Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Menghadapi Maheswari


__ADS_3

Kala memutuskan memakai topengnya setelah melihat beberapa orang dari Perguruan Angin Utara, tidak ingin dikenali. Yang paling mengejutkan, Kala berjumpa dengan Maheswari.


Rasanya ingin Kala menyapanya, tapi ia mengingat wasiat Aditya, pengorbanan Aditya, dan keselamatan Kaia. Sehingga ia memilih menangkis serangan Maheswari dan langsung pergi saat ada celah.


Kini ia berada di pinggir arena tempur dan dengan cepat meninggalkan zona tempur. Kala memperlambat larinya untuk menghemat Prana.


Di lapangan kecil itu, Kaia masih bermain dengan cahaya kunang-kunang seakan tidak merasakan hawa pembunuh yang kian pekat. Kemunculan Kala yang tetiba dari semak-semak tentu saja sangat mengejutkan Kaia, tapi Alang sudah memprediksi apa yang terjadi.


“Alang, pergi ke atas dan bakar siapa pun yang mendekat.” Kala memberi perintah dengan cepat.


“Apa yang terjadi?”


“Kaia, dengarkan aku. Perang Geowedari-Pandataran sudah pecah, dan lokasinya bertepatan di sini. Tetap ikuti aku dan siapkan pedangmu.” Kala memberi arahan dengan tenang namun cepat.


Alang melesat ke atas dengan tubuh yang kecil dan juga tidak diselimuti api untuk penyamaran. Kala mengeluarkan sebuah tanaman yang menyerupai rumput biasa lalu menanamnya di tanah.


“Kita berangkat sekarang.” Kala berlari di depan tidak terlalu cepat, Kaia berusaha mengimbangi Kala.


Baru beberapa saat setelah mereka bertiga pergi, Maheswari beserta tiga prajurit yang mengawalnya datang. Tapi, yang mereka lihat bukanlah kunang-kunang atau lapangan kecil, mereka melihat hutan biasa dan sama sekali tidak melihat jejak Kala.


“Tabib Maheswari, jejaknya putus sampai di sini.” Si ahli indera melapor.


Maheswari menggerakkan tangannya dengan gelisah, entah mengapa pemuda misterius itu mengingatkannya dengan Kala, ia berinisiatif mengejarnya.


“Saya memberi saran, kita harus kembali ke medan pertempuran, banyak saudara kita yang butuh bantuan.”


Ucapan itu dijegal oleh Maheswari. Ia merasa ada yang janggal di sini. Pohon-pohon hampir tidak bergerak sama sekali, berbeda dengan pohon lainnya yang bergerak kencang oleh embus angin.


“Daerah ini sudah ditanami sirep ilusi.” Yang Maheswari maksudkan adalah teknik kamuflase dan ilusi untuk mengubah visi seseorang, tapi ini disebabkan oleh tanaman khusus. “Kita harus temukan tanaman itu.”


Kala terus memaksa Kaia berjalan lebih cepat. Sebenarnya Kala bisa lari lebih cepat dari pada sekarang, tapi tidak mungkin meninggalkan Kaia. Sedangkan gadis itu terengah-engah.


Akhirnya Kala menghentikan lajunya untuk memberi jeda istirahat Kaia, matanya memandangi belakang dengan gelisah.


Kala telah menanami tanaman sirep ilusi yang ia beli diam-diam di toko tanaman. Harga tanaman itu sangat tinggi, setidaknya bisa digunakan untuk menyelamatkan nyawa.

__ADS_1


Jika tanaman sirep itu berhasil dicabut, maka ia akan mengeluarkan kilatan sangat terang ke langit dan suara pekik tinggi.


Tiiingg!


Langit terang benderang untuk sedetik disertai suara nyaring yang tinggi. Kala menahan umpatan lalu memaksa Kaia kembali berlari. Kala juga tiada henti memberi Kaia esensi Prana.


Mereka berlari cukup lama tanpa berhenti, menembus gelapnya hutan malam tanpa obor. Cahaya bulan merupakan modal utama Kaia untuk lari memecah kegelapan. Semua tampak aman sampai Alang memekik nyaring.


“Maheswari? Siapa dia?” tanya Kaia pada Kala, tentu ia mengerti bahasa Alang.


“Akan aku jelaskan nanti.” Kala memakai topengnya lalu hadap belakang dan berlari. Kaia berhenti berlari dan mencoba menyusul Kala, tapi ia sudah tertinggal sangat jauh.


Saat Maheswari dan tiga orang lainnya tengah mengejar jejak Kala yang semakin terlihat, mereka dihadang oleh nafsu pembunuh besar sebelum sosok pemuda bertopeng yang tadi muncul di muka.


“Apa mau kalian? Mengapa mengejarku?”


“Heh! Kau telah membunuh banyak prajurit dari Geowedari, aku akan menghukum-”


“Kau adalah Kala! Akui itu!” Maheswari memotong pembicaraan sambil menghunus pedang biru dingin.


“Aku tidak kenal dia. Jangan halangi aku atau kalian akan menyesal.” Kala meningkatkan nafsu pembunuh dua kali lipat.


“Sepertinya kalian tidak suka bicara pakai mulut.” Kala menyiapkan kuda-kuda pencak silat.


Tiga prajurit yang mengawal Maheswari mempersiapkan kuda-kuda lalu menerjang duluan. Menghadapi tiga lawan bersamaan, Kala tidak panik. Kaki kanannya sedikit digeser, tubuhnya jadi menyamping lalu tangannya menangkap tubuh salah satu lawan dan membantingnya ke tanah.


Orang yang Kala banting tak mampu bangkit setelah berdebam di tanah. Dua lawan lainnya menjadi waspada dan tidak sungkan lagi menghunus pedang. Kala menggunakan Ilmu Tangan Besi untuk meladeni serangan pedang secara bersamaan.


Mata Garuda tidak Kala aktifkan Mata Garuda agar tidak menimbulkan kecurigaan Maheswari, Mata Garuda sedikit bersinar di dalam gelap.


Maheswari menonton dengan heran. Jika orang ini adalah Kala, tidak mungkin dirinya menjadi lebih hebat dalam waktu singkat. Juga tidak ada tanda-tanda mata bersinar kuning di balik lubang mata topeng.


“Mundur!” Sementara ia memerintah, Maheswari maju untuk memberi kesempatan tiga prajurit lainnya mundur.


Pedang Maheswari mengeluarkan asap dingin lalu menebas dengan kecepatan yang tinggi. Bahkan mata biasa Kala tidak bisa menangkap gerakan pedang, ia hanya menghindar berdasarkan insting dan pengalaman.

__ADS_1


Dua prajurit di belakang menyeret temannya yang tidak bisa bangkit setelah dibanting. Kala membiarkan mereka pergi dan malah berharap begitu, tapi sepertinya Maheswari terlalu terlena pada pertarungan sampai lupa mundur.


“Aku ingatkan kau untuk pergi atau jangan menyesal jika kepalamu ....” Kala mundur sambil memegangi lengan kanannya yang terluka.


Ini adalah risiko jika bicara di tengah pertarungan, Kala memahami itu tapi dirinya ingin Maheswari mundur. Dingin menyatu dengan pedih, darah bukannya membeku tapi malah mengucur deras.


Kala tidak bisa menelan pil, sebab semua pil di gelang interspatial adalah pil buatan Maheswari. Mundur juga tidak bisa, itu akan membahayakan Kaia.


Lebih serius sedikit, luka kecil tidak apa untuknya.


Kala menerjang, kekuatannya di tingkatkan. Teknik Kapas dipakai sehingga semua serangan Maheswari bisa dielakan. Tangan Kala menggapai tubuh ramping Maheswari lalu membantingnya ke tanah.


Untuk pranor setingkat Maheswari, satu kali bantingan ringan tidak cukup. Kala mencekiknya untuk beberapa saat sampai Maheswari lemas. Kala segera lari menjauh meninggalkan Maheswari.


Dengan kondisinya yang kekurangan oksigen, Maheswari tidak bisa mengejar Kala yang menjauh. Ia hanya menggenggam erat rumput sampai menghancurkannya.


Kala melesat di antara pepohonan dan sampai ke tempat Kaia terpatung.


“Pergi ke arah timur sejauh yang kau bisa. Alang, pandu Kaia. Apa pun yang terjadi, jangan kembali ke sini.”


“Lalu kau mau ke mana?” Kaia bertanya dengan gelisah.


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Pergi dari sini.” Pasti tiga prajurit tadi telah memanggil bantuan, itu akan buruk jika ada Pranor tingkat tinggi mengingat status Maheswari yang tinggi.


“Aku tidak mau pergi.”


“Kaia, jangan keras kepala. Aku akan menyusul kalian.” Kala memelototi Kaia sampai gadis itu mau pergi.


“Eak!”


“Aku pasti akan menjaga diri baik-baik,” jawab Kala pada Alang.


Setelah mereka menjauh, tubuh Kala mulai mengeluarkan kabut. Sebuah jurus yang telah lama tidak digunakan.


“Teknik Wedhus Gembel - Berapi ...,” Kala bergumam pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Kabut itu dingin, tidak seperti wedhus gembel yang panas saat erupsi.


Kabut memenuhi daerah di sekitar Kala. Prana miliknya cukup terkuras sampai ia menghentikan aliran kabut. Kala mengeluarkan sebatang batu api hitam lalu menggesekkannya satu sama lain.


__ADS_2