Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Terang-Terangan kepada Panji


__ADS_3

"Korban! Kita adalah korban!"


Kala tidak ikut bersorak seperti pasukan telik sandi yang lain, dia terlalu terpana mendengar kata-kata yang penuh arti dan semangat tinggi. Kala semakin yakin dengan tekadnya, tidak akan mundur untuk kali ini apa pun yang terjadi.


Aku adalah korban!


Pasukan telik sandi keluar dari tenda dengan dan elegan. Suara kentung bambu itu berhenti saat semuanya sudah keluar. Kala keluar paling akhir, ia disambut dingin oleh udara.


"Kita akan keluar dari gerbang terdekat yaitu gerbang timur. Lalu kita akan berjalan ke tenggara di mana Hutan Ribus berada. Hutan Ribus diyakini oleh Patriark Yudistira adalah tempat musuh melancarkan aksi. Hutan ini sedikit berbahaya karena banyak hewan spirit dan tumbuhan spirit."


Setelah mendengar itu, mereka segera saja berjalan dengan cepat ke pintu tenggara. Kala dan pasukan telik sandi berjalan secepat angin dengan prana dan ilmu meringankan diri.


***


Kala tengah duduk di atas batu pinggir sungai. Para prajurit telik sandi juga duduk melingkar dengan peta di tengah lingkaran. Si kapten menjelaskan strategi dan keadaan geografi dengan suara pelan namun jelas.


Kondisi benar-benar semakin memburuk. Di sepanjang perjalanan, Kala sering sekali menemukan tupai dan tikus hutan mati beku. Sungai yang berada di samping Kala juga melambat arusnya karena setengah beku. Banyak butiran es di mana-mana.


Bibir Kala sudah hampir putih sempurna, wajahnya juga demikian. Tangannya tersarung oleh sarung tangan berbulu agar tidak beku. Kepalanya diselimuti dua lapis destar batik agar tidak kedinginan. Leher Kala pula begitu, dilapisi banyak kain. Setiap napas yang keluar kini berasap dingin, seperti uap yang lolos dari tutup kuali masakan.


"Panji, kau adalah satu-satunya orang yang bisa mendeteksi prana. Kau harus berkeliling di sekitar sini untuk menemukan lokasi musuh, setelah ditemukan harap segera kembali." Si kapten menoleh pada Panji.


"Baik, aku akan berkeliling sekarang."


"Kala Piningit, kau ikut temani Panji." Si kapten beralih pada Kala.

__ADS_1


Jantung Kala berdebar namun ia tetap tenang. "Baiklah, aku siap."


Sang kapten melanjutkan lagi instruksinya pada yang lain. Kala dan Panji sudah berjalan jauh dari pasukan utama. Ada untungnya Kala diperintahkan untuk menemani Panji, itu artinya tubuhnya akan bergerak yang akan mengurangi sedikit rasa dingin.


Kali ini mereka tidak berjalan dengan cepat, Panji perlu waktu untuk mendeteksi sepenuhnya lingkungan sekitar dan tidak bisa berpindah tempat dengan cepat atau deteksinya akan kacau. Kondisi jalan santai ini dimanfaatkan untuk mengobrol satu sama lain.


"Apa? Tabib Maheswari dekat denganmu?"


"Ya, begitulah. Aku menganggapnya sebagai kakak sendiri."


Kala melirik mata Panji. Tatapan Panji kini berubah menjadi aneh, Kala tidak mengetahui arti tatapan itu namun sampai-sampai Kala tidak bisa menatap mata Panji lama-lama.


"Hmm! Itu bagus jika kau seorang adiknya! Jika begitu kau bisa mengenalkanku pada Tabib Maheswari, bisa saja kami cocok dan aku bisa menjadi abang iparmu!"


"Hahaha ...." Panji terkekeh pelan. "Lalu, sedekat apa dirimu dengannya?"


Kala memilih terang-terangan pada orang yang sudah mendapatkan kepercayaannya. "Kak Mahes memberiku cincin interspatial ukirannya sendiri. Kak Mahes juga pernah memasak untukku. Dan tadi malam kami tidur di satu kamar serta tadi pagi ...."


Panji menghentikan langkahnya. Senyumnya tidak lagi muncul. Kala sendiri agak ragu melanjutkan ucapannya.


Melihat Kala berhenti berkata, Panji kembali berjalan dan menunjukkan senyumannya. "Tadi pagi kenapa? Lanjutkan, aku ingin tahu seberapa kau menjadi adiknya."


Kala kembali riang dan dengan kepolosan masa muda dirinya berkata, "Tadi pagi Kak Mahes menciumku."


Panji berhenti berjalan, namun senyumannya tetap ada meskipun dipaksakan. Kala yang minim pengalaman sungguh tidak mengetahui apa artinya perubahan sikap Panji. Panji mengepalkan tinju secara diam-diam.

__ADS_1


"Itu luar biasa, Kala! Kau sungguh beruntung menjadi adiknya!" celetuk Panji yang lalu melanjutkan perjalanannya.


Dan tanpa Kala sadari, tersirat rasa benci dan iri di dalam Panji. Kala sangat minim pengetahuan dan tidak mengerti arti sebuah tatapan benci yang ditunjukkan Panji, dan Kala sudah sangat mempercayai seorang Panji sebagai sahabatnya, ia bersifat terang-terangan pada orang kepercayaannya.


"Aku juga punya sebuah rahasia, namun jangan kau sebarkan pada yang lain." Kala melihat ke sekeliling.


"Rahasia apa?" jawab Panji sedikit malas.


"Aku adalah seorang Kesatria Garuda ...."


Mata Panji terbuka lebar. "Apa kau serius?"


"Tentu. Dan tidak aku sangka kalau kau mengetahui tentang Kesatria Garuda."


"Legenda itu begitu terkenal, mana mungkin aku tidak mengetahuinya." Panji semakin menatap Kala aneh. "Kesatria Garuda mendapatkan dianugerahkan kemampuan-kemampuan spesial, salah satunya adalah menyerap prana dengan sempurna dan murni, juga memiliki mata spesial, apa bisa kau tunjukkan?"


Kala tersenyum lebar sebelum menampakkan Mata Garuda. Mata ini sangat membuat Panji terkejut, ia merespons seakan dirinya ikut senang mengetahui bahwa Kala adalah Kesatria Garuda.


"Sebuah keberuntungan dalam hidup bisa berteman dengan Kesatria Garuda." Panji sedikit membungkuk.


"Tidak perlu sungkan, aku bukan apa-apa," ucap Kala merendah.


Panji tersenyum tipis. Tubuh Kala sebagai tubuh Kesatria Garuda tentunya mempunyai bakat khusus. Pusat prana yang Kala miliki lebih kuat dan murni dibandingkan pranor pada umumnya, jauh lebih baik. Kala juga bisa menghisap prana dalam jumlah banyak di mana pun, biasanya ada beberapa tempat yang tidak mengandung prana dan seorang pranor akan mengisi prana dengan batu spirit jika ada di tempat itu.


Bakat Kala sangat mengerikan! Jika dibiarkan beberapa tahun lagi, maka Kala akan menjadi jagoan silat nomor satu seantero Nusantara. Panji melirik Kala, jika itu terjadi maka Maheswari mungkin akan menyukai Kala dan impiannya menjadi pranor terkenal tidak akan tercapai.

__ADS_1


__ADS_2