
“Aku ingin pulang..”
“Maksudmu pulang ke desa itu lagi?” goda Kala.
“Aku tidak bercanda, aku tak mau berada di dekat bangunan ini apa lagi masuk dan tidur di dalamnya! Oh, itu mimpi buruk yang paling buruk!”
“Tenang saja, ada orang di dalamnya.” Kala berkata ringan. “Dan semoga saja dia bukan orang gila yang haus darah.”
“Jangan takut-takuti aku!”
“Aku serius, biasanya yang tinggal sendirian di hutan seperti ini adalah orang yang terbuang oleh masyarakat.” Kala terkekeh pelan. “Dan biasanya orang yang terbuang adalah orang gila yang benar-benar gila! Dalam artian, itu adalah penjahat atau buronan yang haus darah.”
Kaia tidak bisa menjawab Kala, ia sudah lebih dahulu lari ke belakang. Lari secepat mungkin. Kala tidak peduli, sebentar lagi dia juga akan kembali, Kala juga menyuruh Alang tidak mengejar Kaia.
Hawa saat berada di dekat rumah itu langsung berubah. Ini aura kematian, tapi bukan aura pembunuh. Dan aura ini menindas, seakan-akan rumah ini adalah penguasa yang harus dipatuhi.
Kala melepas alas kaki saat sampai pada teras kayu rumah itu. Sensasi pertama saat telapak kakinya menyentuh kayu rapuh itu adalah dingin. Kayu di bawah telapak kaki Kala juga berderit di tengah kesunyian hutan. Hanya kaki kanan Kala saja yang menginjak lantai teras tersebut, kaki kirinya masih tertahan di belakang dan tak berani maju.
Seharusnya aku ikut Kaia lari saja tadi.
Kala mulai berkeringat dingin serta secara perlahan menarik kaki kanannya kembali. Tapi sepertinya ia sudah terlambat. Di balik pintu, terdengar suara derap langkah kaki dengan kayu-kayu yang berderit pula. Pintu seakan dibuka kuncinya, lalu terbuka dengan cukup cepat.
“Ho! Lihatlah siapa yang datang! Masuklah, kau sudah aku tunggu, di luar tidak terlalu aman.” Seorang pria pendek berewok merubah suaranya yang serak menjadi berbisik. “Apa kau tidak memperhatikan pohon-pohon tua itu yang selalu menatapmu?”
Kala masih heran. Siapa pria pendek ini? Mengapa dia seakan sangat akrab dengan Kala? Dan mengapa kehadirannya sudah ditunggu? Itu yang Kala terus pertanyakan di dalam benaknya.
“Hoi! Mengapa diam saja? Perkenalkan, namaku Mahanta. Jika kau mau penjelasan lebih terang lagi, ayo masuk.” Pria itu berkata dengan serius sekarang. “Dan di mana kawan gadis itu? Apa dia mati di perjalanan? Oh, aku harap tidak.”
Kala berkata dengan gugup, “Ah, dia baru saja lari setelah melihat rumahmu. Ngomong-ngomong, mengapa kau tentangku?”
“Oh, aku tahu semuanya tentangmu! Kesatria Garuda, Kala, sang pahlawan yang menyelamatkan penduduk desa, pria yang baik. Ah, pokoknya aku tahu tentangmu, tapi tidak terlalu banyak. Dengarkan aku sekarang, tidak aman berbicara di sini. Panggil kawan gadis itu masuk.”
Kala memberi isyarat pada Alang untuk memanggil Kaia, mungkin saja ia tidak terlalu jauh dari sini. Mahanta terlihat antusias saat Alang terbang.
“Aku tertarik pada burung itu, berapa harganya?”
“Maaf, Mahanta, aku tidak menjualnya.” Kala menolak dengan sopan.
“Aku hanya bercanda, hoho.” Mahanta tertawa lepas sambil menepuk-nepuk pundak Kala.
Tak lama kemudian Kaia datang, meskipun ia agak takut dicampur penasaran dicampur juga antusias.
“Hei! Kau seperti gadis di malam pertama saja! Malu-malu tapi mau!”
Mahanta tertawa lepas dengan candaan itu. Kala mengerutkan dahi, ia seperti pernah mendengar lelucon ini di suatu waktu yang lain. Kaia tidak tahu harus tertawa atau marah, tapi ia tetap menghampiri Kala dengan Alang di pundaknya.
“Nah, sekarang sangat bagus jika kita masuk, sekarang juga.” Mahanta masuk duluan, Kala menggandeng tangan Kaia yang takut.
Isi rumah ternyata jauh berbeda dengan luar rumah yang menyeramkan, di sini suasana sangat hangat dengan nuansa kayu coklat mengkilap. Barang-barang yang ada di sini juga mempunyai nilai seni. Belum lagi tikar tenun merah yang digelar sebagai penghangat. Terdapat juga lukisan-lukisan bidadari serta topeng-topeng yang indah.
“Selamat datang di rumah menyeramkanku!” Mahanta tertawa lagi sambil melirik Kaia. “Kau takut dengan rumahku, bukan?”
__ADS_1
Kaia tertawa canggung. “Tidak-tidak, aku hanya bercanda.”
“Sudahlah, aku tahu,” katanya, “aku akui, rumahku memang sangat menyeramkan, karena memang itulah gunanya. Ah, sudahlah, tak penting membahas itu, sebab sangat menyeramkan, aku takut kalian tidak bisa tidur malam ini.”
Mahanta menjelaskan bagaimana ia bisa tahu keberadaan Kala.
“Asalkan kalian mau percaya, aku adalah penguasa di Hutan Telu. Ah, itu memang gila. Tapi aku lah yang membuat jalan di sini serta mengatur perbatasan, tanaman apa saja yang tumbuh, serta pengairan di sini.
Kala dan Kaia dipersilakan duduk lasehan di atas tikar hangat tersebut, Mahanta juga duduk di sana.
“Nah, dari pohon-pohon yang menjadi sahabatku, aku tahu bahwa kau adalah Kesatria Garuda, Kala kau sangat luar biasa. Dan tentu seorang wanita sangat dibutuhkan sebagai pendukung, Kaia kau juga luar biasa. Tak lupa dengan Alang, kau sangat mengagumkan.
“Sekarang aku hanya ingin memberitahu kalian tentang bahaya yang mengintai. Sebelumnya, aku akan memberitahu bahwa aku ini adalah sahabat Akhza. Pasti gurumu itu tidak memberitahu kau tentangku, jangan anggap dia sebagai tak setia kawan, itu karena aku yang memintanya. Keberadaanku sangat rahasia.
“Dengar, ada sekelompok orang yang datang dari luar Nusantara. Mereka adalah biang ricuh dari perang Pandataran-Geowedari. Mereka memanfaatkan adu domba yang terus menerus dilakukan.
“Mereka bahkan lebih buruk dari Kerajaan Bulan Hitam. Bukan dukun, tapi mereka memanfaatkan energi kegelapan. Kau harus tahu bahwa energi kegelapan ini sangat berbahaya dan kuat. Mereka bisa menaklukkan siapa pun dengan energi tersebut.
“Sama seperti Prana, tapi kegelapan sangat mengikat oleh kesesatan. Mereka mengenal Tuhan, tapi justru membencinya. Mereka adalah pengabdi setan. Dengar, Nusantara adalah sekuntum pulau-pulau yang mempunyai sumber daya luar biasa melimpah. Mulai dari Andalas, Jawa, Borneo, Sulawesi, dan Jayapura. Semuanya banyak sumber daya.” Penjelasan Mahanta terhenti di sini sebab dirinya menepuk dahi. “Aku hampir lupa menyiapkan hidangan untuk para tamu kita ini! Aduh bodohnya-bodohnya. Kalian tunggu sebentar, aku akan bawakan minuman hangat dan makanan ringan sebentar lagi.”
Lalu ia pergi ke belakang meninggalkan Kala yang masih haus penasaran serta Kaia yang masih berusaha memahami bahasa si Mahanta.
Bahaya dari luar Nusantara? Dari mana?
Kala selama ini tidak peduli dengan daratan lain di luar Nusantara, sebab tugasnya hanya di Nusantara. Tapi siapa yang menyangka bahwa bahaya sesungguhnya datang dari daratan luar? Belum lagi kata gurunya benar, jika kegelapan yang akan menjadi tugas berat Kala. Namun, apakah ucapan Mahanta bisa dipastikan kebenarannya?
Mahanta datang tak lama kemudian. Dengan nampan kayu yang di atasnya ada tiga gelas teh, beberapa rokok, dan kue-kue kering. Saat Mahanta terlihat mau melanjutkan cerita, Kaia lebih memilih menyantap camilan saja.
“Kau tidak merokok, Kala?” Ditanya, Kala menggeleng. “Baguslah, jangan sampai ketagihan.”
“Aku tidak bermaksud membohongimu, Mahanta, tapi rokok-ku berbeda. Lebih sehat.”
“Sepertinya bagus, tapi lain waktu saja. Aku kira Akhza mewarisi semuanya padamu, termasuk sifatnya yang gila pada puntung, tapi ternyata aku salah. Nah, sekarang kembali pada ancaman yang mengintai Nusantara.
“Jadi, aku sudah katakan tadi bahwa bahaya itu datang dari luar Nusantara. Tepatnya di mana kegelapan itu, aku tidak tahu. Yang pasti lebih jauh dari daratan Malaya dan sedikit jauh dari daratan Tiongkok. Aku tidak tahu persisnya.
“Nah, kerajaan yang gelap itu memang sering melakukan penjajahan pada pulau-pulau kecil untuk mengambil sumber daya. Tapi menurut sejarah, mereka masih belum berani mengincar pulau besar seperti Tiongkok atau Malaya.
“Sekarang malah mereka langsung memakan pulau yang sangat besar, Nusantara. Oh itu mengerikan, aku sendiri merasakan auranya, maka dari itu aku menyuruh kalian masuk ke dalam rumah, tentu saja rumah reyot ini memiliki segudang fungsi.
“Mereka sangat takut pada Garuda, mungkin itulah yang membuat mereka tidak berani menginjakkan kaki sejengkal pun di Nusantara. Sayangnya saat mereka sudah siap, alam semesta memunculkan Kesatria Garuda.
“Jangan senang dulu. Mereka sepertinya sudah tahu bahwa kau adalah Kesatria Garuda. Kau sangat ceroboh, jangan seenak jidat memakai kekuatan Garuda, andalkan kekuatan kekuatan alamimu sendiri.
“Dan buruknya lagi, mereka mencarimu, dan sekarang kau sudah diikuti. Nah, soal desa itu, mengapa Pandataran dan Geowedari mencari sebuah pusaka mati-matian.
“Kegelapan—kita sebut saja begitu—telah mengirim sebuah pusaka. Bentuknya kurang lebih seperti pedang yang panjang berwarna hitam. Pedang itulah yang berhasil merusak dimensi cincin interspatial.”
“Jadi itu perbuatan mereka! Aku merasa ingin mengeluarkan bahasa yang sangat kasar!’ kata Kala, “bagaimana caranya untuk memperbaiki itu?”
“Sayang sekali, Kesatria Garuda, dimensi ini rusak untuk permanen,” tambahnya, “tapi tenang saja, kau malah harus bersyukur. Cincin interspatial malah membuat keadaan susah damai. Yang kuat malah semakin bisa menginjak yang lemah dalam perang jika keberadaan cincin interspatial mendukung.”
__ADS_1
“Ya, sepertinya begitu. Tapi itu malah bisa membantu kita menang dari Kegelapan!”
“Maka dari itu mereka merusak dimensi interspatial. Energi gelap tidak bisa dipakai untuk menciptakan dimensi, dan mereka sangat dilarang keras menggunakan Prana, atau tidak setan akan mengamuk. Dengan Nusantara tanpa cincin interspatial, mereka akan lebih mudah melakukan penjajahan.”
Kala mengangguk tanda mengerti. Sepertinya tugasnya akan lebih buruk ke depannya, jangan ada malas-malasan lagi.
“Nah, itu juga dibantu dengan Kastel Kristal Es. Biar kuberi kau rahasia, Bulan Hitam sudah sejak lama mempunyai hubungan erat dengan Kegelapan. Perdagangan dengan daratan luar hanya kedok mereka. Dan Kastel Kristal Es berpura-pura membantu Geowedari, tapi sebenarnya mereka hanya ingin menguasai Hutan Telu.
“Dengar, mereka akan datang sebentar lagi. Dengan jumlah yang teramat banyak. Untuk saat ini mereka hanya mengirim sebagian orang.” Mahanta menutup penjelasannya. “Aku rasa sudah cukup untuk sore ini, aku akan menyiapkan makan malam dan kamar untuk kalian.”
Mahanta mengajak Kaia dan Kala pada ruangan di sebelah kanan rumah yang ternyata besar ini. Ada dua kamar yang besar dan bagus untuk mereka berdua. Alang bisa dengan bebas memilih tidur di kamar mana pun.
Kala hanya mengambil waktu sebentar untuk beristirahat, itu saja dengan meditasi tanpa tertidur. Setelah itu, ia keluar dari kamar untuk kembali ke ruang tengah di mana tikar hangat itu digelar. Di sini, pikiran Kala lebih lancar lagi.
Dari ventilasi yang terdapat di atas tembok-tembok, terlihat cahaya mulai berkurang, tanda malam mulai menjemput. Mahanta menyapa Kala sebelum meletakkan banyak piring dan nampan berisi makanan lezat. Mahanta juga menyuruh Kala untuk memanggil Kaia.
“Untuk malam ini, kita makan besar! Aku sudah lama sekali tidak kedatangan tamu. Malam nanti kita akan mengadakan pesta minum tuak!”
Kala berdeham keras saat Mahanta berkata soal pesta tuak. Mahanta menyadari kesalahannya. “Maksudku, hanya aku dan Kala. Itu pun jika dia mau. Nah, sekarang mari kita makan!”
Ada banyak lauk dan sayur di sini. Semuanya lezat dan gurih. Belum lagi minuman air kelapa yang dingin dan manis. Mereka makan sambil bersenda gurau sampai malam hari dan sampai perut mereka terisi penuh kecuali perut Kala, dia makan seperlunya. Bukan waktunya kenyang di sini.
Mahanta membereskan sisa makanan, ada sisa makanan tapi hanya sedikit. Piring-piring kotor juga ia bawa ke belakang sebelum kembali dengan banyak kendi tuak. Kaia memilih kembali ke kamar, sedangkan Alang akan menemani mereka berdiskusi.
“Jangan minum banyak-banyak, kita akan berdiskusi sepanjang malam bukan mabuk,” pesan Mahanta, “yang muda menuangkan tuak untuk yang lebih berumur, silakan tuang untukku.”
Kala menuangkan tuak dalam kendi pada dua cangkir. “Sebenarnya, berapa usiamu, Mahanta?”
“Aku adalah sahabat gurumu, itu artinya aku lebih tua darinya yang berumur ratusan tahun. Ya, seingatku, aku berumur lima ratus tahun lebih kurangnya.”
Beruntung Kala belum meminum tuak, atau ia akan menyembur. Gurunya berkata bahwa ia berumur seratus tahun, itu saja sudah membuatnya kagum. Belum lagi kali ini ia mendengar ratusan tahun.
“Jangan terlalu kaget. Kegelapan memiliki manusia-manusia yang lebih berumur. Perjanjian mereka dengan setan benar-benar sangat menakutkan.”
“Jujur aku tidak terlalu percaya dengan setan.”
“Eak eak?”
“Benar kata burung itu, setan adalah sebuah energi, tapi ia seperti punya kecerdasan dan selalu membuat si pengguna terikat. Aku sangat sarankan kau tidak mencoba sedikit pun energi kegelapan. Memang hasilnya akan sangat memuaskan, tapi dosamu sangat banyak setelah itu, belum lagi kau akan terus terikat dengan Kegelapan.”
Mahanta sudah berumur lima ratus tahun, tidak heran jika ia mengerti bahasa Alang. Kala merasa tidak perlu memperdebatkan ini.
“Aku tahu itu, Mahanta, tapi aku belum tahu bagaimana cara menahan penjajahan ini.”
“Jangan ditahan, tapi tuntaskan!” seru Mahanta. “Aku punya beberapa saran. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah mengumpulkan kekuatan dari perguruan-perguruan aliran putih. Kerajaan benar-benar tidak bisa diharapkan, setidaknya tidak untuk sekarang. Jangan lupa untuk selalu lari, bersembunyi, jangan terpancing emosi, dan jangan gunakan kekuatan Garuda jika tidak perlu, mereka ada di mana-mana dan sekarang sedang mencarimu.”
“Jika mereka sedang mencariku, mengapa seakan-akan kau menahanku di sini?”
“Rumahku mempunyai formasi khusus yang membuat tempat ini tidak terlihat. Bahkan jalan menuju rumahku tidak ada di peta. Aku sengaja memperbolehkan kalian untuk melihat jalan menuju rumahku, karena aku menunggumu.”
“Itu artinya aku akan aman di sini?”
__ADS_1
“Ya, tapi kau punya tugas. Jangan lupakan itu.”
“Aku tahu itu, Mahanta. Sepertinya besok aku harus pergi.”