
Penampilan Kala dan Kaia terlihat sangat buruk, sama seperti warga desa terpinggir jika dilihat dari baju mereka. Alang yang berada di pundak Kala semakin menambah kesan gelandangan yang mengamen pada pemuda itu.
“Aku tidak sedang bercanda, apakah Saudara tahu letak Penginapan Progo?”
Pedagang itu menghela napas panjang sebelum menjelaskan dengan rinci jalan menuju penginapan itu. Ia menambahkan, penginapan tersebut cukup besar sehingga akan mudah untuk ditemukan.
Kala berterima kasih pada pedagang itu lalu berjalan sesuai petunjuk arah darinya. Jalan menuju Penginapan Progo berangsur-angsur sepi sebab hanya dilewati oleh kereta-kereta kuda mewah, firasat Kala tidak terlalu baik.
Sebuah gedung dengan ukiran-ukiran aksara terlihat dari kejauhan. Tertulis nama Penginapan Progo. Kala bahkan membuka mulutnya cukup lama akibat kagum saat melihat bangunan tinggi itu.
Itu luar biasa besar dan sangat mewah. Dengan pencahayaan yang temaram serta sentuhan seni pada tembok penginapan besar itu, siapa pun yang melihatnya akan merasakan keteduhan. Dilihat dari dekat maupun kejauhan, itu tetap bagus.
Saat mendekati penginapan tersebut, Kala semakin takjub dengan apa yang ia lihat. Kini dirinya memandangi medali kayu yang diberikan Walageni padanya.
***
“Jika kalian tidak ingin pergi sekarang juga, aku tidak akan bersikap sopan lagi.”
Kala dan Kaia menerima penolakan saat mereka hampir memasuki penginapan. Mereka dihadang oleh seorang penjaga dengan tatapan merendahkan. Namun ternyata bukan hanya penjaga itu saja yang menatap jijik pada mereka berdua, pengunjung penginapan lainnya juga menatap mereka dengan pandangan seperti itu bahkan lebih parah lagi.
Alang memberi tatapan tajam sebagai tanda bahwa dirinya marah, berbeda dengan Kaia yang bahkan merasa takut dengan tekanan yang diberikan oleh penjaga itu.
Orang itu adalah pranor Pondasi Prana tangga kelima. Dia sengaja mengeluarkan aura pranor miliknya untuk menekan Kala dan Kaia, tetapi itu hanya berpengaruh pada Kaia saja.
“Bukankah sebagai pranor tidaklah baik memberi tekanan berlebihan pada manusia biasa?” Melihat Kaia yang mulai tertekan, Kala mengurungkan niatnya untuk menunjukkan medali, ia mulai mengeluarkan aura pembunuh.
Tekanan yang Kala berikan sanggup membuat sang penjaga bersimpuh lutut dengan wajah ketakutan, seakan yang berdiri di depannya bukanlah manusia melainkan binatang spirit tingkat tinggi.
__ADS_1
Para pengunjung penginapan secepat mungkin menjauh dari lokasi itu. Beberapa pelayan datang, tetapi mereka berhenti setelah melihat Kala bukan tandingan mereka.
Kaia berusaha mengajak Kala pergi dari tempat itu, tetapi usahanya sia-sia saja.
“Ada apa ini?!”
Kala menoleh ke belakangnya dan menemukan seorang pranor dengan tingkat Alam Kristal Spirit yang berjalan cepat ke arahnya. Dahinya berkerut saat melihat pranor itu telah memiliki Kristal Langit.
Di Jawa, jumlah pranor dengan Kristal Langit dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Jika di depannya ada satu, maka itu adalah kesempatan yang sangat langka.
“Tidak perlu berpura-pura tidak tahu.” Kala menjawab dengan dingin.
Sedari tadi, insting yang didapatkannya dari warisan Garuda dapat merasakan ada yang mengawasinya. Pria di depannya itu hanya mengulur waktu untuk melihat kekuatan Kala yang sesungguhnya, dia tidak bisa bertindak gegabah pada orang baru.
Dengan raut wajah terkejut, pria itu membalas, “Sepertinya tidak perlu basa-basi. Aku ingin tahu mengapa kau datang ke sini.”
“Apa kau yakin?” Pria itu melihat Kala dari atas sampai bawah.
“Ya, aku yakin. Coba kau lihat ini.” Kala melempar medali kayu pemberian Walageni kepada pria itu.
Setelah melirik Kala sebentar, dia meneliti medali kayu yang ada di tangannya itu. Raut wajahnya berangsur-angsur memburuk sampai tubuhnya bergetar hebat.
“Ini ….” Pria itu berkata dengan terbata-bata. “Maafkan aku, Tuan Pendekar. Aku punya mata tetapi tidak bisa melihat kebesaranmu.”
Kala menggeleng pelan sambil mengembuskan napas panjang. “Jadi bagaimana? Aku bisa menginap?”
“Tentu! Tentu! Kami akan memberikan kamar terbaik untuk Tuan Pendekar.” Pria itu segera memberi isyarat pada pelayan di sekitar. “Perkenalkan, aku adalah Aditya, pemilik Penginapan Progo di kota ini. Mari aku antarkan Tuan Pendekar dan istri Tuan menuju kamar.”
__ADS_1
“Dia bukan istriku, jadi tolong berikan kami dua kamar yang terpisah.”
Aditya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dilihat dari manapun, Kala dan Kaia adalah pasangan yang serasi. “Bukan masalah, mari ikuti aku.”
Semua yang ada di lantai dasar melihat Aditya dengan tatapan terkejut saat ia mengantarkan tamunya secara khusus menuju kamar. Mereka tidak bisa menduga pendekar langka sekaligus pemilik penginapan cabang besar seperti dirinya mau repot-repot menemani dua orang dengan tampang seperti gelandangan itu bahkan sampai merendahkan diri di hadapan keduanya.
Melihat mereka berbisik-bisik tentang kedua orang misterius di belakangnya, Aditya dibanjiri keringat dingin. Ia tidak bisa melarang para pengunjung penginapan untuk berbuat apa pun mengingat mereka merupakan bangsawan tinggi, sedangkan ia juga khawatir jika Kala marah besar dan membuat penginapan ini mendapatkan masalah.
Namun tidak seperti yang ia duga, Kala tak menunjukkan tanda-tanda kemarahan sedikitpun. Ia bersikap tidak peduli. Kaia juga memutuskan diam saja.
Pikiran Kala sibuk mengamati lantai dasar penginapan ini yang begitu mewah. Terdapat panggung hiburan besar serta restoran. Tangga menuju lantai berikutnya juga bukan main hebatnya, itu dilapisi perak berukir kisah-kisah legenda.
Mereka berdua dibawa menuju lantai-lantai selanjutnya yang tak kalah mewah. Pada akhirnya, Kala tiba di tingkat paling atas yang mana ia bisa menikmati pemandangan seantero kota.
Aditya berusaha tidak gugup saat dia menjelaskan, “Lantai paling akhir ini merupakan tempat kebanggaan kami. Di sini hanya terdapat lima kamar yang luas. Setiap kamar ada bak pemandian air panas herbal yang bisa memperkuat kualitas tulang, kami juga punya simpanan arak paling bagus di lemari penyimpanan.
“Tuan Pendekar dan temannya bisa menikmati pemandangan kota dari sini. Jika Tuan Pendekar merasa penat dan membutuhkan pelepas penat, Tuan hanya perlu memintanya dan aku akan memberikan yang paling cantik serta ahli di seluruh kota ini.”
Kala memandang tajam Aditya, sedangkan Kaia yang tidak terlalu mengerti masih berusaha mencari maksud dari perkataan itu.
Aditya kembali menjadi gugup. “Aku lagi-lagi salah mengira.”
Kala tidak menanggapi itu. Aditya kemudian menuntun Kla dan Kaia menuju kamar mereka masing-masing.
Saat Aditya hendak berbalik pergi, Kala menahannya. “Apakah arti dari medali kayu tadi?”
“Jadi, Tuan pendekar tidak mengetahuinya?”
__ADS_1