Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Bantuan Tak Terduga


__ADS_3

Dengan posisi pemimpin itu yang tidak terlindungi, Kala dengan mudah menghabisinya. Satu tusukan di jantung mengakhiri hidupnya.


“Dekati aku! Ayo!”


Siapa yang ingin mendekati malaikat maut? Tentu semuanya menjauhi Kala, tapi dengan mudah disusul.


Semuanya binasa. Tidak ada lagi yang masih berdiri di sini kecuali Kala.


Air di guci ini tersisa satu tetesan saja. Setelah habis, Kala kehilangan keseimbangan lalu jatuh di tanah yang tergenang dengan darah. Dadanya naik turun dengan pelan dan santai, tapi pikirannya kacau saat merasakan kehadiran seorang pranor tingkat Alam Formasi Spirit bersembunyi di atas pohon, kini sedang menatapnya lekat-lekat dan siap menghunjam Kala yang tak berdaya.


Sosok itu berkelebat ke arahnya. Kala memejamkan mata berharap datang sebuah keajaiban.


Bruk!


Rasa sakit yang Kala nantikan tidak kunjung terjadi, tetapi sudah terdengar suara yang lain. Perlahan Kala membuka mata dan melihat sesosok tubuh pria berpakaian serba hitam sedang meregang nyawa di sampingnya, semulanya tidak ada orang ini di sini.


“Apa yang terjadi?” Kala melihat sekitar dan tidak menemukan siapa pun di sini, dan orang yang di sampingnya adalah penyerang tadi.


Kala ingin bangkit, tapi tiada kemampuan. Ia hanya bisa terbaring di tanah darah ini. Berharap, yang muncul berikutnya bukanlah musuh.


“Kekuatanmu lumayan juga.” Suara seorang wanita terdengar bertepatan dengan kemunculannya dari pepohonan.


“Bagaimana bisa?” Kala terkejut, wanita ini adalah wanita bertopeng yang ia temui kemarin, tapi mengapa Kala tidak bisa mendeteksi keberadaannya?


“Aku akan jelaskan nanti. Telan pil ini.” Wanita bertopeng itu melempar pil ke dalam mulut Kala, Kala tidak melawan dan berusaha menelan pil di dalam mulutnya.


Kondisi Kala langsung membaik walau ia masih belum bisa berdiri, setidaknya ia masih bisa duduk. “Mengapa dirimu ada di sini?”


Wanita itu memeriksa mayat pria yang ada di samping Kala, lalu menjawab acuh tak acuh, “Aku mengikuti kalian. Dan saat nyawamu terdesak, aku menolongmu dengan jarum racun, tetapi kau sama sekali tidak mengucapkan terima kasih!”


Kala menaikkan alis sebelum memaksakan senyumannya. “Terima kasih.”


“Begitu lebih baik.” Wanita itu tertawa pelan lalu mengulurkan tangannya membantu Kala berdiri, Kala lekas menggapainya. “Kau jago juga, ya? Mengalahkan pranor yang jauh di atasmu adalah hal yang luar biasa, namun tergolong tindakan gila.”


Kala tersenyum untuk menanggapi. Ia masih berusaha menguatkan lututnya agar tidak jatuh. “Mengapa kau mengikuti kami?”


“Oh, itu ....” Si wanita menjentikkan jari. “Karena aku tidak percaya denganmu, bisa saja kau adalah perampok yang berbohong. Jika benar kalau kau adalah perampok, aku pasti akan membunuhmu, tapi ternyata kau adalah pria yang berhati mulia.”


Kala tersenyum canggung. “Mari kita menemui warga desa untuk menjelaskan apa yang terjadi ....”


Pandangan Kala kini beralih pada sosok dua orang yang dikenalnya. Kini mereka terbujur kaku dengan kepala pecah dari dalam. Otak mereka berceceran ke mana-mana. Ini adalah pembunuhan yang tidak manusiawi dan sangat berlebihan.


Kala berusaha berjalan sendiri. Namun, dengan kondisinya yang seperti ini, ia sangat tidak mampu untuk berjalan bahkan untuk berdiri saja membutuhkan tenaga ekstra.


“Sini, aku bantu.” Wanita memapah tangan Kala secara tiba-tiba.


Kala tentu terkejut, namun ia tidak bisa melawan dan hanya bisa menurut. Kini dirinya bisa berjalan dengan kecepatan normal.


“Apa pun reaksi para warga nantinya, tidak perlu didengarkan.” Wanita itu berujar dengan ringan. “Siapa namamu?”


“Namaku?” Kala menunjuk dirinya sendiri sambil menaikkan alisnya. “Kala ... namaku Kala.”


“Nama yang indah!” Wanita itu berseru. “Berapa usiamu?”


Kala kembali mengerutkan dahinya. “Aku tidak tahu berapa pastinya. Namun, sepertinya saat ini sudah berusia tujuh belas tahun.”


Gadis itu memandang Kala aneh. “Untuk dirimu yang sudah berumur, tubuhmu sangat kecil.”


Kala terkejut lagi dibuatnya. “Aku tidak merasa begitu. Memangnya berapa umurmu?”


“Lima belas.” Jawaban itu singkat tapi berhasil membuat Kala tersandung langkah kakinya sendiri.


“Lima belas?!”


Kala melihat gadis ini dari atas sampai bawah. Bahkan orang yang teliti sekali pun tidak akan pernah menduga dirinya berumur begitu muda sedangkan tubuhnya menunjukkan dirinya berusia tujuh belas tahun.


“Mengapa kau terkejut?” Gadis itu menarik Kala untuk kembali berdiri tegak.


“Bukan apa-apa ....” Kala menggaruk kepala yang tidak gatal lalu berusaha mencari topik pengalihan. “Siapa namamu?”

__ADS_1


“Namaku adalah Adya!” Gadis itu menyeringai.


Kala bergumam, “Nama yang bagus untuk gadis kecil.”


Adya memelototi Kala dengan lekat-lekat dengan aura membunuh. “Aku bukan gadis kecil lagi!”


“Ya, ya ... terserah apa katamu.” Kala menelan ludahnya, jujur ia cukup tertekan dengan aura membunuh yang begitu besar dari gadis ini.


Dari aura membunuh miliknya yang besar itu, dapat dipastikan bahwa dirinya telah membunuh sangat banyak. Untuk anak di usia lima belas tahun, terlebih ia adalah seorang gadis. Hal ini bukanlah hal yang wajar.


Sepertinya, kasus ini berkaitan dengan rahasia di balik topeng yang sudah Kala lihat kemarin. Kala tidak berani menyinggung apa pun yang di balik topeng gadis itu, bukan karena ia takut tapi lebih karena ia tidak ingin si gadis kecil ini sedih.


Namun, siapa yang menyangka bahwa ia sendiri yang akan menyinggungnya?


“Kau sudah melihat wajahku kemarin, bukan?” tanya gadis itu dan menatap Kala dengan tatapan penuh harap. “Tolong, jangan beritahu kepada siapa pun tentang ini.”


Kala mengangguk pelan. “Tapi, mengapa kau menunjukkannya kepadaku kemarin?”


Jika dirinya menjadi Adya itu, ia tidak akan menunjukkan wajahnya kepada orang yang baru saja ia kenal apa lagi orang yang dircurigai sebagai penjahat. Tindakan Adya ini cukup mengejutkannya.


“Aku ingin tahu reaksimu. Jika kau adalah orang yang bejat, kau pasti akan menatapku dengan jijik. Tapi, kau tidak menunjukkan itu.”


“Lalu, mengapa kau mengikutiku?” Walau Kala mengucapkan ini, dirinya tetap bersyukur Adya mengikutinya sehingga nyawanya masih ada.


“Karena aku tak percaya,” katanya ringan tak merasa bersalah.


Kala hanya bisa tersenyum pahit sebelum melihat warga-warga yang menatapnya. Sang Kesatria Garuda sampai menghentikan langkahnya saat warga desa menatapnya dengan penuh kebencian.


Tidak ada yang menyambutnya secara hangat. Semuanya menatap Kala dengan dingin.


“Pencari masalah! Lempari dia!” Puncaknya adalah saat seorang warga meneriaki Kala, disusul dengan lemparan batu dan kayu besar.


Adya menangkis semua serangan yang mengarah pada Kala disebabkan oleh Kala yang masih belum memiliki prana memadai. Kala menatap kosong para warga yang tadi malam baru saja ia selamatkan.


“Apa ... salahku ....”


“Jangan pedulikan mereka, Kala. Aku sudah katakan tadi, bukan?” Adya mengeluarkan aura membunuh, para warga tidak lagi melempari Kala.


“Dia membawa masalah bagi kami!” Seorang warga menyahuti disusul sorakan yang lainnya.


“Bawa dia pergi!”


“Singkirkan dia dari wilayah kami!”


“Mereka pasti akan datang membawa pasukan yang lebih besar. Jika itu terjadi, maka orang ini satu-satunya yang bisa disalahkan!”


Adya tersenyum kecut. “Keadaan tidak akan membaik jika kau masih di sini. Sebaiknya kau pergi terlebih dahulu, aku akan menenangkan mereka. Kembali lagi nanti.”


Adya memberikan Kala esensi prana. “Ini adalah esensi prana yang terakhir. Telan dan gunakan itu untuk pergi dari sini.”


Tatapan Kala masih saja kosong tanpa melirik permen kecil tersebut. Adya menjadi kesal dan melemparkan esensi prana itu ke mulut Kala yang setengah terbuka. Permen yang awalnya keras itu langsung melebur di mulut Kala, rasanya yang manis tidak mampu membuat Kala pergi dari rasa kecewanya.


“Pergi dari sini, cepat!” Adya mendorong Kala dan memaksa Kala meninggalkan kerumunan dengan pandangan kosong ke bawah.


Adya menghela napas panjang sebelum mulai menceramahi warga. Sedangkan Kala, ia memilih kembali ke tempat dirinya meninggalkan Kaia.


Hari masih gelap, yang barusan itu terjadi begitu cepat. Ayam-ayam mulai berkokok mengusir bintang-bintang yang masih nyaman bertengger di atas sana.


Kala dengan cepat sampai di perapian. Ia duduk di sebelah Kaia yang masih tak sadarkan diri. Alang langsung hinggap di pundaknya karena sangat khawatir.


“Eak ... eak?”


“Tidak apa, Alang. Semua terkendali.” Kala menatap kuali di depannya. “Eh! Di mana tulang-tulangku?!”


Saat Kala merebus tulang-tulang itu, ukurannya yang panjang membuatnya terlihat mencuat tinggi dari mulut kuali. Namun, sekarang tulang itu tidak ada!


Kala lekas bangkit dan melihat ke dalam kuali. Tidak ada air! Air sudah habis menguap dan kini menyisakan tiga batang tulang berukuran sejengkal.


Apa mungkin tulang-tulang tadi menyusut?

__ADS_1


Kala lekas-lekas mematikan api lalu dengan penasaran mengambil salah satu batang tulang itu. Mata membeliak saat jarinya menyentuh permukaan tulang.


“Ah!”


Jari Kala seperti memegang panci yang berisi air mendidih! Ia mengemut jarinya sendiri, tapi itu malah semakin menyakitinya.


“Bodohnya aku.” Kala mengumpat pada dirinya sendiri. “Jelas-jelas tulang ini direbus semalaman, tidak mungkin bisa dingin secepat ini.”


Kala tertawa pahit sebelum kembali duduk, membiarkan tulang itu sampai dingin sampai ia bisa mengamatinya. Mata Kala sesekali melirik Kaia yang mulai menunjukkan reaksi.


Mata Kaia mengerjap beberapa kali sebelum hidungnya seperti mengendus sesuatu. Ia memegangi kepalanya lalu bangkit duduk dengan kaki selonjor. Ia melihat Kala sejenak sambil berusaha mengumpulkan ingatannya.


“Mengapa aku bisa tak sadarkan diri?” Kaia bertanya pada Kala acuh tak acuh.


Kala menghela napas panjang. “Sulit dijelaskan. Namun, aku yang membuatmu pingsan tadi. Itu semua demi kebaikanmu.”


Kaia tidak menjawab melainkan memandangi baju Kala yang basah disertai bau amis, ia merasa tidak enak. “Mengapa bajumu basah?”


Kala melirik Kaia sebentar. “Karena aku bertarung tadi dengan Kastel Kristal Es.”


“Apa itu adalah keringat?” Kaia dengan polos bertanya.


“Bukan.” Kala tersenyum tipis. “Ini darah.”


Mata Kaia membeliak, ia segera menggeser posisi duduknya sangat jauh dan memandang Kala bagaikan binatang buas yang haus darah, terlebih aura membunuh Kala sudah sangat besar sampai merembes keluar.


Kaia berteriak dengan panik. “Apa yang ingin kau lakukan padaku?! Kau adalah binatang! Kau sama seperti mereka!”


“Kaia, kau terlalu cepat mengambil kesimpulan.” Kala berusaha sabar dan tetap tersenyum. “Aku bertarung untuk kebaikan. Mereka bertarung untuk memenuhi nafsu. Apa kau pikir aku bernafsu padamu?”


Jika dilihat-lihat, bahkan Kala tidak mau menatap wajah Kaia dengan lama apa lagi melirik tubuhnya. Kala sungguh tidak tertarik dengan itu, niatnya membantu Kaia adalah untuk kebaikan dan untuk melunasi tugas Kesatria Garuda.


Kaia memilih tidak menjawab pertanyaan Kala. “Cepat ganti pakaianmu, aku tidak ingin mencium aroma amis ini.”


Kala hanya tersenyum tanpa berniat meladeni perkataan acuh tak acuh dari Kaia. Situasinya tidak memungkinkan dirinya untuk berganti pakaian dengan tenang, situasi di desa masih saja buruk dan Kala kini dihantam kekecewaan besar.


Baik Kaia maupun Kala sama-sama hening. Menunggu matahari benar-benar nampak dan menerangi hari. Jujur saja, Kala tidak terlalu suka dengan pagi atau siang hari, ia lebih menyukai malam yang dingin dan sepi.


***


Sesosok bayangan hitam melesat dan berhenti di depan Kala yang terduduk. Seorang gadis dengan topeng kini menatap Kala dengan serius.


“Ada apa, Adya?” Kala membuka suaranya terlebih dahulu, sedangkan Kaia masih belum bisa menerima apa yang terjadi.


“Warga desa takut jika pasukan dari Kastel Kristal Es menyerbu mereka semua. Mereka menganggap bahwa kau yang akan membuat Kastel Kristal Es marah.” Adya berujar, “aku akan membawa mereka ke suatu padepokan silat. Padepokan ini memiliki utang budi padaku, aku yakin mereka akan menerima dan memberikan perlindungan pada warga desa.”


Kala mengangguk pelan. “Itu bagus!”


“Kau ikut,” kata Adya, “kau belum punya tujuan bukan?”


Kala menggelengkan kepala. “Aku tidak akan membantu mereka lagi. Kau bisa pergi dan bawa mereka. Terima kasih atas penyelamatan yang kau lakukan tadi dan juga terima kasih untuk esensi prana.”


Adya mengerutkan dahinya. “Aku yakin mereka tidak akan melempari kau lagi.”


“Kemarin aku memburu binatang perusak dan binatang spirit yang kemampuan mereka berada di atasku. Aku sampai harus terluka dan kehilangan energi hanya demi memberi mereka makan. Namun, apa kau lihat apa yang terjadi sekarang? Aku tidak mau membantu mereka lagi.”


Adya menghela napas panjang lalu mengangguk kecil. “Baiklah, jika itu yang kau mau. Jika ada umur, kita akan bertemu lagi.”


Adya membalikkan badannya namun terhenti sebentar mendengar ucapan Kala.


“Jangan terlalu memakai racun berlebihan. Wajahmu sampai seperti itu akibat racunmu sendiri.”


Adya menyunggingkan senyum di balik topengnya. “Ini adalah jalan hidupku.”


Saat Adya sudah tidak terlihat lagi bayang-bayangnya, kini Kala memandang Kaia. “Aku akan pergi jauh dari sini. Apa kau mau ikut denganku atau ikut dengan warga?”


Jelas itu bukanlah pilihan yang bisa Kaia pilih. Jika ia berada di lingkungan desa, maka ia akan dipermalukan habis-habisan sebab kondisinya saat ini. Kaia tidak menjawab karena merasa Kala sudah tahu jawabannya.


“Aku anggap bahwa kau setuju ikut denganku. Kumpulkan semua yang ingin kau bawa.” Kala mengelus cincinnya untuk memeriksa keberadaan Keris Garuda Puspa.

__ADS_1


“Kita ingin ke mana? Dan apa yang kau rencanakan padaku?”


“Kita akan pergi ke Pandataran, kerajaan di jawa bagian tengah. Dan kau tak perlu tahu terlebih dahulu untuk tahu apa yang akan aku lakukan padamu nanti.”


__ADS_2