Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Kembali Berburu


__ADS_3

Orang yang melihat Alang secara sekilas dalam ukuran seperti ini akan mengiranya sebagai burung pipit. Namun, burung pipit apa yang mempunyai aura membunuh sebesar ini?


“Kau bisa menyembunyikan aura membunuh, ini luar biasa ....” Kala kembali berdecak kagum saat tidak melihat lagi aura membunuh pada Alang.


Alang seakan riang dan meminta makan pada Kala. Kala hanya bisa menggaruk kepalanya menyadari tidak ada lagi Batu Energi yang tersisa dalam cincin interspatial.


“Maaf, Alang.” Kala tiba-tiba berhenti menggaruk kepalanya dan menatap Alang tajam. “Aku meminta maaf kepadamu? Hmph! Aku tarik kata-kataku tadi! Aku sekarang menuntut maaf darimu atas tidak hadirnya kau saat aku hampir mati!”


Alang memalingkan wajahnya menatap awan sambil sesekali melirik Kala yang marah. “Aku menuntut penjelasan!”


“Eak ....” Alang hanya bisa bersuara pelan sebelum terbang melesat ke dalam hutan, Kala mengejarnya sambil mengacungkan pedang.


“Saat kau sudah kutangkap, akan aku pastikan menu makan malam hari ini adalah elang bakar madu!” Kala melompati rimbunan semak-semak sebelum tersandung jatuh, Alang seakan menertawakan itu dari atas pohon.


“Awas kau, Alang! Aku akan mencincangmu menjadi seribu bagian!”


***


Kala berhenti mengejar Alang saat tanpa disadari sudah berada di tempat peristirahatan, Kala baru sadar kalau ternyata Alang menuntunnya pulang. Kini Alang memberanikan diri untuk hinggap di pundak Kala.


Kala menatapnya lekat-lekat. “Aku tidak ada waktu untuk membakarmu, hari ini kau selamat tapi aku tidak tahu hari esok.”


Meskipun nada bicara Kala terkesan sangat dingin, tapi sebenarnya Kala hanya sedang bergurau. Bagaimana juga, Alang sudah menyelamatkan nyawanya berkali-kali dan Kala sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.


Lima kepala desa yang sedang bersantai-santai segera menyambut Kala dengan hangat. Kala mengatakan bahwa dirinya hanya bisa membawa lima botol tanpa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Mari kita berangkat sekarang.” Kala menyentuh cincin interspatial miliknya untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. “Jika kita berangkat sekarang dengan kecepatan penuh, apakah kita bisa sampai pada saat malam hari?”


Salah satu kepala desa menjawab, “Tentu, Pendekar. Bahkan jika kita setengah lari, mungkin sebelum matahari terbenam kita sudah sampai pada salah satu desa kami.”


Kala mengangguk pelan. “Mari bergerak sekarang, banyak yang kelaparan di desa kalian.”


Raut muka para kepala desa setelah mendengar kata ‘kelaparan’ berubah menjadi buruk. Mereka memang dalam kondisi kenyang, tapi warga mereka bahkan belum kenyang sejak beberapa hari yang lalu.


***


Saat warna langit menjingga, Kala sudah dapat melihat gerbang desa dari kejauhan. Kala diam-diam menggunakan Mata Garuda untuk melihat lebih jelas dari jarak jauh.


Dahinya mengernyit, gerbang desa itu hancur lebur. Kala merasa Kastel Kristal Es berlebihan, gerbang desa tidak perlu dihancurkan karena hanya berupa gapura selamat datang. Mereka benar-benar semena-mena dalam hal ini, keterlaluan.


“Ayo, lebih cepat!” Kala menghilangkan Mata Garuda sebelum berlari pelan menuju desa itu.


“Tunggu kami, Pendekar Muda!”


Kala tidak sadar bahwa dirinya berlari sangat cepat dengan ilmu meringankan tubuh dan meninggalkan lima kepala desa itu di belakang. Kala sadar salah satu dari kepala desa memanggilnya, namun menghiraukannya.


“Apa-apaan ....” Lutut Kala terasa lemas saat melihat keadaan desa yang lebih parah dari gapura depan.


Sebagian rumah-rumah sudah rata dengan tanah, hanya tersisa abu hitam dan potongan arang di bawahnya. Kala juga dapat melihat bercak darah yang mengering di tanah dan tembok. Kala mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi.


“Terkutuk!”


Para kepala desa baru sampai setelah Kala mengumpat, dada mereka naik-turun. Mereka tidak terlalu terkejut dengan kondisi desa yang seperti ini, tentu saja kelimanya sudah melihat saat desa diserang, itu lebih buruk.


“Di mana warga?” tanya Kala dengan dingin.


Salah satu kepala desa batuk pelan sebelum berkata, “Kami mengumpulkan warga dari lima desa di salah satu desa yang tidak terlalu berdampak. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sini, kita harus melintasi desa ini untuk jalan pintas.”


Kala mengangguk dan tidak membiarkan mereka beristirahat.


***


Hanya satu kata yang terlintas dalam benak Kala.

__ADS_1


Kacau!


Sangat kacau! Di sini manusia tidak ada ubahnya dengan penampilan hewan. Baju mereka sudah kotor dengan noda tanah dan bercak darah. Tanah dijadikan sebagai alas tidur untuk orang-orang yang sekarat. Tangisan tiada hentinya meratapi anggota keluarganya yang gugur di sini.


“Bangsat! Mereka bersikap sesukanya di sini!”


Kala memang baru sampai di lokasi tempat warga dari kelima desa mengungsi. Kala menjadi begitu marah saat melihat hilangnya hak manusia di sini. Kastel Kristal Es benar-benar keterlaluan membiarkan mereka terlantar seperti ini.


Sebagian dari mereka melihat kepala desa datang. Mereka bersorak-sorak mengabari yang lain seolah lima kepala desa ini pulang dengan uang. Mereka bahkan tidak sadar bahwa senjata yang dibawa para kepala desa sudah hilang, bagaimana mungkin mereka bisa pulang dengan uang?


Lima kepala desa serentak menghela napas dan memberitahu yang sebenarnya terjadi pada warga. Terlihat dari muka warga bahwa mereka sangat kecewa dengan tangan kepala desa yang kosong.


“Pendekar ini berkata akan menyelamatkan kita, tenang saja.” Salah satu kepala desa menepuk pundak Kala.


Ratusan pasang mata menatap Kala lekat-lekat. Mereka belum pernah mendengar ada pendekar yang mau menolong warga seperti mereka, apa lagi Kala masih begitu muda dan terlihat tidak ahli.


Kala yang sebelumnya marah kini tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya. Ia merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk berpidato, tapi ia belum pernah berpidato di depan banyak orang seperti ini. Ia hanya berpidato di depan gurunya saat sedang latihan pidato.


Kala menarik napas panjang sebelum berkata, “Aku akan membuat jalan keluar bagi kalian semua. Kita semua akan melewati ini bersama-sama. Aku pastikan, malam ini perut kita semua terisi penuh!”


Ucapan Kala disertai prana, membuat suaranya pelan namun didengar segala penjuru. Warga desa juga mendapat tekanan semangat dari Kala, mereka mengangguk-angguk dan menaruh harapan pada Kala.


Kala mengeluarkan beberapa pil dari cincin interspatial, warga tidak terlalu melihat kemunculan pil itu secara tiba-tiba. Kala memberikan pil-pil itu pada lima kepala desa secara merata.


“Bagikan ini pada mereka yang sangat membutuhkan. Pil ini lebih baik langsung ditelan. Tolong berpencar agar pembagian merata.”


Para kepala desa mengangguk. “Pendekar, apa rencanamu setelah ini?”


Kala mengangguk pelan dan tersenyum lebar. “Aku akan membawakan kalian daging yang banyak. Kita akan makan besar nanti malam.”


Para kepala desa mengernyitkan dahi. Daging merupakan sesuatu yang jarang mereka makan karena kesulitan mendapatkannya. Kala memang berhasil mendapatkan ayam raksasa tadi malam, tapi mereka tidak yakin Kala bisa mendapatkannya lebih banyak lagi dalam tenggat waktu yang sedikit.


“Tenang saja, percayakan padaku.” Kala tersenyum hangat sebelum berbalik hendak keluar dari desa.


“Ada apa, Kepala Desa?”


“Begini ....” Kepala desa itu terlihat ragu-ragu dan gelisah. “Bolehkah kami minta daging ayam besar yang kau dapatkan tadi malam? Aku lihat Kisanak menyimpan sisanya.”


Kala menghela napas dan menatap mereka dengan iba. “Maafkan aku. Daging ini terlalu sedikit dan tidak akan cukup bahkan untuk separuh warga. Kau khawatir jika akan terjadi keributan yang melibatkan kekerasan. Maafkan aku, Kepala Desa, aku tidak bisa memberikannya padamu.”


Kepala desa itu merasa tidak enak dan hanya bisa menghela napas panjang menatap Kala yang sudah keluar dari desa. “Semoga anak ini menepati harapanku.”


Kala terus berjalan cepat meninggalkan desa, ia masuk ke hutan dan berlari dengan ilmu meringankan diri. Alang sendiri menjadi petunjuk jalan bagi Kala dari atas langit.


“Burung ini akhirnya berguna juga.” Kala tertawa pelan sebelum mengikuti Alang yang berbelok, jika saja kalimat ini di dengar Alang ... entah apa yang akan ia lakukan pada Kala, ia sudah menyelamatkan nyawa Kala berkali-kali!


“Cari hewan perusak yang besar! Hindari hewan spirit!” Kala berteriak lantang dan disertai prana agar Alang mendengarnya di atas.


Beberapa saat kemudian, Alang mulai menurunkan ketinggian sambil menggoyangkan badannya ke kiri-kanan. Kala mengerti tanda yang dimaksudkan Alang, mangsa sudah dekat.


“Oh, sial. Burung ini berniat melatihku padahal aku majikannya.” Lutut Kala lemas saat melihat hewan besar di depannya.


Ini adalah hewan spirit. Berbentuk kelinci dengan kuping tiga dan mata empat. Tingginya sekitar tiga meter, jauh lebih tinggi dari Kala.


Kelinci itu seakan membuat kawasannya sendiri, ia membentuk ladang rumput lapang sebagai rumah untuk tubuhnya yang besar. Kelinci itu juga membuat jalan sendiri di hutan. Hewan-hewan lain tidak berani mendekatinya, sedangkan Kala sudah menginjak daerah kekuasaannya.


Kelinci yang mulanya sedang makan itu menatap Kala dengan tajam. Kala tidak berani bergeser satu jengkal pun akibat tatapan penuh nafsu membunuh itu.


Kelinci besar mulai mengambil ancang-ancang untuk lompat menerkam Kala, sedangkan Kala hanya menghela napas dan menatap langit di mana Alang terbang memutar.


“Setidaknya, aku bisa latihan.” Kala mengeluarkan pedang spirit dari cincin interspatial, meskipun pedang itu sudah retak-retak dan lumayan tumpul.


Otot-otot kelinci besar itu menegang sebelum tubuhnya lompat dengan kecepatan tinggi ke arah Kala. Kesatria Garuda mengangkat alisnya lalu lompat ke arah kiri, ia berhasil menghindari serangan pertama itu.

__ADS_1


“Lompatan yang cukup bagus untuk kelinci gemuk.” Kala mengangguk pelan sebelum tersenyum lebar. “Sekarang, giliran aku ....”


Tanah yang Kala pijak amblas satu jengkal ketika Kala melompat ke arah kelinci tersebut. Kelinci itu tidak berniat menghindar, memilih untuk menghadapi Kala.


Kala tersenyum tipis dan mengayunkan pedangnya. Sang kelinci membalasnya dengan terjangan.


Trash!


Kala berhasil melukai sang kelinci walau ia terlempar cukup jauh akibat terjangan tadi. Perutnya terasa diaduk-aduk, Kala memuntahkan sedikit isi perutnya.


“Kelinci gemuk! Kau sudah mengeluarkan sarapanku dari perut, sekarang aku lapar!” Kala kembali menerjang. “Dan sepertinya, dagingmu lezat ....”


Kala kembali terlempar jauh. Kini tidak ada makanan yang keluar, sudah habis saat serangan pertama. Darah mengalir pelan di sudut bibir Kala sedangkan kelinci itu sudah bersimbah darah.


“Kau sangat bodoh, Kelinci Gemuk! Kau membiarkanku melukai tubuhmu, sedangkan kau tidak terlalu memberikan serangan berarti.” Kala tersenyum lebar menyadari darah terus mengucur pada bekas sabetan pedang pada tubuh kelinci itu, ia sangat yakin kalau sang kelinci akan mati kehabisan darah.


Kala memilih menerjang lagi.


***


Maheswari dikelilingi banyak murid dari Perguruan Angin Utara, mereka semua menghunuskan pedang pada Maheswari.


“Tabib Maheswari, mohon tenang dan singkirkan pedangmu dari leher Patriark. Atau kami tidak akan segan lagi,” ujar salah satu murid yang mengepung Maheswari.


“Di mana Kala?!!” Maheswari berteriak dengan sangat keras, lebih tepatnya ia menjerit disertai luka hati yang dalam.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Maheswari. Ia mengelap air matanya lalu menempelkan pedangnya pada Yudistira semakin keras. Leher Yudistira sendiri sudah mulai dialiri darah pelan mengingat pedang Maheswari yang begitu tajam.


“Ini salahku ....” Yudistira berkata dengan lirih.


Sebenarnya, Yudistira memiliki kemampuan melawan Maheswari, tapi ia tidak melakukannya. Air mukanya sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Wajahnya mengandung penyesalan yang sangat dalam.


Seseorang mendatangi salah satu murid yang mengepung Maheswari dan membisikkan sesuatu. Murid yang mendapat informasi itu mengangguk pelan dan beralih pada Maheswari.


“Kami tidak bisa memastikan di mana keberadaan Kala yang kau sebut. Kami hanya menemukan tumpukan mayat yang terbakar ....”


“Apa kau bilang?!!” Maheswari mundur beberapa langkah sambil menutupi mulutnya, ia memandang murid itu seakan tidak percaya.


“Kami ulangi sekali lagi bahwa belum tentu di antara tumpukan mayat itu ada Kala yang kau maksud.”


Maheswari bersimpuh lutut sebelum jatuh tak sadarkan diri. Patriark Yudistira juga bersimpuh lutut dengan air mata yang mengalir, air mata yang sudah lama tidak keluar dari mata seorang Yudistira.


“Bagaimana ... ini ... terjadi?”


***


Kala kembali terlempar jauh. Kali ini, dirinya seakan sangat merindukan tanah sampai-sampai enggan untuk bangun. Kala baru bangun saat kelinci itu menyerbunya.


“Sial! Kelinci ini memiliki banyak sekali darah!” Kala mengumpat sambil berlari, darah sudah membasahi ladang rumput ini, tapi kelinci itu masih belum mati kehabisan darah.


Hal itu membuat Kala mengambil perkiraan, kelinci ini mempunyai banyak darah atau ia memiliki sistem regenerasi yang cepat. Melihat luka-luka di tubuh kelinci ini dengan mudah tertutup kembali.


Kala tidak bisa mengatakan kalau makhluk ini adalah makhluk yang lucu. Sekarang, penampilan makhluk ini seperti iblis dengan bulu berwarna merah darahnya sendiri.


Itu artinya, aku harus mengincar daerah vitalnya.


Kala berhenti berlari, berniat memecahkan kepala kelinci tersebut. Ia sebenarnya bisa saja menggunakan Jurus Suara Hening, tapi ia sangat yakin tenggorokannya akan lepas seketika itu juga.


Kala menyimpan pedangnya, mengalirkan prana pada tangan kanannya. Tangan kanan Kala bergetar karena menampung banyak prana sedangkan kualitas tulangnya tidak bagus.


Jika kualitas tulang pranor tidak bagus, maka akan retak saat dialiri prana yang besar. Yang Kala lakukan sangat berisiko. Jika ia tidak berhati-hati, maka yang terjadi adalah penyesalan.


Kelinci itu kembali merasa heran saat Kala menyimpan pedangnya dan berniat melawan dengan tangan kosong, tetapi ia tidak menghentikan lompatannya. Kala melompat tinggi saat sang kelinci sudah dekat, ia berada di atas tubuh kelinci sebelum meninju kepala sang kelinci.

__ADS_1


__ADS_2