
Buk! Krak!
Si kelinci yang malang itu berguling-guling, berdebam dengan tanah sebelum tubuhnya tidak bergerak lagi. Mata kelinci itu terbuka, begitu juga dengan mulutnya.
Sedangkan Kala .... ia merintih kesakitan sambil memegangi tangan kanannya. Rasa sakit yang sangat ngilu di bagian dalam, sepertinya Kala tidak berhati-hati sampai menyebabkan kerusakan tulang.
“Hanya ... luka ... kecil ....” Kala berusaha meyakinkan dirinya sendiri, aku baik-baik saja.
Ia membebaskan tangan kanannya dari cengkeraman tangan kiri kemudian berjalan pelan ke arah kelinci yang sudah tak bernyawa. Anyir darah tidak ia pedulikan, bayangannya terus dipenuhi oleh warga desa yang kelaparan.
“Tubuhmu akan berguna bagi banyak orang, Kelinci Gemuk.” Kala menyeret tubuh kelinci itu ke tengah lapangan dengan tangan kanannya yang masih sakit.
Setelah kelinci itu sampai pada tengah, Kala menghela napas panjang sebelum meninggalkan tempat itu. Kepergian Kala ditatap banyak hewan di balik semak belukar, mereka meneteskan ludah melihat daging kelinci tapi tak berani menyentuhnya.
Kala berani meninggalkan daging kelinci sendirian sebab ia sangat yakin bahwa tidak ada yang berani menyentuhnya. Kelinci itu saja sudah menjadi mimpi buruk bagi hewan sekitar semasa ia hidup, apa lagi dengan Kala yang berhasil menaklukkan kelinci itu?
Selain itu, aura kematian yang ada di sekitar juga membuat hewan-hewan bergidik ngeri. Hewan yang tidak memiliki keberanian menganggap kawasan itu sudah menjadi kuburan yang angker.
Kala kembali tak lama setelah meninggalkan tempat itu. Ia membawa banteng besar lalu menumpuknya di atas kelinci. Dan setelah itu, Kala pergi.
Kejadian itu terjadi berulang-ulang, kini sudah ada lima hewan perusak dan hewan spirit besar yang menggunung. Kala tidak lagi pergi melihat hari sudah senja.
“Sebaiknya, aku potong daging-daging ini agar bisa masuk cincin interspatial.” Kala tersenyum puas melihat gunungan hewan yang berhasil dia dapatkan bersama Alang.
Kala kemudian mengambil pedang spirit, satu demi satu hewan menjadi potongan kecil sampai bisa dimasukkan ke dalam cincin interspatial. Ia memandang langit sejenak sebelum berhenti memotong.
“Hari sudah semakin gelap, aku harus kembali secepatnya.” Kala menghela napas panjang sambil memandangi satu hewan lagi yang belum dipotong-potong. “Ya ... aku harus menyeretnya. Lagi.”
***
“Bertahanlah sebentar lagi, Pendekar itu akan segera kembali!” Kepala desa berusaha menenangkan warga yang mulai hilang harapan dan sinar hidup, kepala desa khawatir mereka akan mati jika tidak ada sinar hidup.
“Benar! Pendekar itu sangat sakti! Ia akan membawakan banyak makanan enak untuk kita semua!” sahut kepala desa lain membenarkan, tapi massa tidak juga kembali sinar hidupnya membuat lima kepala desa menghela napas.
“Pendekar itu datang! Sudah datang! Pendekar sudah datang!” Seorang pemuda lari dengan tergesa-gesa sambil berteriak-teriak dengan keras, ia beberapa kali tersandung jatuh namun bangkit dan lari lagi.
Senyum lebar menghiasi wajah kelima kepala desa. Warga juga menjadi antusias. Dengan berbondong-bondong, mereka pergi ke gerbang desa.
Kala terlihat dari kejauhan. Hanya menyeret seekor lembu berbentuk aneh yang ukurannya biasa-biasa saja. Ini membuat para kepala desa menjadi lesu sementara warga-warga melihat lembu itu dengan kelaparan, mereka siap untuk memperebutkan daging itu.
Kala tersenyum hangat saat menyadari warga menatapnya dengan antusias. Namun, senyuman itu perlahan pudar sampai sirna saat para warga berlari ke arahnya seperti monyet yang hendak menyerang.
“Eh? Apa yang terjadi? Mengapa...?” Kala membeliakkan mata saat para warga mulai menjatuhkan satu sama lain.
Sang Kesatria Garuda langsung mengerti situasinya. Ia hanya membawa satu sapi, sudah pasti para warga desa berpikir tidak akan kedapatan sehingga berebut satu sama lain. Dengan terpaksa, Kala mengeluarkan aura membunuh miliknya.
Warga-warga berhenti melukai satu sama lain, mereka menatap Kala bagaikan menatap hantu. Tidak ada yang berani meninggalkan tempat itu, mereka berpikir kalau Kala akan membunuh yang berani lari.
“Pendekar, apa yang kau ....”
“Kepala desa, biarkan aku berbicara sebentar.” Kala menatap kepala desa itu, membuatnya menutup mulutnya.
Kala menghela napas lalu menatap warga desa yang tak jauh darinya. “Kalian semua adalah budak!”
Dengan seruan lantang Kala jelas mengandung penghinaan ekstrem bagi para warga desa. Jelas mereka adalah petani, hidup bebas, tapi sekarang Kala menghina mereka semua sebagai budak.
“Kalian semua adalah penjilat! Kalian semua yang ada di sini adalah budak! Kalian penjilat!”
“Kalian tahu apa itu budak? Budak adalah orang yang selalu menurut pada apa pun perintah majikannya dan selalu direndahkan, tidak bebas! Kalian sama saja dengan budak! Apa pun keinginan majikan kalian, selalu dituruti tanpa peduli ha l lainnya!”
__ADS_1
“Tahu siapa majikan kalian?”
Kala menatap kerumunan massa yang kini menatapnya marah. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Kala, ini membuat Kala terpaksa menambah nafsu membunuh.
“Jawab pertanyaanku!”
Seorang warga menelan ludahnya sebelum menjawab Kala. “Kami tidak memiliki majikan, kami adalah persaudaraan yang merdeka!”
“Dusta! Jelas kau sedang menuruti perintah majikan kalian!”
Seorang warga desa lainnya menimpali, “Kami tidak memiliki majikan! Dan siapa kau berani menuduh kami sembarangan?! kau pikir dunia ini milikmu?”
Kala tersenyum iba. “Bagus. Kau tidak ingat kalau baru saja dirimu menjalankan perintah dari majikanmu? Kau memukuli saudaramu sendiri demi hanya lembu ini.”
Warga desa mengerutkan dahi. Lembu itu bukanlah majikan mereka. Kala seakan mengerti tafsiran mereka lalu berkata, “Lembu ini bukanlah majikan kalian. Tapi hawa nafsu kalian.”
Kala tersenyum hangat sebelum melanjutkan. “Nafsu kalian memerintahkan agar memukuli satu sama lain. Dan kalian menurutinya. Kalian saling pukul, saling dorong, melukai tanpa mengingat bahwa kalian adalah saudara. Kalian melupakan bahwa kalian yang bersama-sama membangun desa ini. Kalian lupa akan hari-hari saling bertukar makanan dan senyum ramah. Kalian lupa bahwa setiap hari berjalan bersama-sama saat pergi ke ladang.”
“Kalian ... kalian melupakan itu semua hanya demi satu lembu ini?”
“Apakah akal kalian sudah hilang? Dia ini saudaramu! Dia ini yang membantumu saat kesulitan? Dan kau memukulinya?”
“Kalian adalah warga miskin. Harta tidak bisa dibanggakan. Hanya satu yang bisa dibanggakan, yaitu sikap. Sikap ramah kalian sudah terkenal di mana-mana, ini adalah satu-satunya yang bisa kalian sombongkan.”
“Aku bertanya sekarang ... di mana hal yang bisa kalian banggakan sekarang?”
Keheningan tercipta beberapa untuk beberapa saat. Mata mereka sedikit berlinang usai mendengar kata-kata Kala.
“Saudara tidak saling saling melukai hanya demi makanan, Sobat. Saudara saling berbagi. Jika lapar, maka dirasakan bersama-sama. Jika kenyang, maka dirasakan bersama-sama. Itulah yang dinamakan persaudaraan.” Kala melepaskan aura membunuhnya membuat para warga bisa bergerak dengan leluasa, Kala menambahkan pertanyaan terakhir. “Di mana saudara kalian? Jawab aku.”
Setelah Kala menarik aura membunuh miliknya, tangis para warga pecah. Mereka saling berpelukan dan mengatakan bahwa dirinya lebih buruk daripada hewan. Tidak ada kata maaf, namun, mereka terus menangis dan memeluk satu sama lain.
Beberapa saat kemudian saat suasana sudah sedikit tenang, Kala berseru dengan semangat, “Semua yang di sini akan kenyang saat malam tiba! Aku akan pastikan itu!”
Kala memanggil salah satu kepala desa dan memintanya untuk berkumpul di dalam. Kala juga menekankan untuk memastikan tidak ada warga desa yang tertinggal. Dirinya tidak mengatakan bahwa memiliki banyak daging lainnya di cincin interspatial, ini membuat kepala desa mengerutkan dahi.
“Kumpulkan saja semua warga di lapangan desa. Kau akan melihatnya nanti.” Kala tersenyum hangat setelah kepala desa pergi.
Semua warga mendengarkan kepala desa itu walaupun kepala desa tidak membocorkan bahwa Kala memiliki daging lainnya. Warga desa hanya mengira bahwa Kala ingin membagi satu lembu itu secara adil.
Secara keseluruhan, mereka bergerak masuk ke dalam. Kala tidak mengikuti. Ia hanya sibuk memotong lembu itu menjadi beberapa bagian dengan cepat, lalu ia masukkan ke dalam cincin interspatial. Lepas itu, Kala baru masuk ke dalam desa tepatnya di lapangan desa di mana para warga sudah menunggu dengan lemas.
Kala bergerak ke arah tengah lapangan. Dirinya berdiri tegak di sana sambil menghela napas panjang melihat para warga yang sepertinya akan mati kapan saja. Ia menarik napas panjang sebelum berkata dengan lantang.
“Aku sudah berjanji tadi bahwa kalian semua akan kenyang pada malam ini. Mengapa kalian masih takut dan berebut makanan?” Kala memandangi mereka dingin sejenak. “Bagaimana pun, aku sudah memiliki janji yang harus aku tepati, tidak mungkin aku hanya memiliki satu lembu saja untuk kalian.”
Kala mengibaskan tangannya, seketika itu juga di depannya muncul dua gunungan besar daging yang sudah dipotong-potong dengan rapi. Warga desa menahan napasnya, mereka tidak tahu di mana asal daging yang tiba-tiba muncul itu.
“Kepala desa, mohon bagikan dengan adil.” Kala menghadap pada lima kepala desa yang duduk di barisan depan. “Yang memiliki anggota keluarga banyak dapat lebih banyak.”
Para kepala desa saling melirik satu sama lain sebelum maju ke depan untuk berterima kasih. “Pendekar Muda. Kami sangat berterimakasih atas kemurahan hatimu. Apa yang kami bisa lakukan untuk membalas semua ini?”
Kepala desa itu menanyakan demikian sebab hampir tidak ada pranor yang mau repot-repot membantu sebesar ini tanpa memiliki maksud tertentu. Kala menangkap jalan pikiran kepala desa tersebut, ia menggeleng pelan sambil tersenyum hangat.
“Aku ingin satu ruangan untuk beristirahat.” Ucapan Kala yang singkat dan sederhana tersebut membuat kepala desa saling menatap satu sama lain.
“Itu terlalu sederhana ....”
“Aku adalah manusia, dan kalian semua adalah manusia. Bukankah kita sebagai sesama manusia harus saling membantu?” Kala tertawa pelan.
__ADS_1
“Ah ....” Kepala desa merasa malu sebab memiliki pemikiran buruk tentang Kala. “Kalau Pendekar sangat murah hati, maka ikuti aku untuk ke ruangan yang nyaman.”
Salah satu kepala desa itu membawa Kala ke kediaman miliknya. Di sana ada kamar khusus tamu yang sederhana. Namun, Kala merasa bahwa kamar yang sangat sederhana ini bagaikan kamar yang sangat nyaman, ia merasa ada di rumah.
“Mohon jangan ganggu aku kecuali ada kepentingan yang mendesak.” Kala menambahkan sebelum menutup pintunya.
Ada satu kasur di kamar ini. Satu meja dan satu kursi. Jendela juga menghadap langsung ke halaman belakang, ketika Kala membuka itu maka Alang langsung masuk.
“Kau mau istirahat, Alang? Apa kau kelelahan sudah mengerjai aku hari ini?” Kala mengelus kepala Alang yang sedang mendengkur kenikmatan, Kala juga mengeluarkan beberapa tulang dari hewan spirit yang ia kalahkan tadi.
“Hmm, tulang ini paling banyak menyimpan esensi prana. Mungkin kau suka, Alang?” Kala memandangi tulang yang bersih itu menggunakan Mata Garuda, ia dapat melihat seluruh esensi prana hewan spirit ini berkumpul di bagian sumsum tulang.
“Eak?” Alang mengendus-endus tulang itu sebelum memutuskan untuk tidak memakannya.
Kala bergumam kecil, “Kualitas tulangku sangat buruk. Mungkin dengan tulang ini, aku bisa memperbaiki kualitas tulangku.”
Ada pemikiran untuk memakan tulang itu secara langsung, namun, Kala segera mengurungkan niatnya itu. “Tulang ini mentah, rasanya pasti tidak enak.”
Pemuda itu berniat memasak tulang di kuali setelah dirinya mendapatkan cukup istirahat malam ini. Kala menyuruh Alang untuk istirahat juga sementara dirinya mengubah posisi menjadi posisi duduk teratai. Posisi duduk ini cukup membuat tubuh beristirahat secara singkat dan cukup. Kala juga bisa menyerap prana di sekitar lebih cepat dengan posisi seperti ini.
***
Kala membuka matanya setelah dua jam. Ia sudah mendapatkan istirahat yang cukup, bahkan sangat cukup. Semerbak aroma daging matang mengisi hidung Kala tanda warga mulai memasak malam ini.
Alang masih dalam kondisi tertidur, Kala tidak berniat membangunkannya. Sementara itu, dengan senyum lebar ia membuka pintunya.
Kepala desa pemilik kediaman ini menyambut Kala. Kebetulan ia sedang lewat di depan kamar tamu. Kala melihat dirinya sedang membawa semangkuk sup daging.
“Ah, Pendekar, mengapa dirimu terlalu cepat bangun?” Kepala desa itu memiringkan kepalanya sedikit.
“Aku sudah mendapatkan istirahat yang cukup.” Kala membalas dengan singkat dan jelas, senyum ramah menyertainya. “Aku mencium aroma daging, sepertinya warga desa sudah mulai memasak.”
“Itu benar! Sudah sejak lama aku tidak mencium aroma seperti ini.” Kepala desa berkata dengan girang. “Kami membuat dapur umum dadakan, para warga sudah saling membahu membuat makanan. Sebentar lagi hidangan akan matang. Jika tidak keberatan, sudilah kiranya Pendekar ikut kami makan bersama.”
Kala terlihat berpikir sejenak sebelum menyetujuinya. “Baik, aku juga perlu mencicipi makanan yang aromanya seenak ini.”
“Ah, kalau begitu ini tidak diperlukan lagi.” Kepala desa menaruh semangkuk sup yang tadi ia bawa ke meja terdekat. “Tadinya sup itu digunakan jika Pendekar tidak ingin makan bersama orang-orang rendah seperti kami.”
Kala hanya tersenyum sebagai tanggapan tanpa berniat membahasnya lebih jauh. Ia bersama kepala desa keluar kediaman. Sepanjang perjalanan, kepala desa bercerita banyak tentang kebahagiaan warganya saat mendapat makanan. Kepala desa bercerita sampai mereka sampai pada lapangan di mana para warga sudah menunggu hidangan matang.
Mereka duduk di bawah, hanya beralaskan tikar besar anyaman bambu. Terlihat rukun seakan melupakan kelaparan yang sedang tadi terjadi. Kala merasa hangat di dada ketika menyadari kebahagiaan ini muncul akibat dirinya.
“Lihat! Pahlawan datang! Pahlawan datang!” Seorang anak kecil berdiri sambil bersorak-sorak saat Kala tiba, itu ditanggapi oleh para warga yang kemudian mengerubungi Kala untuk berterimakasih.
“Terima kasih, Pahlawan! Jika kau tidak ada, aku yakin sudah mati malam ini!”
“Orang tua ini memberikan terima kasih kepadamu, kelak kau akan menjadi orang pintar sepertiku!”
“Putriku selamat dari perbuatan bejat mereka! Aku memberikan putriku pada pahlawan.”
Alis Kala berkedut. Suasana menjadi hening sejenak saat pria paruh baya itu menawarkan putrinya sendiri. Suasana menjadi ribut lagi setelah beberapa saat.
“Terima saja putriku!”
“Omong kosong! Putriku lebih cantik!”
“Aiya! Jelas putriku yang cantik!”
Kepala desa yang ada di sebelah Kala menenangkan warga lalu menarik Kala menjauhi kerumunan. Kala duduk di pojok tikar besar itu dengan pengawalan ketat dari lima kepala desa.
__ADS_1
Kala memegangi kepalanya yang mulai berdenyut, semakin berdenyut saat kepala desa di sampingnya mengatakan, “Tuan Pendekar, putriku sangat cantik bagaikan bidadari yang turun dari sorga. Tuan Pendekar, apakah kau sedang mencari istri? Putriku adalah pilihan yang sangat baik, kelak akan berbakti pada suaminya.”