Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Kembali Berpisah


__ADS_3

Kabut yang semula dingin itu berubah menjadi api yang membara. Kala menarik diri secepat mungkin dari lautan api itu. Hutan terbakar dengan hebat untuk sebagian wilayah, pasukan bantuan untuk Maheswari tidak bisa mengejar si pemuda bertopeng akibat lautan api di muka.


Kala meloncat-loncat di puncak pepohonan sebelum menemukan Kaia yang sedang berlari di bawah, dengan cepat Kala turun ke bawah dan lari bersama.


Gadis itu masih histeris sebab hutan di belakangnya tiba-tiba meledak sampai tidak menyadari keberadaan Kala.


“Berhenti, kita sudah aman.” Kala menepuk pundak Kaia hingga gadis itu berhenti.


“Kapan kau berada di sini? Mengapa hutan itu tiba-tiba terbakar sedangkan Alang ada di sampingku? Siapa Maheswari, mengapa di mengejarmu?” Belum selesai mengontrol napas, Kaia sudah bertanya.


“Duduk dan atur jalan napasmu terlebih dahulu. Aku berada di sini tapi kau tidak menyadarinya tadi. Hutan itu terbakar karenaku untuk menutup jalan masuk. Dan Maheswari ... ah, ceritanya sangat panjang.”


Kala merasa sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk menceritakan kisahnya pada Kaia secara lengkap, situasi masih belum aman jika mereka terus berdiam diri.


“Aku akan ceritakan nanti, saat ini kita harus ke Kota Banyu Bening!” Kala menarik tangan Kaia.


“Bukankah itu kota tujuan kita? Mengapa kau tidak membantu pertempuran saja? Bukannya kau adalah Kesatria Garuda?”


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan, saat ini kita harus sampai ke sana secepatnya.”


Kaia seakan tidak ada pilihan, walau ia sedikit menyukai hutan ini. Tangannya terus ditarik Kala, mana bisa melarikan diri.


***


 Kala benar-benar tidak memberikan jeda berhenti dalam semalaman. Tidak peduli dengan kaki Kaia yang membengkak atau sayap Alang yang mulai lelah. Bukan ia tidak memperhatikan mereka, bahkan kondisinya tidak diperhatikan.


Saat fajar menjemput. Matahari sebenarnya terlihat indah seandainya tidak ada malam mengerikan tadi. Sinar mentari masih belum bisa menembus dedaunan ringan di hutan, sehingga tanah masih basah dengan embun begitu juga rerumputan. Kaia menarik tangan Kala agar berhenti, kemudian ia merebah ke atas rumput basah.


“Aku sudah tidak bisa melanjutkan.”


Sesaat kemudian Alang jatuh dari langit dan turut rebahan di samping Kaia. Mau tidak mau, Kala memperhatikan kondisi mereka yang ternyata memang menyedihkan. Kala merasa bersalah dan membiarkan mereka tidur, Kala juga mengeluarkan beberapa botol air dan kue kering.


“Haruskah kita makan kue kering ini? Sepertinya aku tidak bisa menelan sesuatu yang seperti ini.”

__ADS_1


“Tidak ada waktu untuk membuat makanan, lagi pula kue kering ini memenuhi gizi dan mengenyangkan. Maafkan aku.” Kala menggigit kue datar berukuran se-telapak tangan itu.


Kaia akhirnya turut menggigit kue itu sedikit. Walau rasanya hambar, itu masih lebih baik dari pada tidak sama sekali. Alang diberi beberapa batu energi untuk makan.


Selesai makan, Kala membuka gulungan peta. Menelisik daerahnya sekarang, masih tersisa sekitar tiga hari lagi untuk sampai jika mereka terus berlari. Kemudian Kala mengeluarkan gulungan kertas emas yang diwasiatkan Aditya, kembali ia mengingat jasa budi Aditya sehingga semakin yakin untuk menjalankan wasiatnya.


“Sepertinya tugasku sudah dimulai.” Kala menghela napas panjang lalu menyimpan dua gulungan itu.


***


Malam menjemput, Kala kembali mengambil istirahat setelah seharian terus berjalan. Kini Kala menyiapkan obor untuk Kaia, tidak ada musuh di dekat sini. Selesai membuat obor, suasana hutan menjadi sedikit lebih terang, Kala membuka peta dan memperkirakan jarak.


“Satu hari jika terus berlari.” Kala berkata setelah melakukan sejumlah hitung-hitungan. “Tapi, apakah gulungan ini penting?”


Jika ternyata gulungan itu tidak penting, maka pengorbanan Kaia dan Alang akan sia-sia saja. Tapi jika ternyata gulungan ini teramat penting, maka pengorbanan harus segera ditambah.


Kala berinisiatif mengambil gulungan emas itu, agak ragu membukanya. Gurunya pernah berkata bahwa tidak boleh sembarang membuka barang orang. Tapi, Aditya tidak pernah berkata bahwa gulungan ini dilarang dibuka.


Berani ambil risiko, Kala membuka gulungan itu. Wajahnya bersinar dengan cahaya kuning akibat pantulan dari kertas emas. Kertas itu bersinar!


Hanya ada tertulis satu aksara saja. Tidak ada penjelasan lebih lanjut dari aksara tersebut. Kala sampai panik takut kertas ini sudah ditukar dengan yang palsu, tapi kualitas kertas tidak mungkin salah. Lagi pula, ini adalah aksara yang sangat bagus dan mengandung aura mengagumkan.


“Satu Aksara Hanacaraka Wilangan, Siji.” Alis Kala mengkerut. “Jika begini, apa yang penting?”


Mulutnya berkata demikian, tapi pikirannya berkata lain. Ia malah merasakan bahwa aksara ini sangat penting dari yang ia kira sebelumnya. Kini Kala memandang Kaia yang terlihat ingin pingsan tersebut.


Jika Alang yang mengirim pesan ini, apa mereka akan percaya?


Kala menepis pikiran tersebut, mereka tidak mungkin percaya pada burung elang itu. Lagi pula, Alang tidak akan bisa memberinya ke tumenggung dan menjawab semua pertanyaan tumenggung.


“Kaia, apa kau bisa tinggal di sini untuk beberapa hari?”


“Aku sungguh ingin tidur pulas walau di hutan yang mulai menyeramkan ini, tapi tidak jika tanpamu.” Kaia yang cerdas, ia mengetahui arah pembicaraan Kala.

__ADS_1


“Gulungan ini harus segera sampai ke Kota Banyu Bening, aku bisa mencapainya ke kota itu dalam waktu sehari. Setelah selesai mengantar gulungan ini, aku akan segera menjemputmu. Alang juga akan menjagamu.”


“Eak!”


“Tidak Alang, kau harus menjaga Kaia di sini, gadis acuh ini belum bisa menghadapi binatang spirit sendirian.”


“Aku akan ikut denganmu, walau kakiku sampai patah sekali pun.”


“Jangan pernah lakukan itu.” Kala mendekat pada Kaia lalu mengelus rambutnya dengan lembut. “Aku akan kembali.”


Tubuh Kala menjadi bayangan kabur saat angin tiba-tiba mendesir sesaat, Kala sudah pergi. Di depan Kaia, ada beberapa kue kering dan juga batu energi. Alang tidak berusaha mengejar Kala, tapi Kaia masih mengejarnya sampai ia terjatuh sendiri.


***


Kala melesat di antara pepohonan. Puncak pohon ia jadikan sebagai lompatan ke pohon lainnya. Ia melesat secepat angin, tapi pohon yang ia pijak sama sekali tidak bergerak.


Kabut dingin mulai turun saat hari sudah menjelang pagi buta. Kala masih terus berlari tanpa menghiraukan kakinya yang mulai lecet berdarah.


Saat matahari mulai menyambut dataran Hutan Telu, Kala sudah melihat tembok kota dari kejauhan.


***


Beberapa prajurit penjaga tembok kota sedang sibuk mengurusi antrean panjang pedagang yang ingin masuk kota, sama seperti hari-hari sebelumnya yang membosankan. Dari kejauhan mereka melihat bayangan hitam yang melesat mendekati gerbang.


Mereka adalah pranor dan sangat memahami bahwa apa pun yang bergerak cepat, bukanlah kabar baik. Dengan pedang terhunus, mereka menanti bayangan itu sampai di depan muka.


Pedagang lainnya segera histeris saat prajurit kota tiba-tiba menghunus pedang. Sebagian memilih kabur dan sebagian lainnya memilih duduk manis di dalam kereta kuda.


Bayangan hitam itu berhenti melesat dan berhenti tepat di depan mereka. Jelas kondisinya sangat menyedihkan, hanya bajunya saja yang rapi tapi tidak dengan muka dan kakinya.


“Aku ingin bertemu Tumenggung secepatnya, mohon tidak menghalangiku.”


“Selamat pagi, Kisanak. Apa Kisanak ada buat janji sebelumnya?” kata salah satu prajurit dengan sopan.

__ADS_1


Kala menyunggingkan senyum hangat kepada prajurit itu. “Maaf, Kisanak. Aku tidak ada janji, tapi keperluan ini lebih penting dari sekadar janji.”


“Apa itu?”


__ADS_2