
Sedangkan Kala, ia hanya bermeditasi tadi malam dan baru turun untuk memesan teh hangat. Pelayan atau bisa dibilang penjaga penginapan mengatakan bahwa hujan akan berlangsung tiga hari atau lima hari, ini sudah menjadi agenda tahunan.
Alang pergi berlatih, hujan yang deras sangat bagus untuk melatih ketahanan tubuhnya. Tindakan itu gila, tapi Kala terkesan oleh semangat juangnya.
Seseorang mengetuk pintu kamar Kala, ia tidak memberi sapaan sehingga Kala langsung mengetahui siapa pengetuk pintu.
“Masuk, tidak dikunci.” Kala berkata.
Pintu mengeluarkan suara berderit tanda sudah dibuka. Pandangan Kala tetap ke luar jendela sambil tersenyum lebar.
“Kau sudah bangun, wahai putri tidur?”
Kaia tidak menjawab pertanyaan Kala. “Aku ingin tahu lebih banyak lagi soal pranor.”
Kala menaikkan alisnya, sejak kapan gadis ini tertarik dengan ilmu? Ia mengalihkan pandangannya pada Kaia dan seketika itu juga ia tersentak kaget.
“Mengapa matamu seperti itu?!”
__ADS_1
Kantung mata Kaia kini membiru, matanya sedikit memerah, dan sepertinya kelopak mata itu bisa menutup kapan saja. Kaia seperti orang yang sudah membeliakkan mata sepanjang malam!
“Aku tidak bisa tertidur karena kau!” Kaia membentak, tapi badannya mulai terhuyung. “Penjelasan tentang pranor tadi malam tidak jelas dan tidak lengkap ... aku memikirkannya sepanjang malam ....”
Kaia tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke atas kasur Kala dengan posisi tengkurap. Kala tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat hal ini. Namun sebagai seorang pria, Kala meninggalkan kamar itu dan pergi ke bawah.
Penjaga penginapan yang sama menyapa Kala, “Selamat hari fajar, Pendekar. Apa Kisanak ingin sarapan?”
Kala menganggukkan kepalanya pelan. “Bawakan nasi, satu jenis lauk, dan dua jenis sayuran. Ah! Satu kendi tuak bukan hal yang buruk, bawakan yang terbaik, harga bukan masalah.”
Kala memberi menaruh satu koin emas di atas meja sebagai jaminan. Dan bicara soal uang, yang tersisa di cincinnya hanya tiga koin emas lagi. Dirinya sangat meyakini bahwa akan mendapatkan banyak uang dengan menjual pipa rokok di kota.
Kala menunggu cukup lama, tapi ia menikmatinya dan tidak mengeluh. Makanan datang dengan penjaga toko yang berkali-kali meminta maaf. Bertepatan dengan itu juga, seorang pria masuk ke penginapan.
Dirinya sudah basah kuyup. Sepatunya meninggalkan jejak di lantai bersama dengan tetesan air dari bajunya yang berlapis-lapis. Ia duduk di meja pojok dengan pedang yang ditaruh di atas meja.
Kala tidak berniat mencari masalah, orang ini merupakan pranor di tingkat Alam Kristal Spirit dengan Kristal Bumi. Jika ia sampai bertarung dengan pria ini, maka akan sangat menyusahkan sebab ada Kaia yang harus ia lindungi.
__ADS_1
Pria ini menatap Kala sebentar sebelum memanggil penjaga penginapan. Ia berbisik padanya sedangkan penjaga penginapan itu mengangguk-angguk dengan antusias.
Kala meningkatkan kewaspadaan saat ia merasa dua orang ini seperti sedang memainkan drama yang alurnya sudah ditentukan sejak lama. Pemilik toko ini tidak marah atau tersinggung dengan lantainya yang basah, juga ia tidak takut dengan pedang pria itu yang diletakkan di atas meja.
Ini sungguh ganjil bagi Kala. Namun, ia mengingat konspirasi-konspirasi tentang Penginapan Progo adalah markas tentara bayaran. Jika orang ini adalah anggota dari tentara bayaran itu, maka Kala akan aman-aman saja asalkan ia tidak ikut campur. Itulah alasan Kala terlihat tidak peduli.
Penjaga penginapan pergi ke dapur lalu kembali dengan membawa makanan beserta sebuah buntelan kain, penjaga penginapan itu lalu pergi setelah meletakkan semuanya di atas meja. Pria yang baru datang itu mengibaskan tangannya, buntelan itu hilang seketika lalu ia mulai menyuap makanan.
Kala juga tetap makan walau sesekali melirik gerak-gerik pria itu. Walau ia tidak ingin ikut campur, itu bukan berarti ia tidak waspada, ada Kaia di atas yang harus ia lindungi.
Mereka makan tanpa mengeluarkan suara atau sepatah kata pun, hanya suara guyuran air yang menyertai. Kala juga makan dengan tenang saat merasa tidak akan bersinggungan dengan pria ini, tapi dugaannya sepertinya tidak tepat.
Dari jarak yang jauh dari sini, Kala mendeteksi aura membunuh yang sangat pekat. Sepertinya aura membunuh ini berasal dari banyak orang yang memiliki hasrat untuk membunuh. Makin lama, Kala semakin merasakan niat membunuh itu mendekat.
Ia melirik pria yang di pojok, mereka bertukar pandang beberapa saat sebelum kembali ke acara makan. Pria itu juga mendeteksi aura membunuh ini, ia hanya berpura-pura tidak menyadarinya sama seperti Kala.
Kini penjaga penginapan sudah berada di ruang makan. Hebatnya lagi, sekarang penjaga toko mengeluarkan aura pranor Alam Formasi Spirit! Kala menebak bahwa ia mempunyai formasi untuk menutupi tingkat prana miliknya.
__ADS_1
Brrak!