
“Tetap berlari,” katanya, “jangan berhenti, apa pun yang terjadi.”
Kala memincingkan matanya. Ia berpikir bahwa si pensiunan ini begitu misterius, dan punya banyak trauma masa lalu seperti pensiunan pada umumnya, itu wajar. Tapi, jika trauma itu membahayakan keselamatan warga, Kala tidak bisa membiarkannya.
“Kuharap kau tidak mementingkan traumamu, setidaknya untuk sekarang.”
“Apa maksudmu?” Katanya seolah pura-pura tidak tahu, tapi Kala menatap matanya dengan tajam. “Bukan, ini bukan masa lalu. Tapi ini berdasarkan pengalaman. Tentara adalah boneka pembunuh tanpa belas kasih.”
“Tapi kau adalah tentara!”
“Aku adalah pensiunan! Itu sebabnya aku pensiun lebih awal. Oh, Tuhan! Bahkan sahabatku tidak mengetahui alasanku ini, apa sekarang kau puas?” bentaknya. “Ya, kau benar. Aku adalah tentara. Aku membantai seisi desa saat perang dulu. Dan aku seperti kehilangan akal. Yang pasti, hewan lebih memiliki belas kasih dari pada tentara!”
“Aku harap kau benar soal ini. Lebih baik kita cepat pergi dari sini sebelum mereka datang membantai mereka.”
Kala bersorak menyuruh warga mempercepat langkah kakinya, menjadi berlari kencang. Kaia ikut membantu sedangkan si pensiunan muda itu maju paling depan membabat semak-semak.
Perjalanan mereka jauh lebih lambat ketimbang berlari di jalanan. Ini dikarenakan mereka harus melompati semak-semak, lubang kecil, dan batu-batu.
Berlari dengan beberapa kali warga yang tersandung akar setelah beberapa lamanya, mereka akhirnya menemui sungai yang cukup lebar. Ada perahu panjang tua yang tertambat di tepi sungai, tidak tahu siapa yang ke sini menggunakan perahu.
“Oh, persetan. Apa lagi sekarang?” umpat si pensiunan.
__ADS_1
“Kita harus menyeberangi sungai dengan perahu itu. Jika kita mengarungi sungai untuk mencari jembatan, itu sama saja bunuh diri.” Kala menunjuk tepi sungai lain di seberang sana. “Lalu kita tenggelamkan perahu itu agar pasukan dari Geowedari tidak bisa menyeberang.”
“Mana sempat, mereka akan datang sebelum semua warga diseberangi.” Tolak Kaia dengan wajah cemas.
Kala menghela napas panjang; si pensiunan itu tampak tidak peduli dan memilih melepaskan tambatan perahu. Kaia tidak mengerti dan terus meminta jawaban, tapi Kala menatapnya dengan tajam seolah berkata “Jangan membuat kepanikan” atau “Jangan sampai mereka menyadari risiko ini”.
Memang cara ini dapat menyelamatkan sebagian atau semua warga sebab pasukan dari Geowedari tidak punya cara untuk mengejar mereka ke seberang sungai, tidak masuk akal jika mereka membawa perahu.
Perahu bisa memuat hingga lima orang. Sedangkan warga desa berjumlah kisaran 50 orang. Wanita dan anak-anak didahulukan, mereka seakan enggan berpisah dengan suaminya.
Kaia bertugas untuk mendayung perahu sedangkan Kala dan pensiunan berjaga di sisi awal untuk memberikan perlindungan.
Sebenarnya para pria dewasa mengetahui bahwa yang berangkat belakangan lebih besar risikonya, tentu saja mereka tidak bodoh. Namun, mereka juga senang karena keselamatan keluarganya terjamin setelah sampai di seberang sana. Walau tidak terlalu aman jika pun sudah menyeberang, tapi itu jauh lebih aman jika masih di sini. Sehingga para suami dengan suka cita melepas kepergian anggota keluarganya.
“Eak! Eak!” Alang berteriak panik dari atas.
Sebuah tangkai anak panah melesat dari langit, menembus tanah tepat di sebelah salah satu pria, beruntungnya menembus tanah. Tapi tidak untuk selanjutnya. Panah-panah lain seakan bagai hujan deras dari langit, memborbardir tubuh-tubuh suami-suami sekaligus ayah-ayah. Tubuh mereka tertembus panah, tidak hanya satu, tapi banyak. Teriakannya mengisi hutan sebelum berhenti saat nyawa sudah melayang atau panah menembus tenggorokan mereka.
Kaia segera mendayung perahunya menuju
Teriakan dari tepi sungai di seberang menggelegar penuh kesedihan saat melihat suami dan ayah mereka sendiri dihunjam ratusan panah. Atau bahkan yang lebih mengerikan lagi, mendengar suara teriakannya saat tubuhnya tertembus panah. Itu sangat menyakitkan.
__ADS_1
Kala dan si pensiunan berteriak marah sambil terbang mondar-mandir untuk menangkis panah yang menghunjam. Bahkan Kala tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang tak tertutup mulai terkikis panah.
Usaha mereka sia-sia, tidak ada yang selamat dari terjangan panah itu kecuali beberapa orang yang tengah sekarat. Serangan panah berhenti dan sepertinya hanya satu gelombang saja.
“Pak Tua, kau obati yang terluka. Aku akan mencincang Anjing-anjing Iblis itu menjadi seribu bagian!” Kala menghunus keris sepanjang pedang dan lebih berat dari pedang itu dengan satu tangan saja.
Kala berlari ke depan dan Alang melontarkan bola-bola api dari atas. Dapat dilihat di depan oleh Kala, sejumlah prajurit dengan perisai dan pedang mata satu melengkung. Mereka bersorak keras saat melihat Kala seorang diri maju, tujuan mereka langsung teralih pada Kala.
“Mati kalian semua, Bajingan!” Kala menebas kerisnya pada lawan pertamanya, tubuh malang itu langsung terbelah menjadi dua. Selanjutnya juga begitu, dan selanjutnya.
Kali ini Kala pantang mundur walau musuhnya semakin banyak dan menekannya seperti tadi. Bagai orang gila yang kesurupan, Kala mencincang mereka tanpa ampun dan tanpa peduli dengan tubuhnya yang juga sudah mulai dipenuhi luka.
Sifat dari baju hitam pemberian Cassandra sudah diketahui Kala. Baju ini akan tertembus satu kali setelah begitu banyak menahan banyak serangan, tapi baju yang robek akibat tebasan akan kembali menjahit sendiri lagi. Itulah sebabnya tubuh Kala sudah benar-benar bobrok sejadi-jadinya, luka di mana-mana.
“Kalian membunuh tanpa ampun. Aku juga begitu. Ingat saja!” teriak Kala sebelum menebas dengan marah.
Selanjutnya Kala semakin tidak terarah. Bahkan orang gila akan menyebutnya sebagai orang gila paling gila. Dia bahkan menebas pohon yang tidak bersalah sebab serangannya begitu sembarang.
“Jika kau marah saat bertarung, maka kekalahan yang harus kau telan.”
Kala kembali teringat ucapan gurunya, segera saja Kala mengatur pernapasan untuk menenangkan diri.
__ADS_1
“Percuma jika kau mau menenangkan diri di petarungan jika sebelumnya kau sudah emosi.”
“Persetan dengan marah, mati kalian!” Kala malah semakin meningkatkan emosi ketika mengetahui percuma saja mengontrol diri.