Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Minum Bersama


__ADS_3

Abha serta Walageni tiba-tiba berkata hampir bersamaan, “Dan sebagai teman, kita harus membersihkan semua ini bersama-sama.”


Kala tersenyum canggung sambil melihat genangan darah dan mayat-mayat yang belum dibereskan.


***


Kaia terbangun dari mimpi buruknya. Dia meringkuk di atas kasur tanpa menyadari Alang sedang menatapnya dengan bingung. Pemandangan tadi sungguh membuat gadis itu trauma, bahkan Kastel Kristal Es tidak sekeji Kala ketika membunuh orang.


Beberapa saat kemudian Kala masuk ke dalam kamar, awalnya berniat untuk memeriksa kondisi Alang tetapi niatnya itu berubah saat melihat Kaia terbangun.


“Akhirnya kau sadarkan diri.” Kala bernapas lega. “Kau berkata sebelumnya bahwa kau kesulitan tidur karena pelajaran yang kuberikan semalam kurang lengkap. Nah, kuharap pelajaran yang baru saja aku tunjukkan bisa membuatmu tidur nyenyak.”


Sungguh terlalu, bagaimana Kaia bisa tidur nyenyak setelah melihat itu semua?

__ADS_1


Hujan masih terus mengguyur, menjadikan langit malam semakin gelap adanya. Kala menghela napas karena merasa tidak aman untuk menginap di sini beberapa malam lagi.


Abha baru saja pergi untuk menjalankan misi, ia adalah pranor dan hujan bukan halangannya. Kala juga merupakan pranor dan hujan pula bukan halangan, tetapi Kaia adalah perempuan biasa.


“Lebih baik kita turun dan minum teh hangat.” Kala menjulurkan tangannya di hadapan Kaia sambil tersenyum samar.


Sebaliknya, gadis itu menatap Kala dengan amarah yang luar biasa. “Apa maksudmu melihatkan jasad-jasad itu padaku?! Kau tidak suka dengan kehidupanku yang mulai sedikit tenang akhir-akhir ini?!”


“Pahamilah, dunia yang ingin kau hadapai sangat berbeda dengan dunia yang sedang kau jalani sekarang. Kau akan selalu membasuh bajumu dengan darah untuk menghilangkan noda putih. Jika kau tidak seperti itu, maka darahmu yang justru akan tertuang.” Entah keberanian dari mana, Kala mengelus pelan kepala Kaia. “Kecuali jika kau memutuskan untuk berhenti balas dendam.”


Kala kemudian menceritakan kejadian yang baru saja terjadi. Saat itu juga, Kaia baru sadar, walau baju Kala sudah diganti dan kulitnya sudah bersih tapi tangannya sudah banyak mencabut nyawa manusia. Dan, Kala baru saja mengelus rambutnya!


Kaia dengan marah menampar keras pipi Kala tanpa aba-aba atau sekadar peringatan. Pemuda itu membeliakkan mata sebab reaksi Kaia begitu telat. Lucunya lagi, Kaia segera mencuci rambutnya dengan air hujan yang turun di jendela.

__ADS_1


“Apa tanganku begitu kotor sampai-sampai dia langsung keramas?” Kala memandangi tangannya yang bersih.


Kala kemudian turun dan duduk di salah satu bangku ruang makan, ini adalah bangku dan meja terakhir sebab meja yang lain sudah hancur lebur. Walageni menghampiri Kala dengan senyum bersahabat.


“Apa kau mau minum bersamaku, Anak Muda?” Walageni bertanya.


Kala mengangguk antusias dan tersenyum. “Tentu saja.”


Walageni tersenyum lebar lalu kembali ke dapur mengambil satu kendi tuak dan bangku untuknya. Kendi tuak itu diletakkan di atas meja, Walageni mengeluarkan dua gelas kayu dari cincin interspatial.


“Yang muda menuang untuk yang tua.” Walageni menyodorkan kendi tuak itu pada Kala.


Kala menuang tuak itu secara perlahan untuk dirinya sendiri dan Walageni sebelum meminumnya perlahan-lahan. Mata Kala sedikit terbuka dengan rasa tuak ini. Hanya sedikit di bawah kenikmatan Tuak Kunyuk Gunung, rasa tuak ini sangat enak!

__ADS_1


__ADS_2