Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Mengunjungi Kedai Makan


__ADS_3

Pasukan tidak gentar, mereka bahkan menghunus pedang dan siap menyerbu Kala.


“Jika kalian tidak mau dengan cara halus, maka aku tidak keberatan bicara dengan tangan.”


Kala melompat ke arah pasukan yang di depannya. Mereka semua dalam kondisi siap, seharusnya tindakan Kala gila karena ia menyerang pasukan infanteri yang dalam posisi siap. Namun, sebuah kenyataan adalah pasukan mereka yang hancur.


Kala menyerang hanya dengan serangan tapak, tapi mendarat tepat di setiap dada prajurit. Mereka terlempar dan tidak bisa melawan hanya dalam satu serangan! Kala bisa mengatasi semua ini dengan cepat dan tepat, tidak ada luka yang tergores sedikit pun di tubuhnya dan juga tidak ada korban jiwa.


Ia hanya perlu melumpuhkan, tidak perlu untuk membunuh. Jika saja ia membunuh prajurit penjaga kota, itu sama saja menyatakan perang pada Pandataran.


Setengah dari mereka sudah tak sanggup bertarung, apa lagi pedang mereka bengkok dan tombak patah. Cukup setengah saja, itu sudah membuat komandan menarik mundur semua pasukan.


Aditya menghampiri Kala diikuti oleh tatapan kagum dari semua pranor di Penginapan Progo. Aditya membungkuk beberapa kali pada Kala dan menganggapnya sebagai malaikat.


“Tidak perlu seperti itu, masalah ini juga tercipta dikarenakan aku.” Kala menggaruk kepalanya lalu masuk ke dalam penginapan.


Tempat yang Kala dan Alang tuju bukan kamar Kaia atau kamarnya, ia langsung menuju dapur. Mengambil tungku dan kuali besar. Juru masak di dapur hanya bisa melongo tanpa menghentikan Kala.


Kala memasukkan semua itu ke cincinnya lalu kembali ke kamarnya di atas.


Ruangan di kamarnya cukup besar dan juga ada sebidang ruang dengan atap yang bisa dibuka.


Atap ruangan itu Kala buka dan ia menaruh tungku di tengah ruangan. Tungku tersebut diisi kayu bakar kering yang sudah Kala bawa dari hutan. Alang menyemburkan api panas sedangkan Kala meletakkan kuali berisi air di atasnya.


Kala memasukkan beberapa bahan, sama seperti resep saat ia memasak tulang di desa: beberapa batu energi, Jahe Spirit, dan beberapa tanaman spirit lainnya. Tahap terakhir adalah saat Kala memasukkan tulang-tulang hewan spirit ke dalam kuali.


Air yang mendidih merebus tulang-tulang itu habis-habisan. Jika Kala berendam di dalamnya, maka ia akan jadi puntung rokok.


“Ah, sebentar lagi aku akan menghirup rokok.” Kala mengelap liurnya.


“Eaak!”


“Sudah aku bilang sebelumnya, rokok ini sehat!”


Alang memutar bola matanya, ia sangat tidak setuju jika Kala ketagihan merokok, itu akan berbahaya jika rokok yang sehat tidak tersedia.


“Sudahlah, dari pada kita berdebat, lebih baik jajan untukmu? Aku memiliki beberapa uang dari hasil jarahan kemarin.”


Seketika Alang tampak ceria.


***


“Maaf, Tuan. Tidak boleh membawa binatang.”


“Ayolah ....” Kala memelas pada pelayan di depannya. “Aku sudah bosan dengan tatapan warga kepadaku.”

__ADS_1


Pelayan perempuan itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebuah aturan yang ditetapkan pihak kedai sudah jelas: tidak boleh membawa hewan peliharaan ke dalam kedai.


“Dia hanya burung kecil ... ya, walau tidak terlalu kecil.” Kala membuat penawaran.


“Maaf, Tuan. Tetap tidak boleh.”


Kala terlihat berpikir sejenak. “Baiklah, bungkus saja makanannya. Aku akan makan di tempat lain, sekarang bawakan aku menu hidangan.”


Pelayan itu akhirnya masuk ke dalam kedai dengan kepala yang masih digaruk-garuk. Tak berapa lama kemudian, ia membawa papan daftar menu dan menyerahkannya pada Kala.


Di sini tidak terlalu banyak menu. Kala sudah memeriksa uangnya tadi, semua menu di sini terlalu murah. Satu menu yang membuatnya tampak menonjol di antara menu lain, sebuah menu yang tidak pernah Kala lupakan.


“Kalian juga menjual bubur tanah?!” Kala membeliakkan matanya.


“I-ya?” Pelayan itu berkata seakan Kala yang aneh.


Kala menegak ludahnya sebelum mengumpat keras dalam hati.


Persetan dengan rasanya, aku rindu guru.


Kala berharap, dengan makan bubur tanah akan memutar kembali memorinya bersama guru Akhza. Kala memesan beberapa menu lainnya untuk Alang makan, semua menu itu merupakan daging.


“Maaf, Tuan. Tanpa bermaksud merendahkan, tapi semua yang Tuan pesan totalnya 155 batu energi.”


Kala melirik pelayan itu lalu melemparkannya sekantung batu energi. “Apa ada yang salah dengan pakaianku? Di dalamnya ada 55 batu energi, selebihnya aku bayar setelah hidangan di depan mata.”


“Sudahlah, kalimat itu sering aku dengar. Bawakan saja hidangannya dengan cepat.”


“Baiklah, baiklah.”


Pelayan itu masuk ke dalam. Kala duduk di emperan toko sambil berbincang hangat dengan Alang, orang lain melihat Kala dengan aneh seakan Kala adalah orang gila paling sedeng se-Nusantara.


“Eak?”


“Ya, aku yakin. Bubur tanah pasti akan mengingat guru.” Kala menghela napas dingin.


Alang memilih diam. Jika ia melanjutkan, maka Kala akan jatuh ke jurang gelap kesedihan.


“Aku benar-benar merindukan guru.”


“Kya?”


“Ya, aku juga rindu Kak Mahes.” Kala tertawa pelan. “Kira-kira ia sedang di mana sekarang?”


***

__ADS_1


Maheswari duduk di belakang meja bundar. Seluruh meja ini diisi oleh tokoh-tokoh silat penting dan juga juga tamu kehormatan, Raja Geowedari.


Sebenarnya Maheswari benar-benar tidak mau duduk di sini, ikut dalam rapat se-Geowedari membahas konflik di perbatasan. Namun, sekelompok orang berhasil membawa Maheswari ke sini atas nama Geowedari.


Prabu Daku angkat bicara. “Aku harap tokoh-tokoh persilatan di semua Geowedari bisa ikut menyelesaikan masalah ini. Dan juga diharapkan semua perguruan silat ikut ambil andil. Jika tambang batu itu kita lepas, maka krisis ekonomi bukanlah sesuatu yang mustahil.”


“Kami tentu akan membantu, tapi usaha kami tidak akan dibayar murah, bukan?” Seorang pria sepuh membalas.


“Jaga ucapanmu di depan Prabu!” Salah satu pengawal di belakang Prabu Daku berteriak sambil mengacungkan senjata.


Prabu Daku memberi tanda agar pengawalnya untuk tenang. “Tentu usaha kalian akan dibayar pantas.”


“Yang Mulia, hamba berharap bisa lepas dari konflik ini.” Maheswari angkat bicara dengan tenang.


“Bukankah ini tanahmu, Geowedari?”


“Jawa adalah tanahku, bukan hanya Geowedari. Maaf, Yang Mulia.” Maheswari menggelengkan kepala lalu beranjak dari kursinya.


“Aku mendengar bahwa kau mencari seorang pria bernama Kala.” Raja itu menghentikan Maheswari. “Jika perang ini terjadi, ada kemungkinan kau akan menemukannya.”


Maheswari mengernyitkan dahinya. Kala adalah Kesatria Garuda. Jika perang pecah, Kala pasti ikut campur di medan lapangan mengingat karakternya.


Mau tidak mau, suka tidak suka, Maheswari mengandalkan keberuntungan dan menerima tawaran perang. Ia sangat berharap kali ini, Kala akan berada di medan perang walau sebenarnya itu berbahaya.


***


Pelayan yang sama mengantarkan makanan bungkus ke depan lalu memberinya pada Kala. Totalnya lima bungkus makanan dan Kala langsung memasukkan semuanya ke dalam cincin. Pelayan itu sangat terkejut melihat makanannya hilang tanpa jejak, ia merasa telah menyinggung orang yang salah, tapi Kala tidak terlalu peduli reaksi pelayan itu.


Kala dan Alang pergi ke tempat yang lumayan sepi, di bawah pohon rindang pada tengah ladang rumput. Tatapan warga kota saat melihatnya penuh dengan kebencian sekaligus rasa takut, itu membuat Kala memilih untuk menjauh. Ia juga tidak bisa menyalahkan warga yang belum percaya padanya.


Kala mengeluarkan lima bungkus makanan itu. Lima makanan ini berbeda menu, kebanyakan menu daging untuk Alang. Makanan ini berada dalam kotak anyaman bambu tipis, di bawah alas daun pisang.


Alang cukup bingung dengan apa yang ia lihat, empat makanan untuknya sedangkan Kala hanya mengambil satu—bubur tanah!


“Eak?”


“Mungkin menu yang aku makan cukup membuatmu mengira aku gila.” Kala menarik napas dalam-dalam. “Tapi, ini adalah Bubur Sejuta Kenangan.”


“Kyak ....”


Kala menggelengkan kepalanya pelan lalu mengumpulkan keberanian untuk menyuap bubur.


Jika aku memakannya, maka aku akan larut dalam kesedihan. Itu tidak terlalu baik. Namun, mengapa aku merasa sangat ingin menyuap bubur ini? Ah, tidak apa jika hanya satu sendok.


Kala menyuap bubur coklat itu. Namun, bukan reaksi menyiksa yang ia terima. Bahunya mengendur dan tubuhnya melemah. Air mata ingin keluar, tapi kejiwaan Kala menahannya.

__ADS_1


“Rasa yang tidak pernah berubah.”


Tanpa sadar, Kala terus menyuap sampai bubur itu habis.


__ADS_2