
Dahi Kaia terlihat mengerut saat membaca, terlihat jelas bahwa masih sulit memahami isi dari buku tersebut. Kala meminta Alang menemani Kaia.
Biasanya, Kala hanya berhenti untuk minum sebelum kembali berjalan. Tapi kali ini mereka tidak melanjutkan perjalanan, Kaia sampai lupa waktu karena mulai memahami buku di bawah nasihat Alang. Kala menyandarkan diri di batang pohon dengan mata yang ditutupi destar, penutup kepala motif Batik Parang.
Saat hari mulai agak jauh dari siang, Kaia menutup gulungan sambil menatap Kala. Sepertinya ia sudah tidak tahan untuk mencoba ilmu pedang yang baru saja dipelajari.
Sambil rebahan tadi, Kala juga mengingat-ingat isi buku yang sedang Kaia pelajari agar bisa memberi arahan pada Kaia. Pemuda itu membenarkan destar kembali menutupi kepala, bukan mata.
“Siapkan pedangmu.” Kala mengeluarkan Keris Garuda Puspa.
“Apa kau yakin akan pakai keris itu? Bukankah itu keris yang terlalu berharga?”
Kala tersenyum canggung sambil menggelengkan kepala. Jika diingat lagi, ia pernah menggunakan Keris Garuda Puspa sebagai pemotong kayu dan rumput di Gunung Loro Kembar, itu termasuk hal paling bodoh.
“Fokus saja pada lawanmu.” Kala kembali serius.
Kaia menatap Kala tajam lalu menghunus pedang ke depan. “Aku tidak akan bermain-main jika kau terluka.”
Kala menaikkan alisnya dan tersenyum sinis, tentu ia tidak mempercayai omongan Kaia. Bahkan keris panjangnya tidak terhunus namun dipegangnya ke samping dengan santai, tentu itu sebagai sebuah penghinaan untuk Kaia.
Gadis itu berusaha tidak terpancing emosi, di buku yang ia baca sangat dilarang untuk emosi saat bertarung. Kaia merapatkan jarak dengan cepat lalu memberi tebasan langsung ke pinggang.
Kala menangkisnya dengan santai sambil melangkah mundur. Kaia menyerangnya dengan brutal, serangannya tidak kaku lagi dan terlihat sangat mulus.
“Kau belajar dengan cepat dan tepat, Kaia. Aku bangga padamu,” kata Kala sambil terus menangkis serangan. “Aku akan mulai menyerang.”
Kala memberikan tusukan-tusukan sederhana beserta tebasan-tebasan kecil, Kaia menangkisnya dengan sulit padahal serangan itu terlihat sangat lemah. Kini Kaia yang berganti melangkah mundur sambil berpikir keras.
Pola serangan Kaia berganti dengan memperbanyak lompatan dan serangan dari atas. Tubuh Kaia berputar di atas dengan mata pedang yang turut berputar layaknya tornado.
“Angin Meniup Gunung!” Kaia bersorak nama jurus yang ia pakai.
__ADS_1
Kala loncat mundur sebab serangan Kaia begitu berbahaya. Kini Kala menyerang dengan serangan yang tidak lagi sederhana.
Bunga api tercipta, desing logam menggema seantero hutan. Kala dan Kaia sudah bertukar lebih dari seratus serangan dan berbagai teknik. Kini Kaia berlutut lemas dengan lengan yang berlumuran darah.
“Kau ... begitu serius.” Kaia mengatur jalan napasnya.
“Kau yang terlalu lemah.” Kala menyimpan lagi Keris Garuda Puspa lalu memberi Kaia satu pil yang sama.
Alang hinggap di pundak Kala sambil protes dengan latihannya yang begitu kelewat batas, Kala benar-benar melukai Kaia tanpa ampun. Kala pergi berlalu berniat kembali bersandar di bawah pohon beringin.
Namun, Kaia mendesah saat Kala hampir sampai di pohon beringin. Kala berbalik ke belakang.
“Pendarahannya tidak berhenti.” Suara Kaia terdengar lirih dan lemah.
Dengan kondisi Kaia yang sepertinya berbahaya, Kaia langsung berlari cepat ke arahnya. Pemuda itu menggulung kain lengan panjang di tangan sebelah kanan Kaia, lukanya berada tepat di lengan dan baru Kala sadari bahwa memang cukup dalam.
“Apa yang kau lakukan?” Kaia berusaha menutup kembali lengannya yang terbuka tapi gerakannya begitu lemah sampai tidak berarti apa pun.
Kala juga mengeluarkan kain lembut kecil, membasahinya lalu digunakan untuk membersihkan darah yang mewarnai lengan Kaia. Gadis itu memandangi Kala dengan tatapan aneh.
“Apa maumu?” tanya Kaia tiba-tiba.
“Melatihmu, tapi sepertinya aku terlalu berlebihan.” Kaia tertawa hampa.
“Apa maumu? Mengapa kau mau melindungiku, mengajariku, memberiku banyak barang berharga yang bahkan tidak pernah aku dapatkan di mimpi sekali pun.” Mata Kaia mulai berlinang. “Apa maumu? Apa kau mau tubuhku? Apa kau mau menjualku sebagai budak? Apa kau mau mengambil kristal dari tubuhku?”
Kala berhenti membersihkan lalu tersenyum hangat walau ucapan Kaia sangat menyakitkan. Kaia bingung dengan senyum itu, entah mengapa berbeda dengan senyum orang lain, senyum Kala benar-benar menghangatkan.
“Aku yang memintamu agar tetap hidup. Itu artinya aku harus membuatmu tetap hidup, dengan kehidupan yang lebih baik, dengan kehidupan yang tidak pernah kau rasakan sebelumnya.” Kaia kembali membersihkan sisa darah di lengan Kaia. “Itu mauku.”
Entah ada dorongan apa, Kaia langsung memeluk Kala.
__ADS_1
Kala mengumpat dalam hati, sudah dua kali ia dipeluk oleh wanita selain keluarganya. Kala agak ragu membalas, tapi sepertinya Kaia sedang kacau pikirannya, Kala balas memeluknya walau agak kaku.
“Kau tidak perlu melakukan itu untukku. Tidak perlu.” Kaia terisak pelan sambil terus memeluk Kala. “Kau malah membuatku semakin berdosa.”
“Aku tidak peduli apa katamu.” Kala tertawa pelan.
“Eak ....” Alang seakan menepuk dahi.
***
Setelah momen yang tadi itu, suasana canggung segera hinggap kepada Kala. Walau kini mereka sudah melanjutkan perjalanan, tapi rasa canggung itu tidak meninggalkannya.
“Jika kau harus mundur dalam peperangan, bahkan saat malam tiba kau mesti tetap berlari.” Kala membuka pembicaraan saat langit menggelap. “Kita akan melanjutkan perjalanan di malam hari. Aku harap kau bisa melawan rasa takut.”
Kaia yang berada jauh di belakang mengangguk walau tidak dilihat Kala. Alang merasa bosan sehingga terbang berputar-putar di pepohonan sampai Kala memberinya tugas.
“Gadis itu sepertinya membutuhkan teman,”kata Kala, Alang langsung terbang ke pundak Kaia.
Kala mengaktifkan Mata Garuda untuk berjaga-jaga. Hewan spirit biasanya keluar di malam hari, mereka tidak akan peduli dengan kekuatan Kala dan menyerangnya.
Jika Mata Garuda menangkap pergerakan hewan spirit, maka bersembunyi adalah langkah terbaik. Sebenarnya memakai obor sebagai penerang adalah hal berisiko di sini, tapi Kaia tetap diberikan obor, tentu ia tidak punya Mata Garuda.
Sore jatuh dengan cepat. Malam menjemput dengan hawa dingin. Kabut mulai turun memenuhi hutan. Suasana seperti ini sangat menyeramkan bagi Kaia tapi ini merupakan replika rumah bagi Kala.
“Ah, Gunung Loro Kembar penuh kabut abadi hanya karena Guru.” Kala tertawa kecil.
Kaia ingin tahu cerita Kala, tapi ia mengingat momen tadi siang, segera diurungkan.
Langkah seakan berat saat malam benar-benar gelap. Semak belukar seakan penuh dengan duri sehingga dihindari. Belum lagi suara burung hantu yang mengagetkan. Tapi semua itu hanya dirasakan Kaia, ini merupakan surga bagi Kala.
“Wah, suasana hutan sangat damai.” Kala berkata dengan takjub, Kaia merasa kesal.
__ADS_1