
“Aku ... aku tidak memiliki pakaian wanita. Biar aku aku cari ....” Kala buru-buru pergi dengan gugup.
Langkahnya tergesa-gesa dan kaku. Ia benar-benar merasa malu sebab sudah menatap kain putih itu lekat-lekat, beruntung ia tidak melihat sesuatu yang akan mengganggu akalnya.
Kala baru saja melewati tungku tempat ia merebus tulang. Kala hanya melihatnya sekilas tanpa peduli. Ia melangkah lebih cepat lagi menuju tengah desa.
***
Para warga tengah membersihkan sisa makanan mereka. Hampir semua perut sudah terisi penuh, mereka benar-benar gembira. Beberapa terus membicarakan Kala dengan antusias.
“Aku yakin ia adalah utusan dari Kerajaan Geowedari. Mana ada pendekar yang dengan suka rela membantu kita tanpa imbalan.”
“Apa yang kau maksud?! Jelas pendekar itu adalah pengelana yang baik hati, pikiranmu sungguh buruk!”
Mereka terus membicarakan Kala tanpa henti sampai melihat Kala datang dengan langkah kaki tergesa-gesa.
Beberapa menyapa Kala dengan hangat. Namun, Kala hanya membalas sapaan mereka dengan anggukan kepala dan terus melanjutkan perjalanannya menuju kediaman kepala desa.
Ia membuka pintu kepala desa tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ia benar-benar salah tingkah!
Kepala desa menyambutnya dengan wajah khawatir. “Pendekar, kau sudah kembali. Sepertinya sudah terjadi sesuatu yang gawat? Ada apa?”
“Ya, ini lumayan gawat.” Kala berusaha mengatur napasnya. “Kau punya seorang putri, bukan? Aku ingin meminta sepasang pakaiannya, aku akan membayarnya dengan harga yang cukup.”
Kepala desa itu menaikkan alisnya, dengan ragu ia berkata, “Untuk apa, Pendekar?”
“Aku akan jelaskan nanti, sekarang aku butuh cepat,” ucap Kala tergesa-gesa.
“Baiklah, tunggu sebentar.” Kepala desa segera menyelinap ke dalam ruangan di dalam, ia kembali dengan sepasang pakaian perempuan yang sederhana, namun, tidak ada kerusakan.
“Berapa harga yang harus aku bayar, Kepala Desa?” Kala menerima sepasang pakaian.
“Pendekar bicara apa? Aku tidak berani menerima uang dari pendekar.” Kepala desa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Kala terlihat berpikir sejenak sebelum berterimakasih dan lari ke luar kediaman.
Ia berlari dengan ilmu meringankan diri. Alang sampai harus menguatkan kakinya agar tidak terbawa angin.
***
“Aku kembali.” Kala mengatur napasnya lalu menunjukkan perolehannya.
“Letakkan di bawah,” ujarnya dengan dingin, “dan kau bisa pergi dari sini.”
Kala mengangguk. “Teriaklah dengan kencang jika kau sudah selesai. Aku akan kembali.”
Kala meninggalkan tempat itu dengan cepat. Sekarang, ia sedang memandangi. Air di dalamnya mendidih dan terus merendam tulang besar itu. Daun-daun herbal terlihat berada di pinggiran.
“Sudah selesai!” Gadis itu berteriak dengan kencang, tapi juga dingin.
“Kau bisa ke sini.” Kala sudah malas dengan sikap dingin itu, ia bersikap dingin pula.
Tak lama, gadis itu datang dengan mata merah menyala bagaikan kunang-kunang. Pakaiannya memang sederhana, tapi itu akan menjadi luar biasa jika dipadukan dengan wajah dan tubuhnya yang cantik.
“Matamu menyeramkan saat malam hari.” Kala tertawa pelan. “Siapa namamu?”
“Apa menolongku harus mengetahui nama terlebih dahulu?”
Kala menepuk jidatnya, sedangkan Alang sudah malas mendengar gadis ini sehingga pergi menyelinap ke hutan.
“Tentu aku harus mengetahui namamu, itu akan aku gunakan untuk memanggilmu.” Kala menghela napas panjang.
“Kaia.”
__ADS_1
“Hah? Kaya? Apa maksudmu?”
“Namaku Kaia.”
“Ah, jadi itu namamu, Kaia.” Kala menggeleng pelan. “Singkat, padat, jelas. Sama seperti arti namamu, lautan yang dingin.”
Gadis itu tidak menjawab dan memilih duduk di batu besar tak jauh dari kuali. Ia sangat cuek dan dingin, sepertinya karena pengalaman yang ia telah lalui atau memang karena sikapnya seperti itu.
Kala juga memilih diam dan menjaga api agar tidak mati.
Suasana hening, hanya semilir angin malam, ranting terbakar, dan teriakan jangkrik yang terdengar. Kala sesekali melirik Kaia yang wajahnya mulai memburuk, seperti tidak menemukan secercah harapan satu pun.
Tak lama kemudian, Kaia mulai terisak-isak. Kala menjadi sedikit panik, tapi ia menahan posisi.
“Tidak ... tidak. Lebih baik aku mati, tidak ada yang bisa diselamatkan!” Kaia bangkit dan berjalan cepat ke arah api di kuali.
Kala menghela napas panjang sebelum melepas aura membunuh miliknya, ini membuat Kaia bersimpuh lutut dan tidak bisa bergerak. “Maafkan aku. Kau harus tenang terlebih dahulu.”
Selepas mengatakan itu, Kala menambah aura membunuhnya hingga membuat Kaia tak sadarkan diri. Kala segera menarik semua nafsu membunuh miliknya setelah Kaia pingsan. Ia menggelar selimut yang ia dapatkan di kota, ia menggelar selimut itu di sampingnya lalu menidurkan Kaia di atas selimut itu.
“Tubuhnya benar-benar ringan.” Kala kembali menatap api di depannya. “Tubuhnya bukan saja ringan, ia agak kurang gizi.”
Yang Kala katakan memang benar. Kaia memiliki tubuh yang kurus, sepertinya ini disebabkan oleh miskinnya desa tempatnya tinggal. Meskipun begitu, kecantikannya tidak pudar.
BOOM!
Kala tiba-tiba mendelik, ia mendengar suatu ledakan yang sepertinya jaraknya cukup jauh dari sini. Kala yakin, ini merupakan ledakan prana jika didengar dari suaranya.
Ledakan ini berlangsung dua kali, Kala juga bisa mendengar suara jeritan ngeri yang ramai. Jelas suara ini berasal dari tengah desa, Kala menyiagakan Mata Garuda miliknya.
“Alang, sepertinya ada yang terjadi di desa. Kau tetap di sini jaga si gadis dingin.” Kala menyeru pada Alang yang entah di mana wujudnya, lalu ia bergerak cepat ke arah desa.
Kala bergerak dengan kecepatan maksimal, menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk kecepatan yang terbaik. Beberapa kali ia melompati bangunan yang setengah hancur hingga dirinya sampai di mana para warga berkumpul.
“Apa yang terjadi?!” Kala berseru lantang, warga desa yang ketakutan serta para pranor bersenjata melihat ke arah Kala.
“Lihatlah! Ada pahlawan yang datang kesiangan!” Seseorang menyeru entah dari mana. “Kau sepertinya adalah pahlawan yang mereka bicarakan, bukan? Kau adalah pranor yang bebas dan tidak memiliki utang budi dengan desa ini, lebih baik kau tinggalkan desa ini atau jangan salahkan aku jika nyawamu hilang saat ini juga!”
“Kau mau apa?!”
“Aku sudah katakan, jangan ikut campur urusan kami. Apa kau tak sayang dengan nyawamu?”
Kerumunan warga secara tiba-tiba menyibak untuk memberi jalan pada seseorang. Kala bisa melihat wajah warga yang ketakutan saat bergeser memberi jalan.
Dari celah yang diberikan warga, terlihat seorang pria dengan pakaian biru langit berjalan dengan santai. Di belakang pria itu, lebih tepatnya di tengah kerumunan, terlihat dua orang tergeletak dengan otak berceceran. Kala tersedak napasnya ketika menyadari dua orang dengan kepala berlubang itu adalah kepala desa yang ia kenal!
Orang itu sudah melewati dan kini berada di hadapan Kala. Pranor-pranor lain menghunuskan pedang pada Kala untuk berjaga jika Kala tiba-tiba menyerang. Sudah dapat dipastikan, orang yang ada di depan Kala adalah ketua dari kelompok ini.
“Dengar, aku tidak tahu niatmu menolong sampah-sampah seperti mereka. Namun, berdasarkan cerita yang aku dengar dari warga, kau sepertinya memiliki maksud tertentu.” Pria itu menggosok tangannya, aura pranor tingkat Alam Formasi Spirit menyerbak. “Begini saja, bagaimana jika kau membantu kami dari Kastel Kristal Es? Kau akan mendapat komisi yang memuaskan dari apa pun yang kau dapatkan jika menolong mereka.”
“Ah, jadi kalian adalah orang dari Kastel Kristal Es yang terkenal itu.” Kala bergumam dengan santai, sungguh tidak menunjukkan penghormatan pada pranor Alam Formasi Spirit di depannya! Kala sungguh tidak mengenal perbedaan langit dan bumi. “Aku bisa membantu kalian, tapi apa yang harus aku bantu?”
Warga yang mendengar ucapan Kala tentu saja terkejut, tapi tidak Kala hiraukan sama sekali. “Dan pastikan, aku mendapat bayaran yang memuaskan.”
Orang di depan Kala tertawa lantang. “Aku sudah menebak bahwa dirimu sama dengan kami! Baiklah! Kami sedang mencari seorang wanita dengan mata merah menyala, ia tertinggal di sini. Kau temukan dia, bawa gadis itu hidup-hidup dan kau akan mendapatkan ....”
Pria itu seperti sedang melakukan perhitungan, Kala segera menimpali, “Aku akan mendapatkan seribu kepeng emas. Bagaimana?”
“Itu pilihan yang bagus! Tapi, bagaimana jika seribu kepeng perak saja?” Pria itu tersenyum lebar dan secara perlahan mengeluarkan nafsu membunuh.
“Ah, itu tidak masalah. Bagaimana jika sepuluh kepeng perak saja?” Kala ikut tersenyum lebar dan mengeluarkan nafsu membunuhnya.
Pria itu terkekeh pelan lalu tertawa keras. “Kau tidak pandai berpura-pura. Aku tahu niatmu tulus membantu warga desa dan juga kau tidak akan membiarkan mereka kesulitan seperti ini. Dan sepertinya, kau sudah mengetahui tentang gadis itu jika dilihat dari reaksimu.”
__ADS_1
“Kau tepat. Namun, aku juga mengetahui niatmu yang tidak akan membiarkan aku hidup setelah aku melihat semuanya di sini.” Kala menyilangkan tangannya ke belakang dan tersenyum lembut. “Kau tak pandai berpura-pura.”
“Anak sapi yang baru lahir tidak akan takut pada harimau, pepatah ini cocok untukmu. Apa kau tidak melihat ukuran prana milikku?” melihat ekspresi Kala yang tenang, pria ini seperti tersinggung.
“Dan anak harimau yang baru lahir tidak mengenal takut pada sapi yang bisa menginjaknya sampai mati. Pepatah ini cocok untukmu.” Kala justru membalikkan kata-kata pria ini dengan senyum ramah.
Pria itu mengepalkan tinjunya. Ia adalah kapten! Ia biasa dihormati dan tidak ada orang rendah seperti Kala yang berani membalikkan kata-katanya! Ini sebuah pelecehan!
“Jadi, kau benar-benar tidak sayang dengan nyawamu?”
“Aku yang seharusnya bertanya begitu.” Kala tertawa pelan. Ia sudah pernah mengalahkan pranor Alam Formasi Spirit sebelumnya. Namun, kali ini sepertinya ia akan kalah jumlah dan itu artinya malam ini akan menjadi bahan latihan keras bagi Kala.
“Kampret! Serang dia!”
Kuping Kala menangkap desiran angin. Arahnya desiran itu ada di mana-mana, yang artinya ia sedang diserang di berbagai arah. Kala menghela napas panjang sebelum mengeluarkan senjata pamungkas.
Keris Garuda Puspa, ini waktunya menunjukkan harga dirimu!
Keris itu dikeluarkan dari cincin interspatial. Kala mengalirkan prana yang besar sebab keris ini akan menjadi senjata biasa jika tidak dialiri prana. Kala yakin, dengan tingkat prana miliknya yang saat ini cukup untuk membuat senjata terkuat di pulau jawa aktif. Namun, dugaan Kala salah besar! Keris ini bagikan ribuan lintang yang terus menghisap Kala tanpa batas.
Prana milik Kala hampir habis. Keringat Kala mengucur deras. Namun, yang sedikit menghibur dirinya adalah saat keris ini mengeluarkan reaksi. Mata pedangnya mulai bercahaya keemasan, menerangi malam yang gelap laksana matahari.
Kala menggigit bibirnya sebelum mengalirkan lebih banyak lagi prana pada keris itu. Tangannya sedikit bergetar saat tulangnya seperti ingin remuk, ini disebabkan oleh banyaknya prana yang mengalir sedangkan kualitas tulang Kala tidak terlalu bagus.
“Ayo!!!” Kala memekik keras sampai keris itu mengeluarkan suara jeritan elang!
Setelah jeritan elang itu, Kala merasa tubuhnya tersedot oleh cahaya sampai ia mendapati dirinya berada di ruangan kecil yang semau permukaannya berwarna emas. Kala melihat sekiranya enam guci gerabah.
Dari enam guci tersebut, hanya ada satu guci yang terisi oleh air, secara penuh. Air itu berwarna biru seperti warna prana jika dilihat dengan teliti.
“Ha! Jika air ini diibaratkan prana, maka prana ini hanya mengisi satu guci saja sedangkan lima guci lainnya belum terisi.” Kala dengan cepat mengambil dugaan. “Itu artinya, kekuatan keris ini hanya terbuka satu tingkat saja. Aku yakin ruangan ini adalah ruangan Keris Garuda Puspa! Guru benar-benar hebat!”
Setelah beberapa saat, tubuh Kala kembali tersedot sampai ia kembali ke situasi di mana ia sedang diserbu berbagai arah. Bedanya, Kala merasa tubuhnya menjadi ringan dan keris ini seperti mudah dipakai. Sayangnya, prana milik Kala benar-benar hampir habis.
Kala dengan cepat mengaktifkan Mata Garuda. Penglihatannya bisa menangkap gerakan lima orang yang menyerbunya, ia bisa melihatnya dengan tayangan yang lambat.
Tubuhnya benar-benar ringan sekarang bagaikan kapas. Ia hanya berusaha bergerak kecil dan itu menangkis serangan yang datang dari lima penjuru. Keris Garuda Puspa berbenturan dengan pedang-pedang dari lima pranor.
Trang!
Lima pedang itu patah semua. Pemilik pedang dengan cepat bergerak mundur setelah menyadari bahwa Kala adalah makhluk yang berbahaya. Hanya dua orang yang berhasil mundur, sisanya meregang nyawa oleh Keris Garuda Puspa.
Kala menutup matanya sejenak. Pada akhirnya, ia harus membunuh manusia lagi. Namun, kini ia berhasil membuka mata dan menatap musuhnya dengan nafsu membunuh.
Sedangkan dua orang yang menyerangnya tadi menatap Kala bagai menatap monster. Rahang pemimpin kelompok merosot. Para anggota lain dari Kastel Kristal Es kini bersiaga penuh.
“Aku tidak menduga bahwa kau memiliki kekuatan yang mengerikan. Aku akui, aku sedikit meremehkan dirimu. Sekarang, aku tidak akan main-main lagi. Dan matamu, sepertinya aku pernah mendengarnya ....” Si pemimpin memberi isyarat pada semua bawahannya untuk menyerang Kala serentak.
Di sisi lain, mata batin Kala menangkap guci air yang sebelumnya penuh kini mulai berkurang. Ini artinya, Kala tidak punya waktu banyak sebelum guci itu kehabisan prana dan keris ini tidak beroperasi. Saat ini, dirinya masih belum memiliki kemampuan untuk mengisi ulang guci tersebut.
“Mari selesaikan ini dengan cepat,” gumam Kala lalu menatap pemimpin itu lekat-lekat. “Kau yang mati duluan.”
Pemimpin itu lekas-lekas mengeluarkan pedangnya untuk menangkis keris Kala yang menebasnya dari atas ke bawah. Orang itu terpental cukup jauh dengan pedang yang patah dengan banyak retakan.
Kala tidak membiarkannya mengambil helaan napas satu hirup pun. Ia menyerang pemimpin itu dan membunuh anak buah yang menghalangi langkahnya. Keris itu akhirnya dialiri darah setelah beberapa lama.
Stamina fisik Kala mulai melemah. Dirinya mulai sulit mengambil napas, seperti ingin istirahat sejenak tapi guci itu semakin mengosong. Kala memaksa dirinya berada di perbatasan, mempertahankan kesadaran agar tidak pingsan di sini.
Para warga desa berteriak histeris dan berlari meninggalkan lokasi pertarungan. Sejak tadi, warga desa memang ingin pergi, tapi ditahan oleh anggota Kastel Kristal Es. Sekarang, mereka bisa dengan bebas pergi saat semua yang menahan sibuk dengan Kala.
Kala jadi bisa bergerak dengan leluasa ketika semua warga desa sudah bubar. Kini, lebih dari setengah kelompok sudah tergeletak tak bernyawa. Namun, guci Kala juga semakin kehilangan air.
“Jauhi dia! Dia berbahaya!”
__ADS_1