
Disebabkan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan selama kepergian perempuan tua itu, Maheswari memutuskan untuk buka bincangan dengan Kala. Memang ini yang ia ingin lakukan sedari tadi, dan sengaja memilih kedai untuk bercakap-cakap, sekaligus niatnya untuk memanjakan Kala.
Banyak cerita yang Kala dapatkan dari Maheswari. Kebanyakan cerita Maheswari adalah cerita tentang petualangannya sendiri selepas berpisah dengannya. Perempuan itu mengatakan bahwa situasi Jawa sekarang ini tak terlalu aman, banyak gesekan-gesekan yang terjadi antara kelompok-kelompok di Geowedari dan Pandataran. Untuk menutup cerita panjangnya, Maheswari berkata bahwa dirinya kini telah mencapai tingkat pengobatan yang tinggi sehingga memiliki nama sebagai tabib yang cukup terkenal, ia memiliki uang banyak dan mengatakan agar Kala tidak sungkan meminta apa pun dari dirinya.
"Aku tak akan merepotkan Kak Mahes." Kala tersenyum hangat sebelum Maheswari meminta dirinya untuk bercerita pengalaman latihannya di Gunung Loro Kembar.
Tak banyak yang bisa Kala ceritakan. Waktu berceritanya adalah setengah dari waktu bercerita Maheswar. Sebab masa pelatihannya memang cukup membosankan. Tak banyak pula jurus yang Akhza ajarkan.
Gurunya pernah berkata, "Aku memang sengaja untuk tidak menurunkan banyak jurus untukmu. Cukup jurus dasar saja, seperti Jurus Pukulan Angin. Ini adalah jurus pukulan dasar yang akan membiasakan tanganmu untuk menerima jurus-jurus pukulan lainnya yang lebih tinggi. Guru bisa saja menurunkan lebih banyak jurus yang bisa kau kuasai sebenarnya, tetapi Guru ingin dirimu menempuh jalurmu sendiri dan membiarkan tubuhmu menyerap jurus-jurus yang sekiranya cocok untukmu."
Maka begitulah yang Kala pelajari di masa pelatihan Loro Kembar adalah jurus dasar secara keseluruhan, tak terkecuali cara mengendalikan Keris Garuda Puspa. Bahkan Kala tidak pernah dikenalkan secara merinci tentang Keris Garuda Puspa, ia menerima keris itu begitu saja sesaat sebelum kepergian gurunya. Maka dikarenakan Keris Garuda Puspa menyerupai pedang, Kala merasa bisa menggunakannya dengan ilmu pedang dasar.
Tanpa sadar, apa yang menjadi konflik batin Kala tercurahkan pada ucapannya. Maheswari lekas memahami bahwa walau Kala hanya mempelajari jurus dasar, tetapi tingkat penguasaannya jauh lebih tinggi ketimbang seniman-seniman kebanyakannya.
Kala teringat pada Batu Pesan yang dititipkan Akhza untuk Maheswari, ia mengeluarkan dan menyerahkannya pada Maheswari. "Kak Mahes, di dalam Batu Pesan ini ada pesan dari Guru. Hanya Kak Mahes yang bisa membukanya."
Maheswari menerima Batu Pesan itu. Beberapa saat kemudian matanya terpejam tanda dirinya sedang menjamah isi Batu Pesan itu. Tampang Maheswari sekejap berubah menjadi serius.
Maheswari membuka matanya, menatap Kala dengan tatapan penuh arti. Ditatap terus-menerus oleh wanita cantik akan mungkin membuat siapa pun menjadi gugup, tak terkecuali Kala.
"Kala, apa benar kamu Kesatria Garuda?"
Kala mengangguk, ia mengira gurunya menuliskan tentang dirinya di Batu Pesan itu.
"Kala, aku tidak menyangka hal ini ...."
"Ini bukan suatu hal yang istimewa, melainkan suatu tugas yang sangat berat."
Maheswari menunduk sedalam-dalamnya ke arah Kala. "Sungguh kehormatan sepanjang hidupku dapat bertemu denganmu, Putra Garuda."
Kala segera menegakkan tubuh Maheswari. "Tidak perlu seperti itu, Kak Mahes tidak pantas berlaku seperti ini padaku."
"Tapi ...."
"Sudah, Kak." Kala menepuk pundak Maheswari. "Tolong jangan beritahu siapa pun, itu akan membahayakan keselamatanku."
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukan itu." Maheswari meremas jari-jari Kala. "Dirimu akan menjadi penyelamat bagi semuanya, tetap kuat ya?"
Di keheningan hutan dan suasana yang hampir canggung, sebuah suara keras menggetarkan rimba bersumber dari pintu kedai yang terlempar kuat ke dalam sebelum hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Kala jelas melihat kejadian itu, di mana ia juga melihat si nenek pemilik kedai yang terlempar bersamaan dengan pintu itu.
Si nenek langsung bangkit, air mukanya menunjukkan ketakutan dan kewaspadaan tingkat tinggi. Baik Kala maupun Maheswari mengeluarkan senjata. Kala mengeluarkan sebilah golok dan tidak berniat memakai keris itu.
"Lari kalian! Lari!" bentak nenek itu tertuju pada Kala dan Maheswari, "di luar banyak orang kuat ... kalian tidak akan bisa menahannya."
Kala tidak berniat lari, ia tidak bisa melihat nenek ini mati karena orang-orang di luar sana. Apa pun alasannya, Kala tidak akan membiarkan si nenek mati begitu saja. Maka dirinya menggeleng. Maheswari mengangguk tanda setuju.
"Tidak! Tidak! Kalian harus pergi." Nenek itu mulai bisa mengatur jalan napasnya. "Mereka mencariku, bukan kalian. Tapi jika kalian masih di sini, maka ikut mati bersamaku!"
Kala sudah bertekad bulat, nyalinya tidak kecil. Namun, bisakah ia mengetahui siapa yang bersalah dalam urusan ini? Bukankah Kala seharusnya membela yang benar, bagaimana jika nenek ini yang salah? Belum lagi dunia persilatan yang demikian bahayanya jika ia salah mengambil keputusan sedikit saja.
"Ketahuilah, Kala!" kata gurunya di malam hari saat Kala berada dalam pelatihan ketahanan tubuh dengan bertelanjang dada di puncak Loro Kembar. "Jika kau memasuki rimba persilatan, maka dirimu akan menjumpai banyak pilihan. Apa pun pilihanmu, itu akan berakibat pada masa mendatang. Ada dua akibat yang pasti engkau terima, Muridku.
"Yang pertama ialah engkau mendapatkan hubungan baik dari siapa yang menganggap telah terbantu olehmu, tentu engkau akan mendapat dukungan di masa mendatang jika tertimpa masalah. Dan yang kedua adalah dirimu mendapat permusuhan. Permusuhan inilah, Kala, yang selalu tak puas menuntut korban. Andaikan saja dirimu membunuh seorang seniman, yang ternyata memiliki murid, maka murid itu akan menuntut kematianmu atas kematian gurunya. Dan jika saja yang kaubunuh ialah muridnya, maka gurunya akan datang menuntut kematianmu demi harga diri."
Bagaimana jika saja Kala terlibat dalam masalah ini, dirinya akan digentayangi dendam-dendam dari guru atau murid musuhnya itu? Bukankah itu akan mengganggu perjalanan panjangnya sebagai Kesatria Garuda atau bahkan menghentikannya?
Mula-mulanya mereka hanya menatap si nenek, namun ketika mereka menyadari kehadiran Kala dan Maheswari, mereka mengalihkan pandangan. Mereka menatap Kala dengan hanya sekilas dan memastikan bocah kurus itu tak berbahaya, namun Maheswari ditatap mereka lekat-lekat.
"Wah-wah, lihat siapa yang kesasar ke mari!" kata salah satu pria itu dengan nada cabul.
"Apa kau tersesat, Gadis Muda? Sini, biar paman yang antar kamu pulang." Yang lain berucap sambil memilin kumisnya.
Maheswari geram, ia hendak menyerang ke muka. Kala segera menahannya, dirinya melihat kedua pria itu mempunyai tingkat praktik Pondasi Prana tingkat menengah, agak sulit melawan dua sekaligus. Belum lagi, sepertinya ada beberapa seniman lain yang berjaga di depan.
"Lancang kau!" teriak Maheswari keras-keras, tetapi kedua orang pria tersebut kembali tertawa keras.
"Apa maksud kalian datang ke sini?" kata Kala.
"Itu bukan urusanmu, bocah!"
Lalu salah satu dari mereka yang kumisnya lebih panjang berkata, "Kami ambil gadis ini maka dengan begitu urusan kita selesai. Bagaimana, Rasaweni?"
__ADS_1
"Langkahi dulu mayatku keparat!!!"
Nenek yang bernama Rasaweni itu maju menyerang dengan tangan kosong. Tapak tangannya mengarah lurus ke wajah dua orang pria itu. Walau gerakannya cukup cepat, Kala bisa menangkap gerakan Rasaweni memiliki sungguh banyak celah terutama pada bagian perutnya. Serangannya juga tak akan berdampak banyak sekalipun mengenai sasaran. Maka salah satu dari pria itu mengayunkan kakinya dan dengan mudah mendorong Rasaweni yang kalah telak.
Nenek itu terbentur tembok dan memuntahkan darah segar. Dari raut wajahnya, telah tampak bahwa Rasaweni tidak akan sanggup menyerang seperti tadi lagi.
"Hah! Rasaweni, tidakkah sadar dirimu sudah tua? Janganlah campuri urusan para muda-mudi, atau kau akan mati di bawah tendanganku."
Rasaweni tanpa disangka-sangka bukannya takut malah meludah ke arah orang pria yang bercakap seperti itu. Semburan ludah dari seorang pendekar tentulah berbeda dengan semburan ludah manusia biasa. Ludahan itu berdaya satu tamparan keras di wajah yang sekarang jadi merah padam itu.
Diliput kemarahan, pria itu menyerang si nenek dengan daya yang lebih besar dari sebelumnya. Kala yang merasa bertanggungjawab tanpa pikir panjang langsung mengentakan kaki kuat-kuat. Tubuhnya melayang di udara, saat itu juga Kala menarik bilah golok dari sarungnya. Dalam hal ini, Kala mengadu kecepatan dengan penyerang nenek yang sekarang lemah itu, dan dalam hal ini pula Kala yang lebih unggul berkat ilmu meringankan tubuhnya yang walaupun ilmu dasar tetapi memiliki penguasaan yang mantap.
Kala mengayunkan goloknya langsung ke arah lengan pria itu, tubuh keduanya masih di udara saat itu. Awalnya Kala berpikir jika saja golok itu berhasil mengenai sasaran, maka tangan pria penyerang itu akan buntung terpapas golok. Akan tetapi dugaannya salah, yang malah saat itu goloknya terbelah jadi dua setelah beradu dengan lengan itu.
Walau golok Kala terbelah jadi dua, tetapi ia berhasil menyelamatkan nenek itu dari serangan yang mematikan.
Keduanya kembali menapaki lantai setelah beradu. Mereka terseret agak jauh satu sama lain. Pria penyerang itu memandang Kala dengan tatapan tak percaya, tetapi ia tak memiliki waktu untuk berpikir sebab Maheswari mulai menggempurnya.
Kawannya yang sedari tadi diam itu akhirnya tersadar dan hendak maju membantu kawannya, tetapi tubuhnya terdorong keras ketika Kala menyerangnya dengan serangan tapak. Sama seperti kawannya, ia memandang Kala dengan tatapan tidak percaya.
Bagaimana bisa seorang bocah muda kurus yang tak terlihat berbahaya itu ternyata menyimpan tenaga dalam yang besar? Dua pria penyerang itu tahu bahwa Kala memiliki otot yang hampir menyelimuti tubuhnya, tetapi mereka tidak bisa melihat tanda-tanda bahwa Kala adalah seorang seniman yang berbahaya.
Bahkan untuk Kala sendiri tak percaya dengan kemampuan yang tidak diduganya selama ini. Lekas saja dengan sangat cepat keberaniannya terkumpul berkat rasa percaya diri setelahnya. Matanya menatap tajam pria gempal yang baru saja ia pukul itu.
"Kau sentuh dia sehelai saja rambutnya, maka jangan harap bisa keluar hidup-hidup."
"Berani kau melawan Padepokan Harimau Besi?!" Pria penyerang itu membalas sedikit gagap, ucapan Kala tadi sejujurnya telah membuat dirinya ketakutan.
Kala tidak menanggapi, ia mengentak kaki lagi, lanjut menyerang. Tubuhnya sudah berada di udara dan tapaknya terjulur ke depan seakan membelah udara.
___
catatan:
Tolong sisakan satu saja wanita seperti Maheswari untuk sahayağŸ˜
__ADS_1