Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Meninggalkan Bukanlah Perkara Mudah


__ADS_3

"Murid mengerti," kata Kala.


Akhza tersenyum. "Seharusnya penampilan Mahes tidak banyak berubah karena ia adalah seniman setingkat Alam Kristal Spirit. Mencarinya akan cukup mudah." Lalu dia tertawa. "Kau pasti tidak sabar untuk bertemu kecantikannya yang masih bertahan itu!"


"Guru tahu saja, hahaha!" Kala tertawa. Jitakan kembali mendarat di kepalanya.


"Malam ini aku akan memberi pemahaman tentang kecintaan pada fisik! Dengarkan aku baik-baik, bajul buntung!"


Akhza menjelaskan panjang lebar malam itu. Kala dibentak habis-habisan. Tapi dari penjelasan itu, Kala mengetahui satu rahasia. Dia tak cinta pada kecintaan fisik, ia hanya suka memandangnya. Akhza juga menekankan kalau sifat seperti itu harus diubah. Kala mengerti, ini seru.


***


"Guru! Selama ini Murid selalu menurut, sekarang Guru harus menurut!" seru Kala saat Akhza memintanya kembali ke gubuk sedang ia hendak bermeditasi. "Aku akan bermeditasi bersama Guru."


"Jika itu maumu, apalah dayaku." Akhza tersenyum hangat. Ia tahu bahwa Kala tahu, dirinya akan mati sebentar lagi.


Akhza memandang langit malam di puncak Loro Kembar. Bintang terlihat jelas di langit. Gelap. Tanpa pembatas awan. Bersanding dengan bulan separuh terang.


"Oh, ya. Simpan ini." Akhza memberi Kala sebuah cincin interspatial miliknya.


Tidak ada permata di cincin ini. Bentuknya mulus. Dari batu akik dingin yang sepertinya ringan. Saat Kala memandangnya lekat-lekat, ia tersadar bahwa cincin itu memiliki aura yang berbeda dari cincin miliknya.


"Apa ini cincin interspatial, Guru? Aku sudah punya cincin interspatial yang diberikan Kak Mahes." Kala memandanginya bingung.


"Cincin ini berisi benda-benda warisanku, hanya bisa dibuka saat kau membentuk Kristal Langit. Bukan cincin sembarang ini. Kalau kau paksa buka sekarang, bisa-bisa meledak dirimu. Tapi, Kala muridku, aku berharap kau bisa mencapai lebih tinggi ketimbang Kristal Langit."


Kala mengangguk. Mengambil cincin. Permukaannya sangat dingin. Tapi saat ia memakai cincin itu di jari manisnya, rasa dingin dan aura itu menghilang. Bahkan cincin ini tidak lagi bercahaya redup seperti tadi. Kala mengangkat tangan kirinya sambil memandangi cincin tersebut.


"Aku juga ingin memberimu ini." Akhza melepas Keris Garuda Puspa dari pundaknya. "Kau sudah tahu kehebatan keris ini? Ceritanya sangat panjang dan penuh kenangan manis."


Akhza menarik gagang keris. Terlihat mata keris yang meliuk-liuk. Hitam, sewarna dengan malam.

__ADS_1


"Sebelum aku menerima Keris Garuda Puspa, ini dipakai ayahku untuk melindungi desa. Lalu aku menempanya ulang, agar kekuatannya kembali setelah sempat patah di sebuah pertarungan dulu."


Akhza kembali menyarungkan keris panjang dan besar tersebut, lalu menyodorkannya pada Kala. Muridnya menerima keris itu dengan tangan bergemetar. Bagaimana tidak? Keris ini adalah pusaka terkuat di pulau Jawa. Banyak kelebihan keris ini yang membuat siapa saja menahan napasnya jika mendengar namanya.


"Mari bermeditasi," katanya lembut.


Kali ini Kala sengaja tidak niat bermeditasi. Kala menjaga Akhza. Jika suatu saat terjadi sesuatu, maka mungkin saja ada waktu untuk menyelamatkannya.


Ia melirik dada Akhza secara rutin. Memastikan masih kembang-kempis.


Beberapa lama berlalu tanpa disadari. Tepat saat Kala melirik dada Akhza, Kala menemukan bahwa dadanya tidak lagi naik turun. Kulit wajah Kala berubah pucat. Dipastikan sekali lagi. Tetap tidak ada pergerakan.


Ditunggu lebih lama lagi. Tetap kaku.


Kala kacau.


Ia tetap bermeditasi, entah apa yang harus dilakukan. Namun, sesaat kemudian ia meneteskan air mata.


"Guru ... guru." Kala memanggil. "Guru ... jangan bercanda."


Tidak ada tanggapan sama sekali. Jantung Kala seakan ingin keluar.


"Hahaha, pasti Guru bercanda." Kala berimajinasi Akhza sedang tertawa karena mengerjainya.


Tapi tidak ada tawaan. Akhza benar-benar diam dalam wajah damai.


"Guru, kenapa kau tidak tertawa?" Kala tertawa keras. "Ayo, kau bisa menjitak aku berkali-kali kalau mau."


Tetap tidak ada, Kala meremas tangannya. Urat lehernya tampak saat ia mengeraskan otot untuk menahan tangis.


"Ah, bagaimana jika kita minum lagi." Ia bangkit kemudian mengambil guci beserta gelasnya.

__ADS_1


Kala menuangkan tuak ke gelas. Hanya sedikit air yang masuk ke gelas, sisanya tumpah ke tikar. Tangan Kala bergetar hebat.


"Guru ...." Kala mengulurkan tangannya untuk menyentuh pundak sang guru, tapi ditarik lagi sebab tak sanggup menerima kenyataan. "Tidak! Guru masih HIDUP!"


Kala akhirnya menepuk pundak Akhza, namun tidak ada tanggapan. Membanting gelasnya. Tuak di dalamnya tumpah ruah menyiram tanah.


"Keparat! Buka matamu dan katakan kalau tadi itu bercanda!"


Kala ingin menyentuh nadi Akhza, tapi tidak ada keberanian sedikit pun. Bahkan memikirkannya pun tak berani.


"Meninggalkan bukan perkara mudah, Guru. Aku tidak bisa meninggalkan Guru, seharusnya Guru tidak mudah meninggalkanku." Air mata terus mengalir di pipi Kala membawa sejuta sendu kejamnya semesta. "Damai sekali Guru meninggalkanku. Tak memikirkanku sama sekali."


Akhirnya Kala berani. Lelah berpikir. Memegang lengan Akhza untuk mengecek nadi. Lengan Akhza sangat dingin, ini berhasil membuat Kala tidak melanjutkan lagi niatnya. Ia berusaha untuk tidak yakin, tapi ia sangat yakin. Entah mengapa, pikirannya kacau.


"Meninggalkan bukan perkara mudah, Guru." Kala mengulangi lagi, kali ini dengan tangis. "Sedangkan kau meninggalkan aku begitu mudah. Aku mohon, bangun."


Kala mengguncang bahu Akhza, tapi tubuh Akhza malah jatuh dari posisi sila. Tangisan Kala menjadi kencang, menyeruak seantero gunung.


Burung-burung terbangun dari tidurnya, menyanyikan nada sendu. Semesta bersedih mengiringi pilu Kala, awan menangis. Kala mendongak ke langit gelap malam, membasuh air matanya dengan sejuta bulir tangisan semesta. Kala merasa semesta tidak adil, membiarkan hewan lain hidup rukun tapi tidak dengan manusia. Akhza adalah korban peperangan. Kala membenamkan wajahnya ke tubuh sang guru.


"GURU!!!"


***


Sebulan setelah pemakaman Akhza, Kala bisa merelakan kepergian gurunya. Kini ia berdiri di pusara guru tercintanya. Tubuh orang yang mengasuhnya ada di dalam. Tubuh yang mengubah hidupnya ada di dalam.


Tepat di pagi ini, ia akan turun gunung. Menyambut dunia yang baru baginya. Menyelamatkan Nusantara dari peperangan. Perjalanan akan dimulai. Perjalanan akan tertoreh dalam sejarah. Sang Kesatria Garuda!


___


Catatan author:

__ADS_1


Ingin lihat kecantikan Maheswari? Buka Facebook saya: WestReversed


__ADS_2