Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Penyelamatan Maheswari


__ADS_3

"Ini sudah saatnya, atau sesuatu akan terjadi kepada Kak Mahes." Kala menghela napas. "Lakukan sekarang atau tidak selamanya."


Kala berdiri dan keluar dari semak belukar. Para penjaga melihat Kala merubah raut mukanya menjadi beringas. Pedang terhunus dari dua penjaga itu, sedangkan Kala dengan sedikit gugup menghampiri kedua penjaga itu.


"Siapa kau? Mengapa ada di sini?"


Kala tidak menjawab, ia terus berjalan dengan kecepatan yang sama.


"Jawab!"


Kala tersenyum tipis. Tidak menjawab sama sekali.


"Mati kau!" Kedua penjaga menerjang Kala yang berjarak lima langkah.


Mereka menyerang menyamping. Satu serangan mengarah ke kaki sedangkan satunya lagi menusuk ke dada. Kala menyadari bahwa teknik ini adalah teknik ampuh yang bisa membuat musuhnya bingung ingin menghindar ke mana, dan pada akhirnya lawannya mati karena telat mengelak. Kala menyadari itu namun ia paham betul dengan serangan ini, semasa berlatih Kala selalu mendapat serangan ini dari gurunya.


Serangan yang mengarah ke kaki datang dari arah kanan, Kala langsung menjatuhkan diri ke kanan. Kakinya terangkat dan badannya dalam posisi menyamping di udara, pedang yang mengarah ke dada menusuk angin kosong tepat di atas kepala Kala, sedangkan serangan yang menebas kaki hanya meraih serangan kosong.


Saat tebasan sudah melewati Kala, baru dirinya mendarat di tanah. Melihat itu membuat dua penjaga itu merasa malu, rasa malunya kemudian disalurkan pada Kala sebagai rasa marah.


Musuh mengumpat kepada Kala, mereka hendak menyerang kembali tetapi mereka sudah mendapat serangan udara. Bola-bola api ditembak oleh Elang Api ke arah para penjaga. Api dari elang itu memang tidak bisa membunuh mereka hanya dengan satu serangan kecil, namun itu cukup bagi Kala mengambil jeda sekaligus melukai musuh.


Kala menusuk mereka dengan pedangnya. Satu tusukan saja tidak cukup untuk membunuh mereka, Kala membutuhkan beberapa tusukan untuk benar-benar menanggalkan nyawanya.


Mereka mati dengan kondisi tersiksa karena pedang Kala tidak langsung membunuhnya, rasa sakit yang panjang mengantar mereka menuju kematian. Kala memikirkan untuk membeli pedang yang bagus ke depannya, kasihan terhadap musuh yang menderita. Ia tak akan tega jika membunuh musuh tidak dengan satu serangan saja.

__ADS_1


Kala berujar, "Elang Api, serang bangunan yang ada di dalam."


"Eak."


Kala memasukkan pedangnya ke cincin interspatial, ia menggunakan serangan tapak untuk membuka gerbang benteng. Prana yang dikeluarkan Kala sangat besar, gerbang itu copot dari engselnya dan terpental ke dalam.


Sedangkan bangunan-bangunan di dalam sedang dilahap api. Nuansa kuning terang benderang membuat penglihatan Kala semakin jelas. Banyak orang-orang yang keluar dari bangunan dengan menjerit, api melahap mereka.


Serangan api berhenti, burung itu hinggap di salah satu bangunan yang terbakar. Kala maklum, elang itu juga bisa kehabisan prana tentunya. Kala tersenyum hangat ke arah Elang Api tanda berterimakasih.


Selanjutnya Kala melangkah lebih masuk. Beberapa prajurit-prajurit bersenjata lengkap sudah berseliweran mencari penyerang serta memadamkan api. Mereka yang melihat Kala tentu tidak mengenal dirinya, kewaspadaan mereka semakin meningkat.


"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu." Salah satu prajurit menghampiri Kala.


Sebuah kerambit menancap di perut penjaga itu. Raut wajahnya memandang tidak percaya kepada penyerangnya. Kala menarik kembali kerambitnya dengan tangan bergetar, membiarkan prajurit itu jatuh dengan darah yang mengucur. Ini tiga kalinya ia membunuh.


Kala menepuk jidatnya, sebelumnya ia mengira bahwa serangan tadi akan menakuti mereka semua sampai-sampai mereka akan menuruti segala permintaan Kala. Namun, apa yang terjadi sekarang sungguh di luar bayangannya.


"Aku kemari bukan maksud punya dendam, aku hanya ingin menjemput dua wanita yang kalian ambil."


Yang terkuat dari mereka berucap, "Apa peduli kami? Kau sudah menyebabkan kekacauan ini dan baru sekarang kau berujar seperti itu!"


Kala tersenyum kecut. Apa yang dikatakan orang itu benar, sudah terlambat baginya untuk berdamai.


"Itu artinya akan banyak pertumpahan darah di sini." Kala mengancam dengan mengeluarkan nafsu membunuh.

__ADS_1


Mereka semua menyerbu Kala. Kala segera mengeluarkan jurus andalan gurunya untuk lari; Ilmu Jejak Ular. Ledakan asap keluar dari tubuh Kala, asap ini tidak lain adalah kabut. Kabut yang sangat tebal, membutakan siapa pun yang berada dalam radius tertentu.


Akhza adalah orang yang ahli mengendalikan kabut, bahkan ialah pencipta jurus-jurus yang berkaitan dengan kabut, tentu saja Kala mendapatkan pengajaran istimewa dari gurunya soal mengendalikan kabut.


Dengan jurus ini, serangan mereka menjadi tidak terarah. Kala bergerak ke arah kanan.


Kala membabat banyak tubuh untuk membuka jalan keluar. Walaupun dengan mata istimewa, Kala masih tidak bisa melihat dengan jelas, beberapa kali ia terkena serangan nyasar.


Kala menyelesaikan tubuh yang terakhir. Ia berhasil keluar dari kerumunan. Tidak ada waktu untuk beristirahat, Kala berlari secepat mungkin untuk menjauhi kabut. Tidak diketahui alasan apa yang membuatnya seperti itu.


Kala baru berhenti berlari saat ia sudah keluar dari kabut. Napasnya yang putus-putus diatur sebelum ia bersuit. Suitan Kala didengar oleh Elang Api yang sedari tadi terbang di langit berusaha untuk menemukan Kala, kabut yang pekat itu juga membuat elang itu tidak melihat Kala serta ragu untuk membuka serangan. Suitan itu diartikan sebagai tanda membuka serangan bagi Elang Api, Elang Api melihat Kala yang menjadi sumber suara.


Kala menunjuk ke arah kabut setelah Elang Api melihatnya. Elang Api mempunyai kecerdasan istimewa yang membuatnya mengerti tanda yang diberikan oleh Kala. Elang Api melontarkan tiga bola api ke arah tengah kabut.


Saat tiga bola kecil api itu mengenai awan kabut, ledakan besar terjadi. Ledakan ini jauh lebih besar daripada daya ledak tiga bola api itu. Kala terpental beberapa tombak sebelum jatuh kembali ke tanah, ia tersenyum puas.


Kabut yang dikeluarkan Kala bukankah kabut biasa, kabut itu bisa meledak jika dipicu oleh api atau bahkan hanya dengan percikan api. Prana yang Kala keluarkan untuk ini sangat menguras habis prana miliknya hanya untuk hal yang sangat berisiko ini. Bisa saja ada bunga api akibat senjata tajam yang membuat ledakan terjadi, dan Kala masih di dalam, itu berbahaya.


Kepulan api membumbung ke atas sebelum sirna, di bawahnya tersisa beberapa tubuh yang terbakar. Hanya ada beberapa orang yang masih bernyawa akibat serangan itu, orang-orang itu yang mempunyai tingkat prana tinggi.


Kala tidak membuang waktu lebih banyak lagi, ia berlari menyusuri bangunan demi bangunan guna memeriksa keberadaan Maheswari dan nenek pemilik kedai. Ada beberapa prajurit anggota Harimau Besi yang berjumpa dengan Kala, tentu saja mereka langsung dihabisi olehnya jika tidak memberi keterangan di mana Maheswari berada.


Saat sedang membuka pintu salah satu bangunan, Kala menjumpai seorang prajurit yang sedang ingin keluar dari pintu. Prajurit itu kaget bukan kepalang melihat Kala yang tiba-tiba membukakan pintu, ia sampai terjungkal ke belakang. Pedang prajurit itu terlempar satu kaki jauhnya, prajurit itu ingin mengambil pedangnya namun Kala sudah menendang pedang itu.


Prajurit itu bersujud di depan Kala dengan tubuh menggigil. "Ampuni aku! Ampuni aku! Ampuni aku!"

__ADS_1


Kala memastikan keadaan sekitar aman sebelum tersenyum lembut. "Tenang, aku akan mengampuni dirimu jika saja kau menjawab pertanyaan yang aku berikan dengan jujur."


__ADS_2