Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Memanfaatkan Kekuatan Warga


__ADS_3

Setelah sampai di kota, maka ia akan berjualan pada gedung khusus di mana para pengusaha kelas atas berjualan. Kala yakin dagangannya laris manis, dan setelah memiliki uang banyak maka ia akan memanjakan Kaia.


Ia akan membelikannya cincin interspatial yang bagus, baju bagus, parfum, atau apa pun itu. Sebagai seorang wanita, ia sudah cukup menderita dengan hidup tanpa feminin.


Alang juga tengah mengunyah daging tangkapannya sendiri, ia makan dengan lahap.


“Kaia akan menjadi pranor setelah aku pulang, bagaimana menurutmu?”


“Eak?”


“Aku rasa sudah waktunya ia menjadi pranor.”


“Eak ....” Alang memutar bola matanya lalu kembali makan.


Kala berdiri lalu membersihkan tangannya. “Ayo, kita pulang.”


***


Penjagaan kota benar-benar ketat saat Kala kembali. Mereka benar-benar menjaga setiap pintu masuk yang ada. Wajah Kala sudah tersebar dan menjadi dalang pembunuhan berdasarkan saksi sang tabib.


Tentu Kala tidak bodoh dengan masuk melewati gerbang kota. Ia dapat dengan santai melompati tembok kota jauh dari penjagaan. Kala memilih untuk menyelinap menuju penginapan, ia sudah lelah hari ini dan tidak ingin membuat masalah.


Gelapnya malam membantu Kala tidak terlihat. Ia sampai di depan penginapan, tapi kondisinya tidak terlalu bagus.


Kemarin, penginapan dikepung oleh banyak warga, sekarang penginapan dikepung oleh prajurit-prajurit kota serta beberapa pranor. Penginapan Progo tentu bersiaga penuh, di luar sudah ada banyak pranor tingkat tinggi yang menjaga penginapan, mereka adalah Laskar Progo yang tidak bisa diajak main-main.


Kala memberanikan hatinya untuk menampakkan diri. Pihak wali kota segera menghunus senjata pada Kala, tapi pihak penginapan segera datang melindungi sekeliling Kala.


Mereka saling memunggungi Kala dan senjata mereka terhunus ke arah musuh. Musuh tidak berani menyerang sedangkan Penginapan Progo tidak mau membuat masalah yang tidak perlu.


Kala hanya bisa menghela napas panjang dan mengumpat kecil. Sepertinya ia telah membuat Aditya dan segenap Penginapan Progo masuk ke dalam konflik. Ia ingin menyelesaikan ini, tapi lebih baik ia masuk ke dalam penginapan agar bisa bertemu dengan Aditya.


Kala bergerak dan masih dikelilingi pranor dari Penginapan Progo, ia dapat masuk ke dalam penginapan dengan selamat. Aditya menyambutnya dengan wajah antara cemas atau marah.


“Pendekar! Kau sudah kembali! Apa kau baik-baik saja?” Aditya segera bertanya, dibalas dengan anggukan pelan Kala. “Syukurlah. Bisakah jelaskan ini semua?”


Kala tersenyum canggung lalu berkata, “Ya, memang. Aku yang membunuh bocah itu.”


“Aih ... apa kamu tahu akibatnya?”


Kala mengangguk pelan. “Aku akan menyelesaikan semua ini, tenang saja.”


“Bagaimana caranya?”


“Dengan kekuatan warga?”


“Kekuatan warga?”

__ADS_1


Kala tersenyum tanpa membalas Aditya, ia hanya pamit untuk pergi ke kamarnya.


Kala membersihkan diri terlebih dahulu dan berganti pakaian sebelum bertemu Kaia, ia tidak mau Kaia mencium bau darah dari tubuhnya yang akan menambah trauma. Kala juga memaksakan agar Alang mandi, ia bahkan turun tangan langsung mengguyur Alang.


Setelah memastikan semuanya sudah bersih, mereka turun ke bawah. Kala menyelipkan beberapa tulang dan daging untuk Kaia, entah apa yang akan ia lakukan pada gadis tersebut.


Saat Kala masuk ke dalam kamar Kaia, dua perawat perempuan yang di dalam buru-buru keluar. Kala tersenyum lembut dan memberi mereka masing-masing lima kepeng emas, itu karena keduanya telah menjaga Kaia.


Uang yang Kala berikan bukanlah nilai kecil bagi manusia biasa seperti kedua perawat, mereka bersikeras untuk mengembalikan kepeng tersebut tapi Kala tolak. Lagi pula, ia mendapatkan emas itu dari hasil jarahannya bekas peninggalan penjelajah yang mati di sana.


“Apa kabarmu, Kaia?” Kala tersenyum lalu duduk di bangku, tepat di sebelah tempat tidur.


“Aku tidak baik-baik saja, mereka menotok diriku agar diam.” Kaia mendengkus kesal. “Kau pasti menyuruh mereka melakukan hal ini!”


“Aku tidak menyuruh mereka sedemikian, tapi aku setuju dengan apa yang mereka lakukan. Jika tidak, maka kau akan berkeliaran padahal belum sembuh.” Kala tertawa pelan lalu menepuk pundak Kaia, seketika itu juga Kaia bisa bergerak.


“Apa kau tidak bertanya? Aku dari mana? Aku pergi ke mana sampai larut?” tanya Kala sinis.


“Tidak penting.”


“Heh, padahal ada kisah yang menarik. Bukan begitu, Alang?”


“Eak!”


Kala tersenyum lebar pada Kaia. “Kau yakin tak mau dengar?”


Tentu saja Kala menceritakan semua yang ia alami di hutan. Mulai dari menemukan harta karun sampai memburu hewan yang kuat. Kaia sedikit terbawa dalam cerita, raut mukanya tetap acuh tak acuh.


“Jadi, sekarang kau punya banyak uang? Berikan aku uang untuk pergi makan.”


“Tidak sampai kau sembuh.” Kala menggelengkan kepalanya pelan. “Maka dari itu, kau harus makan dulu di sini.”


“Aku tidak mau makan. Makanan di sini dibuat oleh tabib, rasanya tidak enak dan selalu pahit.”


“Baiklah, aku akan membuatkanmu makanan.”


Kala berdiri dari bangku lalu menepuk pundak Kaia. Badan Kaia kembali kaku, gadis itu memaki keras tapi Kala meninggalkannya sendiri.


Kala memasak untuk Kaia, meskipun itu dilarang oleh pihak dapur dengan alasan kehormatan, Kala tak peduli dan terus memasak. Ditemani Alang, Kala memasak sup tulang beserta daging bakar.


Ia membawa hidangan itu ke kamar Kaia. Pihak penginapan sampai geleng-geleng kepala saat melihat Kala bisa dengan santai tapi di luar sedang tegang.


***


“Masakanmu pasti tidak enak, bahkan lebih buruk dari masakan tabib. Aku tak mau makan.”


“Jika belum mencobanya, maka jangan cepat-cepat menyimpulkan. Makanlah.” Kala menepuk pundak Kaia.

__ADS_1


Dengan lagak jual mahal, Kaia mencicipi sesendok kuah dari sup tulang. Matanya tiba-tiba terbuka lebar. Ia tak pernah menyangka bahwa Kala bisa memasak seenak ini.


“Aku sudah bilang apa ....” Kala tertawa pelan. “Selagi kau makan, aku akan menjelaskan apa yang telah terjadi dan mengapa kau diserang tiba-tiba.”


***


“Jadi, semua ini karena kau menjadi buronan?! Mengapa mereka menyerangku bukan menyerangmu?!”


Kala terbatuk pelan lalu menjelaskan pelan-pelan. Ia berkata bahwa masyarakat adalah kumpulan orang buta, mereka akan menyakiti siapa saja asalkan kau memiliki hubungan dengan musuh mereka.


“Aku harap kau tidak mengalami trauma berlebih,” tambah Kala.


“Aku tidak trauma sedikit pun.” Kaia menyelesaikan suapan terakhirnya.


“Bagus kalau begitu, aku akan menyelesaikan masalah lain di luar.” Kala beranjak pergi.


“Masalah apa itu?”


“Gedung kita dikepung.” Kala tertawa pelan.


***


Kala menemui Aditya saat pagi sudah mau menjemput.


“Tidak terlalu baik,” jawab Aditya setelah ditanyai Kala.


“Baiklah, aku harus keluar sekarang.”


Kala membuka pintu penginapan. Hawa pembunuh segera menyambutnya dengan dingin, Kala tidak peduli. Ia tersenyum pahit saat melihat semakin banyak prajurit kota bersenjata lengkap yang mengepung.


Kala berbisik pada Aditya, “Penginapan Progo adalah Laskar Progo, bukan begitu? Mengapa kau tidak meminta bantuan dari pusat?”


Aditya masih tidak sulit menerima kenyataan bahwa Kala mengetahui rahasia ini, tapi ia mengambil pikiran logika dan dengan cepat menjawab Kala.


“Mereka tidak mau mengambil risiko rahasia terbongkar hanya untuk satu penginapan.”


“Bukankah di dalam satu penginapan, ada banyak nyawa?”


Aditya tersenyum kecut lalu menggelengkan kepalanya pelan. Kala menghela napas panjang, inilah dunia persilatan.


Sepertinya, aku harus kembali berpidato.


“Alang, pergi ke atas dan buat kembang api besar untuk menakuti mereka.”


Alang yang di pundak Kala lekas terbang, berputar beberapa kali di langit lalu membuat beberapa ledakan. Prajurit-prajurit kota berseru, entah karena takjub atau karena takut.


“Dengarkan!” Kala berseru lantang. “Aku bisa membunuh kalian semua dengan mudah, tapi aku tidak ingin mencari perkara yang tak perlu. Kalian semua pasti mengetahui bahwa anak wali kota merupakan murid inti Kastel Kristal Es, biar mereka yang berurusan denganku.”

__ADS_1


__ADS_2