
Kala melangkahkan kaki menuju tembok kota, beberapa pranor mengerubungi Kala untuk memberi perlindungan walau mereka tahu Kala bisa melindungi dirinya sendiri bahkan bisa melindungi mereka semua.
Ia pergi ke dalam kota dan mengatakan untuk tidak mengganggunya. Beberapa tenaga medis ingin mengobati luka ringan Kala, tapi pria muda itu bersikeras menolak.
Kala hanya ingin sendiri untuk saat ini, merenung tentang perbuatannya yang sudah mencabut banyak nyawa. Ia pergi ke sudut kota di mana ada tempat jauh dari pemukiman dan ada pohon rindang.
Tubuhnya disandarkan ke pohon itu lalu menutup mata.
Aku membunuh terlalu banyak, aku pasti berdosa sangat besar.
Tapi, di sisi lain memang inilah tugas dari seorang Kesatria Garuda. Membasmi yang keji dan menyelamatkan yang baik. Terkadang, membakar sampah untuk menciptakan lingkungan sehat bukan masalah besar, Kala akan menghirup asap hasil pembakaran.
***
Kala tidak benar-benar tertidur, ia merenung terus sampai mendapat sebuah titik terang. Ia akan menyatukan Nusantara, maka ia harus menyingkirkan orang-orang yang berpotensi merusak bumi Nusantara.
Alang masih tertidur di pundak Kala dengan pulas. Kala tersenyum melihat Alang yang tambah lucu saat tertidur. Ia berjalan dengan perlahan agar tidak membangunkan Alang.
Saat Kala sampai di tembok kota, pertempuran benar-benar sudah selesai. Semua pranor di sana bersorak saat Kala datang menemui mereka.
Ini kemenangan telak, dan semua itu tidak bisa diraih tanpa kehadiran Kala. Bahkan ada beberapa yang berhasil melihat mata Kala, mereka segera menyebarluaskan kabar tentang Kesatria Garuda walau banyak yang meragukannya.
Kala tidak terlalu peduli jika identitasnya diketahui, toh dirinya sudah punya kemampuan untuk melindungi diri sendiri.
Saat semua orang bersorak ria dan bertepuk tangan, Walageni datang dengan senyum tenang.
“Kita berjumpa lagi.” Walageni menyapa Kala.
“Nanti malam kita minum, Pak Tua.” Kala membalasnya dengan candaan.
“Kekuatanmu meningkat pesat dari yang aku lihat. Dan tadi, kau begitu ganas membasmi hama.” Walageni tertawa renyah. “Kau memang Kesatria Garuda, kau memang pantas.”
“Tidak perlu seperti itu, Pak Tua.” Kala mengibaskan tangannya menolak pujian.
Walageni kembali tertawa pelan dan meminta semua pranor berhenti bersorak dan kembali ke pekerjaan masing-masing.
“Berkat dirimu, tidak ada korban jiwa di pihak kita. Ini adalah kemenangan terbesar yang kami catat.” Walageni menepuk pundak Kala.
Kala sampai tersedak. Ia pikir akan jatuh korban di pihak kawan sekitar puluhan, tapi yang sebenarnya terjadi sungguh mengejutkan.
“Itu bagus.” Kala tertawa. “Aku sedikit mencemaskan kawan gadisku. Apa kau tahu di mana dia, Pak Tua?”
“Ya, dia di dalam tenda medis. Tadi ia mengalami syok berat setelah membunuh beberapa orang sampai ia meringkuk di tengah pertempuran. Beruntung Aditya menyelamatkannya sebelum serangan musuh mengenai lehernya.”
“Ah, baiklah. Aku harus berterimakasih kepadanya. Apa Aditya baik-baik saja?”
“Kondisinya lebih baik darimu.” Walageni menepuk pundak Kala, ia menyadari bahwa Kala mendapat serangan mental. “Kau harus benahi dirimu setelah ini.”
“Baiklah, aku minta diri.”
Walageni mengangguk pelan memberi izin. Bahkan pranor-pranor dari Laskar Progo tidak bisa menutup mulut mereka, Kala terlalu santai saat berbicara pada pimpinan tertinggi mereka!
Kala tidak berbasa-basi lagi, ia segera pergi ke tenda medis dan mencari letak Kaia berada. Dapat diketahui dari salah satu tabib bahwa Kaia berada di dalam ruangan khusus agar bisa menghilangkan tekanan mental.
Kala segera pergi ke ruangan yang telah di arahkan, ruangan ini merupakan sebuah bangunan kecil yang berada di samping tenda. Saat Kala masuk, ia bisa melihat Kaia sedang meringkuk dengan pandangan kosong di atas kasur.
“Ikut aku.” Kala menegur Kaia.
Kaia hanya melirik Kala sebentar lalu tatapannya kembali kosong.
“Aku janji kau bisa melupakan pembunuhan tadi.” Kala tersenyum hangat.
__ADS_1
“Apa kau yakin?” Kaia akhirnya membuka mulut.
Dari suaranya yang serak, Kala langsung mengerti bahwa Kaia sedang dehidrasi. Air bersih sudah disediakan, tapi Kaia tidak menyentuhnya sedikit pun.
“Aku yakin. Ayo pergi ke luar cari minuman segar.” Kala mendekat dan mengulurkan tangannya.
Kaia memandang Kala dari atas sampai bawah. Jubahnya penuh dengan darah! Mana mau ia berjalan di samping orang bau darah!
“Tidak, kau penuh dengan darah.”
“Baiklah.” Kala menaikkan alisnya.
Jubah Kala tiba-tiba berasap dan hampir semua kotoran termasuk darahnya.
“Keren, bukan?”
“Bagaimana kau bisa melakukan itu?!”
“Ikut aku, maka aku akan mengajarimu cara yang sama.”
Kala belajar ilmu seperti ini dari Cassandra, Prana bisa dialirkan ke pakaian biasa dengan sebuah metode untuk melempar kotoran. Kala sendiri awalnya sulit menerima bahwa ada metode seperti ini.
Kaia menggapai tangan Kala lalu turun dari kasur. Kala sedikit membenarkan posisi rambut Kaia yang berantakan, tapi Kaia malah menampar tangan Kala.
“Aku bisa sendiri!”
“Aduh, jangan gunakan Prana hanya untuk seperti ini.” Kala merasa sedikit rasa pedas di lengannya.
Kaia membuka ikat rambutnya, lalu rambutnya diluruskan dan ia ikat lagi. Adegan seperti ini bisa membuat orang lain meneteskan air liur, tapi Kala sama sekali tidak!
“Kita mau ke mana?” Kaia bertanya lebih dulu.
“Ke mana pun itu, asalkan keluar dari ruangan ini.”
“Ada apa? Kau sepertinya sudah mencintai ruangan ini?”
“Bukan begitu, aku hanya takut.” Mendengar ucapan Kaia, Kala segera maklum akan kondisinya yang sehabis tempur.
“Tenang saja, ada aku.” Kala menepuk pundak Kaia sambil tersenyum lebar.
“Berhenti menyentuhku, atau aku tidak akan segan lagi!” Kaia berteriak.
“Memangnya kau bisa apa?” tanya Kala sinis.
“Kau!”
Kala tertawa pelan lalu mengajak Kaia ke luar. Kondisi tenda medis tergolong sepi sebab pertempuran dimenangkan dengan telak, tidak banyak yang tewas sekaligus terluka.
Banyak yang menunduk hormat saat Kala berjalan di dekat mereka. Tanpa mereka ketahui, peperangan ini juga disebabkan oleh Kala. Laskar Progo harus menanggung dana perang akibat Kala.
Mereka dengan cepat meninggalkan tenda peristirahatan dan masuk ke dalam kota. Selepas pertempuran, toko-toko kembali buka dengan diskon untuk merayakan kemenangan. Seluruh warga kota kini bisa bernapas lega dan keluar rumah.
Tidak banyak warga kota yang mengetahui bahwa Kala adalah kunci kemenangan di pertempuran, mereka bersikap biasa saja saat Kala dan Kaia berada di dekat mereka. Namun, inilah yang Kala inginkan.
“Aku sudah berjanji akan membelikanmu cincin interspatial, bukan? Mari kita kunjungi toko yang menjualnya. Aku akan membelikanmu banyak baju-baju cantik sesuai keinginanmu.” Kala berkata.
“Bagus jika kau mengingat itu,” ucap Kaia acuh tak acuh.
Kala bertanya pada salah satu warga kota yang berada di dekatnya tentang arah ke toko khusus pranor. Ia menjawab dengan lugas karena hatinya juga sedang senang. Melihat dari pakaian Kala yang cukup bagus, warga itu mengarahkan Kala ke toko pusat di kota ini.
“Asosiasi Manuk Wengi adalah toko terbesar di kota yang menjual berbagai macam peralatan dan senjata untuk pendekar. Mungkin Pendekar akan menemukan yang dicari.”
__ADS_1
Kala mengangguk pelan. “Matur nuwun.”
Kala, Kaia, dan Alang pergi ke Asosiasi Manuk Wengi sesuai petunjuk jalan si warga kota. Toko yang ditunjuk cukup jauh nyatanya, Kala sengaja berjalan lambat agar efek penyembuhan lebih kepada Kaia.
Alang sedikit meregangkan tubuhnya setelah terbangun dari tidur lamanya. “Eak ....”
“Hei, Alang. Kau sudah terbangun.” Kala mengelus pelan kepala Alang. “Lihatlah, Kaia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa sekarang.”
Alang melihat Kaia yang berjalan dari atas sampai bawah. “Eak!”
“I ... ya?” Kaia menghentikan langkah kakinya dengan tangan bergementar. “Apa aku salah dengar? Mengapa aku bisa mengerti ucapan Alang?!”
“Apa?! Kau bisa mengerti ucapan si Alang?” Kala tiba-tiba merasa senang. “Kau benar-benar sudah menjalin hubungan dekat dengan Alang!”
“Eak, eak!” Alang agak tidak terima, dengan begini ia tidak bisa membicarakan Kaia di belakangnya.
Kaia menyunggingkan senyum misterius pada Alang. “Kau tidak bisa membicarakanku lagi diam-diam ....”
“Eak ....” Alang melemas kepada Kala, seolah meminta bantuan agar Kaia kembali kepada dirinya yang semula.
“Aku bisa mendengarmu, Burung Kecil!” Kaia membentak.
“Eak!” Alang membesarkan tubuhnya menjadi sebesar elang, tentu ia tidak terima dianggap sebagai burung kecil.
“Sudah! Kalian ini seperti anak kecil saja!” Kala menengahi dua makhluk beda bentuk ini.
Alang kembali ke ukurannya yang kecil, Kaia juga sudah bersikap seperti biasa. Meskipun begitu, keduanya masih terus menatap tajam satu sama lain, Kala hanya bisa menggelengkan kepala.
Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di toko yang disebut oleh warga kota. Kala sampai tersedak napasnya sendiri, toko ini sangat besar dan tinggi! Hampir menyamai Penginapan Progo. Sedangkan Kaia, ia terlihat sangat bersemangat.
“Uangku ....”
Kala tersenyum pahit.
***
Maheswari beserta seribu pasukan dari Geowedari sampai pada perkemahan prajurit di dekat perbatasan Geowedari-Pandataran. Ini merupakan perjalanan yang cukup melelahkan bagi gadis itu.
Harus mengikuti konflik besar dengan risiko besar pula serasa setimpal jika ia berhasil menemukan Kala.
Maheswari masuk ke dalam tenda pribadinya yang telah dibangun. Ini adalah tenda untuk tokoh penting seperti dirinya. Di dalam tenda, terdapat banyak tanaman obat yang memancarkan aroma khas, Maheswari benar-benar tidak butuh semua ini.
“Tabib Maheswari, izinkan aku masuk.” Terdengar suara pria tua dari luar tenda.
Maheswari mengenali suara ini, ia adalah panglima tempur di sini. Dan dari tatapannya beberapa waktu yang lalu, Maheswari bisa mengetahui bahwa pria paruh baya ini menyukainya.
“Tentu saja, silakan Panglima.”
Orang paruh baya itu membuka tirai tenda dan menjejakkan kakinya ke dalam tenda, matanya bulat menatap Maheswari. Kecantikan dewi surga, kecantikan bidadari, setan neraka mana yang tidak menyukainya?
“Ada apa, Panglima?”
“Ah, aku hanya ingin memberimu ini. Mungkin saja kau butuh.” Panglima itu mengeluarkan selembar daun berukuran telapak tangan yang kering.
Sebagai tabib, Maheswari dapat mengenali tanaman itu. Harganya tergolong sangat mahal dan merupakan tumbuhan langka, bahkan dirinya saja hanya punya selembar. Setiap lembar sangat berharga, tapi Maheswari bukanlah orang yang bisa tergoda oleh harta.
Ia dengan cepat menangkap niat si panglima. Mungkin pria tua itu berpikir Maheswari akan jatuh ke tangannya setelah diberikan tanaman berharga ini, walau uangnya harus terkuras untuk membeli selembar daun kering ini.
“Maaf, Panglima. Aku tidak bisa menerimanya.”
“Mengapa tidak? Ini sangat berharga.”
__ADS_1
“Aku sangat menghargai pemberianmu, Panglima. Lebih baik kau berikan kepada tabib kerajaan karena aku sudah punya.” Maheswari mengibaskan lengannya.
“Terima saja ....” Panglima itu maju mendekati Maheswari, sedangkan gadis cantik itu mundur.