
“Mulai dari ujung kanan!” teriak si ketua.
Ada empat pasukan telik sandi di sisi kanan Kala, sedangkan di sisi kiri tersisa Panji dan orang yang tengah sekarat. Itu artinya ada empat orang yang mati terlebih dahulu sebelum giliran Kala yang mati, waktu yang tersisa ini dimanfaatkan Kala untuk memutar akalnya.
Si tukang jagal yang sudah ada di ujung kanan menghunjam pedangnya di perut, tidak dalam namun cukup panjang. Prajurit itu tidak bisa melawan dan hanya terus melengking kesakitan. Dari perut yang sudah robek itu, tangan si tukang jagal masuk untuk mengaduk-aduk isi perut prajurit telik sandi.
Kala memejamkan mata dan berusaha mengabaikan suara mengerikan yang ia dengar. Otaknya harus fokus untuk menemukan jalan keluar, namun Kala sulit meraih fokus kalau keadaan mulai genting, ditambah Kala mulai takut akan kematian.
“Arggh!!! Selamatkan aku!!”
“Tolong ....”
Teriakan itu kemudian berhenti setelah lengking parau. Kala bisa membayangkan apa yang membuat teriakan itu berhenti tetapi Kala tidak ingin membayangkannya lebih lanjut.
Kertas darurat yang diberikan oleh Yudistira kepada Kala ada di cincin interspatial, hanya itu yang bisa diandalkan tapi cincin itu tidak ada di jari Kala untuk saat ini. Mengingat cincin interspatial, Kala semakin pening saat tersadar ada pusaka Keris Garuda Puspa di dalamnya.
Kala terus memejamkan matanya saat teriakan kesakitan kembali terdengar. Kini tersisa tiga orang di sisi kanan Kala, salah satu dari mereka sedang menghadapi maut. Kala semakin memutar otaknya. Namun, Kala tetap tidak bisa berpikir jernih saat ia dalam kondisi terdesak.
Tidak terasa, kini tinggal satu orang yang ada di sisi kanan Kala. Kala kini membuka matanya dan menatap kengerian. Darah berceceran di tanah dan dengan cepat membeku karena suhu dingin, bau amis yang sedari tadi tercium ternyata berasal dari ceceran darah tersebut.
Telik sandi yang berada di sisi kanan Kala begitu ketakutan memandangi si tukang jagal. Kala bisa menerawang, ia akan mati dengan mengenaskan malam ini mengingat ia masih belum menemukan ide apa pun.
“Beri tahu resepnya, maka aku akan membebaskanmu,” kata si tukang jagal dingin.
“Tidak akan pernah. Aku memang takut akan maut, namun aku lebih takut dengan dusta!”
Si tukang jagal menyunggingkan senyum lebar sebelum menusuk perut orang malang itu. Prajurit telik sandi yang ada di samping kanan itu merintih pelan, matanya berputar ke atas seiring dengan nyawanya yang pergi ke atas.
__ADS_1
Kaki Kala langsung lemas saat mengetahui bahwa ini adalah gilirannya. Andaikan kaki Kala tidak terikat, maka tubuhnya akan jatuh ke tanah.
“Kak Mahes ....” Kala merintih dengan mata yang basah, kemudian melanjutkan, “maaf, aku pasti akan membuatmu menangis tanpa henti.”
Kala bukannya terlalu percaya diri, kenyataannya, Maheswari akan menangis berminggu-minggu dan diluput kesedihan seumur hidup jika Kala memang mati hari ini. Maheswari pastinya akan marah pada Perguruan Angin Utara dan Kastel Kristal Es, mungkin ia akan membuat kekacauan yang parah.
“Sekarang giliranmu ....”
***
“Mengapa mereka belum memberi kabar?”
Patriark terus mondar-mandir dengan gelisah, pasukan telik sandi belum memberi kabar apa pun padahal sudah mendekati dini hari. Biasanya mereka akan mengirim satu-dua orang untuk memberi kabar jika misi gagal atau berhasil sedangkan pasukan utama akan berkemah. Namun, kali ini tidak ada kabar apa pun.
Kegelisahan Patriark Yudistira semakin parah saat mengingat Kala ikut dalam misi tersebut.
Beban yang ia tanggung kali ini bukan main, selain Kala yang menghilang, kondisi di kota juga sangat buruk. Sebagian kecil relawan dan pasien sipil mati karena kedinginan, jumlah ini terus bertambah seiring waktu.
Ratusan prajurit telah dikirim untuk mencari keberadaan telik sandi, hal ini membuat kota kekurangan prajurit untuk membantu. Kini butiran-butiran es putih bertumpuk-tumpuk dan membuat dataran kota tertutupi es-es tersebut.
Maheswari terus bekerja tanpa henti meski dirinya juga kedinginan. Meskipun terlihat fokus dalam mengobati, pikiran Maheswari sebenarnya dipenuhi oleh Kala. Maheswari kini sedang berada di ruangan tertutup untuk membuat pil penghangat tubuh.
Para tetua yang lainnya terus memandangi patriark dengan tangan yang terus memeluk tubuh mereka sendiri, meskipun mereka di dalam tenda tapi itu tidak membuat udara jadi hangat. Juga, kehadiran mereka sama sekali tidak membantu Patriark Perguruan Angin Utara untuk mencari jalan keluar.
Tirai tenda tiba-tiba tersibak dan masuklah seorang bidadari dengan wajah cemas. “Bagaimana kabar Kala? Apa dia sedang berada di perjalanan atau tersesat?”
Jelas perkataan bidadari itu ditunjukkan kepada Yudistira, cara bicaranya pada seorang patriark sebenarnya sangat tidak sopan. Yudistira maklum, bidadari itu sangat khawatir dengan keadaan sang Kesatria Garuda.
__ADS_1
“Aku belum menerima kabar apa pun.” Patriark menghela napas, ia hanya bisa memandangi Maheswari dengan iba.
“Apa ini yang disebut kinerja Perguruan Angin Utara?” seru Maheswari dengan lantang.
“Jangan menghina perguruan kami atau kau ....” Seorang tetua mengancam Maheswari namun segera dihentikan Yudistira.
“Aku sudah mengirimkan pasukan untuk mencari mereka semua sedari tadi malam.” Patriark tetap berbicara dengan tenang.
“Apa itu ada hasilnya? Oh, ya! Seharusnya aku tahu batasan kemampuan Perguruan Angin Utara, tidak mungkin mereka bisa mencari Kala dengan benar.”
“Tabib Maheswari, tolong mengertilah. Aku tahu kau sangat khawatir dan marah, namun sikapmu yang seperti ini tidak akan membantu.”
Maheswari menghela napas panjang. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya yang telah memberi izin kepada Kala, tentu ia tidak punya alasan untuk menyalahkan Perguruan Angin Utara tapi tetap saja ia marah.
“Apa itu!”
“Ada api terbang!”
“Itu Banaspati!”
Terdengar suara keributan dari luar tenda. Yudistira mengerutkan dahi saat ia mendengar kata “Banaspati”, itu adalah hantu api yang ditakuti dan dipercaya oleh masyarakat Jawa, tentu Yudistira tidak percaya dengan hal gaib dan segera memastikan kebenarannya.
Saat Yudistira keluar dari dalam tenda, ia melihat langit sedikit terang dengan sinar oranye. Yudistira membulatkan mata saat melihat tepat di atasnya ada api yang terbang dengan cepat.
Yudistira berusaha mencerna situasi, tidak mungkin itu adalah hantu. Patriark terus berusaha mengingat sesuatu sampai ia ingat dengan burung peliharaan Kala. Yudistira sangat yakin kalau burung itu masih dirawat dan tidak bisa terbang, bagaimana ia bisa melihatnya terbang dengan cepat?
Maheswari baru keluar saat api itu sudah jauh dan tidak terlihat lagi. Walau Maheswari datang terlambat, ia tetap mendapat firasat buruk, seluruh tubuhnya merinding seolah menandakan sesuatu.
__ADS_1
Dengan air muka yang cemas, Maheswari berkata dengan lirih, “Patriark, aku mendapat firasat buruk.”
Patriark masih terpaku menatap langit tanpa mendengarkan Maheswari. Pikirannya tertuju pada Kala Piningit.