
"Tabib Maheswari! Cepat pergi, kami akan menahan mereka!"
Maheswari baru tersadar setelah murid itu berkata. Ia melepas pelukannya dan menghunuskan pedang. Maheswari dan Kala dikelilingi oleh murid-murid Perguruan Angin Utara, mereka semua tengah adu pedang dengan murid-murid dari Perguruan Danau Hitam.
Kala juga menghunuskan pedangnya namun kali ini dengan gugup. Bagaimana juga, ia harus melindungi dirinya sendiri, membunuh atau dibunuh adalah aturan perang yang sesungguhnya.
"Tabib Maheswari! Tunggu apa lagi? Cepat pergi sebelum kami tidak bisa menahan mereka lagi!"
Maheswari menggelengkan kepala menolak permintaan murid itu, ia tidak bisa meninggalkan mereka yang kalah jumlah sendirian. Maheswari terbang belasan kaki untuk keluar dari lingkaran para murid Perguruan Angin Utara. Dia memainkan pedangnya dengan indah dan lincah, satu serangan cukup untuk menerbangkan satu nyawa murid Perguruan Danau Hitam.
Sedangkan Kala, ia hanya berdiam di dalam lingkaran. Menyadari Maheswari sudah berada di luar lingkaran perlindungan, para murid dari Perguruan Angin Utara mulai menyebar dan Kala tidak lagi terlindungi.
"Apa mereka hanya melindungi Kak Mahes?" gumam Kala sebelum mulai menangkis berbagai serangan pedang yang mengarah kepadanya.
Kala sebisa mungkin menghindari pertumpahan darah. Kala hanya menangkis dan terus menghindar. Ini membuat Kala mengalami luka-luka cukup dalam di sekujur tubuhnya.
Sret!
Sebilah pedang berhasil mengiris lengan kanan Kala. Darah mengucur cukup deras menyatu dengan warna bajunya yang juga merah. Kala menatap tajam orang yang baru saja menyerangnya.
Orang itu justru tertawa sinis. "Mampus juga tangan kau!"
Kala menggertak giginya. "Kau yang akan mampus!"
Kala mulai menyerang dengan cepat. Walau serangannya terlihat seperti serangan membabi buta, namun serangan tersebut sangatlah terarah. Orang yang sedang dihadapinya itu kewalahan lalu memanggil teman-temannya untuk membantu.
Sayangnya tidak ada yang membantu lawan Kala, semuanya sudah mendapat lawan sendiri dan tengah sibuk masing-masing. Lawan Kala mulai mendapat luka kecil sampai tangan kirinya buntung.
Orang itu berteriak keras sambil memandangi tangannya yang bunting, Kala segera mengakhiri teriakannya dengan menebas kepala orang itu. Kala menghela napas, pada akhirnya pertumpahan darah tidak bisa dihindari, ia mulai membantu murid-murid Perguruan Angin Utara yang terluka atau kewalahan.
***
__ADS_1
Perang berakhir dengan kemenangan telak untuk Perguruan Angin Utara. Langit sudah mulai gelap. Alang terbang berputar di atas untuk mengabari jika ada serangan kejutan. Maheswari sudah selesai mengobati semua murid yang terluka, kini ia berada di tenda kesehatan darurat, sedang mengoleskan bubuk obat ke salah satu luka Kala.
Sebenarnya Maheswari bersikeras agar Kala mendapatkan pengobatan darinya terlebih dahulu sebelum dirinya mengobati yang lain, namun Kala melihat bahwa yang lain lebih kritis kondisinya. Kala tidak ingin diobati sebelum yang lain sudah tertangani.
Kala berteriak saat Maheswari menabur bubuk obat di punggungnya. "Ah! Panas sekali, Kak!"
"Ini memang sedikit panas, Kala." Maheswari menabur lebih banyak.
Kala hanya bisa menutup mata. Gurunya berkata, jika sakit harus dinikmati. Kala mencoba menikmati namun sakit ini sungguh berlebih. Kala kembali merintih.
"Di medan perang, kamu tidak rewel, tapi sekarang kamu rewel sekali!"
"Tapi ini memang sakit ...."
Maheswari tiba-tiba menotok leher Kala. Tubuh Kala menjadi tegak seketika dan bahkan sulit untuk sekadar menggerakkan bibirnya. Maheswari melakukan ini agar Kala tidak berisik dan mengganggu konsentrasinya.
Kak Mahes sungguh kejam!
Maheswari menanggapi dengan datar. "Tidak perlu sungkan, Patriark."
Yudistira tersenyum kecut menyadari Maheswari masih marah. Seharusnya tadi dia tetap berada di sisi Kala agar bisa melindunginya dari serangan berbahaya, namun di mana dirinya saat nyawa Kala terancam? Maheswari marah soal ini.
"Tabib Maheswari, aku merasa tidak enak jika kau masih marah denganku, aku tidak akan pernah tenang."
Maheswari menarik napas panjang. "Patriark, aku sudah memaafkanmu."
Nada bicara Maheswari begitu dingin dan sedikit tidak sopan, namun Patriark tidak merasa tersinggung sama sekali. Kala mendengar ini semua, ini membuat ia sangat ingin berkomentar tapi tidak berdaya.
Yudistira menghela napas. "Kala, kau bujuk Tabib Maheswari agar dia benar-benar memaafkanku."
Kala sekuat tenaga berusaha menggerakkan bibir atau paling tidak lidahnya, namun itu hanya bergerak sedikit saja. Sedangkan Maheswari terlihat tidak peduli dan terus menaburi bubuk obat di luka Kala yang lain. Kala berusaha untuk bicara namun juga harus menahan sakit.
__ADS_1
"Ah, sekarang Kala juga mendiamkan aku." Yudistira dengan lesu beranjak pergi.
Maheswari menghela napas sebelum menepuk leher Kala guna melepas totokan Kala. Bibir Kala otomatis langsung terbuka lebar, namun bukan ucapan untuk Yudistira yang Kala keluarkan, melainkan ....
"Aaahhh...!!! Sakit!!!"
Patriark terperanjat mendengar suara teriakan Kala, ia berbalik untuk melihat Kala. Kala tengah meremas celananya dan berteriak kencang. Maheswari menatap Kala dengan heran.
"Kala! Ada apa denganmu?!" seru Yudistira sebelum mengeluarkan pedangnya. Dia memandangi Maheswari dan tanpa takut membentaknya, "Kau apakan Kala?!"
Maheswari langsung berdiri untuk memberi penjelasan namun Yudistira menempelkan pedangnya di lehernya. Gadis itu tidak berani lagi bergerak, ia juga tidak menyangka bahwa Patriark akan melakukan ini.
"Jangan kau sekali-kali mencoba membunuh Kala atau kau akan mati ditanganku sekarang juga!"
"Patriark ...." Maheswari tidak bisa meneruskan ucapannya, nafsu membunuh yang dikeluarkan oleh Yudistira membuat dirinya berada dalam ketakutan besar.
Kala segera menelan kesakitannya sebelum memberi penjelasan. "Patriark, Tabib Maheswari tidak ingin membunuhku. Tolong lepaskan Maheswari dari tekanan membunuhmu, Patriark."
Yudistira menarik nafsu membunuhnya namun tidak menarik pedangnya. "Tidak mungkin kau sampai kesakitan seperti itu. Murid-muridku tidak kesakitan saat diobati olehnya."
Kala kini memandang Maheswari dengan heran. "Patriark, biar Tabib Maheswari sendiri saja yang menjelaskan. Aku tidak mengerti soal alkemis seperti ini."
Patriark Perguruan Angin Utara menurunkan pedangnya. "Jelaskan sekarang!"
"Obat yang aku berikan kepada Kala bukanlah obat biasa." Maheswari melirik Kala dengan canggung. "Itu obat yang baru aku ciptakan."
"Apa obat yang sama pernah kau gunakan untuk mengobati kepada orang lain?" tanya Patriark.
Maheswari menyunggingkan senyum bersalah. "Belum."
Patriark langsung marah, pedangnya kembali menempel di leher Maheswari. "Kau menggunakan Kala sebagai kelinci percobaan?! Apa aku sudah gila?!"
__ADS_1