Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Berkunjung ke Perguruan Padepokan Emas


__ADS_3

Kaia menggeleng, tentu itu adalah kejadian buruk. Enam orang kegelapan saja sulit diatasi, apa lagi beserta pasukan mereka yang lebih banyak?


Mereka menyiapkan obor sebelum mulai berjalan di kegelapan hutan.


Kala tersenyum sebelum menggerakkan kaki mengikuti empat pranor dari Golok Emas. Kaia mengikuti tepat di belakang Kala, Alang terbang ke atas langit untuk memberikan peringatan pertama jika musuh menyerang.


***


Saat matahari menyingsing membelah ranting dan berusaha menembus tanah basah, rombongan Kala sudah menemukan jalan setapak dan tugu dari Perguruan Golok Emas. Itu menandakan bahwa Golok Emas sudah dekat.


Mereka sering berjumpa dengan beberapa murid yang sedang ronda, mereka begitu takjub dan hormat pada Kala.


Bangunan dari Perguruan Golok Emas sudah mulai terlihat. Yang pertama terlihat adalah gapura. Walau terlihat hanya seperti gapura biasa yang sedikit lebih tinggi, tapi gapura yang satu ini memancarkan kekuatan misterius. Sebuah kekuatan yang menggertak. Dan sebuah aura yang setia. Kala tidak tahu apa artinya itu, dan ia berusaha tidak peduli, mungkin nanti ia bisa bertanya-tanya dengan Patriark di sini, itu saja jika si Patriark adalah orang yang ramah.


Setelah melewati gapura dan beberapa bangunan kecil di sekitaran pintu masuk, Kala menemukan kemegahan dari Perguruan Golok Emas.


Bangunan-bangunan di sini bisa disebut sebagai bangunan tinggi, Kala menebak tingginya sekitar tiga sampai delapan lantai. Bentuknya juga luar biasa, walau terlihat cukup sederhana, yang pasti semua bangunan di sini efisien.


Terlihat banyak murid-murid berpakaian merah dan kuning berseliweran sambil bercakap-cakap dengan kawannya. Ada juga yang sedang berlatih gerakan dasar atau sedang bermeditasi.


Namun, kemegahan dari bangunan-bangunan tidak bisa Kala nikmati terlalu lama, banyak yang bersorak gembira ke arah Kala dan hampir semua murid muda di sini ingin menyalaminya. Kala menjadi gugup, untungnya empat pranor yang membawanya ke sini segera membubarkan kerumunan. Kala dan rombongan segera dibawa ke sebuah bangunan yang terlihat lebih istimewa dari bangunan yang lain.


Kala merasa beberapa pasang mata dari pranor tingkat tinggi mengawasinya setelah memasuki kawasan bangunan istimewa tersebut. Beberapa pranor juga terlihat berjaga di bangunan itu. Bisa Kala tebak bahwa ini adalah kediaman Patriark.


Empat pranor itu membuka dua pintu besar lalu menuntun rombongan masuk. Alang turun dari langit ke pundak Kala, ikut masuk ke dalam.


Suasana ruangan langsung berubah setelah Kala masuk. Telinganya menangkap alunan musik dan nyanyian yang sangat indah, walau hanya terdengar sayup di antara gaung ruangan yang besar.


Empat orang itu membawa mereka melewati lorong-lorong yang penuh dengan lukisan dan aksara-aksara. Menceritakan kisah tentang kepahlawanan Garuda dan masa kekacauan di Nusantara.


Mereka tiba di aula besar dengan nuansa kuning emas yang menenangkan. Di tengah aula tersebut terdapat kolam kecil yang berisi air jernih menyegarkan.


“Dheweke teko nalukake Prabu-prabu ing Bumi Nusontoro. Kerusakan ditundha. Jowo sing perkoso, Andalas sing sugih, Borneo sing tentrem, Sulawesi sing landhep, Jayapura sing gedhe akhlak’e.”


Terdengar lantunan suara indah pria tua diiringi gamelan dan beberapa irama lain. Ruangan ini jadi sangat meneduhkan.


“Nusontoro ra tentrem selawase. Kerusak wis cedhak, Nang. Sopo sing bakal selamat’e bocah-bocah lan puteri-peteri kito?”


Lantunan itu terhenti berikut dengan langkah Kala yang berhenti selangkah sebelum memasuki aula tenang itu. Ia kembali mengingat tugasnya sebagai pencipta kedamaian. Lagu itu mengingatkannya lagi, ia harus menyelamatkan keturunan Nusantara selanjutnya dari tangan-tangan kegelapan.


“Ada apa, Kala?” Kaia hampir menabrak Kala saat pemuda itu berhenti mendadak.


“Tidak ada.” Kala menghela napas, tersenyum, lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam aula besar itu.


“Satrio Garuda sing perkoso!” Suara pria tua yang jernih menyambut. “Ah, maafkan pria tua ini yang menyambut dengan bahasa Jawa Tengah. Aku dengar kau adalah orang Geowedari. Kalau begitu, izinkan aku mengucapkan selamat datang.”


“Terima Kasih, Andika. Jika aku boleh tahu, siapa Andika? Dan mengapa ... Andika tahu soal Kesatria Garuda?”


“Ah, aku adalah Dewananda, Patriark Perguruan Golok Emas,” katanya. “Kesatria Garuda adalah penyelamat kami, bagaimana aku tidak mengenalmu. Yah, walau bagaimana cara aku mengetahuimu sebagai Kesatria Garuda cukup rumit. Mari kita lupakan itu. Aku sudah tahu kendala yang kau alami sekarang, aku bisa membantumu, tapi dengan syarat ....”


Mata kala memincing. “Syarat?”


“Ya, syarat. Agaknya syarat ini sedikit sulit.”


“Katakan saja, Patriark Dewananda.”


“Selamatkanlah Nusantara. Aku mohon. Kegelapan mencengkeram Nusantara. Kami tidak bisa berbuat apa-apa selain mengharapkanmu.” Patriark itu menunduk sangat rendah di hadapan Kala, suaranya mengandung kesedihan dan keputusasaan.


Mengingat posisi orang di depannya adalah pimpinan tertinggi dari perguruan besar, Kala membantu Dewananda kembali menegakkan tubuhnya.


“Sudah pasti, Patriark. Ini tugasku.”

__ADS_1


“Ya, aku tahu itu.” Patriark itu memegang pundak Kala. “Tapi tugas itu terlalu berat, Kesatria Garuda yang Agung! Kami akan berusaha sepenuhnya untuk membantumu! Kami akan mengiringi langkahmu, melindungi dari bahaya kegelapan. Tenang saja, itu pasti!”


“Terima kasih, Patriark. Aku sangat menghargai itu.” Kala menunduk hormat. “Biarkan aku bertanya, Patriark Dewananda.”


Patriark itu mengangguk pelan mempersilakan Kala bertanya.


“Untuk apa Patriark menjemputku untuk ke sini?”


“Tentu saja untuk melindungimu dari kegelapan yang mengintai.”


“Aku sangat menghargai perlindungan ini, tapi ini bukan waktunya bagiku untuk bersantai.”


“Tidak, tentu tidak. Kau tidak akan bersantai di sini. Maaf, tapi aku harus mengatakan bahwa kekuatanmu masih lemah dengan teknik-teknik yang masih belum terasah. Aku sangat yakin, kau menginginkan latihan tapi terus berada dalam kejaran dan tugas-tugas yang membebani.”


Apa yang dikatakan Dewananda banyak benarnya. Setiap Kala ingin mengambil waktu untuk latihan, masalah terus menghampirinya. Belum lagi ia harus melatih Kaia dan Alang sebelum dirinya bisa berlatih.


“Kami punya tempat aman di sini. Tenang saja, kegelapan tidak akan menyerang dalam beberapa bulan ke depan. Setidaknya itu yang aku tahu, sebab kekuatan kegelapan yang besar belum sampai di Nusantara,” kata Dewananda, “dan temanmu serta burungmu bisa berlatih di sini di bawah bimbinganku langsung.”


Kala berpikir sejenak. Ia bisa mengambil banyak waktu berlatih dengan aman di sini, belum lagi Kaia akan dilatih juga.


“Tidak perlu sekarang, kau bisa mengambil keputusan sampai esok hari. Kita akan bertemu lagi di ruang makan saat waktu malam tiba.” Dewananda berseru. “Aku sudah menyiapkan kamar bagus untuk kalian, dan kandang bagus tentunya. Ada di dalam bangunan besar yang tak jauh dari sini.”


“Kami siap mengantar, Kesatria Garuda!” Empat pranor tadi berseru menunggu perintah dari Kala.


“Terima kasih, Patriark. Biarkan aku mengambil keputusan sampai esok hari. Kalau begitu, kami minta diri.”


Empat pranor tadi membawa mereka keluar dari aula, melewati lorong-lorong yang penuh dengan kisah hingga keluar dari bangunan.


Sesuatu yang cukup buruk terjadi di luar bangunan. Kerumunan murid-murid muda bersorak saat Kala keluar dari pintu. Mereka sangat banyak, saling berdesak-desakkan untuk merebut jabat tangan sang Kesatria Garuda.


Beberapa pranor berusaha menahan mereka, tapi jumlahnya sedikit dan tentu saja tidak sebanding dengan jumlah murid yang haus jabatan tangan.


Kala dan rombongan benar-benar tidak bisa menembus kerumunan itu. Mereka bahkan terdorong sampai-sampai salah satu dari empat pranor membuka pintu masuk kembali.


Pranor-pranor yang bertugas menjaga pintu masuk bangunan Patriark kini bergetar hebat.


“Telu!”


“Apa kita harus tinggalkan bangunan ini juga?!” ujar salah satu penjaga bangunan kepada temannya, dengan tangan bergetar hebat juga kaki lemas.


“Aku tidak tahu!”


“Loro!”


“Ini gawat!”


“Siji!”


Mereka meneguk ludah, berharap bahwa mereka tidak harus meninggalkan bangunan juga.


“Ah, maaf. Aku salah bicara tadi. Penjaga bangunan dan orang yang berkepentingan tidak termasuk dalam hukuman.” Suara menggelegar kembali menyahut, mereka bisa bernapas lega.


Empat pranor itu membawa Kala ke jalan setelah dipastikan tidak ada kerumunan lagi.


Kala tertawa pelan melihat tingkah para penjaga itu. “Lelucon di sela hari yang gelap, ya?”


***


Kala menyalakan pipa rokok tulang lalu menghirupnya dalam-dalam. Ini adalah sisa-sisa rokok terakhirnya, harus membuat rokok lagi. Kala menghadap pada jendela, di mana tersaji pemandangan bukit-bukit gunung besar yang sebelumnya ia lewati.


Bangku yang empuk, pemandangan yang luar biasa, udara yang segar, dan kamar yang tenang seakan tidak berpengaruh pada Kala. Ia tidak nampak menikmati semua ini. Pikirannya terputus dari kamar ini.

__ADS_1


Ia masih mempertimbangkan keputusannya nanti. Ia tidak yakin sesi latihannya akan memakan waktu singkat, paling lama sekitar dua bulan. Jika kegelapan sudah datang dan ia telat mengatasinya, itu akan buruk.


Tapi di sisi lain, Dewananda mengatakan bahwa kegelapan belum tiba di Nusantara, dan masih lama sebelum sampai di Nusantara.


Namun, ia membutuhkan kekuatan untuk menyelamatkan Nusantara. Dengan kata lain, ia harus latihan.


Latihan tidak terlalu buruk, aku bisa mengatasi kegelapan setelah kekuatanku meningkat. Mereka itu sangat mengerikan, sedangkan aku sangat lemah sebagai Kesatria Garuda.


Jari Kala terkena bara dari rokok yang ia hirup. Tidak disadarinya bahwa waktu berlalu sangat cepat hingga bara rokok sampai pada jarinya.


“Baiklah. Aku akan latihan. Tapi setelah aku bertanya pada Patriark. Untuk apa dan apa keuntungannya membantuku?” Kala sangat yakin, tidak banyak orang-orang yang benar-benar baik dan tulus.


***


Empat pranor yang kemarin kembali membawa Kala, Kaia, Alang masuk ke dalam bangunan. Mereka masih dalam memakai topeng yang sama, tapi pakaian mereka lebih rapi dan sopan.


Hari sudah malam, sesuai dengan janji makan malam mereka.


Kala dibawa ke lorong yang berbeda, dengan aksara-aksara yang bercerita tentang keagungan raja-raja. Sampai pada akhirnya mereka memasuki aula yang berbeda, kali ini dengan meja panjang dan bangku-bangku.


Mereka dipersilakan duduk. Empat pranor tadi berjaga di setiap sudut ruangan. Suasana canggung, sebab tidak ada siapa pun di sini kecuali empat pranor itu.


Tetiba pintu terbuka. Patriark Dewananda berjalan dengan terburu-buru memasuki ruangan.


“Waduh, aku lupa tentang makan malam.” Ia berjalan terburu-buru lalu duduk di kursi ujung meja. “Nah, hidangan akan datang sebentar lagi. Itu dia!”


Beberapa murid muda membawa hidangan yang tertutup tudung makanan. Beberapa teko minuman dan nasi yang banyak. Semua diletakkan di atas meja, tersusun rapi. Setelah itu, murid-murid muda menatap Kala dengan takjub sebelum keluar dari ruang makan.


“Empat telik sandi kebanggaanku. Mari duduk makan bersama kami, kalian sudah bekerja keras dengan baik, tidak pantas berjaga di setiap sudut ruangan.” Empat pranor itu mengangguk pelan sebelum duduk di bangku. “Sekarang, mari kita makan!”


Mereka membuka topengnya sekarang. Terlihat wajah-wajah yang lazim di Pandataran, tapi ada beberapa luka perang.


Kala mengambil hidangan secukupnya, tujuannya ke sini bukan untuk makan kenyang. Tapi ia butuh saat yang tepat sebelum menyampaikan keputusannya.


“Kesatria Garuda, bagaimana keputusanmu?” tanya Patriark Dewananda di sela makan.


“Patriark Dewananda, sang Patriark Bijaksana dari Golok Emas, ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan sebelum mengambil keputusan.” Kala berdiri dari kursinya.


“Tidak perlu menyanjungku seperti itu.” Si patriark terkekeh sebelum ikut berdiri. “Silakan bertanya.”


“Mengapa Patriark ingin membantuku?”


“Semata hanya ingin berbuat baik,” balasnya.


Kala menghela napas panjang. Ada sedikit kebohongan di matanya, jari telunjuknya yang bergetar pelan, pandangannya tidak menatap mata Kala. Dan dia terlihat gugup, seakan tidak pandai berbohong.


“Apa Patriark yakin?”


“Ya! Tentu saja!” Patriark berniat kembali duduk, tapi Kala menahannya.


“Aku bisa melihat kebohongan, Patriark.” Kala sedikit menatap tajam langsung ke arah Dewananda, membuatnya tertekan.


“Hentikan, Saudara. Kami tahu bahwa kau sangat agung, tapi tetap tidak bisa berbicara seenaknya di depan Patriark kami!” Seorang dari empat pranor berdiri dengan nada yang tinggi. Suasana mencekam dan menegangkan, Kaia tegang sambil melirik Kala.


“Bukan masalah, Djimas. Kesatria Garuda memang berhak menanyakan itu kepadaku.” Dewananda keluar dari kursinya, melipat tangan ke belakang sambil menatap langit-langit aula besar. “Mata yang bagus, Kesatria Garuda. Aku memang memiliki alasan egois di balik maksud melindungimu. Kau tahu bukan, cincin interspatial sudah tidak bisa dipakai lagi, padahal itu yang menjadi keuntungan Golok Emas yang berperan sebagai penempa cincin interspatial berkualitas tinggi.


“Pada akhirnya, kami harus membangun gudang-gudang tambahan untuk menyimpan barang-barang kami dan senjata-senjata yang teramat banyak. Belum lagi beberapa senjata rusak sebab dikeluarkan paksa dari cincin interspatial.


“Dan, ya. Musuh sudah mendekat. Di Tembok Abu, pemisah antar Pandataran-Geowedari dengan Bulan Hitam, musuh sudah menumpuk. Bulan Hitam beserta perguruan-perguruan di sana melakukan aktivitas-aktivitas provokasi di tembok yang membentang dari pantai selatan ke pantai utara itu.


“Sesuai ramalan, saat kejahatan datang turun ke Bumi Nusantara, keturunan Garuda akan datang menumpas kejahatan yang merajalela dengan kekuatannya yang luar biasa. Dan Cawan Merah yang paling dekat dengan kejahatan itu, kau tahu itu sangat berbahaya bagi Golok Emas yang saat ini kekurangan senjata.

__ADS_1


“Maafkan aku, sekali lagi, tapi kami tidak melihat kekuatan yang dimaksud dalam ramalan itu. Bisa dibilang, kau lemah, maafkan aku soal itu. Maka dari itu, aku menyimpulkan bahwa Kesatria Garuda memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi tidak memiliki waktu untuk latihan.


“Jika kami membantumu menjadi lebih kuat, maka kau tidak akan membiarkan Perguruan Golok Emas ditumpas begitu saja. Aku memang egois, maafkan aku.” Dewananda menghela napas kecewa.


__ADS_2