
Kala menatap mereka semua dengan tajam. Jumlah mereka ada sepuluh orang dengan tingkat prana yang berada di Pondasi Prana. Mengalahkan mereka semua akan merepotkan.
Kala kembali menengok ke atas, menghadap dengan Elang Api. Kala tidak bisa melihat tingkat prana di tubuh Elang Api, namun bukankah ia adalah hewan yang luar biasa? Bisa saja tingkat prana miliknya berbeda dengan manusia dan tidak terlihat.
Kala mencoba peruntungan. "Elang Api! Bantu aku!"
"Kyaak!" sahut elang itu.
Sayapnya ditekuk, menukik tajam ke arah para prajurit. Tentu saja mereka sedikit panik, dengan segera mengeluarkan pedang dan siap menyambut serangan dari burung api itu.
Elang itu memekik sebelum menghantamkan tubuhnya ke para prajurit.
Ledakan api tercipta. Hutan seketika terang benderang dalam seperkian detik. Lolong orang kesakitan terdengar keras dan cukup untuk membangunkan burung. Api itu mengenai Kala. Kala sempat berteriak namun sebuah kejanggalan membuatnya berhenti berteriak.
Tubuhku, tidak terbakar? Api ini justru menyejukkan!
Api mereda. Tinggal tersisa tubuh-tubuh yang berapi berguling-guling di tanah, lolong sakit masih terus menyertai mereka. Lolongan yang menyedihkan, tapi tidak berlangsung lama, mereka semua mati dengan cara yang sangat menyakitkan.
"Eak!"
Pekik elang terdengar dari atas. Kala mendongak lagi dan mendapati Elang Api terbang menuju dirinya berada.
Elang itu melintas di samping bahu Kala kemudian hinggap di atap kedai. Hal ini secara tak sadar mengingatkan Kala untuk lekas-lekas menolong Maheswari yang ada di dalam.
Kala berlari ke arah kedai. Kondisi kedai gelap dan sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Kala melihat kedai yang kemungkinan sudah tidak ada orang di dalamnya, namun Kala tetap ingin memeriksanya secara langsung.
Kala mendobrak paksa pintu kedai yang sebenarnya tidak dikunci. Elang Api masuk ke dalam dan membuat ruangan menjadi terang benderang oleh apinya. Elang Api hinggap di salah satu meja yang terbalik.
Kala mengernyitkan dahi. Kondisi kedai hancur berantakan. Meja sebagian hancur, sebagian terbalik, dinding dan atap kedai lubang-lubang, gelas dan piring gabah pecah berhamburan. Setelah semua itu, tidak ada satu pun manusia di sini kecuali Kala!
__ADS_1
Kala sadar bahwa Maheswari sudah dibawa pergi beserta nenek pemilik kedai dari sini. "Mereka tidak ada di sini, mari kita pergi."
"Eak!" balas elang api seolah mengerti.
Baru tiga langkah keluar dari kedai, Kala mendengar suara derap langkah kaki kuda. Kala tidak tahu maksud si penunggang kuda apa, jadilah ia memilih masuk lagi ke dalam kedai untuk menyembunyikan diri. Sedangkan Elang Api melesat pergi jauh, elang itu berpikir bahwa sinar apinya bisa membuat posisi Kala diketahui.
Di balik gelapnya kedai, Kala dapat melihat dari sela-sela dinding kayu. Sesosok kuda hitam dengan penunggang kuda di atasnya terlihat berhenti di depan kedai. Penunggang kuda itu tiba-tiba saja mengumpat dan berteriak lantang.
"Bangsat! Siapa yang membunuh anggota Harimau Besi?!" teriak sesosok itu yang ternyata adalah pria jika dari suaranya, ia juga mengeluarkan pedang.
Kala merasa bahwa orang itu juga dari kelompok Harimau Besi. Ia memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya, lagi pula tingkat praktiknya seimbang dengan pria itu. Raut muka Kala tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.
"Maaf, kau bisa menganggap aku yang bertanggungjawab." Kala tersenyum tipis, tangannya terlipat ke belakang.
"Berani dirimu!" dengus pria itu, "berani keluar, berani mati!"
Pedang itu diayunkan guna menebas leher Kala. Dengan sigap namun tenang Kala menangkisnya menggunakan kerambit yang dikeluarkan dari cincin interspatial. Kedua senjata lantas bertemu.
Bunga api tercipta, namun tidak seindah bunga di taman. Kuda yang membawa penunggangnya melewati Kala. Pedangnya kembali terangkat dan kudanya diarahkan untuk menabrak Kala.
Saat kuda itu tinggal sedepa di dekatnya, Kala melompat. Sekarang kuda itu sudah berada di bawah Kala beserta penunggangnya yang berusaha menangkis serangan Kala. Kala sendiri tengah menebas ke arah leher si penunggang dengan kerambitnya. Percuma saja penunggang tersebut menangkis karena Kala mengubah serangannya menjadi serangan ke arah bahu, kerambit Kala berhasil menebas bahu si penunggang.
Si penunggang memekik lalu jatuh ke tanah. Kuda hitam itu panik dan hilang arah, ia meringkik lalu pergi ke dalam hutan melewati semak-semak. Si penunggang hendak bangkit namun Kala menginjak dadanya, tiada ampun Kala menendang kepalanya.
Sang penunggang yang malang itu tentu saja meringis kesakitan. "Lepaskan ... aku."
"Aku akan membiarkan kau pergi, tentunya." Kala membersihkan kerambitnya. "Tapi ... setelah kau menjawab semua pertanyaanku."
"Apa saja ... aku akan ... menjawabnya," ucap pria itu terputus-putus.
__ADS_1
"Yang pertama," ujar Kala tersenyum lembut, "di mana dua wanita yang kalian ambil?"
"Wanita yang mana? Banyak ... sekali wanita yang kami ambil."
Kala menggeleng pelan. "Di mana wanita muda dan wanita tua yang kalian ambil dari kedai ini, jawab atau akan mencarinya sendiri sesudah membunuhmu."
"Mereka membawanya, ke padepokan."
"DI MANA PADEPOKANNYA?!" sanggah Kala kehabisan kesabarannya.
"Ad-Ada di sebelah utara hutan, masih di dalam hutan."
"Untuk apa kamu ke mari?"
"Aku ditugaskan. Seharusnya beberapa anggota yang tadi membakar kedai ini setelah menjarah isinya, tapi mereka belum kembali, aku diutus untuk mencari mereka."
"Aku merasa jawabanmu jujur." Kala mengeluarkan dua kepeng emas serta beberapa pil. "Ambil ini, jangan menjadi dan jangan pernah bergabung dengan kelompok seperti itu lagi. Apa kau mengerti?"
"Aku mengerti! Aku mengerti! Terima kasih!"
Kala lekas beranjak pergi. Namun kemudian, ia berhenti dan menatap tajam si penunggang kuda. "Arah utara di mana?"
***
Kala bersembunyi di balik semak belukar. Napasnya diatur menjadi tidak berisik. Matanya berubah menjadi berwarna sinar emas sebab ia menggunakan Mata Garuda. Pandangannya tertuju lurus ke depan, menatap banyak penjaga yang menjaga benteng.
Setelah mendapat petunjuk arah, memang Kala lekas-lekas pergi ke markas kelompok Harimau Besi. Tidak disangkanya bahwa kelompok ini mempunyai benteng yang lumayan tinggi. Di sisi lain, benteng tersebut dijaga oleh dua orang penjaga dengan tingkat prana berada di Alam Kristal Spirit, akan sulit melawan dua orang itu walaupun dibantu dengan Elang Api sekalipun.
Kala sedari tadi memegang sebilah pedang, namun tidak ada keberanian untuk menyerang. Sedangkan elang itu bersembunyi di bukit serta siap mendukung Kala.
__ADS_1