
“Aku tidak memiliki alasan, sepertinya ini merupakan sikap spontan yang aku dapatkan dari guruku.” Kala tersenyum kaku.
“Setelah kejadian tadi, pastinya kau sudah sudah tahu mengenai kedok Penginapan Progo. Aku tidak ada alasan lagi untuk menutupinya.” Walageni melirik temannya yang kemudian mengangguk beberapa kali. “Ini adalah temanku, Abha. Ia adalah tentara bayaran, sedangkan aku adalah penjaga markas di sini. Abha kembali setelah selesai menjalankan tugasnya.”
Baru selesai Walageni mengenalkan Abha, sesosok bayangan hitam masuk dari pintu yang terbuka dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bayangan itu kemudian mendarat sempurna di pundak Kala. Itulah Alang!
Alang terlihat gelisah, beberapa kali melihat ujung kaki Kala hingga ujung kepalanya.
“Alang, aku baik-baik saja. Justru kondisimu yang tidak bagus, pergi ke kamar bersama Kaia untuk istirahat.” Kala berusaha menenangkan Alang, kondisi Alang selepas latihan tidak dapat dikatakan terlalu bagus.
“Eak ....” Alang mengeluarkan nada penolakan.
“Alang, dengarkan aku.” Kini Kala menatapnya tajam, dia tidak sedang bermain-main.
Dengan terpaksa, Alang terbang ke atas. Pintu kamar tidak dikunci, Kala yakin Alang bisa membukanya dengan mudah. Kini, perhatiannya kembali tertuju pada dua orang di hadapannya.
__ADS_1
“Tidak aku sangka burung peliharaanmu itu bisa membesar hingga mencapai ukuran itu. Apa dia adalah hewan spirit?”
Kala tersenyum tipis. “Maaf, tetapi tidak ada waktu untuk basa-basi. Aku tahu bahwa tentara bayaran sepertimu tidak akan meninggalkan satupun saksi mata di tempatnya bekerja. Bukankah aku termasuk saksi mata itu?”
Walageni menghela napas panjang, Abha yang menjawab. “Kami memang diperintahkan untuk membunuh saksi mata yang berpotensi membahayakan kelompok kami di masa depan. Namun, aku tahu kau tidak akan begitu.”
Kala mengernyit. “Dari mana kau bisa menyimpulkan itu?”
Abha menyunggingkan senyum. “Dari matamu.”
Abha membalas itu dengan memasang kuda-kuda, tampak sangat berwaspada. Sedangkan Walageni justru tersenyum hangat.
Kala masih terus menghunuskan pedang, hatinya bimbang untuk membunuh kedua orang ini.
Pemuda itu tidak ingin kejadian di mana Panji membocorkan rahasianya itu terulang kembali. Ia memilih untuk membunuh siapa pun yang berani menghalangi jalannya, tetapi kali ini Kala tidak yakin jika membunuh Walageni dan Abha adalah tindakan yang benar.
__ADS_1
“Tidak perlu khawatir, Anak Muda. Kami bisa menjaga rahasia ini, sebagaimana kau telah menjaga nyawa kami tadi.” Walageni tertawa hangat. “Kau adalah Kesatria Garuda yang diramalkan legenda. Tugasmu besar dan kau akan menjadi besar pula, jadi mengapa kau mengambil risiko untuk menolong kami yang sama sekali tidak berharga ini?”
Kala tetap menghunuskan pedangnya. “Aku berharhap kalian adalah orang yang tidak menyukai pertumpahan darah.”
“Tentu kami suka itu, Anak Muda. Kami adalah Laskar Progo yang sebisa mungkin membunuh untuk kedamaian.” Walageni tersenyum bangga. “Kami tidak akan membunuh orang yang justru akan membawa kedamaian besar di bumi Nusantara ini.”
Ucapan itu terdengar sangat tulus dan memang memiliki niat yang bersih. Kala menurunkan pedangnya.
“Jaga rahasia ini sampai aku memiliki kekuatan untuk melindungi diri sendiri.” Kala berkata dengan perlahan, seolah takut dinding-dinding di penginapan itu dapat mendengar suaranya. “Aku berharap kita bisa menjadi teman.”
____
Catatan:
Dukung karya ini agar author tidak malas update sambil makan autan, dengan cari like-comment-favorit- kirim gift-share.
__ADS_1