Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Pertempuran Pertama Kala


__ADS_3

Kala bertanya, "Nyisanak, di mana tempat pertarungannya?"


Gadis itu terlihat kebingungan sebelum menunjuk arah timur. Saat Kala ingin beranjak pergi, gadis itu segera menarik lengan baju Kala.


"Ada apa?" Kala cepat-cepat bertanya.


"Mohon agar diimu dapat meyakinkan warga ... mereka tak yakin bahwa seniman-seniman akan kalah perang, jadi memilih untuk tidak mengungsi." Gadis itu memohon, pria paruh baya di sebelahnya juga memohon sebab tahu bahwa Kala adalah pranor.


Kala menghela napas panjang sebelum mengeluarkan aura pembunuh. Mereka semua berhenti bersuara dan memandang Kala seperti melihat hantu. Sebenarnya ini tak pantas bagi mereka, tapi Kala tahu bahwa tak ada cara lain yang dapat lebih cepat daripada ini.


"Dengarkan aku!" seru Kala. "Bahkan puluhan pranor sekalipun tidak akan sanggup menahan serbuan hewan-hewan perusak ditambah hewan spirit. Tolong mengungsi. Aku seniman bela diri juga, aku tahu bahwa situasi seperti ini bisa menghancurkan seluruh kota."


Seruan Kala mengandung Prana, itu membuat suaranya terdengar sampai jauh. Begitu meyakinkan. Para penduduk kota langsung mengangguk dan sedikit bergumam, mereka menyadari bahwa Kala tidak berbual dalam perkataannya. Kerumunan secara cepat bubar.


Kala mengangguk puas, tapi hatinya begitu cemas. Ia merasakan suatyu hawa Prana yang sangat kuat dari kejauhan. Begitu kentara. Perang sudah terjadi!


Kala segera berlari ke arah timur. Tidak membuang waktu lagi. Dari jauh, Kala sudah bisa mendengar suara pertarungan seperti yang diceritakan gurunya. Desing pedang. Jerit kesakitan. Bentakan. Ledakan. Yang sekarang ditambah dengan lolongan binatang. Asap hitam membumbung tinggi dari sejumlah titik di arah timur.


Saat Kala sampai ke tempat pertarungan yang kacau, Prana-nya sudah hampir habis untuk berlari. Ia lupa menghemat Prana sehingga lari sekuat tenaga dalam jarak yang tidak dekat, Kala juga memakai Prana untuk menekan kerumunan warga.


Pemandangan di sekitarnya tak begitu mengenakkan. Mayat manusia tercecer di mana-mana, koyak tubuhnya dilahap hewan. Tubuh-tubuh binatang pun tergeletak dengan kondisi yang tak kalah mengenaskan. Rumah-rumah menjadi sasaran tempur, hancur dan terbakar.


Kala bersandar pada tembok. Ia melihat di depannya cukup banyak pranor bertarung dengan hewan-hewan yang aneh bentuknya. Ada hewan yang berbentuk kelinci berkuping tiga sampai burung raksasa dengan dua kepala.


"Tunggu apa lagi? Bantu kami!" Pranor pria yang Kala tak kenal secara tidak sopan meminta bantuan, pria itu tampak telah paruh baya dan tingkat Prana-nya tak lebih dari Pondasi Prana.


Kala menjawab, "Aku kehabisan Prana."


"Ada-ada saja, makan ini!"

__ADS_1


Pranor tadi melemparkan sebuah pil berwarna hitam tembus pandang. Kala tahu, itu adalah Esensi Prana. Memakannya dapat meningkatkan jumlah Prana. Harganya cukup mahal, dan seharusnya terlalu berharga untuk diberikan pada orang yang tidak dikenal sebelumnya.


Kala menelan esensi itu, rasa manis yang menyegarkan meledak di dalam mulutnya.


Ketika Prana-nya sudah cukup pulih, Kala mengeluarkan sebilah golok panjang. Garuda Puspa terlalu berharga untuk dipakai bertarung sekarang ini, dan dirinya juga belum punya banyak kekuatan seandainya ada yang mau merebut pusaka itu darinya.


Kala berniat membantu seorang pranor wanita yang tengah kewalahan melawan binatang perusak berbentuk serigala bermata tiga. Serigala itu meraung lalu menerkam si wanita, leher wanita itu koyak setengah dan terus mengeluarkan darah segar.


Wanita itu membelialakkan mata dan terjatuh, mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa. Tenggorokannya mengeluarkan bunyi mengerikan seperti sapi yang yang disembelih.


Kala tertegun. Inilah yang dikatakan gurunya,


"Kamu harus siap melihat darah. Kamu harus siap mendengar rintihan menyakitkan."


Gurunya berpesan, saat melihat hal mengenaskan pertama kalinya jangan terkejut berlebihan atau ia juga akan mati. Kala konsentrasi, tidak menghiraukan bau anyir darah maupun suara parau itu.


Kala menghunuskan goloknya dan memandang hewan itu dengan penuh kebencian.


Serigala itu menerjang Kala lebih dulu. Kala berkelebat ke sisi kanan dengan cepat dan tepat waktu. Alhasil, serigala itu hanya menerkam angin kosong walau pakaian Kala hampir jadi sasaran.


Posisi serigala berada di udara, dan tidak ada kesempatan untuk menghindar jika di udara. Kala dengan cermat bisa melihat peluang emas ini, ia berbalik dengan cepat.


Serigala itu mati-matian ingin menyentuh tanah lagi, dia memang mencapainya dengan dua kaki depan mendarat terlebih dahulu. Namun, golok Kala juga bergerak sama cepatnya. Tepat setelah mendarat sempurna, serigala itu kehilangan kepalanya, tubuhnya ambruk dan kepalanya terguling-guling dengan tiga mata terbuka.


Kala memincingkan mata. "Semudah ini?"


Kala meraih kepercayaan dirinya. Ia terus menyerbu dan membantu pranor lain yang kesulitan. Sepuluh hewan perusak telah dibunuhnya.


Tak ada yang menyangka seorang pemuda yang umurnya kisaran enam belas tahun itu bisa melakukan apa yang lebih dari mereka. Semangat tempur mereka semakin meninggi. Berniat menggunakan ini sebagai bahan latihan. Tak mau malu di depan Kala.

__ADS_1


Namun, jumlah hewan perusak seakan tidak berkurang, mereka bertambah banyak terus-menerus menekan para pranor mundur cukup jauh.


"Oh, sial. Apa jantan-jantan mereka begitu bernafsu? Mengapa banyak sekali terlahir binatang mengerikan seperti ini?!"


Pasukan manusia serempak mundur. Membentuk barikade di jalanan. Jika tetap menyerang, maka itu sama saja bunuh diri yang paling menyiksa, jadi mereka memilih untuk bertahan.


Separuh kota sudah hancur, tapi beruntung sebagian penduduk sudah pergi mengungsi. Namun tetap saja, korban dari penduduk tak bisa dihindari. Ada beberapa penduduk yang bersikeras tetap di rumahnya, mereka tak menyangka akan berakhir jadi santapan hewan.


Sesosok kera terlihat sedang menghancurkan rumah. Kala bergerak mendekat, menebaskan goloknya ke lengan sang kera. Kera itu mengelak dengan mudahnya, ia memandang Kala dari atas. Dengan tinggi dua depa, sebenarnya kera itu bukan tandingan Kala.


Kala melemas. Goloknya patah, dan lengan monyet raksasa itu tidak mengalami luka yang fatal. Mata Kala kembali menatap kera yang sekarang menggeram itu. Kini terlihat, bahwa kera tersebut adalah binatang spirit, bukan binatang perusak!


Kabur pun sebenaarnya sudah terlambat, kera itu pasti tidak akan membiarkan Kala kabur begitu saja setelah maju.


"Mati aku ...." Kala mengambil persediaan golok lainnya di dalam cincin interspatial.


Si kera berteriak bagai kesetanan, mengirimkan tinju kuat. Angin menderu. Menyibak debu. Cepat menuju Kala. Kala tidak bisa tenang, ia melompat ke kanan di mana ada sedikit kesempatan menghindar di sana.


Serangan itu membentur tanah. Gelombang kejut mendorong Kala bersama debu-debu. Kala terbentur tembok. Tubuhnya tengkurap menahan sakit. Puing-puing kecil bekas hantamannya berjatuhan, membuat lusuh pakaian Kala.


Mau tak mau, Kala bangkit. Kera itu menyerang terus. Tanpa ampun. Kala menghindar tanpa diberi kesempatan menyerang.


Kala kemudian mengganti senjata dengan pedang emas panjang peninggalan gurunya. Pedang ini hanya bisa digunakan satu serangan saja, tapi kekuatannya sangat besar.


Si kera meninju ke arah kepala Kala, Kala menunduk dan melihat celah besar di hadapannya. Tangan kanan kera itu berada di atas kepala Kala, kera itu menarik tangannya dengan cepat namun kalah cepat dengan tebasan Kala.


Darah bercipratan saat urat-urat di lengannya terputus. Menodai tanah. Pedang Kala juga berhasil membelah tulang. Tangan si kera tidak sepenuhnya putus, tapi berayun-ayun dengan hanya kulit yang menjadi penghubung.


Pedang emas Kala berubah menjadi debu bertepatan dengan raungan tinggi kera spirit itu.

__ADS_1


__ADS_2