Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Mengalahkan


__ADS_3

Wanita itu melesat ke arah Kala. Gerakannya yang luar biasa cepat masih bisa ditangkap dengan mata istimewa Kala. Serangan tapak tangan dari wanita itu terlihat lamban di matanya.


Namun, gerakan menghindar Kala tetaplah lambat. Tidak secepat gerak matanya. Tidak secepat gerak pikirannya. Seberusaha mungkin Kala mencoba menarik tubuh, tapi tetap saja gerakannya lebih lambat daripada kecepatan serangan wanita itu.


Serangan berupa tapak angin menghantam Kala. Kala terpental jauh, membentur tembok dengan kerasnya. Asap mengepul dari bekas pukulan di dadanya. Tanda serangan tadi menggunakan prana dalam jumlah banyak.


Berkat latihan yang keras, Kala tidak mengalami luka yang berarti. Tulangnya masih utuh, tidak ada yang patah.


Tetapi untuk rasa sakit. Jangan ditanya. Luar biasa. Seolah tapak itu menembus dadanya. Napasnya jadi tersengal-sengal, bahkan bagian perut terkena imbas pula.


Bukan berarti rasa sakit menghalanginya. Andai saja tidak sedang bertarung mempeetaruh nyawa, Kala pilih pingsan saja. Tetapi kali ini nyawanya terancam, nyawa Maheswari terancam pula. Maka walau sakit teramat sangat, Kala bangkit berdiri.


"Kuat sekali." Kala meluruskan pinggangnya. "Sepertinya kau memang sudah berniat kuat membunuhku. Kalau begitu, aku tidak akan segan-segan mempertahankan nyawa."


Kala berlari secepat mungkin ke arah si wanita. Pedangnya sudah terpental ke sudut ruangan, tidak sempat bagi Kala untuk mengambilnya sehingga ia memilih pakai serangan tinju serta tendangan.


"Lihatlah! Ada kucing yang mengira dirinya harimau!" ejek wanita itu, "keberanianmu besar sekali!"


Kala menyunggingkan senyum. Kala sudah menyiapkan jurus pamungkas sedari tadi. Ia tidak menyangka bahwa wanita ini begitu menganggap remeh dirinya, dengan begini rencananya berjalan lancar.


Saat jarak antara Kala dan wanita itu semakin dekat, wanita itu mengeluarkan sebilah belati dan disembunyikannya ke belakang pinggang. Wanita itu menunggu Kala datang, dan ia akan menyambutnya dengan kematian. Cerobohnya, wanita ini tidak menganggap serius senyum yang tersungging di bibir Kala.


Tiga langkah tersisa sebelum mereka bentrok, Kala tiba-tiba saja berhenti. Mulut Kala terbuka lebar sebelum sebuah suara keras terpekik! Suara ini adalah suara yang sangat keras, gendang telinga yang berada dalam jarak lima ratus Depa pasti akan pecah. Akan tetapi ruangan ini tertutup, sangat tertutup hingga udara luar pun tak diizinkan masuk, maka suara ini lebih keras terdengar.


Si wanita itu tidak sempat menutup telinganya, ia sudah terkapar tak bernyawa dengan darah keluar dari telinga, mulut, dan hidung. Matanya terbuka lebar menunjukkan keterkejutan sekaligus ketakutan, tidak sempat tertutup.

__ADS_1


Pekikan itu menggema beberapa saat sebelum berakhir. Suara tembus keluar dari bangunan sebagai suara pekikan elang. Kala terengah-engah, napasnya tidak beraturan.


Yang baru saja ia lakukan adalah Jurus Suara Hening. Suara yang dihasilkan Kala adalah suara pekikan Garuda. Tidak memerlukan tenaga dalam untuk bisa melakukan itu, bakat Garuda sudah tertanam di fisik Kala.


Perempuan ini hanya mendengar suara hening saja sebelum ia mati, terlalu cepat mengantar kematian. Pekikan ini menembus otak dan langsung merusak semua saraf yang ada di sana. Disebabkan ruangan tertutup, maka seniman itu langsung mati.


Kala sebelumnya tidak melakukan ini karena serangan ini begitu berisiko dan memakan energi jiwanya. Kala takut ada tawanan di sini yang ikut mati, termasuk Maheswari. Jurus ini tidak kenal lawan maupun teman, kecuali penggunanya sendiri. Namun karena ruangan ini merupakan ruangan segel, maka tentu saja kedap suara.


Meskipun suara tetap tembus keluar bangunan dengan keras, namun tidak sampai membunuh mereka.


Ini merupakan salah satu bakat Garuda yang luar biasa. Dengan ini, Kala tidak takut jika pun ia dikepung banyak musuh. Asalkan tingkat prana mereka tidak sampai puncak, maka mereka tidak akan lolos dari cidera.


Dengan langkah tak seimbang, Kala mencoba membuka pintu. Bagaimana pun juga, ia harus cepat-cepat menyelamatkan Maheswari sebelum ia menjadi sandera. Walaupun sulit membuka pintu ini, namun Kala berhasil keluar dengan sisa tenaga yang ada.


Yang pertama menyambutnya adalah Elang Api, sepertinya elang ini sudah menghancurkan hampir seluruh bangunan yang tersisa. Tatapan burung itu menunjukkan kekhawatiran, tetapi segera berganti menjadi tatapan lega setelah melihat Kala dalam keadaan baik-baik saja.


"Kerja bagus. Namun sekarang kita harus lekas mencari temanku." Kala mulai berjalan. "Apa kamu tahu di mana tempat mereka menyimpan temanku?"


"Eak." Elang Api terbang dengan kecepatan lambat dari punggung Kala, ia menyelinap di antara bangunan-bangunan yang terbakar, Kala langsung mengikuti burung itu sebab ia merasa bahwa Elang Api sedang memberi petunjuk jalan.


Kala berlari menggunakan tenaga dalam, dengan mudah ia menyusul Elang Api yang terbang rendah. Kala berjalan seiring dengan elang itu sebelum mereka sampai pada sebuah bangunan besar yang belum terbakar.


Elang api tiba-tiba terbang cepat mengelilingi bangunan itu. Kala mengangguk tanda ia mengerti. Seharusnya Maheswari ada di dalam.


Bangunan ini bertingkat empat, hampir seluruhnya terbuat dari kayu yang keropos. Kala menendang pintu bangunan sampai terbuka. Tidak ada pranor yang menyambutnya, mereka semua sudah keluar sejak serangan pertama.

__ADS_1


Keadaan ruangan kurang penerangan, Kala hanya menjumpai satu obor kuning di sini. Kala bisa melihat semuanya, lalu menyadari bahwa ini adalah penjara.


Kala masuk ruangan dan pada saat itu juga ruangan yang tadinya sunyi menjadi ramai dengan teriakan minta tolong dari para wanita. Kala terpanggil jiwanya untuk menyelamatkan mereka. Kemungkinan Kelompok Harimai Besi mencuri wanita-wanita itu untuk memuaskan nafsu anggotanya, ia harus membebaskan semuanya.


Satu per satu penjara dibuka dengan mudah oleh Kala. Kala akan merusak gemboknya dengan tinju tenaga dalam. Satu sel biasanya berisi empat wanita sedangkan ada sepuluh sel di lantai pertama, mereka semua berterima kasih sebelum keluar dari bangunan sesuai permintaan Kala.


Kala beranjak ke lantai dua, ia membebaskan semua tahanan namun belum kunjung menjumpai Maheswari. Lagi-lagi mereka berlebihan dalam berterima kasih, ada yang bahkan menciumi sepatu Kala.


Di lantai tiga, Kala melakukan hal yang sama. Namun tidak kunjung menemukan Maheswari dan nenek pemilik kedai.


Di lantai empat, seluruhnya berbeda. Tidak ada lagi sel seperti sel yang ada di bawah. Di sini hanya ada empat pintu dengan masing-masing ada ruangan di dalamnya.


Kala yakin di sini ada Maheswari. Ruangan ini begitu berbeda dan sepertinya dibuat khusus untuk pranor. Kayu di sini sangat kuat dan baru. Pintunya juga terbuat dari logam besi.


Kala mendobrak salah satu pintu dengan tenaga dalam yang luar biasa. Ruangan ini mempunyai segel yang sama dengan segel yang berada di bangunan tadi. Saat Kala memasukinya, prana miliknya tidak bisa terpakai.


Didengar suara lirih oleh Kala. Ruangan ini sangat terang dengan banyak obor yang menyala. Di dalam ruangan ini juga ada satu pintu lagi, Kala bergerak ke arah pintu itu.


"Kak Maheswari, apa ada di sana?"


Kala menempelkan telinganya pada permukaan pintu, terdengar suara lirih yang sangat pelan dari dalam. Suara lirihan wanita yang Kala merasa mengenal suara itu.


"Kak Mahes! Jangan di belakang pintu, aku akan mendobrak." Kala menendang pintu itu, sekejap mata kemudian ia terjatuh sambil memegang kaki kanannya.


"Pintu ini keras sekali."

__ADS_1


Kala tidak menyangka bahwa pintu ini sungguh keras. Kakinya yang biasa menendang pintu sedari tadi, sekarang kesakitan. Kala mendengar suara lirihan memanggil namanya dari balik pintu itu, dengan suara menyedihkan ini Kala menjadi sangat berambisi menghabisi pintu sialan itu.


__ADS_2