Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Dari Pertarungan Itu, Tidak Ada yang Hidup


__ADS_3

Akhza melirik langit malam lalu menghela napas panjang.


"Sesungguhnya, hidupku sudah tidak lama lagi."


"Maksudnya?"


"Kautahu, bukan? Antara pertarungan aku dan Satrya di Gunung Loro Kembar? Saat itu kaumenceritakan bahwa aku terlempar dan jatuh di dekat gubukmu, bukan?" tanya Akhza. Kala "sebenarnya aku keluar sebagai pemenang. Aku menggunakan jurus buatanku. 'Jurus Tapak Kabut'."


"Jurus apa itu?"


"Jurus ini tidak boleh kauremehkan. Nyatanya bisa membunuh salah satu pranor terkuat di dataran Jawa. Jurus ini merupakan ledakan kabut yang lebih dahsyat daripada ledakan api sekaligus bagus untuk melawan serangan api.

__ADS_1


"Pertama-tama, aku membuat kerisku bersinar terang seakan-akan aku akan menyerang dengan senjata. Namun, sebenarnya aku mengumpulkan kekuatan di tangan kanan. Saat kami menyerbu, aku melancarkan serangan telapak dan itu tepat mengenai sasaranku yaitu senjata tongkat Satrya, jurus telapak ini harus beradu dengan senjata kuat agar bisa aktif.


"Kedua, serangan itu menciptakan ruangan bulat yang mengurung kita di sana. Hitungan tak sampai satu helaan, maka terjadi ledakan di dalam lingkaran itu. Jika tidak ada pelindung bulat itu, maka Gunung Loro Kembar akan bonyok.


"Ketiga, ledakan ini tidak panas tapi beku dingin. Saat itu api Satrya di tubuhnya langsung padam dan tubuhnya membeku sekeras batu. Dengan sedih aku meninjunya. Tubuhnya hancur berkeping-keping. Aku tak sampai hati membunuhnya dengan Keris Garuda Puspa yang aku ceritakan kepadamu.


"Keempat, bulatan tak sanggup menahan serangan dan hancur. Kabut menyeruak karena ledakan masih terjadi, tapi sudah berada di akhir ledakan. Pada akhirnya itu juga menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan rumahmu, kabut memenuhi Gunung Loro Kembar. Kabut ini tidak akan bisa hilang atau yang disebut permanen. Angin akan berbelok saat memasuki wilayah kabut ini, sedangkan angin berputar pelan di dalam kabut tanpa campur dengan angin di luar.


Tidak banyak manusia biasa yang bisa mencapai umur lebih dari seratus tahun. Akhza sebagai seniman bisa menambah usianya begitu lama.


"Jika saudaraku mati karenaku atau bukan karenaku, aku akan ikut mati bersamanya. Itu adalah janji yang kami buat saat masih muda." Akhza tersenyum. Mengingat bagaimana mereka berjanji saat itu. "Kala, aku akan mengajarimu. Mungkin sampai usiamu menginjak tujuh belas tahun." Akhza berkata mantap, "kau adalah Putra Garuda! Warisan Kekuatan Garuda! Kai Kesatria Garuda!"

__ADS_1


Kala merasakan semangat yang ikut mengalir di jiwanya.


"Baiklah, Kala. Konsumsi pil ini, maka kau seharusnya menerobos ke tingkat beberapa tangga di Pengumpul Prana." Akhza memberikan sebuah pil berwarna ungu kepada Kala. "Tenang, pil itu berkualitas tinggi sehingga terasa manis jika bersentuhan dengan liur." Akhza terkekeh melihat Kala ragu menelan pil itu.


Kala percaya dengan Akhza. Langsung saja memasukkan pil itu. Sensasi manis menyerbak saat Kala mengunyah pil itu, manis seperti rambutan dengan campuran tebu.


"Sekarang kaubermeditasi. Atur jalan napasmu dan berikan fokusmu pada lajur napas. Napasnya jangan ditahan namun diperhatikan. Jangan lupa pejamkan mata." Kala melakukan semua yang dikatakan Akhza. Tiba-tiba Kala merasakan ledakan di tubuhnya.


Keringatnya mengucur. Tidak deras dan berlalu tertiup angin malam. Saat ledakan itu berhenti, baru ia merasa bahwa tubuhnya jauh lebih kuat dan enteng. Kala bahkan merasa bahwa ia bisa mengangkat pohon yang menghancurkan gubuknya.


"Aku rasa kau akan menembus ke Pondasi Prana sebentar lagi. Bukalah matamu." Kala membuka mata. Ia merasakan dirinya begitu beda dengan aura berbeda pula.

__ADS_1


__ADS_2