
"Aku melakukan seperti yang kalian lakukan," jawab Maheswari santai.
"Kau ...." Orang itu mengerang.
Suara pria lain yang tersiksa menyahut. "Aku dan para kawan-kawan dari Perguruan Angin Utara tidak seperti yang kau pikirkan ...."
Maheswari segera tersadar, ia melepas hawa membunuhnya pada para murid dari Perguruan Angin Utara lepas dari tekanan hawa membunuh Maheswari, namun para relawan tidak seperti itu. Maheswari membedakan para murid Perguruan Angin Utara dan relawan dari pakaiannya, pakaian Perguruan Angin Utara seiras yang merupakan seragam.
"Hentikan ini, Bedebah!" teriak seorang pranor yang memiliki tingkat prana kuat, ia menusuk Maheswari dengan hawa membunuhnya.
Beberapa orang menyahut memanggil namanya. "Abang Senior Mahesa!"
"Aku adalah putra dari Patriark Perguruan Empat Hutan, mau apa kau?!" seru orang itu. "Dan apa yang adik seperguruanku lakukan adalah hal wajar, karena kau memang eksotis."
Seseorang berteriak, "Lancang!"
Semua orang termasuk dari Perguruan Angin Utara memandang orang yang berteriak demikian. Mengatai anak dari Patriark? Nyali itu besar sekali.
Orang itu berteriak lagi. "Eksotis bapakmu! Kau sungguh anjing liar yang butuh diberi tamparan di bokong!"
"Ekh!"
Semua orang di sekitar tercekat. Mengatai ayah dari Mahesa? Mengatai seorang patriark?!
Mahesa diliput kemarahan besar. "Kau ... kau ... akan mati!"
"Kau yang akan mati!" sanggah Kala yang kemudian tertawa lantang. "Kau membuat urusan dengan Tabib Maheswari yang terkenal! Bapakmu akan menyerahkan nyawamu dan meminta maaf karena Tabib Maheswari harus repot-repot membunuhmu!"
Semua orang di sekitar menghentikan napas! Mulut mereka terbuka, mata mereka seperti mau keluar dari tempatnya! Sedangkan Mahesa, ia mengepalkan tinjunya dengan sangat erat, giginya menggertak.
Ini merupakan sebuah pelecehan terbesar terhadap Patriark Perguruan Empat Hutan! Kala melihat ekspresi di sekitarnya, ia berkeringat dingin sebelum berbisik pada Maheswari.
"Kak, apakah yang dikatakanku barusan itu benar?"
__ADS_1
Maheswari menggeleng dengan keringat dingin. "Tidak, aku akan kalah dan namaku tidak akan cukup untuk menakuti Perguruan Angin Utara. Perguruan ini adalah perguruan terkuat yang sebanding dengan Perguruan Angin Utara."
Kala tersenyum gugup. Ia benar-benar membawa masalah dengan sikap arogannya. Burung kecil di pundak Kala bangun mendengar suara ribut dan merasakan tekanan nafsu membunuh.
"Beraninya kau menghina Patriark Perguruan Empat Hutan!"
"Itulah kenyataan!" ucap Kala tanpa disengaja. "Eh! Bukan itu maksud ...."
"Kau akan mati!"
Mahesa memasang kuda-kuda dan mengeluarkan sebilah keris kecil. Kala merasa tekanan nafsu membunuh yang sangat kuat dari Mahesa, ia menjadi sangat gugup dan tidak bisa berdiri tegak. Maheswari mengubah posisinya menjadi berdiri di depan Kala, pedangnya terhunus ke samping.
Mahesa mengendurkan alisnya. Jika dilihat dari dekat, Maheswari sungguh sangat cantik dan menggairahkan. Tatapan penuh nafsu tersirat di matanya.
"Aku akan mengampuni pemuda itu." Mahesa menunjuk Kala dengan senyum seringai lalu beralih ke Maheswari. "Namun, serahkan dirimu, Dewi Cantik."
Kala meludah ke tanah lalu berjalan ke depan Maheswari. "Kau ingin mendapatkannya? Aku tidak menyangka kalau putra pemimpin perguruan seperti anjing yang dipenuhi rasa ingin kawin."
"Bahkan anjing saja tahu diri." Kala meludah lagi. "Namun kau tidak bisa disebut sebagai anjing, karena dirimu lebih buruk dari anjing!"
"Siapa yang ingin diampuni nyawanya? Memangnya aku meminta agar nyawaku diampuni? Aku tidak akan mati hari ini."
Mahesa tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia menerjang Kala dengan keris kecilnya. Terjangan Mahesa sangat cepat, mata Kala bisa melihat serangan itu sebagai serangan yang lambat di Mata Garuda miliknya, namun Kala tidak bisa dengan cepat menghindar.
Keris itu menancap dalam di perut Kala. Kala membeliakkan mata. Keris itu dicabut dan darah mulai keluar, Kala terjatuh.
Darah terus mengalir deras dari perut Kala. Kala mulai tidak bisa berpikir dengan jernih. Alang segera berubah menjadi elang yang besar, tubuhnya diselimuti api oranye dan mulai menyerang Mahesa.
Kala dapat merasa Maheswari memegang erat tangannya dan mulai memanggil namanya berulang kali. Kala mendengar dengan samar-samar, pandangannya buram. Kesadaran Kala mulai luntur.
Decing logam yang beradu terdengar bagai suara statis di telinga Kala. Pandangannya menghitam. Kesadarannya masuk ke dalam dunia bawah sadar, sedikit lagi ia akan mati jika kehilangan kesadarannya!
"... kau masih terlalu lemah." Terdengar suara-suara aneh dari alam bawah sadar Kala, ini seperti suara jiwanya.
__ADS_1
"... kuatkan prana ... jangan mati ... kau punya sebuah tugas."
"Nusantara membutuhkan ... seorang Kesatria ... bangunlah ...."
"... bangun Kala ... jangan kecewakan diriku yang telah menunjuk dirimu sebagai penerusku ...."
Seseorang menampar Kala. Kesadaran Kala kembali, pandangannya buram dan pendengarannya masih samar. Perlahan kesadaran Kala mulai luntur kembali.
"Kala ... aku mohon ... bangun untukku." Suara Maheswari terdengar samar.
"... jangan biarkan aku ... kembali sepi ... Kala ...."
"... bangunlah ...."
"... bangunlah."
"Bangunlah, Kala!"
Kala mendengar suara pilu Maheswari. Mendengar itu membuat Kala sekuat tenaga untuk mengembalikan kesadarannya, ia tidak boleh mati hari ini.
"BANGUN, KALA!"
Kesadaran Kala seperti jatuh, jatuh yang semakin dalam. Kala berusaha menggapai kesadarannya, namun sekuat apa pun, ia tetap jatuh.
"Jika kau tidak bangun ... lebih baik aku mati!"
"... lebih baik mati ... mati ... mati ... mati ...." Suara itu bergaung di pikiran Kala.
Aku tidak bisa membiarkannya mati. Aku harus bangun ... ya! Harus bangun!
Sebuah dorongan membawa kesadaran Kala kembali ke atas. Mata Kala perlahan terbuka, telinganya bisa mendengar lagi dengan jelas. Yang pertama kali Kala lihat adalah Maheswari, Maheswari yang berada di depan mukanya tengah mengguncang-guncang tubuh Kala dan terus meneriaki agar Kala bangun. Melihat Kala membuka matanya, Maheswari segera memeluk tubuhnya dengan erat, seakan-akan Kala akan pergi dan ia tidak akan melepasnya.
Pelukan lagi? Apa Kak Mahes benar-benar murah pelukan kepadaku?
__ADS_1
Maheswari berbisik pelan di tengah isak tangis. "Terima kasih sudah mau repot-repot bangun untukku."
Kala memutar penglihatannya. Ia melihat bahwa dirinya tengah dikelilingi orang-orang. Beberapa orang yang berpakaian seperti tabib juga duduk di sebelahnya, mungkin untuk membantu Maheswari menyembuhkan dirinya. Kala juga melihat Patriark Yudistira berada tidak jauh darinya.