
Maheswari menatap Kala untuk meminta bantuan agar tidak lagi dimarahi Yudistira. Namun, pemuda itu menjadi sedikit kesal karena ia dipakai sebagai pasien percobaan untuk obat baru, sungguh pantas jika setelah ini Kala meminta biaya kompensasi.
Tetapi biar bagaimanapun, Kala tidak mungkin membiarkan Maheswari dalam tekanan di hadapan matanya. "Patriark, Tabib Maheswari telah mengetahui bahwa aku adalah Kesatria Garuda. Aku sudah menganggapnya sebagai kakak sendiri, sangat wajar jika seorang adik yang pertama kali mencoba karya seni kakaknya."
"Tapi Kala, yang dia lakukan sangat berisiko bagi keselamatanmu."
"Mohon tenanglah, Patriark, aku baik-baik saka." Kala tersenyum menggoda. "Aku juga akan meminta kompensasi yang besar setelah ini, tidak mungkin kubiarkan begitu saja."
Maheswari sedikit tersenyum kecut namun ia bersyukur karena kemarahan Yudistira cukup mereda sehingga mau menarik pedangnya kembali ke cincin interspatial. Maheswari kemudian berjanji bahwa dirinya akan akan memberi kompensasi yang setimpal.
"Baiklah. Ada sesuatu yang harus aku urus segera. Lanjutkan pengobatan, Tabib Maheswari." Patriark meninggalkan tenda.
Maheswari bernapas lega. "Kala, apa yang pantas menjadi biaya kompensasi untukmu?"
Kala tersenyum lalu menggeleng pelan. "Tidak perlu, Kak Mahes. Aku tadi hanya bercanda."
"Aku harus tetap memberimu kompensasi."
"Tidak perlu menanggap serius candaanku, Kak Mahes."
Maheswari menyunggingkan senyum. "Karena kamu tadi hanya bercanda, maka kamu tidak benar-benar menganggapku sebagai kakakmu?"
Kala tersenyum. "Aku memang menanggap Kak Mahes sebagai kakakku. Itu bukan candaan sama sekali. Kak Mahes melindungiku selayaknya seorang kakak yang melindungi adiknya, bukan?"
"Bagaimana dengan pasangan? Mereka juga saling melindungi, bukan?" tanya Maheswari penuh selidik.
__ADS_1
Kala tersedak ludahnya sendiri, batuk-batuk keras bagai sebuah kerikil telah masuk ke tenggorokannya, lalu segera dirinya berkata, "Tidak, Kak Mahes adalah kakakku. Usia Kak Mahes jauh di atasku."
"Dalam dunia pranor, usia tidak menjadi syarat untuk pasangan. Siapa pun bisa menjadi muda selamanya."
Kala memilih tidak menjawab. Sedangkan Maheswari kembali mengobati Kala, namun dengan obat yang lain. Suasana ini canggung bagi Kala, maka ia mencari topik pembicaraan yang lain.
"Kak Mahes sepertinya telah begitu terkenal. Aku mendengar namamu di mana-mana sebagai tabib yang sangat berbakat. Bahkan Patriark sangat menghormati Kak Mahes."
Maheswari tertawa kecil. "Aku memang bisa dikatakan cukup terkenal, Kala. Seluruh Jawa dan Andalas mengenalku sebagai tabib ahli."
"Sehebat apakah Kak Mahes?" tanya Kala penasaran.
"Bisa menumbuhkan jari yang terpotong misalnya," jawab Maheswari enteng.
Alis Kala berkedut. Menumbuhkan jari yang terpotong itu adalah sebuah keajaiban yang tidak bisa diterima akal sehat! Setelah mengetahui itu, ia tidak lagi merasa heran jika Maheswari begitu terkenal.
Maheswari menyelesaikan pengobatannya ketika menjawab, "Dataran Andalas adalah sebuah pulau yang sangat besar, letaknya di sebelah barat Jawa. Pulau ini kaya akan emas, perak, intan, dan sebagainya."
Kala mengangguk paham. Ia tidak yakin apakah gurunya pernah mengajari tentang pulau lain selain pulau Jawa, atau malah ia sendiri yang lupa. Informasi ini cukup berguna bagi Kala, mungkin setelah ini ia akan memulai perjalanannya ke pulau Andalas.
Kala merapikan dirinya sebelum keluar tenda bersama Maheswari. Ia segera berjumpa lagi dengan Yudistira, Patriark itu menyuruh Kala dan Maheswari kembali ke kota karena tidak ada tanda-tanda serangan lagi.
Kala dan Maheswari lalu berjalan ke arah kota. Kala tidak lupa untuk memanggil Alang, pastinya burung ini telah sangat lelah karena telah berjuang keras di pertempuran tadi. Tubuh Alang sudah mulai seperti elang pada umumnya yang hanya diselimuti sedikit api, Kala yakin kalau elang ini akan berubah tampang menjadi elang biasa dalam waktu dekat.
"Elang ini terlihat berbeda dengan yang pertama aku lihat." Maheswari memandang Alang yang sedang tidur di pundak Kala.
__ADS_1
"Ya, sepertinya ia merubah wujud menjadi elang biasa." Kala terus berjalan sampai memasuki kota lewat pintu utara.
"Kala, mengapa kamu memberitahu soal rahasiamu kepada Patriark? Bukankah akan berbahaya jika rahasia itu menyebar? Bisa saja ada orang yang ingin mengalangi langkahmu."
"Tenang, Kak Mahes. Patriark Yudistira adalah orang yang baik, ia adalah teman lama guruku."
Maheswari mengangguk pelan sebelum membawa Kala ke salah satu rumah rumah yang ditinggalkan penghuninya mengungsi. Kala diminta untuk duduk, Maheswari ingin memasak sesuatu yang sepertinya lezat. Gadis itu pergi ke dapur rumah ini.
Lantai rumah ini terbuat dari marmer hitam, lantainya berdebu dan sangat tidak nyaman di kaki. Kala mengeluarkan sapu dari cincin interspatial lalu menyapu ruangan ini. Sudah lama semenjak Kala berhenti menyapu, terakhir ia menyapu adalah saat ia masih tinggal pada gubuknya di kaki Gunung Loro Kembar, semasa latihannya di puncak gunung selalu gurunya yang menyapu dan lantai kayu itu hampir tidak pernah kotor.
Mata Kala sedikit berair, ia merasakan sebuah rasa nostalgia yang membuatnya haru sekaligus senang, perasaan yang sangat sulit digambarkan. Sapu yang Kala pakai juga merupakan sapu buatan Akhza, itu juga menambah rasa nostalgia yang seakan ia melihat gurunya sedang menyapu.
Kala menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, ia tidak bisa terlalu larut dalam nostalgia yang akan membuatnya menangis. Kala merasa dirinya merupakan sosok yang penting bagi Nusantara, jika menangis karena nostalgia saja, itu akan sangat memalukan walaupun saat ini tidak ada yang melihatnya menangis.
Kala mencium aroma daging bakar yang menggugah perutnya. Asal bau ini dari belakang, di mana Maheswari berada di dapurnya. Bau itu disertai oleh asap tipis yang mulai memenuhi ruang tempat Kala berada. Kala menarik napas, menikmati aroma yang harum ini.
"Kak Mahes benar-benar membuat perutku lapar mendadak, itu saja hanya dengan baunya, bagaimana dengan rasa makanannya?" gumam Kala sambil melepas sepatunya.
Klontang! Klontang!
Terdengar suara benda logam yang berjatuhan dari arah dapur. Kala sedikit mencondongkan kepalanya, alisnya mengendur. Suara seperti ini, suara yang Kala dengar setiap hari saat neneknya memasak untuknya.
Kala bersandar pada tembok. Tubuhnya melemas, bibirnya mengendur. Nostalgia kali ini tidak bisa Kala hindari kesedihannya. Air mata akhirnya keluar dari kelopaknya. Ia sangat merindukan nenek yang mengasuhnya sedari kecil, walau bukan cucu kandung atau kerabatnya, nenek itu merawat Kala dengan penuh kasih sayang.
Kala tidak ingin dianggap bersikap tidak peduli saat Maheswari menjatuhkan barang. Setidaknya Kala menanyakan apa yang terjadi atau untuk lebih baiknya adalah berlari ke arah dapur menemuinya.
__ADS_1
"Kak Mahes, apa baik-baik saja?"