Sudah saatnya aku membunuhmu!"
__ADS_1