
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu." Maheswari berkata dengan nada memilikan. Masih memeluk Kala erat, matanya terpejam.
Kala tentu menjadi gugup dalam kondisi seperti itu. "Aku ... aku juga senang."
Maheswari kembali berkata tanpa melepas pelukannya, "Aku sudah menunggumu. Lama sekali. Andai aku tak sempat tersesat di kaki Gunung Loro Kembar, pasti aku sudah menjumpaimu waktu itu, Kala."
"Kak Mahes pernah berkunjung ke Loro Kembar?" Kala bertanya heran.
Maheswari mengangguk. "Tapi tak sampai puncaknya, aku disesatkan kabut tebal." Lalu perempuan itu melepaskan pelukannya dan mengusap setitik air mata di ujung matanya sambil tersenyum gembira. "Bagaimana dengan gurumu Bapak Akhza?"
"Sudah pergi satu bulan lalu." Kala menghela napas. "Untuk selamanya."
Wajah Maheswari berubah jadi buruk setelah mendengar itu, tetapi sesaat kemudian ia kembali memasang senyuman agar Kala tidak kembali pada kesedihannya. Maheswari lalu mengatakan bahwa tadi dirinya belum sempat melepas topeng sehingga wajar jika Kala tidak bisa mengenalinya.
"Aku juga tidak bisa mengenalimu, dirimu sudah berubah jauh." Perempuan cantik bagaikan bidadari surgawi itu tertawa kecil.
"Berubah ... apa maksud Kak Mahes?"
"Ya, pokoknya sudah berubah," kata Maheswari, "dan jangan lagi memamggik aku dengan sebutan itu. Kala bahkan lebih tinggi daripada aku sekarang."
Memang, Kala memiliki tubuh yang lebih tinggi daripada Maheswari tapi bukankah umurnya jauh lebih muda dari gadis itu? Kala menolak dan bersikeras memanggilnya dengan sebutan itu. Maheswari akhirnya hanya bisa menerima.
"Oh, ya. Mari kita cari kedai makan. Kita bisa bicara lebih jauh di sana." Maheswari mengambil putusan.
Kala menggeleng pelan. "Tidak ada kedai yang buka di kota ini, semuanya sudah mengungsi."
"Kalau begitu, kita cari kedai di kota lain saja."
"Tidak bisa, Kak Mahes. Kita harus bekerja mulai besok pagi, tidak bisa pulang terlalu malam." Kala beramsumsi bahwa jika mereka pergi ke kota lain, maka paling cepat membutuhkan waktu setengah hari dan satu hari jika pulang-pergi. Ia juga berpikiran bahwa kehadirannya di sini bukanlah untuk bersenang-senang.
"Besok kita dapat juga bekerja." Maheswari mengeluarkan sebuah pedang dengan panjang satu depa dari cincin interspatial. Warna pedang itu hitam-legam bagaikan langit malam. Lebar, tetapi tipis.
Ketika Maheswari melemparkannya, secara ajaib pedang itu melayang di atas tanah!
Kala membeliakkan mata. Belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Bahkan Keris Garuda Puspa mungkin tidak memiliki kemampuan yang sama. Pusaka macam apakah ini?
Maheswari melompat ke atas pedang itu. Dua kakinya memijak bilah pedang dengan tubuh menyamping.
"Naiklah, Kala."
Kala meski termangu tetapi mengerti bahwa dunia persilatan masih menyimpan kejutan-kejutan lain yang tidak terukur jumlahnya, maka segeralah ia naik ke atas pedang, kakinya seakan melekat pada mata pedang karena sebuah energi khusus, sehingga tidak akan mudah terjatuh.
__ADS_1
Pedang itu mulai melayang lebih tinggi dari pucuk-pucuk pohon sebelum melaju cepat ke hadapan. Semakin lama, mereka semakin cepat dan tinggi. Angin malam seperti pisau dingin yang menusuk hingga ke tulang, Kala akan mati kedinginan seandainya tidak mengalirkan Prana ke seluruh tubuhnya.
Pemandangan di bawah mereka sangat menakjubkan sekaligus mengerikan. Kala takut jatuh walau ia sering berada di tebing tinggi Gunung Loro Kembar namun kali ini pijakannya hanya sebatang pedang saja dan keadaan itu sangat berbeda.
Kala dan Maheswari keluar dari kota dengan cepat. Memasuki wilayah hutan gelap dan lebat. Hampir tidak ada cahaya lain kecuali dari bintang-gemintang di langit.
Kecepatan pedang semakin bertambah. Maheswari segera mengeluarkan pedang kebanggaannya. Pedang dengan warna biru tembus pandang dari mata hingga gagangnya. Pedang itu dihunuskan ke depan, membelah angin yang seharusnya menerpa dirinya dan Kala.
Sebuah titik cahaya terlihat dari kejauhan. Maheswari memperlambatkan laju. Itu adalah kota!
Titik cahaya tersebut perlahan semakin membesar, terlihat bahwa kota itu cukup besar.
Mereka masuk tanpa melewati gerbang kota. Tak ada yang memperhatikan. Maheswari baru mendarat setelah melihat sebuah kedai makan besar.
Kondisi kota sudah sepi. Tapi kedai ini terang benderang dengan cahaya putih dari obornya. Udara sangat dingin.
Terdapat satu kolam kecil di depan kedai yang diterangi satu obor putih. Di dalamnya adalah air dan teratai, juga beberapa ikan.
"Kedai ini ...." Kala berusaha mengingat sesuatu.
"Kedai yang memiliki nama sama dengan kedai yang pernah kita singgahi dulu." Maheswari tersenyum lebar.
Kedai ini memiliki sepuluh tingkat. Seperti umumnya, lantai yang tertinggi adalah lantai yang termahal. Maheswari memesan tempat itu tanpa berkedip. Menyerahkan seratus batu energi.
Kala sebenarnya terkejut, tapi diam, selama ini ia tidak punya banyak batu energi tapi Maheswari mengeluarkan seratus batu energi begitu mudah?
'Apa guruku miskin?'
Keduanya menaiki tangga dan sampai di lantai sepuluh. Tidak ada orang lain di sini kecuali mereka berdua, benar-benar tidak ada. Memang, untuk makan di sini saja butuh batu energi yang banyak, belum lagi dengan menu makanannya!
Seorang pelayan wanita mendatangi mereka, ia memegang dua papan yang sepertinya adalah daftar makanan. Pakaian pelayan ini berbeda dengan pelayan-pelayan yang ada di lantai bawah, pakaian yang dikenakan pelayan ini lebih rapi dan dari bahan bagus.
Pelayan itu berkata, "Selamat datang di Kedai Pulau Teratai, Kisanak dan Nyisanak adalah pelanggan penting bagi kami. Apa saja yang bisa bisa kami bantu?"
Maheswari berkata segera, "Tolong daftar makanannya."
Pelayan itu segera memberi dua daftar menu yang ada di tangannya, satu untuk Kala dan satu untuk Maheswari.
Mata Kala terbialak ketika membaca daftar menu itu, ia tidak menyangka harga makanan yang disajikan di kedai ini sangat luar biasa tinggi!
Kala sampai lupa bernapas untuk sesaat, apa Maheswari begitu kaya raya? Ia sangat tidak yakin soal itu, belum lagi jika Maheswari yang harus membayarnya.
__ADS_1
Itu akan memalukan bila wanita yang membayar untuk pria.
Wajah Kala mengerut dalam kebimbangan.
Maheswari dapat segera menangkap kebimbangan itu. Dia tertawa pelan. "Kala, ada apakah?"
"Tidak, Kak Mahes." Kala menggeleng. "Hanya saja ... makanan-makanan ini terlalu mahal. Aku tak bisa ...."
"Anggap saja aku sebagai kakakmu. Memang seharusnya seorang kakak yang membayar makanan untuk adiknya, bukan?" Maheswari mendekatkan wajahnya pada Kala. "Kala, kamu bebas memilih menu apa pun di sini," kata Maheswari lagi, "asalkan jangan bubur tanah itu lagi."
Kala terkejut bukan main setelah mendengar bahwa Maheswari memperbolehkannya memesan makanan apa pun!
Apakah Maheswari sudah gila atau benar-benar punya uang? Apakah ini memang harga standar bagi para pranor dan ia benar-benar norak?
Kala melirik lagi daftar makanan. Ia tidak mau melihat atau bahkan hanya melirik harga makanan yang paling mahal. Tapi yang paling murah adalah sepiring kepiting asap ditambah Esensi Prana, itu harganya 1.500 batu energi. Harga yang luar biasa hanya untuk sepiring kepiting.
"Kak Mahes, aku ingin kepiting asap," bisik Kala. "Dan seandainya bisa, aku lebih memilih makan Prana saja."
"Prana itu rasanya sangat tidak enak, Kala." Maheswari bergidik, lalu berbisik, "dan kepiting itu makanan yang paling murah. Jangan sungkan, beli yang lain."
Kala tersenyum canggung. "Aku tidak bisa membebanimu, Kak Mahes."
"Kala, dengarkan aku." Maheswari menghela napas. "Bukannya bermaksud sombong, tetapi aku memiliki cukup banyak uang. Bahkan untuk membeli kedai ini, itu bukan sesuatu yang sulit bagiku. Kau bebas memilih apa pun di sini."
"Aku tetap memesan ini," kata Kala setengah berbisik.
"Ah, biarkan aku saja yang memilih." Maheswari membuat putusan, lalu matanya kembali beralih menuju daftar makanan.
"Kak Mahes ...." Kala berhenti berucap saat Maheswari menempelkan jari telunjuknya pada bibir pemuda itu.
"Aku pesan ini dan ini, serta bawakan segelas teh hangat yang terbaik di sini," kata Maheswari pada pelayan di dekatnya.
"Baiklah, pesananmu telah saya catat semua." Pelayan itu beralih menuju Kala yang masih tertegun di tempatnya. "Apakah Kisanak butuh hiburan?"
"Ya, ya!" Kala menjawab dengan asal, tanpa berpikir, tanpa mempertimbangkannya.
Wanita pelayan mengangguk sekali sebelum berjalan pergi. Sementara itu Maheswari melebarkan matanya dan menatap Kala dengan tajam. Tampangnya seperti ingin mencabik-cabik menjadi Kala seribu bagian.
Tubuh Kala bergemetar hebat sebab tanpa sadar Maheswari mengeluarkan aura pembunuhnya, namun ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya!
"Kala! Apa dirimu sadar dengan apa yang baru saja kau katakan?!" gertak Maheswari, ia berdiri dari bangku dengan kedua telapak tangannya memukul meja meja, giginya ikut bergemertak!
__ADS_1