Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Meninggalkan Penginapan Progo


__ADS_3

Kala tersedak ludahnya sendiri, kali ini batuknya jauh lebih keras dari sebelumnya. “Bukankah terlalu dini bagi Kesatria Garuda untuk menikah?”


Walageni tertawa kecil sambil memijat keningnya. “Lalu, siapa sebenarnya dia bagimu?”


“Tidak lebih dari teman seperjalanan teman seperjalanan,” jawab Kala.


Setelah berbincang-bincang ringan untuk beberapa saat, Kala pamit ke dapur untuk membuatkan Kaia teh hangat. Jika janjinya dengan gadis itu tidak ditepati, mungkin saja Kala akan mendapatkan masalah.


***


Kala mengetuk pintu kamar Kaia. Di tangan kirinya ada secangkir teh panas dan di tangan kanannya ada sepiring sayuran rebus, maka terpaksa ia mengetuk pintu dengan kakinya.


Terdengar suara kunci pintu dibuka dari dalam, setelah itu wajah cantik Kaia muncul. Dia menatap Kala dari atas sampai bawah dengan tatapan dingin.


“Mengapa tidak menyuruhku makan di bawah saja? Apa maksudmu mengunjungi kamarku?”


Kala tersenyum pahit. Jika ia menjelaskan alasannya bahwa di lantai bawah masih tercium aroma darah yang cukup pekat, maka Kaia akan kehilangan selera makan. Tetapi jika tidak dijelaskan, gadis itu selalu berprasangka buruk tentangnya.


“Mengapa kau hanya tersenyum tanpa menjawabku?” Tatapan Kaia semakin dingin.


“Aku tidak ada niat untuk macam-macam denganmu, kau terlalu percaya diri dengan kecantikanmu. Ambil teh dan sayuran ini, makanlah segera agar tubuh tetap hangat.”


“Tidak mau makan.” Kaia menggeleng keras.


“Mengapa?”


“Setelah semua pemandangan yang kautunjukkan kepadaku tadi, bagaimana kau masih berani menanyakan alasanku tidak mau makan?”


Kala menghela napas panjang. “Apa kau tidak menghargai makanan yang dibuat olehku? Aku sampai tersedak asap tungku saat membuatkanmu makanan ini.”


Kaia diam sejenak sebelum menjawab, “Apakah itu benar-benar masakanmu?”


“Ya. Tetapi jika kau tidak mau, aku bisa memakannya.” Kala berniat pergi, Kaia tiba-tiba meraih tangannya.


“Biar aku yang memakannya.”


Kala mengulas senyum sebelum kembali berbalik badan. “Kau tahu bahwa masakanku yang paling enak.”


“Kau terlalu percaya diri, aku hanya menghargai usahamu memasak makanan itu.”

__ADS_1


Gadis itu masuk dan menutup pintu kamar setelah menerima makanan serta minuman hangat itu.


***


Lima hari berlalu, hujan nyatanya bertahan sangat lama. Baru hari ini berhenti sehingga Kala langsung menyuruh Kaia berkemas. Pemuda itu juga menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan perjalanan menuju kota pada Walageni.


“Bah! Cepat sekali kau pergi. Aku kembali minum sendirian mulai hari ini.” Walageni menepuk pundak Kala sambil menggelengkan kepala. Meskipun tampak enggan, pria tua itu tahu bahwa Kala tidak baik menetap terlalu lama di penginapannya. “Jadi, apa rencanamu setelah sampai di kota?”


“Aku akan mencoba menjual sesuatu sebelum melanjutkan perjalanan.” Kala menjawab dengan ringkas.


Walageni mengangguk sebentar sebelum mengeluarkan medali kayu dari cincin interspatialnya. Medali tersebut kemudian ia berikan pada Kala.


“Ini adalah medali pengenal. Kau akan membutuhkan ini setelah sampai di kota. Pergilah ke Penginapan Progo, tunjukkan medali ini pada pelayan atau penjaga penginapan. Mereka akan memberi kalian berdua kamar yang cukup nyaman dan makanan lezat.”


“Ini ....” Kala menatap medali yang penuh ukiran itu dengan perasaan tidak enak. “Kurasa, aku tak pantas menerimanya.”


“Bah, kau ini! Setelah kau menyelamatkan nyawaku tempo hari lalu, bagaimana aku bisa membiarkanmu dalam kesulitan?” Walageni membantah. “Terimalah saja.”


Kala tersenyum hangat lalu berterima kasih, ia menambahkan bahwa dirinya tidak akan melupakan kebaikan ini. Dengan penginapan gratis, ia bisa menghemat dana selama berada di kota.


“Oh, satu lagi.” Walageni mendekatkan dirinya pada Kala, lalu berbisik, “tentang Laskar Progo, aku harap kau tidak menyebarkannya pada siapa pun.”


Kala mengangguk. “Aku tidak terbiasa berbohong, tetapi itu bukan berarti bahwa aku tidak bisa menjaga rahasia. Soal rahasia ini, Paman hanya perlu percaya kepadaku.”


“Aku kira, ini adalah saatnya ....”


“Tentu saja, Anakku. Selama langit tak runtuh dan umur masih ada, kita akan berjumpa lagi.” Walageni memeluk Kala.


Setelah melepas pelukan, Kala beralih pada Kaia.


“Berikan buntelan-buntelan itu, biar aku menyimpannya.”


“Tidak perlu. Ini barang-barangku, kau tak perlu merepotkan diri.”


Kala kembali melirik bundelan-bundelan yang dibawa Kaia. Jumlahnya ada empat. Bagaimana bisa sebanyak itu?


“Kau membawa baju dari penginapan? Ini adalah kepunyaan Penginapan Progo, kau tak bisa membawanya.” Kala ingin menasehati Kaia lebih jauh lagi, tetapi Walageni menahannya.


“Sudah-sudah! Apa salahnya dia membawa barang dari penginapan? Gadis ini adalah kekasih dari Kesatria Garuda, aku akan berikan apa pun untuknya!”

__ADS_1


Kala menepuk jidatnya, Walageni secara tidak sadar membuat Kala harus menjelaskan tentang Kesatria Garuda pada gadis itu.


Pipi Kaia sedikit memerah lalu berkata, “Dia adalah musuhku, bagaimana Paman bisa menyebutnya sebagai kekasihku?”


Walageni tertawa keras, tidak tersinggung dengan ucapan Kaia.


Kala cepat-cepat berpamitan sebelum pembicaraan seperti itu bertahan lebih lama lagi, “Pak Tua, aku pamit sekarang. Jagalah diri Bapak baik-baik, jangan terlalu banyak minum tuak.” Kala berpesan sambil menyimpan semua bundelan Kaia di dalam cincin interspatial meskipun gadis itu menolaknya.


Mereka berdua keluar dari penginapan. Walageni menghela napas panjang sambil menatap kepergian dua muda-mudi itu.


“Memiliki teman minum setiap malam memang menyenangkan, tapi dia adalah orang yang ditakdirkan menjadi besar. Aku tak bisa menahannya untuk memenuhi takdir.”


***


“Orang tua itu tadi berkata bahwa aku adalah kekasih Kesatria Garuda. Secara tidak langsung itu merujuk pada dirimu. Jadi, apakah itu Kesatria Garuda? Mengapa kau disebut seperti itu?” Kaia bertanya di perjalanan.


Kala pura-pura tidak mendengarkan sambil bersiul menikmati suasana hutan, ia merasa terlalu dini menjelaskan hal itu pada Kaia.


“Apa kau tuli?”


Kala tetap diam.


Bug!


Kaia meninju perut Kala dengan seluruh tenaga yang dia miliki. Sedangkan orang yang ditinju itu hanya menatapnya dengan aneh tanpa merasakan sakit sama sekali.


“Kau sudah tidak sabar untuk menjadi pranor, ya?” tanya Kala dengan nada mengejek.


“Aku masih bertanya padamu!”


Kala menghela napas panjang, raut wajahnya berubah menjadi serius. Jika dipikir-pikir Kaia akan lebih hormat padanya setelah tahu statusnya, jadi tidak mungkin lagi gadis meninju perutnya sembarangan.


“Apa kau tahu legenda Garuda?”


Kaia mengangguk dengan sedikit antusias walau wajahnya terlihat tidak memiliki ekspresi. Kala menarik napas panjang lalu menjelaskan semua yang ia ketahui. Mulai dari kisah seorang Garuda hingga sepak terjangnya di Bumi Nusantara hingga pada bagian warisan sang Garuda.


“Jadi, kau memiliki kekuatan Garuda? Mengapa tidak bisa terbang?” Kaia bertanya.


“Terbang?” Kala tertawa pelan. “Hanya Alang yang bisa melakukan itu ....”

__ADS_1


Kala tiba-tiba menghentikan langkahnya, wajahnya berubah menjadi buruk.


“Astaga! Alang tertinggal di penginapan!”


__ADS_2