
Kala memberi kode agar Kaia menyerahkan pedang itu pada si manajer. Setelah menerimanya, tangan pria paruh baya itu tiada henti bergetar.
“Se-sepertinya tidak ada.” Si manajer mengembalikan pedang itu pada Kaia. “Tapi kami bisa membuat sarung untuk pedang ini di penempaan milik kami, cukup satu hari saja dan kami hanya perlu mengukur pedang.”
“Baiklah, silakan ukur pedangnya.”
Kaia kembali menyerahkan pedang itu, si manajer membawanya ke meja terdekat lalu mengeluarkan alat pengukur. Tjakra membantunya untuk mencatat ukuran. Akibat kinerja yang bagus dari mereka, hanya membutuhkan waktu sebentar untuk mengetahui ukuran pedang.
Setelah selesai diukur, pedang itu kembali ke genggaman Kaia.
“Pedang ini, tolong dijaga baik-baik dan gunakan hanya untuk kebaikan.” Si manajer penuh dengan emosional.
Kaia mengangguk pelan tanda mengerti. Kala lekas berpamitan karena Kaia sudah menemukan senjatanya. Tugasnya hanya tinggal memastikan pedang ini aman dari manusia serakah di penginapan.
Kala, Kaia, Alang menuruni tangga dengan cepat. Tatapan Kaia masih setengah kosong hingga beberapa kali mau terjatuh.
“Apa yang mengganggumu, Kaia?” Kala akhirnya bertanya setelah menggapai lengan Kaia yang hampir terjatuh.
“Aku hanya merasa aneh dengan pedang ini. Entah apa yang terjadi, aku merasa telah memiliki teman dan senang, tapi di sisi lain aku merasa bahwa banyak misteri dari pedang ini.”
Pedang itu tertancap di batu, tidak bisa dimasukkan ke dalam cincin interspatial, permukaan karatan berubah menjadi indah saat keluar dari batu, ini sungguh misteri besar.
“Sebagai pengguna pedang, kau harus menyatu dengan pedang agar bisa mengungkapkan misterinya,” ujar Kala.
“Bagaimana caranya?”
“Kau harus lebih banyak berlatih pedang.” Kala menjawab dengan singkat.
“Tapi umurku sudah tidak lama lagi.” Kaia menyelesaikan anak tangga terakhir.
Kala tiba-tiba berdiri di depan Kaia dan langsung mencengkeram pundaknya, tatapan Kala tajam ke mata Kaia.
“Dengarkan aku. Selama aku masih hidup, aku pasti akan menemukan obatnya! Kau akan sembuh! Apa kau mendengarnya?! Apa kurang jelas?!”
Kaia mengangguk dengan ketakutan, belum pernah ia melihat Kala marah seperti ini. Alang segera panik karena merasakan hawa pembunuh merembes keluar dari tubuh Kala.
“Eak eak!”
“Jika kau mendengarnya dengan jelas, maka tutup mulutmu!” Kala melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
“Eak eak eak eak!”
“Berhenti mengoceh, Alang!” Kala melangkahkan kakinya.
“Eak!” Alang mengumpat lalu terbang ke pundak Kaia.
__ADS_1
Kaia masih termangu oleh bentakan Kala, Alang terus menenangkan gadis itu, tapi tidak bisa berbuat banyak. Langkah Kaia melambat dan lesuh, sudah kehilangan sinar.
Sedangkan Kala, ia berjalan begitu cepat di depan. Walau tampak tidak peduli, sebenarnya Kala sedang berpikir keras, terbukti dari kepalanya yang terus menampilkan urat. Bagaimana pun, Kaia sudah berada di bawah tanggung jawabnya.
***
Setelah sampai di penginapan, Kala dan Kaia saling berdiam. Begitu juga Alan, ia menolak bicara pada Kala. Walau saat sampai penginapan Kala disambut dengan meriah, tapi wajah Kala masih murung dan dalam kondisi berpikir keras.
Kala dan Kaia mengurung dirinya di kamar masing-masing, Alang ikut masuk ke dalam kamar Kaia. Setelah Kaia bisa memahami bahasa Alang, entah mengapa hubungan mereka jadi dekat.
“Apa yang harus aku lakukan, Guru?”
Dalam perenungan kali ini, Kala menyimpulkan suatu hal. Jika dirinya mengabdikan diri untuk mencari obat penyembuh Kaia, maka kemungkinan besar tugasnya sebagai Kesatria Garuda akan dipinggirkan. Sebaliknya, jika Kala mengabdikan diri pada tugasnya, maka Kaia akan tersampingkan.
Kala menghembuskan asap rokoknya saat tidak bisa memilih antara kedua itu. Ia tidak tahu harus merasa terkutuk atau beruntung saat menemukan Kaia di balik kain putih dulu.
“Kaia Kaia Kaia.” Kala melempar batang rokoknya dengan frustrasi.
Ia kemudian berdiri dan keluar dari kamar, lebih tepatnya keluar diam-diam dari penginapan. Berita tentang dirinya merupakan kunci kemenangan perang sudah tersebar, warga kota sekarang memujanya, mulai saat ini Kala akan sulit keluar dengan tenang dan tanpa halangan.
Kala terus bersembunyi di balik bayangan saat ia masuk ke dalam kota. Saat ditemuinya toko yang menjual topeng, ia langsung mendatanginya.
Toko ini merupakan toko kecil, semua topeng dibuat di tempat ini juga. Biasanya topeng ini dibeli oleh penari jalanan atau anak-anak yang bermain, tapi ada pula yang membelinya untuk menyamar. Penjual topeng itu sangat terkejut saat melihat Kala mampir ke tokonya, tapi ia tidak heboh karena memahami maksud dari Kala. Beruntungnya lagi, toko ini sepi.
“Pahlawan, sebuah kehormatan bagiku dengan kehadiran Kisanak ke sini. Hamba memiliki topeng kualitas tertinggi yang mungkin Pahlawan sukai.”
“Baiklah, Kala. Mohon ikuti aku.” Si penjual topeng tidak lagi berbasa-basi dan membuang waktu, ia membawa Kala ke belakang tokonya, tempat di mana topeng dibuat.
Banyak topeng yang belum jadi atau malah topeng paling bagus di sini. Berbagai bentuk dan ekspresi tersedia di sini. Si penjual mulai menjelaskan satu-satu topeng yang berkualitas bagus ini.
Topeng Manuka, topeng ciptaan si pembuat topeng. Tapi versi ini masih belum sempurna, bentuknya yang aneh dan warna yang tidak seiras.
Ada Topeng Panji, topeng berwarna putih dengan ekspresi bayi. Menunjukkan ketenangan untuk penggunanya. Tentu Kala tidak ingin membeli topeng ini, disebabkan oleh namanya yang mengingatkan pada Panji si pengkhianat.
Topeng Samba, berwarna putih dengan senyum tampak gigi. Memiliki filosofi, menolak apa pun yang berujung pada kesesatan. Kala tersneyum saat melihat topeng ini.
“Untuk topeng ini, berapa harganya?” Kala menunjuk Topeng Samba.
“Topeng Samba, pilihan yang bagus. Ambil saja untuk Pahlawan, anggap saja sebagai ucapan terima kasih dariku.” Si pembuat topeng tersenyum hangat.
“Masalah itu aku ciptaan sendiri, maka sebuah kewajibanku jika menumpaskannya.”
“Tidak, aku tidak bisa menerima uang darimu.” Si pembuat topeng menarik napas dalam-dalam. “Aku adalah salah satu orang yang memukuli teman wanitamu. Aku benar-benar merasa berdosa.”
“Apa kau menyesal?” tanya Kala.
__ADS_1
“Ya. Saat itu aku tersulut amarah sehingga lupa mencari kebenaran yang sebenarnya.”
“Baguslah jika begitu. Maka, aku akan ambil topeng ini.” Kala mengambil topeng putih itu dari gantungan lalu memakainya. “Aku harap kau tidak mengambil keputusan saat sedang marah.”
Angin berkelebat, Kala tiba-tiba menghilang dari pandangan. Si pembuat topeng mematung. Dugaannya sejak awal bahwa Kala datang ke sini untuk membunuhnya, tapi sepertinya Kala lupa wajah si pembuat topeng. Walau begitu, si pembuat topeng tetap mengakui kesalahannya, ia mengira bahwa hidupnya akan berakhir saat itu juga.
“Apa rumor tentang Kesatria Garuda benar?” Si pembuat topeng bergetar pelan, lalu dengan teguh berkata, “hanya anak muda itu yang pantas, hanya dia.”
***
Kala bisa melewati jalan umum di kota dengan aman. Tidak ada seorang pun menyadari dirinya yang sebenarnya. Saat ini Kala mendarat dengan aman sehabis melompati tembok kota. Tepat di depannya adalah Hutan Telu, hutan yang bersinggungan dengan kota.
Kala memasuki hutan dengan cepat. Ia berlari secepat angin badai. Melesat di antara kegelapan hutan yang menyeramkan. Saat Kala berada cukup dalam di hutan, suara auman binatang perusak dan binatang spirit mulai bersahut-sahut.
Saat Kala berlari di dekatnya, mereka langsung lari kocar-kacir. Mungkin pranor biasa tidak akan menyadari auranya, tapi berbeda dengan hewan yang punya insting spesial. Lari atau mati.
Kala berhenti saat di menjumpai sebuah danau. Kala terpaku sebentar melihat danau indah ini, ekosistem terjaga, banyak burung, banyak ikan, capung, tumbuhan air, udara segar. Ini sempurna untuk merenung dan juga membuka cincin dari gurunya dan gelang interspatial dari Cassandra.
Dengan bersandar di bawah pohon rindang, Kala menghembuskan napas dingin lalu membuka topengnya. Ia memandangi kilau matahari yang dipantulkan air danau sampai senja menjemput, entah apa yang dipikirkannya sampai bisa bertahan dalam posisi itu begitu lama.
Kala menghela napas untuk sekian lama, ia kemudian mengalirkan Prana pada gelang yang di lengannya. Sesaat kemudian dirinya terkejut tidak main-main.
Yang pertama ia lihat memanglah sebuah setelan baju pendekar berwarna hitam yang memancarkan aura mencekam. Namun, sebuah pemandangan membuatnya terkejut; gulungan kertas tentang ilmu pencak silat bertumpuk-tumpuk!
“Astaga! Aku bisa menjadi lebih ahli dengan semua buku ini!” Kala bersorak gembira lalu memeriksa kapasitas penyimpanan dari gelang spirit.
Ia tersenyum lebar saat hampir tidak menemukan batas ruangannya. Setelah ia puas dengan gelang dari Cassandra, Kala mengeluarkan cincin interspatial dari gurunya.
Cincin ini terlihat spesial dari cincin pada umumnya, selain itu cincin ini memiliki aura yang bijaksana. Kala menghela napas panjang saat kenangan bersama gurunya kembali terlintas.
“Guru, Gunung Loro Kembar, Tuak Kunyuk Gunung, aku merindukan kalian.” Kala tertawa keras, tapi orang bisa melihat bahwa tatapannya dipenuhi kesedihan.
Dengan perlahan, Kala mengalirkan Prana pada cincin tersebut. Ia dengan cepat bisa melihat dimensi dari cincin tersebut, namun yang pertama ia lihat adalah sebuah tulisan di atas kertas.
Aku sudah menebak bahwa kau akan melampaui Kristal Langit, Kesatria Garuda. Apa kau merindukanku? Di dalam ini ada beberapa warisanku. Jangan berharap ada banyak uang di dalamnya. Ada satu pesan untukmu, jangan pernah mati jika kau belum berhasil.
Kala tersenyum hancur saat melihat pesan dari gurunya itu. Perlahan tulisan itu menghilang dan yang terpampang di depan Kala adalah tumpukan gulungan yang menyerupai segitiga. Tumpukan itu dikelilingi oleh ratusan cincin interspatial lain yang berserakan.
Kala mengerutkan dahi lalu mengambil satu gulungan paling atas. Kertas ini tua tapi memiliki tekstur kuat. Kala membaca judul yang terpampang di bagian terluar judul tersebut.
“Teknik Kapas - Macan Menuruni Gunung” adalah judul dari gulungan itu. Kala membuka gulungan dengan perlahan dan terpampanglah satu aksara Jawa yang besar. Namun, ini bukan aksara Jawa, hanya mirip. Kala tidak bisa menemukan apa artinya, tapi ia merasakan ada kekuatan misterius yang terpancar dari tulisan itu.
Kala seketika teringat pada sebuah ajaran yang pernah gurunya ajarkan. Jika pengguna pedang sudah mencapai puncak penguasaan pedang, maka ia bisa bersatu dengan aksara dan menuliskan jurus yang panjang hanya dalam satu goresan.
Namun, untuk memahami diperlukan waktu dan konsentrasi tingkat tinggi atau kondisi tertentu. Kala sangat yakin ini tulisan gurunya, ia sudah mengenal gaya penulisan gurunya.
__ADS_1
“Guru sudah mencapai penguasaan tertinggi di ilmu pedang. Tidak heran ia menjadi pendekar terkuat di pulau Jawa dengan Paman Guru Satrya.” Kala berdecak kagum sambil terus melihat aksara di depannya.
Kala kembali menggulung kertas tersebut lalu menaruhnya di tempat semula. Kala menggapai salah satu cincin yang berserakan di cincin gurunya.