Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Memasuki Zona Pertempuran Tanpa Sengaja


__ADS_3

“Untuk apa kau di sini jika aku tetap takut?” Kaia berbisik pada Alang.


“Eak-”


“Kau takut? Mengapa tidak bilang?” Kala berbicara sebelum Alang menyelesaikan ucapannya. “Tenang, sebentar lagi kita akan bertemu dengan gerombolan kunang-kunang.”


Kala bisa melihat banyak titik cahaya berkedip dengan Mata Garuda. Mendengar kata Kala, Kaia jadi sedikit bersemangat.


Ucapan Kala dapat dipercayai, Kaia mulai melihat banyak titik cahaya di sebuah lapangan kecil berumput. Sebab penasaran, Kaia berlari sampai keluar dari semak belukar ke lapangan kecil yang penuh kunang-kunang terbang.


Tak hanya terbang, ada banyak lainnya yang bersembunyi di rerumputan. Kaia terpatung dengan tatapan kosong yang luar biasa. Sedangkan Kala berjalan dengan tenang.


“Saat di gelapnya malam yang tertutup kabut tebal, kunang-kunang akan terlihat lebih indah.” Kala melipat tangannya ke belakang sambil melihat ke atas.


Alang tidak bisa diam, ia terbang dengan ketinggian rendah bersama kunang-kunang. Ya, walau itu hanya membuat kunang-kunang menghindarinya.


“Dingin betul,” gumam Kala.


Saat berniat mengambil jubahnya agar tidak kedinginan, Kala membatalkan niatnya. Ia merasa sesuatu yang janggal. Ini bukan dingin karena kabut atau malam, ini adalah hawa dingin yang penuh dengan kematian.


Hawa pembunuh.


Kala tidak melirik ke hutan sekali pun. Ia merasa musuh sangat mengawasinya. Kala juga sangat meyakini bahwa ini bukan ulah dari binatang, ini adalah hawa yang kental dengan kematian manusia. Kini sorot matanya menyapu Kaia yang terlihat bahagia.


Jangan sampai Kaia terluka.


“Kaia, aku akan kembali.” Kala berniat melompat pergi, tapi Kaia menahannya.


“Mau ke mana?”


“Panggilan alam.” Kala tersenyum canggung lalu menatap Alang sekejap. Burung itu segera tahu bahwa posisi mereka dalam berbahaya setelah diberi kode Kala untuk menjaga Kaia.


Kala melesat pergi meninggalkan mereka berdua. Mengentak kaki hingga sampai pada puncak salah satu pohon lalu melompat-lompat bagai tupai ke pohon lainnya, bedanya Kala terlihat seperti terbang dibandingkan melompat.


“Ilmu Kapas - Macan Menuruni Gunung!”

__ADS_1


Secepat angin; sesunyi ular, itu kalimat yang cocok untuk kondisi Kala saat ini. Dengan pemahaman meningkat terhadap Teknik Kapas membuat Kala semakin lihai memainkan kakinya. Kini bahkan hewan malam tidak menyadari keberadaannya.


Hawa pembunuh yang kuat semakin terasa. Saat sampai di sini, Kala baru menyadari bahwa hawa pembunuh bukan mengarah padanya melainkan menyebar ke seluruh hutan. Bahkan lokasi tepatnya saja tidak Kala ketahui.


Ting!


Kala berhenti di dahan pohon yang besar saat mendengar dentingan logam. Indera pendengaran dipertajam.


Krik-krik ....


Whuhh!


Srrrrh ....


Trang!


Kala membuka matanya saat mendengar suara denting logam di antara suara jangkrik dan desir angin. Kala mengumpat keras saat menebak berdasarkan pengalaman bertempur.


“Ini adalah zona pertempuran!”


Suara bentakan pria terdengar dari kejauhan. Anehnya, Kala merasa mengenali suara ini. Berikutnya suara petarungan itu semakin lama semakin dekat dengannya.


Dengan kondisi yang genting, Kala mengalirkan Prana ke matanya agar melihat lebih jauh. Melihat di antara kabut adalah hal yang sulit, tapi Kala bisa menangkap kilatan cahaya dari arah utara walau visi tidak terlalu jelas.


Kilatan cahaya terlihat walau dari jauh, apa pun ini tidak bagus. Bukannya Kala pengecut, tapi ia tidak mau mencampuri urusan orang di luar tugasnya, Kala menggunakan Teknik Kapas dan berlari secepat angin ke arah tempat Kaia.


Tubuh Kala tetiba terlontar jauh setelah dihantam benda dengan keras. Benda yang menghantam dirinya ikut terbawa bersama Kala jatuh ke tanah. Kaki Kala segera memijak tanah dan melihat benda yang menghantamnya.


“Apa-apaan?!” Kala membeliakkan mata, itu bukan benda mati melainkan tubuh manusia yang dadanya masih naik turun.


Kala memiliki insting penolong yang kuat. Walau keadaan tidak wajar, tubuh orang tiba-tiba menghantamnya di tengah hutan yang berbahaya. Kala mendekati tubuh itu.


Kondisinya sangat parah, darah membasahi baju dan jubah pendeknya yang rombeng, bahkan tanah ikut diairi darah. Kala membalikkan tubuh itu untuk melihat tampangnya lebih jelas.


“Sialan!” Kala mengumpat keras saat melihat wajah Aditya dalam kondisi yang sangat buruk.

__ADS_1


“Lari ... lari ....” Mulut Aditya mengucap sesuatu tapi itu sudah telat.


Desiran angin terdengar di belakang Kala. Kala berbalik cepat dengan Keris Garuda Puspa terhunus, di dalam keris itu sudah terisi lima kendi tanpa disadari.


Yang dapat Kala lihat secara tayangan lambat adalah kilatan cahaya logam dan bayangan kabur di belakangnya. Kala menebas kerisnya serong ke atas.


Trang!


Kala kembali terlempar jauh ke belakang dan baru berhenti setelah menembus-mematahkan dua pohon. Dari mulutnya, Kala mengeluarkan darah segar, dan dari kejauhan ia melihat sesosok berbaju hitam mengangkat pedang tinggi berniat menusuk Aditya.


“Teknik Kapas - Macan Menuruni Gunung!” Kala menyambar sosok berbaju hitam itu, menubruknya hingga terlontar ke belakang.


Sosok baju hitam itu terlihat memegang perutnya akibat serangan dari Kala, kini ia menatap Kesatria Garuda dengan geram sebelum hawa dingin membuat Kala menunduk.


Hawa pembunuh miliknya begitu besar.


Melihat dari kostumnya, ia adalah anggota Kastel Kristal Es. Dan kebiasaan perguruan aliran hitam adalah mengandalkan aura pembunuh untuk melawan, ini sebabnya mereka suka membunuh.


“Pengecut.” Kala kembali menyerangnya, dengan gerakan menebas, tapi langkahnya begitu berat sehingga lawan berhasil mendaratkan tusukan fatal ke arah jantung Kala.


Kala terdorong ke belakang, memegangi dadanya yang tidak tergores hanya sedikit lebam. Kala bernapas sangat lega, napas lega yang paling lega seumur hidupnya, baju Cassandra menyelamatkannya!


Sosok berbaju hitam segera menyadari bahwa baju Kala bisa menahan serangannya, kini tergetnya beralih pada kepala Kala. Meskipun merasa yakin bisa mengalahkan Kala, tapi sosok tahu bahwa harga yang harus dibayar tidaklah sedikit.


Jadi ia mencoba jalan negoisasi.


“Aku tidak mengenalmu. Jangan ikut campur atau Kastel Kristal Es akan mencarimu sampai neraka.” Si sosok hitam berbicara dengan dingin.


“Aku juga tidak mengenalmu, tapi kau menyerang temanmu. Dan kebetulan aku akan meruntuhkan Kastel Kristal Es.” Kala tersenyum sinis di bawah bayangan malam. Di sisi lain ia tersenyum kecut sebab mendengar suara desing logam lain dari arah lain, bahkan desingannya lebih banyak dan keras.


Petarungan antar pasukan.


Kala mempererat genggamannya lalu menatap sejurus ke depan. Tidak ada negoisasi, ia sudah terlalu banyak berhutang pada Aditya, melindunginya adalah kewajiban walau napas Aditya sudah tidak ada.


“Aku akan membunuhmu atas nama Kastel Kristal Es.” Sosok itu kemudian berkelebat, tak tertangkap mata tapi Kala bisa merasakan desir angin di belakangnya.

__ADS_1


Sangat ingin menangkis, tangan Kala seakan diikat sehingga tidak bisa bergerak cepat. Lagi-lagi serangan itu mengenai baju Kala, tepat di bawah leher yang tak tertutup.


__ADS_2