Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Sukses Berkencan?


__ADS_3

Kala menggaruk pipinya, tak tahu harus menjawab apa sebab ntuk soal uang ia tidak terlalu memikirkannya.


Karena langit sudah mulai terang, mereka memutuskan untuk berlari dengan tenaga dalam. Kecepatan mereka sangat luar biasa, lebih cepat dari kecepatan kuda yang berlari penuh.


Mereka baru berhenti berlari setelah menemukan sungai. Sungai yang penuh dengan batu dan air yang dangkal dan jernih. Deburan air bisa terdengar di mana-mana membawa suasana tenang pagi dini.


Kala ingin mandi untuk membersihkan keringat yang lengket di tubuhnya. Maheswari juga satu pikiran dengan Kala. Kala bergerak ke hilir sedangkan Maheswari bergerak jauh ke hulu. Lokasi mereka sangat jauh sampai tidak memungkinkan melihat satu sama lain, jika ingin bertemu saja mereka harus berlari selama lima menit. Lagi, Kala tidak ada keinginan seperti itu.


Kala mengadah ke langit. Elang Api tengah berputar-putar di atas. Kala melambaikan tangannya untuk memanggil Elang Api yang jauh di atas. Ia mengerti dan segera meluncur ke bawah sebelum bertengger di lengan Kala.


"Kau tidak makan? Tidak lapar?"


Kala mengeluarkan sepotong daging segar dari cincin interspatial. Lalu menberikannya pada Elang Api, maka segeralah burung itu menjadi antusias dan memakannya dengan sangat lahap.


"Eak! Eak!"


Elang itu berteriak seakan meminta tambah porsi makannya. Kala menggeleng pelan sebelum memberi lima potong daging dan diletakkan di atas batu sungai.


"Aku akan mandi, kamu makan saja." Kala membuka bajunya dan menceburkan diri ke dalam sungai.


Rasa dingin air sungai membuat Kala merasa segar. Seluruh keringat lengket di tubuhnya berangsur hilang terbawa arus deras. Kala memejamkan mata untuk menghasilkan kenikmatan lebih dari suasana damai ini. Sedangkan waktu tetap berjalan, matahari sudah terlihat pucuknya di ufuk timur.


Setelah semua makanan habis, Elang Api mengabari Kala. "Eak?"


Kala tersenyum lembut. "Sepertinya dirimu sedikit berubah?"

__ADS_1


Kala melihat api di tubuh elang itu yang semulanya transparan kini menjadi kecokelatan dan tidak lagi transparan. Kala dengan pintar beramsumsi bahwa Elang Api tengah mengalami perubahan tubuh menjadi elang seperti biasa. Kala tadi memberikan daging binatang perusak yang ia dapat dari pertarungan kemarin, daging yang mengandung prana itu bisa jadi membuat Elang Api berkembang.


"Bagus!" seru Kala. "Bagaimana jika memberimu nama baru? Alang nama yang bagus, bukan? Artinya api dan elang, itu akan cocok denganmu."


Nama itu tidak istimewa dan Kala hanya terlintas di benaknya, namun Alang menyukainya. Ia membalas dengan pekikan khasnya.


"Mulai sekarang, kau harus banyak makan agar tubuhmu menyerupai elang pada umumnya dan tidak menarik perhatian yang tidak diperlukan." Selesai berucap begitu, Kala menyudahi mandinya, ia menggunakan prana untuk mengeringkan tubuhnya.


Kala mengganti pakaiannya sebelum kembali ke titik pertemuan. Alang bertengger di pundak Kala, mungkin ia sudah kelelahan terbang atau bosan dengan pemandangan dari atas.


Kala mencari kayu kering dan membakarnya di titik pertemuan. Walaupun Kala adalah seorang pranor yang bisa menahan lapar, namun ia sudah menyelesaikan dua pertempuran kemarin dan tadi malam, Kala tetap membutuhkan makanan agar sekadar lebih bersemangat dan tidak lemas. Selayaknya kopi di pagi hari, Kala meminum tuak juga untuk menambah daya pikirnya.


Saat kayu bakar sudah siap, Kala membakar daging perusak yang tersisa di cincin interspatial. Aroma daging bakar terbawa angin membangunkan hewan-hewan hutan. Setelah setengah jam daging baru selesai dimasak, namun Maheswari tidak juga kembali.


"Apa jika wanita mandi akan memerlukan waktu selama ini?" komentar Kala pada Alang.


Setelah selesai makan, setengah badan matahari sudah terlihat di ufuk timur. Langit berubah menjadi warna kuning-jingga. Maheswari belum juga kembali, Kala yang merasa bosan melempar batu-batu ke sungai, batu memantul-mantul di permukaan sungai. Pantulan terbanyak yang Kala hasilkan adalah sebanyak tujuh pantulan, keterlambatan Maheswari membuat Kala mendapat bakat baru.


***


Alang secara tiba-tiba memekik. Kala terbangun dari tidurnya, ia langsung mencium bau wangi bunga yang menyegarkan. Kala melihat di sebelah kanan, Maheswari sedang berjalan kepadanya dengan keadaan yang sudah segar dan bersih, kemungkinan Maheswari menggunakan pengharum.


Kecantikan Maheswari bertambah setelah mandi, namun Kala tidak peduli dan tetap saja merasa kesal.


"Kak Mahes sungguh lama, aku bisa-bisa menjadi mayat kering di sini," gerutu Kala.

__ADS_1


"Eh? Lama? Ini adalah mandi yang lebih cepat daripada biasanya." Maheswari menjawab tanpa rasa bersalah.


"Yang benar saja." Kala menggaruk kepalnya serta berusaha menelan kekesalannya. "Ayo, Kak Mahes. Kita harus segera sampai kota sebelum hari tambah siang atau orang-orang akan mencari kita."


Maheswari mengangguk dan mereka berlari kencang. Kesegaran mereka tidak berkurang walau berlari kencang, mereka menggunakan prana untuk mempertahankan kesegaran, apalagi Maheswari menggunakan parfum.


Saat di tengah perjalanan, Kala seperti melupakan sesuatu yang harus ia kerjakan tadi malam. Perasaan ini membuat Kala gelisah namun tidak mengetahui hal apa yang ia lupakan.


***


Kala dan Maheswari sampai saat semua orang sudah bekerja. Maheswari berkordinasi untuk dapat istirahat dan membantu esok hari. Kala kembali ke tenda khusus para petarung yang sepi. Kala duduk bersila bermeditasi, biasanya meditasi selama dua jam sudah setara dengan tidur satu malam.


Sedangkan Alang diberi perintah oleh Kala agar beristirahat di hutan, tubuhnya yang diselimuti api pasti akan menarik perhatian dan keserakahan. Kala masih belum bisa menghadapi pranor-pranor jagoan di sini.


Setelah dirasa cukup, Kala membuka mata, mengakhiri meditasinya. Yang pertama Kala lihat adalah Yudistira, si patriark, yang duduk di hadapannya dengan senyum kesal.


"Bagaimana? Apa kau sukses berkencan tadi malam?" tanya Yudistira sinis.


"Aku tidak berkencan, Patriark." Kala membalas dengan senyuman walau ia merasa ada yang aneh dengan nada bicara Yudistira.


"Bagus! Aku mendapat kabar bahwa kau pergi dengan seorang wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tabib Maheswari!" seru Yudistira, "dan kau melupakan janji bertemu denganku tadi malam!"


Kala menepuk dahinya. Ia lupa bahwa dirinya masih memiliki janji untuk bertemu Yudistira di taman kota tadi malam. Pantas saja di sepanjang perjalanan Kala seperti melupakan sesuatu, dan ternyata inilah yang telah dilupakannya. Berbuat seperti ini dengan patriark? Tidak banyak orang yang punya nyali seperti dirinya.


"Maafkan aku, Patriark. Aku sungguh benar-benar lupa." Kala menunduk meminta maaf bukan karena ia adalah patriark, namun karena Yudistira adalah orang yang sudah senja usianya.

__ADS_1


"Maaf saja tidak cukup! Kau sudah membuatku digigiti ratusan nyamuk tadi malam karena terlalu lama menunggumu! Sedangkan kau asyik berkencan dan baru pulang di pagi hari!"


__ADS_2