Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Danau


__ADS_3

“Apa dapat madunya, Pendekar?” Kepala desa yang tadi menyambutnya dengan hangat.


Kala menggeleng pelan sambil menggaruk kepalanya. “Kondisi hutan sangat gelap, aku tidak bisa melihat ada sarang lebah.”


“Tentu saja, Pendekar. Akan sulit menemukan sarang lebah di tengah malam seperti ini.” Kepala desa itu tertawa pelan. “Oh, iya. Aku tadi mendengar suara pekikan elang, sangat keras dan memekakkan telinga. Aku khawatir ada siluman elang di sini.”


Kala tersenyum lebar dan berusaha untuk tidak tertawa. “Ah, aku juga mendengarnya tadi meskipun tidak terlalu keras. Tidak perlu khawatir pada siluman elang, di sini ada burung bodoh yang bisa melindungi kita jika terjadi sesuatu.”


Kala berbicara dengan keras dan lantang, berharap Alang mendengarnya dengan jelas. Sedangkan kepala desa itu tidak terlalu memikirkan burung yang dimaksudkan Kala.


Pada akhirnya, Kala membakar dua potong ayam tanpa bumbu tambahan. Mereka makan bersama sambil menceritakan beberapa cerita lucu atau berita hangat yang sedang terjadi.


Tidak terasa, langit mulai membiru cerah tanda matahari sudah menampakkan dirinya sedikit. Kepala desa yang lain secara otomatis terbangun dari tidurnya dan ikut sarapan bersama.


Selesai sarapan, Kala memerintahkan mereka untuk segera berkemas lalu meneruskan perjalanan. Kala tidak berniat memperlama lagi perjalanan dan ingin segera sampai ke lokasi tujuan.


Saat mereka membersihkan bekas api dan daun tidur, Kala memotong sisa ayam menjadi potongan kecil-kecil. Kala berharap saat dipotong lebih kecil, ia bisa memasukkannya pada cincin interspatial.


Kala mengibaskan tangannya, seketika itu juga satu potongan kecil ayam menghilang tanpa tersisa setitik debu pun. “Akhirnya berhasil juga ....”


Ada beberapa bagian ayam yang tidak bisa Kala masukkan walau sudah dipotong kecil-kecil, salah satunya adalah usus. “Setidaknya daging ini tidak terbuang sia-sia.”


Kala mengajak mereka untuk mencari sumber air terlebih dahulu. Kala memiliki sepuluh botol labu dalam cincin interspatial, dan botol itu sudah dalam keadaan kosong.


“Apa kalian punya botol?” tanya Kala.


“Kami punya, tapi sudah hampir tidak ada isinya.”

__ADS_1


“Berikan padaku.” Kala menjelaskan agar dirinya saja yang mencari air, agar lebih cepat.


Enam botol sudah berada di hadapan Kala, ia mengibaskan tangannya. Botol itu hilang dari hadapan para kepala desa. Mereka tetap terkejut meski sudah sering melihat Kala melakukan ini.


Kala mengibaskan tangannya lagi, keluar pedang-pedang yang ia dapatkan dari pertarungan semalam. “Ambil satu orang untuk satu pedang. Gunakan ini untuk melindungi diri.”


Setelah itu Kala berpamitan dan berkata akan kembali secepatnya. Sebenarnya ia sedikit cemas karena kelima kepala desa itu belum tahu cara menggunakan pedang dengan baik, ia hanya berharap tidak ada yang mengganggu mereka karena takut melihat pedang-pedang itu.


“Semoga pedang itu bisa menakuti-nakuti.” Kala tertawa pelan sebelum berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh. “Ilmu meringankan tubuh milikku tidak terlalu bagus, aku akan meningkatkannya nanti.”


***


Kala tersenyum saat melihat danau luas di hadapannya. Tidak ia sangka akan dengan cepat menemukan sumber air ini. Ia juga menggaruk kepalanya karena tidak yakin akan mengingat jalan pulang.


Tidak menunggu lebih lama lagi, Kala mengeluarkan semua botol lalu mengisi dengan cepat.


Alang seakan mengisyaratkan Kala untuk pergi menjauh. Kening Kala mengerut, ia merasakan firasat buruk. Dari tengah danau itu, muncul gelembung-gelembung besar.


Kala mengeluarkan pedang spirit miliknya yang sudah tumpul. Ia juga menyimpan botol-botol walau hanya lima botol yang terisi penuh. Kala dapat melihat tubuh Alang kini diselimuti oleh api.


“Sialan! Pasti ini adalah binatang spirit!” Napas Kala menderu. “Binatang apa pun itu, yang pasti sangat besar!”


Kala sadar, ia tidak bisa menghadapi binatang spirit yang ada di air, dia sendiri masih belum yakin bisa berenang. Ia memilih bersembunyi di balik pohon tak jauh dari danau.


Air danau yang semulanya tenang kini mulai berombak. Sepertinya keberadaan Alang di atas danau mengusik makhluk yang menjadi penghuni danau ini. Kala merasa Alang bodoh atau ia sedang sangat lapar.


“Burung ini semakin lama semakin aneh!” Kala mengumpat lalu tubuhnya basah kuyup terkena ombak yang mulai sangat ganas.

__ADS_1


“Aih, aku sepertinya akan mati jika hanya berdiam diri.”


Ombak-ombak mulai menerjang daratan. Kala keluar dari persembunyiannya dan menangkis ombak-ombak yang datang dengan serangan tapak.


Tubuhnya tetap basah walau sudah menangkis ombak, setidaknya ia tidak terbawa ombak ke danau. Kala sebenarnya lebih aman jika pergi jauh dari lokasi, tapi dirinya tidak akan bisa tenang jika meninggalkan Alang sendirian.


Alang menyemburkan apinya ke permukaan danau. Serangan itu dibalas dengan semburan air dan serangan sirip ekor. Kala membeliakkan mata saat ekor ikan yang sangat besar itu hampir mengenai tubuh Alang.


Kala memperkirakan besar ekor ikan itu sama seperti pohon cemara. Itu saja baru ekornya, Kala tidak bisa membayangkan besar tubuhnya.


“Ini sangat berbahaya!” Kala meletakkan dua jarinya lalu bersuit guna memanggil Alang.


Tentu saja Alang mendengar panggilan Kala, tapi ia mengabaikannya dengan alasan perut yang kosong. Kala menggelengkan kepala dengan kuat-kuat, berharap burung itu selamat agar ia bisa memarahinya nanti.


Bum!


Alang mengirimkan bola api ke permukaan air. Terjadi ledakan yang cukup besar pada permukaan air. Setelah itu, Alang mengepakkan sayapnya dan menukik ke atas.


“Aku bisa menebak apa yang akan Alang lakukan.” Kala memejamkan mata saat Alang tiba-tiba menghunjam air dari atas.


Ledakan besar terjadi. Kala tidak melihat kejadiannya, tapi dirinya kembali dihujani air danau. Kala baru membuka matanya saat merasa suasana sudah mulai mereda, ia dapat melihat seekor ikan raksasa sudah mengambang tidak bernyawa di tengah danau.


Ikan itu hampir seperempat lebar danau. Alang berdiri di atasnya tanda bahwa ialah pemenangnya. Luka besar di bagian kepala terdapat pada ikan yang malang tersebut.


Melihat Alang yang hanya bertengger di sana tanpa memakan ikan tersebut, Kala mulai protes. “Untuk apa kau membunuh ikan itu? Bukannya ia tidak mengganggumu?”


Alang tidak mempedulikan Kala yang berteriak lantang, ia hanya terbang ke arah Kala sebelum hinggap di bahu Kala dengan ukuran yang kecil. Seketika itu juga Kala mengetahui alasan mengapa Alang membunuh ikan tersebut.

__ADS_1


“Aura pembunuhmu begitu pekat, ini bisa berguna untuk menyerang lawan.” Kala berdecak kagum, namun hatinya juga gundah. “Tapi, aura ini juga bisa mengundang masalah.”


__ADS_2